The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 212. Aku menunggumu


__ADS_3

Bab 212. Aku menunggumu


.


.


.


...🍁🍁🍁...


" Aku bisa membuatmu, jatuh cinta kepadaku meski kau tak cinta kepadaku. Beri sedikit waktu, biar cinta datang karena telah terbiasa!"


( Diambil dari lirik lagu yang di nyanyikan Tata Janeta)


.


.


Hidup dalam prasangka buruk itu memang berat, itulah sebabnya Shinta ogah untuk terlalu lama menyimpan kepahitan. Wanita itu nekat mendatangi makam almarhum suaminya, agar hatinya mendapatkan kelegaan.


Cinta mereka yang telah terajut, akan selamanya ada di dalam hati. Meski mereka tak memiliki keturunan, namun Rangga adalah sosok suami idaman. Mungkin semua yang terjadi adalah bagian penebusan kesalahan di masa silam.


Shinta percaya, akan ada pelangi sehabis hujan.


Danan membukakan pintu mobilnya perlahan. Sekuat hati mengingat ucapan Wisang beberapa jam yang lalu.


Kalau ketemu, tahan itu elu punya bacot.


Danan mengembuskan napas saat mengitari mobilnya. Ia memang tak boleh grusa- grusu. Apalagi, waktu Shinta untuk lepas dari masa Iddah masih kurang dua bulan lagi.


" Mas?" tanya Shinta saat Danan baru memasang seatbelt nya.


" Ya?" Danan menjawab seraya membetulkan rear vision mirror di depannya. Harus presisi demi standarisasi keselamatan berkendara.


" Kamu harusnya gak gini!" ucap Shinta tak enak hati karena pria di sampingnya itu melakukan sesuatu yang berlebihan. Terutama pembantu dan stok bahan pangan.


" Begini gimana?" jawabnya sembari menyalakan mesin mobilnya.


" Kamu kirim mbak Suko sama mbak Ndari. Terus kirimin aku banyak banget bahan pangan, aku rasa kamu..."


" Shin..." Danan memotong ucapan Shinta. Pria itu bahkan mematikan mesin mobil yang baru saja ia nyalakan. Ia merasa harus meluruskan saat ini juga.


Shinta menatap Danan. Pria itu bahkan masih saja terlihat ganteng bahkan di saat siang seperti itu.


" Harus berapa kali aku bilang. Aku suka sama kamu, sayang sama kamu. Dan alasanku masih itu hingga saat ini, bahkan hingga nanti!" Danan meraih tangan Shinta.


Membuat wanita itu merasa tak nyaman.


" Oke...maaf!" Danan melepas tangan Shinta, saat ia melihat wajah wanita itu mendadak tegang.


"keep calm Danan, keep calm!!!"


Pria itu mensugesti dirinya sendiri dalam hati. Sedikit saja terburu- buru, ia takut Shinta akan bersikap seperti dulu.

__ADS_1


Danan menghela napas sebelum ia melanjutkan ucapannya, " Masa Iddah kamu akan habis dua bulan lagi. Aku mau kamu tahu, aku bakal nunggu sampai kamu mau buka hati buat aku Shin" Danan menatap mata Shinta lekat.


" Aku suka sama kamu bahkan meski aku tahu kamu belum atau tak memiliki perasaan apa-apa sama aku. Tapi ijinkan aku membuat kamu suka sama aku Shin. Kasih aku waktu sama kesempatan!"


Danan bahkan tak pernah se serius ini kepada para wanita yang pernah ia kencani, ataupun para wanita yang pernah ia tiduri sewaktu ia masih menjadi pria tidak waras dulu.


Shinta menelan ludahnya sesaat setelah ia mendengar Danan memberikan pernyataan yang membuatnya resah itu.


" Aku....aku..."


" Kamu gak perlu jawab sekarang. Yang penting kamu tahu kalau aku serius sama kamu!" Danan mengusap lembut pipi Shinta. Membuat hati Shinta berdebar.


Shinta benar-benar tak mengerti. Hatinya memang masih kosong saat ini, ia sebenarnya kesal dengan Danan. Mencuri ciumannya. Seenaknya mengirim pembantu, dan masih banyak hal bersifat pemaksaan lainnya yang membuat Shinta menghela napas.


Ia tentu tidak mau di cap buruk oleh orang lain, jika ia dengan terburu-buru menerima Danan. Meski ia sendiri juga tak yakin akan semua ini. Terlalu cepat jika membicarakan soal perasaannya, disaat pusara suaminya belum mengering.


Jujur, di dalam relung hatinya, ia masih mencintai Rangga. Dan untuk Danan, ia hanya menganggapnya pria baik yang dikirim Tuhan untuk menolongnya disaat kegetiran hidup menerpanya.


Belum genap setahun suaminya meninggal sudah menikah lagi.


Pasti jangan-jangan istrinya selingkuh sejak suaminya masih hidup.


Janda gatel itu pasti.


Shinta tahu, pasti kata-kata seperti itu akan mengiringi langkahnya bila ia tak pikir panjang. Ia hanya diam, di satu sisi ia memang belum ingin menikah. Tapi kebaikan Danan, sedikit menggoyahkan hatinya yang sepi. Apalagi, ia tahu bila Rangga menyembunyikan satu hal penting dari hidupnya selama kurang lebih tujuh tahun.


Entahlah, kebimbangan masih menutupi sanubari Shinta.


Karena seringkali yang berat itu bukanlah perjuangan ataupun pengorbanan, melainkan penghakiman orang lain.


" Kita kemana?" Danan mencoba memecah kesunyian yang tercipta. Ia tahu Shinta mendadak canggung.


" Pulang aja mas!"


.


.


Ia kesal dengan managernya, Satrio. Rekan setia Bastian sewaktu dulu itu benar-benar menurun kinerjanya selama dua bulan terakhir.


Akhir bulan yang diharapkan lancar agar ia bisa memiliki quality time bersama Jodhi dan Bastian malah menguap begitu saja.


Mau tak mau, ia juga harus turut andil dalam penyelesaian laporan.


Maaf Bu, saya akan segera perbaiki.


Dari Devisi mixing dan pengolahan ada sedikit keterlambatan laporan Bu.


Dalih yang kerap di ucapkan oleh Satrio nampak familiar di telinga Rania. Ibu dari Jodhi itu bahkan sudah kehabisan kata untuk sekedar memberikan peringatan. Ia ingin mengambil punishment untuk Satrio, tapi agaknya ia tak tega. Mengingat bila Satrio adalah kawan baik Bastian.


Saat jam makan siang, pintunya di ketuk oleh seseorang.


" Masuk aja!" sahut Rania sambil memijat keningnya.

__ADS_1


" Es Boba gula aren datang Bu!"


"Iiiii kenapa lama sekali?!" Rania langsung menubruk Bastian. Wanita itu memeluk tubuh tegap kekasihnya itu, lalu menyenderkan kepalanya ke dada bidang Bastian.


Harum wangi yang maskulin seketika menyeruak, memenuhi rongga hidung Rania.


" Iya maaf, habis diajak makan Trainerku. Ga enak mau nolak!" Bastia mencium puncak rambut Rania.


" Lagi?" dengan kening berkerut, Rania menatap kekasihnya. Seingat Rania, ini sudah kali ke empat Bastian memenuhi permintaan Trainernya.


" Emmmm" Bastian mengangguk "Rupanya banyak banget birokrasi yang harus aku lalui. Harus naik ke Dinas perdagangan dan industri. Bikin SIUP" terang Bastian.


Untuk membuat SIUP, pelaku usaha bisa langsung mendatangi Dinas Perdagangan tingkat kabupaten/kota atau Kantor Pelayanan Perizinan setempat.


" Dulu belum ada?" Rania menatap Bastian.


" Yang ini buat usaha yang omzetnya besar Ran. Intinya aku mau beresin dulu tetekbengek yang begini ini!" ia mendudukkan dirinya diatas sofa.


" Kamu mau sabar kan, tinggal dikit lagi beres kok!"


" Pembangunannya juga on progres. Aku mau dilihat orang bukan karena kakakku yang udah nikah sama Kak Abi. Tapi karena Bastian yang punya Dapur Isun!" Bastian menggenggam tangan Rania lalu mengecupnya.


" Kamu mau kan nunggu aku?" Bastian kini menangkup wajah Rania, sejurus kemudian ia menempelkan bibirnya ke bibir ranum Rania.


Wanita itu memejamkan matanya saat ia merasakan bibir kenyal Bastian melu*mat bibirnya dengan lembut. Sapuan lidahnya itu sangat terasa manis.


Tangan kekar Bastian menekan tengkuk Rania. Wanita itu juga menggerayangi dada dan lengan berotot Bastian yang sangat ia kagumi.


Ciuman yang begitu penuh rasa kasih sayang itu berlangsung pelan. Tidak terburu-buru dan cenderung saling menikmati.


Dan saat bibir mereka masih saling melu*mat, interupsi dari ponselnya terdengar.


Sial!!


Bastian mengumpat dalam hatinya. Ia lupa untuk mensilent ponselnya. Ciuman mereka kini terlepas. Rania melongok melihat nama yang tertera di layar ponsel kekasih.


Bu Yuna Calling


Mata Rania membulat begitu melihat profile picture yang begitu sexy, yang terlihat tengah memanggil ke nomor kekasihnya itu.


" Siapa itu?" Rania mengernyitkan alisnya seraya menatap sebal Bastian.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Halo Readers, mommy juga bingung kenapa bab mommy ada yang double ya🤔🤔🤔


__ADS_2