
Bab 81. Kecurigaan Arya
.
.
.
...ššš...
"Pantasnya kamu mencintai, yang juga cintai dirimu. Cinta kamu!"
( Diambil dari lirik lagu Kotak~ Pelan- Pela saja)
.
.
.
Wisang nampak menjalankan perannya dengan baik," kita tunggu di meja saja sebaiknya dok!" ajak Wisang menuju tatanan meja bundar, yang sudah tertata rapih, demi mengalihkan perhatian dokter Arya. Sialan si kampret Abimanyu, pasti lagi enak- enak dia!. Mana lama banget lagi, ucap Wisang dalam hati.
Wisang tersenyum kepada Arya, hal yang paling menjijikkan. Adalah menjadi penjilat. Dan itu ia lakukan saat ini. Mereka terlihat mengobrol dan sekedar berintermezo tak jelas.
"Jadi rekan anda tadi, adalah tuan Abimanyu Dirut Delta Group?" Arya nampak terkejut dengan cerita Wisang. Ya, Wisang sengaja menggiring opini kepada Arya.
"Weh sory, gua telat!" Danan rupanya menyusul ke acara itu, ia terlihat masih memegangi pinggangnya. Entah muncul dari mana dia. Wisang sempat melihat kaki Danan, rupanya masih menapaki lantai. Ia bahkan mengira bila sahabatnya itu adalah hantu. Muncul tiba-tiba dan hilang juga tiba-tiba.
"Tuan, anda seharusnya istirahat!" Arya nampak terkejut dengan kehadiran Danan yang tiba-tiba.
"Oh Dokter, anda disini?" Danan meringis.
__ADS_1
Namun sedetik kemudian Abimanyu nampak menyusul mereka, sialnya Arya sudah duduk di sana bersama Wisang dan Danan. Dan meja-meja disana sudah terlihat penuh. Mau tidak mau Abimanyu turut bergabung di meja itu.
"Lama banget sih lu!" Tukas Wisang kesal.
"Sory, tadi ngobrol lama sama rekanku, ada hal penting yang dibahas" ucap Abimanyu santai, seolah tidak terjadi apa-apa. Ia menyapukan pandangannya. Dimana Dhira, kenapa belum kembali. Sepercik rasa khawatir timbul di hati Abimanyu, apalagi mereka baru saja bertengkar.
"Jadi tuan Abimanyu ini CEO Delta Group?" Arya mencoba berkomunikasi dengan pria yang terlihat dingin itu.
Abimanyu menatap tajam Arya, sejurus kemudian ia merubah tatapannya menjadi lebih bersahabat," Bukan, saya hanya meneruskan bisnis papa saya!" tukas Abimanyu.
Wisang dan Danan saling tatap, mereka berdua seolah mengeluarkan cahaya peperangan.
"Oh dokter anda sendiri?" kali ini Danan berucap, Wisang memejamkan matanya, ia lupa jika sahabat bodohnya itu suka tak bisa mengatur bicaranya. Apalagi, ia takut saat Dhira kembali.
"Oh, saya bersama calon tunangan saya!" ucap Arya. Abimanyu merasa hatinya diremas-remas, ia mengepalkan tangannya di bawah meja, menghalau emosi.
"Wah, dimana dia. Siapa wanita tak beruntung itu. Ehhh maksud saya, wanita beruntung itu?" ucap Danan, ia bukannya tidak tahu. Ia sudah tahu bila pria di depannya itu, adalah pria yang menjadi saingan Abimanyu.
"Dia masih ke toilet?" Arya tersenyum tanpa curiga, ia merasa pasiennya itu adalah jenis manusia langka.
Sejurus kemudian Dhira terlihat kembali, Abimanyu menatap wanita itu dengan tak berkedip. Ia melihat mata Dhira yang bengkak, juga hidung yang merah. Sepertinya wanita itu habis menangis. Abimanyu mengehela nafasnya, ia merasa ingin merengkuh tubuh wanita di depannya itu.
Arya sedari tadi mulai mengamati Abimanyu, yang menatap Dhira tanpa jeda. Nalurinya tentu saja paham betul, arti tatapan seorang Abimanyu.
"Kamu kenapa Dhir?" Arya kini lebih mengkhawatirkan Dhira, ia tahu bila Dhira baru saja menangis.
"Oh enggak, tadi gak sengaja di gigit semut!" ucap Dhira berdalih.
"Yang digigit matanya apa yang lain nona?, karena kadang kaki kita yang tersandung tapi mata kita yang tetap menangis. Keduanya saling melengkapi meskipun salah satu yang tersakiti. Pasti yang gigit wanita secantik nona adalah semut jantan" Danan berkelakar, namun justru mendapat tatapan tajam dari Wisang.
Wisang kembali terkikik geli, sementara Arya mengernyitkan dahinya. Dhira terperanjat, ia seperti tersindir dengan ucapan pria berlesung pipi itu.
__ADS_1
Wajah Abimanyu sudah terlihat tak bersahabat, pandangannya masih tertuju kepada Andhira.
Arya menatap Dhira lekat, ia merasa ada yang tak beres.
"Ehem, dokter apakah wanita cantik ini calon tunangan anda?" ucap Danan, Wisang dan Abimanyu langsung menatap tajam Danan.
Dhira langsung terlonjak, tak menyadari jika ia tengah satu meja dengan tiga pria itu. Apalagi, ia duduk segaris dengan Abimanyu. Astaga, kenapa aku tidak tahu dari tadi. Dhira semakin gusar, karena duduk disana. Ia hanya sibuk menyeka matanya sedari tiba di kursi itu tadi, mendudukkan pandangannya ke bawah.
Arya nampak curiga," oh iya Tuan, Minggu depan kami akan melangsungkan pertunangan. Iya kan sayang?" Arya ingin mengetes, karena sejak Dhira datang ia curiga dengan tatapan Abimanyu. Apalagi, saat Dhira ke toilet pria itu juga turut pergi.
Dhira yang di peluk pinggangnya dan mendapat panggilan sayang sedikit terlonjak, ia menatap Abimanyu yang terlihat begitu menahan emosi disana.
Dhira tersenyum canggung, seraya mengagguk paksa. Wisang yang mulai melihat situasi mulai memanas langsung mengambil tindakan.
"Emmm, sebaiknya kita ke mempelai dulu. Bim, Dan!" ajak Wisang.
"Kami pergi dulu Dokter, jangan lupa undang kami ya!!" ucap Danna seraya terpincang-pincang sebab pinggangnya sakit.
"Kamu kenal dengan mereka?" tanya Arya.
"Aku tidak kenal!" ucap Dhira singkat, seraya memandang punggung Abimanyu yang semakin menjauh.
Kamu berbohong Dhira, ada sesuatu yang kamu sembunyikan. Arya membatin.
.
.
.
.
__ADS_1