
Bab 27. Bos Cantik
.
.
.
...ššš...
"Kalau sudah tiada baru terasa".
Indra
Ia sebenarnya ingin menyapa Dhira, namun karena Dhira selalu melengos tiap bertemu dirinya. Ia mengurungkan niatnya.
Selain itu, ia cukup tahu diri. Tidak ada wanita yang tak sakit hati, apabila di perlakukan seperti itu.
Ia melihat mantan istrinya itu, kini lebih tampil cantik.
Jelaslah!!!, bila dirinya merasa rumput tetangga selalu lebih hijau, itu karena rumputnya sendiri tidak dia sirami. Kuninglah dia!
"Kamu kapan bisa dekat sama Raka, kalau begini terus kita kapan bisa menikah" ucap Indra kepada Renata.
"Anak kamu aja mas, gak mau nyapa aku. Pasti di hasut sama mbak Dhira lah"
"Udahlah, aku mau pulang dulu!!" Renata merajuk, tiap Indra menyalahkan dirinya.
Malam ini Indra sendirian dirumahnya, ia membuka tudung saji namun kosong.
"Apa yang di lakukan Renata seharian ini, apa dia tidak memasak sesuatu untukku?" Indra berbicara sendiri.
Renata setiap hari berada di rumah Indra, ia kini tak bekerja dan hanya mengandalkan Indra.
Naiknya jabatan Indra, membuat Renata besar kepala.
Ia duduk lesu di meja makan, sekelebat bayangan Andhira muncul.
Tangan lihai dan cekatan yang selalu menyiapkan makanan lezat, juga istrinya yang selalu menerima berapapun nominal yang ia berikan.
Indra mengacak rambutnya frustasi, apakah selama ini dia telah melakukan kesalahan fatal??
.
.
.
Siapapun berhak untuk bahagia, siapapun berhak untuk melangkah maju. Berproses dan bertumbuh.
Tak peduli sekeras apapun, Tuhan menempa dirinya. Ia masih bersyukur memiliki keluarga yang sayang kepadanya.
Masih ada tempat untuk kembali, tempat untuk mengadu dari semua keterasingan yang ia alami
Ibu.
Tidak ada potong pita, atau seremonial resmi saat Dhira memboyong beberapa barang barang ke ruko itu.
Sebuah bangunan dua lantai, lantai dasar sebagai dapur, kamar mandi sederhana juga toko untuk dia berjualan.
Sementara di lantai atas, ia gunakan untuk kamar dan juga ruangan keluarga.
Ini lebih baik, setidaknya ia punya rumah tinggal sendiri.
"Kak aku akan kembali nanti, aku tidak bisa ijin hari ini" ucap Bastian yang baru saja mengantarkan kakaknya menggunakan motor.
Ia kembali seperti setahun silam, sebab mobilnya masih ia gadaikan, untuk membayar kekurangan material sewaktu pembangunan toko itu.
"Iya, habis ini ibuk kesini juga"
"Kamu hati hati"
Dhira menatap adiknya, yang menghilang di persimpangan jalan itu.
...Dapur Isun...
Adalah nama toko Dhira, nama Isun berarti saya, sehingga nama usahanya itu berarti "Dapur saya".
Kata ini berasal dari bahasa Osing, bahasa asli tempat kelahiran nenek Buyut Dhira. Banyuwangi.
Pagi ini ia masih belum membuka tokonya, ia tengah beres beres terlebih dahulu. Rencananya, siang nanti ia akan membuka tokonya itu.
"Alhamdulilah" ucapnya puas setelah melihat semua tertata rapi.
Tidak ada barang mewah di ruko itu, hanya kasur dan sebuah lemari serta lemari es, yang wajib ada guna menunjang pekerjaannya.
Lantaran Dhira memang tidak membawa perkakas apapun, selepas dia bercerai dari Indra.
Benar, dia memulai semuanya dari nol. Ia berjanji akan mengganti semua uang yang telah di gelontorkan Bastia untuk dirinya.
.
.
.
Bastian hari itu tengah santai usai mengerjakan pekerjaan seperti biasanya, ia selalu bisa mengerjakan apa yang di minta oleh atasannya, Rania.
"Disini rupanya kau" ucap bang Togar.
"Kenapa Bang?"
"Dari tadi ku tengok kesana kemari tak ada"
"Loh, kan aku dari pagi ada disini"
"Betul kah?"
"Ada apa memangnya Bang?"
"Itu komputer punya Bu Rania tidak bisa di pakai, entah apa yang terjadi. Kurasa kau yang bisa tolong dia"
Mendengar ucapan bang Togar, ia segera melesat menuju ruangan atasannya itu.
__ADS_1
Tok tok tok
"Masuk" sahutan dari dalam.
"Permisi Bu"
"Ah, iya baguslah kamu datang"
"Komputer disini jarang di maintenance ya?"
"Tiba- tiba begitu" tunjuk Rania ke arah komputer, yang layarnya macet.
"Kata anak anak, kamu yang biasa benerin"
"Coba saya lihat dulu Bu" Bastian menggulung lengan bajunya, menampilkan otot yang bersarang di lengan kekarnya.
Ia mengutak-atik segala bagian komputer itu, Rania menatap wajah tampan Bastian," tampan juga".
"Bu, ini tidak bisa di perbaiki sekarang"
"Sebaiknya gunakan laptop saja dulu"
"Apa?bagaimana bisa, semua ada dalam komputer itu. Dan aku lupa untuk menyimpannya ke flashdisk" Rania tentu saja panik.
"Besok harus harus presentasi, mustahil bila aku harus membuatnya lagi"
Kecerobohan, itulah kata yang menggambarkan tindakan Rania.
Pembetulan mustahil pula akan selesai dalam sekejap.
"Jika ibu tidak keberatan aku akan membantu"
.
.
.
Dan benar saja, Bastian masih bersama Rania membantunya menyusun beberapa tugas krusial, yang musti selesai esok pagi.
Membuat presentasi di dalam powerpoint.
Rania bahkan menguap beberapa kali, menandakan lelahnya dirinya.
"Bas, aku mengantuk" ucap Rania seraya menutup mulutnya, yang tengah menguap.
"Anda bisa istirahat dulu Bu, saya selesaikan. Tinggal membuat beberapa tabel dan mengedit slideshow.
Dan dalam hitungan beberapa detik saja, Rania sudah mengeluarkan dengkuran halus di atas sofa merah yang berada di ruangan itu.
Sekitar 30 menit kemudian, Bastian baru menyelesaikan tugasnya.
"Selesai" ia tersenyum puas, melihat hasil kerjanya.
Sejurus kemudian ia menatap wajah teduh milih atasnya itu," Bos Cantik" gumamnya.
.
.
Bastian
Ia melihat jam di meja kerja bosnya itu, menunjukkan jam 21.22 WIB.
"Astaga aku lupa mengabari kak Dhira"
Ia membuka ponselnya, betapa terkejutnya ia mendapati puluhan pesan masuk, juga panggilan tak terjawab.
15 pesan
21 panggilan tak terjawab
"Bas, kau tidak usah ke ruko jika lelah. Kakak di temani ibu"
"Bas, kau baik baik saja?"
"Apa lembur lagi?"
Dan masih banyak lagi, pesan yang bernadakan kekhawatiran dari kakaknya itu.
Ia segera men-dial nomer ponsel kakaknya.
Tut Tut Tut
"Halo kak, maaf. Aku lembur, tadi bantu Bu Rania"
"............."
"Iya, aku akan pulang setelah ini"
"Baiklah, istirahatlah. Besok pagi pagi sekali aku kesana"
"..........."
"Walaikumsalam"
Tut.
"Maaf kak" batinnya berbicara, suara parau Dhira jelas menerangkan bila kakaknya itu telah tertidur
Namun kini ia lega, ia juga benar benar lupa tak memberitahu keluarganya. Sejurus kemudian ia mantap wajah cantik Rania, yang tertidur di atas sofa dengan mulut sedikit terbuka.
Bastian mencoba membangunkan Rania pelan, ia menepuk lengan atasannya itu.
"Bu, Bu Rania"
"Bu, Bu Rania sudah selesai"
Namun tiba tiba tangan Bastian di genggam kuat," mas jangan tinggalin aku. Jangan!!!, Jodhi butuh kamu mas"
Bastian terperanjat, ia menatap tangannya yang tengah di genggam oleh atasannya itu.
"Sepertinya wanita ini mengigau"
__ADS_1
"Bu, Bu Rania" kini ia menepuk wajah mulus atasannya itu, dengan tangan kirinya.
Karena tentu saja, tangan yang satunya masih di genggam erat oleh Rania.
"Lembut banget" batinnya saat tangannya menyentuh pipi mulus itu.
.
.
Rania
"Mas.....!!!!!!" Rania langsung terbangun, dengan keringat sebesar biji jagung yang nampak di dahinya.
Ia menatap wajah di depannya, menampakkan wajah Bastian yang kebingungan. Juga ia menatap tangan laki-laki yang berada dalam genggamannya.
"Astaga, maaf" ia setengah menarik tangannya agak cepat, karena merasa malu.
"Maaf, tadi saya ketiduran" ucapnya dengan wajah memburu.
Memijat keningnya.
Ia terlihat mengusap wajahnya kasar.
"Apa yang barusan ku lakukan" ia barusaja mimpi suaminya datang menemuinya, seolah nyata berada di depannya. Tersenyum senang menatap wajahnya kemudian menghilang di antara kepulan awan putih.
"Maaf, tadi saya bermimpi bertemu suami saya" ia terlihat menyusut air matanya.
"Apa sudah selesai?" ucap Rania mengalihkan suasana.
Hanya anggukan yang di berikan Bastian.
Bastian bahkan tak bisa menjawab, ia tahu bila atasannya itu tengah dirundung kesedihan.
Wanita yang selalu terlihat energik itu, kini benar benar tak bisa menyembunyikan kesedihannya.
"Akan ku periksa" ia beringsut pergi, menuju laptop yang berada di meja kerjanya.
Ia membelalakkan matanya, terkejut demi mendapati semua kinerja Bastian yang benar benar sempurna.
Hanya dengan memberi kerangka tugas, yang ia sendiri kadang masih kesulitan. Bastian mampu menyelesaikannya dengan baik.
"Apa kau mengerjakan ini sendiri tadi? maksudku, astaga ini benar benar keren Bas" Rania kini kembali tersenyum senang.
"Terimakasih banyak"
...ššš...
Rania heran melihat Bastian yang pergi menuju parkiran depan.
"Loh, kamu mau kemana?" tanya Rania.
"Mau ambil motor Bu"
"Kamu bawa motor?, mobil kamu kemana?"
"Ini udah malam, saya antar kamu. Motor kamu biar disni"
"Atau kalau tidak, kamu antar saya. Kamu bisa bawa mobil saya"
"Tidak perlu Bu, saya malah merepotkan"
"CK, ini perintah!"
"Pak pak Suko" panggil Rania kepada satpam yang duty malam itu.
"Saya Nona" ucap pak Suko yang datang setengah berlari.
"Saya titip motor itu, biar tetep ada di kantor!!"
.
.
Akhirnya Bastian kini yang berada di depan kemudi.
"Harusnya anda tidak perlu melakukan ini Bu"
"Kamu pulang telat karena saya, ini udah malam bahaya kalau pakai motor"
"Memangnya mobil kamu kemana?, biasanya kamu pakai mobil kan?"
Bastian diam, bingung. Antara malu, namun ia tak bisa untuk berbohong.
"Masih saya gadaikan Bu" ia akhirnya bercerita.
Rania menatap ke arah Bastian.
"Saya baru saja membukakan ruko untuk kakak saya. Ternyata lebih dari ekspektasi saya"
"Saat pengerjaan, banyak yang gak terduga"
"Ya mau tidak mau" Bastian berbicara lebih enjoy saat tidak berada di kantor.
Entah mengapa Rania menjadi kagum dengan sosok Bastian.
"Saya ingin kakak saya bahagia Bu, hanya ini yang bisa saya lakukan" ucapnya seraya tersenyum memandang Rania.
Tanpa sadar pandangan mereka, bertemu. Terkunci beberapa detik.
Lalu sama sama membuang pandangannya.
Hati Rania menjadi tak karuan, begitupun dengan Bastian.
Gelenyar aneh timbul di masing masing hati dua manusia beda jenis itu.
Membuat mereka sama sama diliputi kecanggungan.
.
.
.
__ADS_1