The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 235. The end of the enemy


__ADS_3

Bab 235. The end of the enemy


.


.


.


...🍁🍁🍁...


" Nafsu ingin berkuasa, oh sungguh mahal ongkosnya!"


( Iwan Fals)


.


.


Kebingungan mendadak menyeruak, dan ketenangan mendadak memudar.


" Apa kau tidak punya kunci cadangan?" tanya Abimanyu.


" Aku sudah lama tidak berkunjung ke tempat ini, kau jangan gila!" mereka berdua sama-sama paniknya. Bom itu terus berjalan. Bahkan baik Mira maupun Wisnu juga gak bisa menghentikan benda itu.


Abimanyu dan Wisang tak memiliki cara lain, mereka harus mengambil kunci yang mungkin berada di tangan Mira.


" Devan, pastian Mira dan Wisnu tidak keluar dari tempat ini. Ratusan orang masih ada di dalam!" titah Abimanyu dengan nafas memburu.


Mereka berdua lari seperti seekor kijang. Cepat dan melesat mencari target.


Sementara itu diluar ruangan namun masih berada di gedung Devisi packing, Mira berjalan dengan cepat, ia dibawah perlindungan sepuluh anak buahnya yang bersenjata lengkap.


Berusaha kabur, dan tak mau mati konyol disana.


.


.


Jason


Ia terpaksa menembak perut Reymond karena pria itu terus melawan. " Persetan jika kau mati!" Jason meludahi mucikari itu dengan tatapan jijik.


Sejurus kemudian ia meninggalkan pria dengan perut buncit itu dengan penuh kehinaan.


Ia yang kini melihat Wisnu hendak kabur segera berlari menuju ke arah pria itu.


Dor


Dor


Dor


Dengan seorang diri pria dengan tato di lengan itu menembaki ban mobil yang akan digunakan Wisnu untuk kabur.


" Brengsek!"


" Cari mati kau rupanya!" ucap anak buah Wisnu yang berang.


Seketika dua anak buah Wisnu yang turut berjaga membalas tembakan Jason. Ia bersembunyi sejenak saat mereka mengarahkan tembakan kepadanya.


" Sial!" ia kehabisan peluru. Banyaknya orang yang telah ia hadiahi timah panas, membuat misilnya kosong.


Wisnu dan dua anggotanya mendatangi Jason yang kini kehabisan peluru. Jason seketika terkejut saat sepucuk senjata itu menghadap ke wajahnya.


" Ucapkan selamat ting..."


Dor


Dor


Dor


Devan berhasil menembak tangan anak buah Wisnu dari jauh, membuat Wisnu kini terpaksa juga menarik senjatanya dan tengah bersiap.


" Kau tidak apa-apa?" tanya Devan yang melihat Jason nampak berwajah pias. Untung bala bantuan datang dengan tepat waktu.


" Astaga bos, kupikir aku yang sudah berada di tempat lain!" pria dengan usia sepadan dengan Nanang itu agaknya juga memiliki rasa takut dengan kematian.


" Pakai ini!" Danan menyerahkan senjata miliknya yang penuh dengan isi.


" Wah wah, sepertinya memang kita harus bertemu lagi tuan!" Wisnu tersenyum licik ke arah Danan. Pria yang sempat mengejarnya beberapa bulan yang lalu namun gagal itu, menatap Wisnu dengan wajah tak bisa di tebak.


" Habisi mereka!" Ucap Wisnu yang rupanya mendapat bala bantuan dari dalam.


Sudah tak terhitung banyaknya orang yang terluka, baik dari pihak Abimanyu maupun pihak Mira. Kalah jadi abu menang jadi arang.


" Bye!" Wisnu melambaikan tangannya saat puluhan anak buahnya menyerang Danan, Devan dan Jason.


Namun tak di nyana,


Bruaaakkkk


Bastian di jam menjelang sore itu datang dengan mengendarai mobilnya. Pria itu langsung menabrak pagar besi, dan menabrak Wisnu.


" Kuharap aku tidak terlambat!"


...Flashback On...


Dhira yang di liputi kecemasan benar-benar tak bisa diam. Ia mondar mandir sembari menghaturkan doa kepada sang pemilik kehidupan.


" Dhir, elu yang tenang dong. Gue jadi ikut panik nih!" Shinta turut pusing melihat Dhira yang mondar-mandir bak setrikaan.


" Bastian, iya benar. Aku harus meminta bantuan anak itu!" Dhira bermonolog seraya terlihat antusias, karena mendapat sebuah ide.


Dhira menyambar ponselnya dengan cepat. Ia baru mendapatkan informasi dari Nanang bila suaminya tengah menuju ke pabrik sarden terbesar milik keluarga Wisang.


Mereka tak berani keluar meski tahu bila Sekar tengah dalam perjalanan menuju rumah sakit akibat tertembak.


Kekhawatiran menyeruak, ia benar-benar takut terjadi sesuatu terhadap suaminya.


" Ya kak ken..."


"Bas kamu tolong..."


Dhira meminta adiknya untuk menuju kawasan Siliwangi. Ia tak bisa membantu banyak, ia berharap adiknya bisa menyumbangkan tenaganya untuk menolong suaminya beserta kawan- kawannya.


...Flashback end...


Bruuummm


Ciiiiiit


Wisnu tidak mati, melainkan turut terseret di kap mobil depan milik Bastian. " Turunkan aku brengsek!" Wisnu mengumpat dengan posisi badannya yang berada di depan mobil Bastian yang kini melaju kencang ke arah dalam.


Bastian terus menginjak pedal gasnya dengan wajah marah, rahangnya bahkan terlihat mengeras.


Brak


Tubuh pria biadab itu menghantam pintu kayu hingga jebol. Bastian benar-benar berang. Ia terus melajukan mobilnya hingga masuk ke dalam pabrik itu.

__ADS_1


Brak


Bastian kembali menabrakkan tubuh Wisnu ke tembok yang berada di ruangan packing produk itu.


" Argghhhhhh!" Runtuh Wisnu karena merasa sesuatu yang tajam tertancap di punggung. Seperti serpihan sebuah kayu.


Mira yang hendak berjalan keluar mendadak terkejut dengan sebuah mobil yang melaju kencang ke arahnya, dengan tubuh Wisnu yang tersangkut di depannya.


" Kurang ajar!" Mira geram demi melihat Wisnu yang kesakitan.


Dalam waktu yang bersamaan, Abimanyu dan Wisang datang di tempat itu dengan napas tersengal-sengal.


Mereka berdua terengah-engah karena berlari dengan kencang.


Mira yang melihat Wisang seketika menarik senjata milik anak buahnya. Wisnu yang merasakan sakit di sekujur tubuhnya akibat menabrak banyak sekali benda keras itu, kini hanya bisa mengerang.


Pria itu ambruk.


Bastian terlihat turun dari mobilnya. Pria itu kini terlihat menghampiri Wisnu. Berjaga- jaga kalau pria itu masih melakukan perlawanan.


" Oh, lihat siapa yang datang!" Mira menatap wajah Wisang dengan senyuman licik. Ia bersikap biasa saja, meski ia sebenarnya sudah terkepung.


" Apa sebenernya maumu wanita brengsek!" Wisang berteriak di akhir kalimatnya. Ia sudah cukup lelah dan jengah dengan semua permainan Mira.


Sepuluh anak buah Mira yang berdiri di belakang wanita itu, masih bersiap dengan senjata mereka masing-masing. Bersiaga melindungi bos mereka.


Abimanyu terlihat memindai keadaan disana, pria itu juga mencari siapa yang membawa kunci ruangan yang berisikan ratusan orang itu.


" Kau yang brengsek! Mira kembali berteriak. Andai kau menerimaku, tentu semuanya tidak akan seperti ini sayang!" Mira menatap Wisang geram!"


" Wisang kita tidak memiliki waktu lebih banyak lagi, bom itu terus berjalan!" bisik Abimanyu dari belakang.


" Kunci itu ada di gelang Mira!" bisiknya lagi.


" Oh sh*it!!!" Wisang mengumpat. Kini ini harus bisa mengambil kunci di tangan wanita biadab itu.


" Berikan kunc..."


" Aku akan menembakmu jika kau maju satu langkah saja!" Mira menodongkan senjata itu ke arah Wisang!


Seketika suasana menjadi tegang.


" Aku mencintai kamu Wisang, tapi apa yang kau lakukan kepadaku. Kau malah memilih wanita miskin itu!" Mira frustasi, ia berteriak.


" Kau yang memintaku untuk menjadi seperti ini! Mira menatap geram ke arah Wisang.


Wisang yang mendengar ucapan itu hanya bisa menahan nafas yang memburu.


Wisnu masih meringis kesakitan, seraya mendengar Mira berbicara.


Mira kini berjalan mendekati ke arah Wisang yang berdiri mematung menahan kegeraman. Mensugesti dirinya untuk lebih sabar, sebab kunci itu berada pada Mira . Ia melihat kunci itu diikatkan di lengan Mira.


" Aku sangat mencintaimu Wisang!" Mira mencium bibir Wisang saat itu, Wisang langsung menoleh ke samping dengan rasa jijik. Dan sejurus kemudian,


Krak


Bruk


Wisang membalikkan tubuh Mira, dan membuat senjata yang awalnya di pegang wanita itu terjatuh ke lantai. Seketika anak buah Mira bersiap untuk menembak Wisang.


" Turunkan senjata kalian atau akan ku bunuh dia!" kini Wisang mengintimidasi anak buah Mira menggunakan bosnya.


Mereka masih tetap mengarahkan senjatanya ke arah Wisang.


Klak


Klek


" Turunkan senjata kalian!" ucap Mira dengan harap-harap cemas.


Membuat ke sepuluh anak buah Mira tak berkutik.


" Abimanyu , cepat ambil kuncinya!" Wisang mengarahkan tangan Mira kepada sahabatnya itu.


Secepat kilat Abimanyu berlari kembali kedalam untuk membebaskan para karyawan Wisang.


Di detik yang sama Devan, Danan serta Jason terlihat masuk kedalam. Mereka dengan susah payah berhasil mengalahkan kesemua anak buah Wisnu.


Napas mereka kembang- kempis


Terbukti dari wajah mereka yang juga mengalami luka. Mata Jason yang berdarah, sudut bibir Devan yang robek serta Danan yang tertembak di lengan kirinya.


" Danan!" Wisang terkejut demi melihat sahabatnya yang terluka.


" It's fine, doesn't matter for me!" ucap Danan mencoba membuat Wisang tak panik. Meski ia menahan rasa nyeri karena proyektil yang bersarang di lengan kirinya.


Bom waktu itu terus berjalan, menyisakan waktu tujuh menit lagi. Sementara kesemuanya harap-harap cemas karena Abimanyu bersama ratusan karyawan Wisang belum juga menampakkan batang hidungnya.


" Tuan, kita harus cepat. Bom ini terus berjalan!" tukas Jason yang memantau bom itu.


" Lepaskan aku brengsek!" Mira menggoyangkan tubuhnya yang lehernya kini di kunci oleh Wisang.


" Kalau saja kau mau waras sedikit, semua tidak akan berakhir seperti ini!" ucap Wisang dengan rahang yang mengeras.


Saat mereka sibuk memperhatikan Wisang dan Mira, Wisnu yang kesakitan itu mencoba menyerang Bastian.


Bruk


Bastian ambruk karena jegalan pria itu.


" Bas!" Wisang berteriak, membuat Devan segara berlari ke arah pria kurang ajar itu.


" Brengsek!" umpat Devan geram. Sudah cukup pria itu membuat keonaran selama ini.


Kini baik Jason maupun Danan sudah bersiap dengan senjata mereka. " Sudah aku katakan, aku akan membunuh dia jika kalian melawan.


Dor


Dor


Dor


" Arghhhhh!" Mira ketakutan dan berteriak.


Wisang dengan kemarahan yang memuncak menarik pelatuk menembakkan senjatanya dari balik punggungnya ke arah atas. Membuat kesemua yang disana ketakutan.


Bug


" Devan menghujani Wisnu dengan tinjuan, " Ini untuk Nyonya Sekar yang saat ini entah bagaimana kondisinya. Dasar brengsek!"


Wajah Wisnu terlempar ke samping kanan saat Devan dengan geram mengajar Wisnu.


Bug


" Dan ini untuk kekacauan yang selama ini kau buat sialan!" Devan meninju hidung pria itu hingga darah keluar dari lubang hidung Wisnu.


" Tidak!!!!!" Mira menjerit saat melihat Wisnu yang sudah terkapar karena dihajar oleh Devan.


Wisnu merasa mendadak banyak kunang-kunang yang menari-nari di atas kepalanya.

__ADS_1


" Tuan sudah!" Bastian yang sudah bangkit itu mulai menahan Devan yang kesetanan. Ia yang lelah dengan semua ini melampiaskan semua itu kepada Wisnu.


" Mati aja lu anjing'!" Umpat Devan seraya menendang kaki Wisnu.


Mira yang melihat Wisnu di perlakukan seperti itu tentu saja berang " Brengsek, hentikan!"


" Brengsek kalian!!" Mira menjerit frustasi.


Detik berikutnya terdengar gemuruh ratusan orang yang berlari. Riuh rendah suara teriakan membuat suasana menjadi kacau.


" Ayo cepat- cepat!" samar-samar suara Abimanyu memberikan arahan untuk mengevakuasi ratusan pekerja itu.


" Lima menit lagi!" ucap Jason yang melihat bom itu. Bom itu jelas tak seorangpun dapat menjinakkan. Jelas, mereka bukanlah tim Gegana.


Kini sepuluh orang yang tadinya melindungi Mira dan Wisnu mendadak takut. Mereka takut bila bom itu meledak dan mereka masih berada disana.


Satu persatu mereka lari tunggang langgang bersama para pegawai Wisang. Membuat Wisang menarik sudut bibirnya.


" Hey kemana kalian sialan, jangan kabur!" Mira meneriaki anak buahnya yang agaknya kini kocar- kacir karena ketakutan.


" Kubilang berhenti brengsek!" Mira benar-benar marah!" Ia benar-benar stres dengan keadaan yang ia hadapi.


"Kau lihat, budakmu bahkan sudah berkhianat!" bisik Wisang kepada Mira.


" Diam kau Brengsek!" sergah Mira kepada Wisang cepat.


Bom waktu itu terus berjalan. Jason dan Danan turut membantu para karyawan untuk keluar sebelum benda itu meledak. Selama itu pula, Mira masih berada di bawah kendali Wisang.


Wisnu terlihat tak berdaya. Pria itu wajahnya hancur karena tinjuan dari Devan.


" Ayo cepat, sebelah sini!" Devan dan Bastian turut mengarahkan para pegawai yang terus keluar dari tempat itu.


" Oh sial!" ucap Bastian yang menyadari mereka kini tak memiliki banyak waktu. Tempat ini jelas akan hancur.


Sejurus kemudian, Bastian mengeluarkan mobilnya karena waktu yang kian mendekati ledakan. Di susul Danan dan Jason yang juga keluar sambil membopong seorang pria yang tadi di tembak oleh Mira.


Tersisa tiga menit sebelum bom itu meledak.


" Wisang sebaiknya kita keluar, ayo cepat!" Abimanyu kini menarik tubuh Wisang yang masih mengunci pergerakan Mira.


Ia melihat sekeliling bangunan yang mungkin sebentar lagi akan luluh lantak tak bersisa. Merekam semua itu dalam ingatannya.


" Wisang!"Teriak Abimanyu karena Bom itu sudah mendekati ke menit berikutnya.


" Aku berharap istrimu mati sekarang!"


" Dia sudah tertembak bukan, kalau aku tidak bisa memilikimu! maka orang lain juga tidak akan pernah!" Mira tertawa keras usai mengatakan hal itu.


" Mati kau Sekar!!!!" wanita itu menjerit-jerit seperti orang gila.


Mira berucap dengan nada penuh kebencian. Membuat emosi Wisang langsung terpantik. Apalagi ia ingat wajah pucat istrinya yang menahan sakit karena proyektil yang bersarang di perutnya.


Dor


Wisang menembak perut Mira dengan wajah geram, cukup sudah. Ia harus mengakhiri semuanya. Ia kini sudah menepati janjinya kepada istrinya, membuat tubuh wanita itu ambruk dalam sekejap. Ia mengeraskan rahangnya.


Mira meringis kesakitan, dan posisinya kini berada di bawah kaki Wisang yang masih menatapnya geram.


Ia mendadak teringat dengan ucapan istrinya dengan suara lemah. Suara yang membuat hatinya berada di puncak kemarahan detik itu juga.


" Pergi dan pastikan Wisnu tak mengganggu kita lagi!"


"Kumohon, aku harus mendengar dari bibir mas Wisang sendiri tentang kematian Wisnu!"


Dor


Dor


Detik berikutnya ia menembak kepala Wisnu yang bahkan sudah tak bisa melawannya. Ia menitikan air matanya usai menembak dua biang perkara itu.


Wisang memejamkan matanya seraya menarik napasnya dalam. Tunai sudah janjinya kepada Sekar.


Abimanyu bahkan tak percaya dengan yang ia lihat. Wisang telah membunuh dua orang sekaligus. Jiwa serigala pria itu benar-benar tak bisa di ragukan lagi.


" Wisang cepat!" Ucap Abimanyu meneriaki pria itu dengan tenggorokan yang terasa serak.


" Wisang!!"


Mereka berdua berlari secepat mungkin, bom waktu itu terus berjalan mundur. Seperti menunggu ajal datang, Mira berjalan tertatih ke arah Wisnu yang sedang sekarat.


Wanita itu menangis, ia mengusap wajah Wisnu yang babak belur.


" Terimakasih!"


" Terimakasih karena kau sudah mau denganku!" Mira mengecup bibir Wisnu yang sudah bersimbah darah. Ia merasakan cairan asin itu menempel di bibirnya. Tubuhnya nyeri dan begitu terasa pedih.


Ia memeluk tubuh Wisnu dalam keadaan yang begitu menyedihkan.


5


4


3


2


1


0


Bluuuummmmm


Gelombang api yang sangat besar itu menelan habis bangunan pabrik besar yang awalnya berdiri kokoh itu. Bangunan yang menjadi sumber penghidupan bagi ratusan jiwa itu, kini luluh lantak tak bersisa.


Api seolah melahap habis bangunan itu dalam sekejap. Kini Wisang beringsut seraya meratapi pabriknya yang luluh lantak, porak poranda tak berbentuk.


Bruak


Abimanyu dan Wisang melompat karena debuman jago merah itu. Tubuh mereka kotor dan terluka akibat gesekan lantai dari cor semen itu.


Pria itu memejamkan matanya seraya menangis, di saksikan oleh ratusan pegawai yang larut dalam keterkejutan, juga para sahabat yang kini berwajah muram. Serta sirine polisi yang seringnya datang terlambat.


.


.


.


.


.


.


Hy readers tercinta, gimana kabarnya?


pasti tegang ya😁😁😁


Biar gak bosan, mommy kasih side action. Biar imajinasi kita, kian beranekaragam.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak ya.


__ADS_2