The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 241. Pembalasan


__ADS_3

Bab 241. Pembalasan


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


" Cinta tanpa kecemburuan, bak masakan kurang penyedap. Kurang nendang!"


.


.


Yuna


Ia memang di undang secara resmi oleh Bastian. Mengingat wanita itu juga berkontribusi dalam pengembangan bakat, dan menolong Bastian dalam kegiatan kepengurusan perijinan beserta tetekbengek-nya.


Pagi itu ia memanggil Bastian yang mengahadap ke barat dengan posisi membelakangi Yuna. Yuna yang sudah menyukai Bastian sedari awal tentu merasa senang pagi itu.


" Bas!" panggilannya dari jarak yg agak jauh, padatnya mobil para tamu yang datang, membuat Yuna tak kebagian parkir yang strategis.


" Bastian!"


Merasa tak mendapat sahutan, ia langsung meluncur ke tempat Bastian yang terlihat berdiam.


Ia langsung memeluk dan memberikan sun untuk Pemilik Dapur Isun yang baru itu.


" Selamat ya Bas, kamu aku panggil gak dengar!" ucapnya karena Bastian menang tak menyahut sama sekali sewaktu di panggil.


.


.


" Bu Yuna!" Bastian menatap wanita itu tajam, tapi sejurus kemudian ia membuang pandangannya. Ia adalah tamu di acaranya, sejenak ia di tuntut untuk mengabaikan perasaan kesal yang berkecamuk.


Benar-benar wanita liar!


Bastia langsung mematikan sambungan video call nya, karena takut Rania semakin salah paham dengan ucapan Yuna. Dan juga sebelum Yuna mengucapkan hal-hal yang aneh-aneh. Berniat akan menghubungi Rania kembali, usai Yuna masuk nanti.


" Aku parkir di sana gapapa kan, soalnya ramai!" Yuna tanpa merasa bersalah, malah berucap layaknya wanita kepada kekasihnya.


" Bu Yuna tolong jangan..."


" Selamat ya sekali lagi, semoga makin ramai. Jangan lupa pasang adevertising di tempatku aja, nanti aku kasih diskon!"


Sungguh, jika hari ini bukan acara peresmian dan pembukaan Dapur Isun yang baru, mungkin Bastian akan memaki wanita itu. Tapi, tentu saja ia harus menjaga sikap di hari pertamanya menjadi Bos di DI ( Dapur Isun).


.


.


Kota S


Rania


Apa yang ia lihat barusan tentu saja bukan isapan jempol atau bahkan hanya gosip. Melainkan sebuah kenyataan, yang ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri.


" Wanita itu lagi, kenapa Bastian ngundang dia sih?" Rania mengentak kakinya kesal.


" Aku padahal sudah mengingatkan Bastian ouhhhhh!!" Rania kesal dan bergumam sendirian di kamar hotel tempat ia menginap malam ini.


Lebih kesal lagi, panggilan video itu dimatikan begitu saja oleh Bastian. Kesal akan hal itu, Rania mematikan ponselnya dan melemparnya ke ranjang.


Telah dua kali Bastian tak mau menegasi wanita itu.


.


.

__ADS_1


Bastian


" Kamu kenapa belum tidur?" Bu Kartika tak senagaja melihat Bastian yang duduk dalam kegelapan ruang tamunya. Hanya wajahnya yang tersuluh cahaya dari telepon pintarnya.


Ya , Bastian dibuat bingung karena nomer Rania tak bisa ia hubungi sejak masih di Dapur Isun tadi. Jelas menjadi pertanda ia yang dalam masalah.


" Emmm belum ngantuk buk!" sahutnya cepat.


Klek


Bu Kartika menyalakan saklar lampu itu, membuat ruang tamu itu kini terbang benderang kembali. Menampilkan raut muka Bastian yang kusut cenderung susah.


" Kamu ada masalah?" Bu Kartika mendudukkan dirinya ke atas sofa ruang tamunya. Hati ibu selalu saja bisa merasakan kegelisahan hati seorang anak.


" Enggak Buk!" sahut Bastian seraya meletakkan ponselnya ke atas meja. Kini ia terpekur menatap asbak kristal yang berada di meja ruang tamunya.


Bu Kartika menghela napas, " Ibu gak mau bikin kesalahan lagi dengan mencarikan jodoh buat kamu. Ibuk gak mau!" ucap wanita tua itu menatap anaknya.


" Apa kamu mencintai adik ipar Dhira?"


Membuat Bastian langsung mendongak, ia memang akan berbicara soal Rania dalam waktu dekat, mengingat usahanya sudah pada jalurnya. Tapi tidak dalam keadaan begini.


" Maaf Buk!" ia menundukkan kepalanya.


Suasana senyap.


" Dia janda yang di tinggal mati, dan menolong anak yatim adalah kebajikan. Tapi, jangan hanya mau menerima ibunya saja. Kamu pria lajang, jika ingin menikahi adik Abimanyu maka kamu juga harus siap menjadi seorang ayah juga!"


Orang tua selalu saja selangkah lebih maju dari pemikiran anaknya. Bastian dibuat menelan ludah.


" Bapak kamu sudah tidak ada, mencari pengganti sosok bapak kamu adalah sebuah kemustahilan Bas. Untuk itulah ibuk memilih tidak menikah lagi!"


Masih diam terpekur, kali ini Bastian meremas ujung jarinya. " Ibuk pernah salah, jadi kamu jangan sampai membuat kesalahan!"


" Kalau suka segera buat langkah serius, dan jangan pernah menyakiti hati wanita Bas!"


" Kalian bukan mahram, jadi tidak ada masalah untuk itu!"


Bastian bak di kuliti. Apalagi, saat ini Rania jelas merajuk kepadanya. Benarkah ia adalah pria yang tak becus untuk bergerak cepat? Sungguh, ia hanya ingin segala sesuatunya berjalan sesuai susunan yang ia harap.


" Jadi Single Parents itu berat Bas. Dekat dengan pria dikira gatel, menikah lagi dibilang gak mikirin anak, mikir senang sendiri, gak menikah dibilang kelainan!"


Bu Kartika tersenyum kecut demi mengingat perjalanan hidupnya selama ini.


" Ibu merestui kamu, tapi jangan pernah lupakan pesan ibu tadi!"


...šŸšŸšŸ...


Senin siang Rania hendak bertolak menuju kota J. Ya, kini ia sedang berada di ruang tunggu. Penerbangan langsung dari Bandara kota S menuju kota J.


Tanpa senagaja, Rania berjumpa dengan Fredy. Pria itu juga akan menuju kota J. " Rania!" sapa Fredy dengan wajah sumringah.


" Fred, kamu disini?" Rania biasa saja saat menyapa temannya itu, karena mereka memang masih berhubungan baik dalam batas kewajaran sebagai teman. Meski Rania tidak tahu, bila Fredy menaruh hati padanya.


" Aku mau balik, kamu?"


" Sama, kamu dari mana?" kini mereka duduk berdua dan saling ngobrol.


" Aku habis buka franchise( waralaba) minumanku yang baru di mall sini, sekalian ada yang aku temuin!" ucap Fredy.


Rania mengangguk " Pasti orang spesial!" ucap Rania terkekeh.


" No, my nephew!" tukas Fredy.


" Astaga iya, mbak Deby tinggal disini sekarang ya. Dia apa kabar?" Rania kini sejenak bisa melupakan keruwetan hatinya karena Bastian.


" She's fine, baru aja melahirkan anak kedua. Makanya sekalian aku kesana. Ya kamu tahu lah, semenjak mama gak ada dia musti apa- apa sendiri. Cuma di bantu sama ART nya aja!"


" Oh congrat ya!"


Rania dan Fredy terlibat obrolan seru, mereka memang berteman baik sejak sekolah dulu. Pembicaraan ngalor- ngidul itu harus terhenti, karena petugas maskapai penerbangan yang mereka tumpangi, telah melakukan boarding announcement.

__ADS_1


" Seat berapa?" tanya Fredy saat ia berdiri dan akan boarding.


" 6A!" jawab Rania sembari menarik koper warna kuning miliknya.


" Bussines class?" tanya Fredy memastikan.


Rania mengangguk " Kamu?"


" Aku di 7A, belakang kamu ini. Oh astaga!" mereka berdua terkekeh kembali demi menyadari kebetulan yang berlipat ganda.


Saat berada di dalam pesawat, Rania hanya menatap nanar jendela yang menampilkan awan di atas ketinggian ribuan kaki itu. Sungguh, ia benar-benar kecewa kepada Bastian.


Sementara Fredy, ia terlihat duduk dengan menatap wajah ayu Rania dari celah kursi itu.


Diminta menunggu, ia menunggu. Tapi bukan untuk melihat hal itu. Sejenak Rania mempertanyakan keseriusan Bastian kepada dirinya.


Dan sudah dua kali, Bastian membuatkan wanita itu untuk bersikap diluar dugaan.


Ucapan Oma regina yang mengingatkan tentang dirinya yang berstatus janda, sedang Bastian adalah seorang perjaka agaknya kini membuat keteguhan hatinya memudar.


Benarkah bila Bastian tidak serius? Anggapan yang ambigu mendadak menelusup hatinya.


Mereka lending sesuai jadwal, sama-sama langsung keluar karena bagasi yang mereka bawa telah bersama pemiliknya dan di bawa ke kabin.


" Pulang naik apa?" kini Fredy bertanya.


Rania tertegun. Sebelum berangkat kemaren lusa, ia sempat saling ngobrol bersama Bastian lewat sambungan telepon. Bastian mengatakan akan menjemputnya di Bandara.


Tapi, ia tak yakin jika Bastian akan menjemputnya. " Aku mau naik taksi aja, Bagus lagi jemput Jodhi kalau jam segini. Kasian kalau musti bolak-balik!" Rania tersenyum kecut demi mengingat ia yang masih kesal dengan Bastian.


" Kalau gitu sama aku aja, mobil aku ada disini. Aku titipkan sama protokoler!" Ucap Fredy.


Rania sedikit menimbang tawaran pria yang hobi mengenakan kalung itu.


" Boleh!" ucapnya sejurus kemudian.


.


.


Rania dan Fredy berjalan beriringan. Tentu saja sambil ngobrol. Memburu kebosanan saat menuju parkiran khusus roda empat.


" Mau langsung pulang atau makan dulu?" Fredy merasa, ini mungkin kesempatan yang baik. Pria itu belum mengetahui tentang kedekatan Rania dan Bastian.


" Pulang aja Fred, aku capek banget!" ucap Rania.


Tanpa di nyana, dari kejauhan ia melihat Bastian yang melambaikan tangan. " Dia kesini?" batinnya bermonolog.


Rania masih kesal. Ia mengabaikan Bastian yang melambaikan tangannya bagai pemandu sorak tim basket.


" Emm Fred, kita makan dulu aja deh ya. Terserah dimana!" Rania menggamit lengan Fredy, membuat pria itu menatap tangan putih Rania yang kini menyentuh lengannya.


Rania menatap Bastian yang terlihat terkejut akan sikap yang ia lakukan kepada Fredy. Ya, Rania sengaja ingin membuat Bastian cemburu. Pembalasan itu perlu kawan.


" Ok, ayo!" Fredy membukakan pintu mobilnya untuk Rania sambil tersenyum penuh arti.


Pria itu terlihat memutari mobilnya dengan setengah berlari. Sejurus kemudian mobil itu terlihat melaju meninggalkan airport.


Bastian yang serasa di hantam palu itu, hanya bisa mendelik tatkala Rania pergi bersama pria yang beberapa waktu yang lalu membuat dirinya minder.


Rania tak melihat Bastian yang sepertinya terlihat kebingungan.


"Skor satu sama kawan!" Begitu ucap Rania dalam hati.


.


.


.


Keterangan :

__ADS_1


Mahram adalah semua orang yang haram untuk dinikahi selamanya karena sebab keturunan, persusuan, dan pernikahan dalam syariat Islam.


__ADS_2