The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 222. Approach


__ADS_3

Bab 222. Approach


.


.


.


" Kuingin kau tahu takkan ada habisnya, ku masih miliki cinta melebihi yang kau kira...."


( Diambil dari lirik sebuah lagu yang di nyanyikan oleh Ipang Lazuardi)


.


.


Raka


Ada yang tak mampu dilupa oleh Raka. Kecemasan kedua orang tuanya saat ia cedera sewaktu bertanding voli. Ya, meski berakhir dengan pertengkaran juga sih.


Namun, kali ini ia benar-benar harus membuka cakrawala pengetahuannya soal urusan rumah tangga kedua orangtuaku. Baginya, yang terpenting mereka sudah rukun, akur dan hubungannya jauh lebih baik. Meski tak lagi bersama.


Ia terus menatap rear vision mirror yang memperlihatkan senyum papa sedari tadi. Dan itu membuat hatinya menghangat.


" Raka biasanya di jemput atau pulang sendiri?" kini Tante Anggi nekat memulai percakapan.


" Di jemput!" jawabnya tanpa ada feedback.


" Sama siapa?" Tante Anggi rupanya nekat.


" Pak Nanang!" sahutnya cepat tanpa menoleh, ia tetap memandang hamparan jalan yang seolah berjalan.


Sejenak ia merasa kosong. Entahlah, moodnya kerap berubah-ubah. Mamanya beberapa bulan lagi melahirkan. Dan jika papanya menikah dengan Tante Anggi, itu artinya ia juga akan memiliki saudara se Bapak.


Dalam hati timbul pertanyaan, mengapa ia dulu tidak memiliki seroang adik dari mama Papanya? seorang saudara seibu sebapak.


Had his parents not loved each other for a long time? ( apakah orang tuanya tidak saling mencintai sejak lama?)


.


.


Anggi


Kesabaran adalah kunci. Jauh-jauh hari ia sudah mempersiapkan, Raka adalah remaja yang tampan. Jelas, Dhira yang cantik dan Indra yang rupawan jelas bibit yang mampu mencetak hal itu.


Andai mantan istri Indra bukanlah Dhira, Anggi yakin tidak akan semudah itu. Dan kali ini, agaknya ia harus gencar memulai hari pertamanya dalam mendekati calon putra sambungnya.


" Raka suka rawon kan? tadi Tante masak banyak. Semoga gak kalah sama rasa masakan mama Dhira ya?" setulus hati ia berucap.


Berbekal informasi dari mas Indra. Ia ingin Raka mau menerimanya sebagai bagian dari dirinya.


Mas Indra bahkan menoleh seraya tersenyum " Kita pulang dulu, nanti malam kita baru pergi!" ucap mas Indra.


Raka mengangguk meski mas Indra tak melihat.


.


.


Dan terbukti, Anggi menjadi orang paling sibuk saat Raka datang. Kuah pekat dengan bumbu kluwak dengan rempah-rempah yang kaya, serta potongan daging khas dalam dan lemak yang cukup telah tersaji di meja makan.


Sedari pagi Anggi sibuk mempersiapkan hal itu. Sibuk mempersiapkan salah satu menu favorit Raka. Sambal tomat juga kecambah, serta kerupuk udang gurih juga telah melengkapi sajian itu.


Ada telur asin, juga olahan daging yang di masak dengan serundeng. Benar-benar ciamik.


" Tante tadi sempat belajar dari mama Dhira, semoga Raka suka ya?"


Bocah itu tertegun " Belajar dari mama Dhira?" apa itu artinya, mereka berdua sudah terlihat komunikasi yang cukup intens?


" Ayo sini tasnya papa bawa dulu, kamu makan dulu terus mandi dan istirahat!" Indra menarik kursi makan itu. Anggi terlihat riwa-riwi mempersiapkan segalanya.


" Kalau ini es cincau. Tadi Tante lihat di pekarangan rumah ada daun cincau. Tante buat deh, ini santan sama gula merahnya. Panas-panas cocok ya mas?" Anggi menatap Indra dengan senyum yang tak pernah luntur.


Raka merasa, ia malah mirip seperti tamu. Tapi entahlah, ia melihat Anggi yang bersemangat menjadi sungkan untuk sekedar menolak.

__ADS_1


Tangan kuning itu terlihat lihai menyendokkan sepiring nasi " Segini cukup atau kurang?" tanya Anggi.


" Udah itu aja!" jawab Raka, ini bukanlah pertama kalinya Raka bertandang ke rumah baru papanya. Namun, ia malah merasa asing karena ada Anggi.


Mungkin lebih tepatnya canggung.


Mereka bertiga mulai makan, Raka menyuapkan rawon kesukaannya itu degan wajah datar.


"Wow, rasanya mirip dengan buatan mama"


" Gimana? gak enak ya?" Anggi insecure saat melihat raut wajah Raka yang terdiam usai menyuapkan makanan itu ke mulutnya. Indra bahkan langsung menjeda kegiatannya.


" Hah?" Raka bingung, rupanya ia di perhatikan sedari tadi. " Enak, mirip buatan mama. Hanya saja, kebanyakan daun bawang!" Raka menarik seulas senyuman.


Anggi tersenyum lega. Indra pun demikian, mereka berdua melihat Raka yang makan dengan khusyu dan cepat. Terlihat menikmati. Dan dalam hitungan beberapa detik saja, makanan itu licin tandas tak bersisa.


Benar-benar definisi laki banget.


" Tante akan belajar lagi!" senyuman tulus mereka di bibir Anggi kepada Raka. Bocah itu masih kikuk, belum berbaur dengan keramahan Anggi.


" Ini calon kalau kerja cepat dan taktis mas, orang kerjanya cepat itu bisa dilihat dari cara makannya!" bisik Anggi kepada Indra di sampingnya.


Indra mengangguk setuju " That's my son!" bisik Indra terkekeh. Membuat hati Anggi menghangat.


" Ini coba es buatan Tante!" ia menyodorkan semangkuk es dengan warna cincau hijau dengan santan gurih yang disiram gula merah. Benar-benar segar.


" Terimakasih!" ucapnya sejurus kemudian mulai memasukkan es itu ke mulutnya.


" Emmm!" gumamanya pelan seraya menikmati es itu. Rasanya enak, mirip dengan es cendol buatan Uti Kartika, hanya saja cincau ini begitu terasa dingin di perut. Lembut dan enak.


" Kapan- kapan Jodhi harus coba ini Pa!" tukasnya seraya masih menekuni es itu. Membuat Anggi tersenyum senang.


Hari pertamanya agaknya berjalan lancar.


" Jodhi?" tanya Anggi.


" Emmm" Raka mengangguk.


" Adik sepupuku dari papa Abimanyu!"


.


.


Flaminggo cafe


13.15 LT ( Local Time)


Wisang


Ia dijadwalkan menghadiri undangan makan siang relasinya di akhir pekan ini. Sebuah penawaran penjualan aset, mereka hendak menjual pabrik sarden di kawasan pantai Utara.


Wisang yang memang berkecimpung dalam hal marine produck ( produk hasil laut), tentu saja tak menyiakan kesempatan itu.


" Maaf saya ter..." ucapnya mendadak menguap karena rupanya yang menghadiri acara itu adalah seorang perempuan. Membuatnya tak nyaman.


" Tidak apa- apa tuan Wisang, silahkan!" wanita itu mengenakan baju dengan belahan dada kentara. Hot dan sexy


Tapi, Wisang sama sekali tidak tertarik.


" Jadi, kamu Arif?" Wisang menyakinkan dengan dahi berlipat.


Wanita itu tersenyum " Benar, saya Charifa. Sejak kecil di panggil Arif!"


" Nama aneh, kenapa dia mengenakan nama pria!" gerutu Wisang dalam hati.


" Arif bukan naman pria Tuan, itu adalah nama yang berarti kebijaksanaan!" Charifa menyeringai.


" Hah, dia bahkan tahu yang ku ucapkan dalam hati!"


Pertemuan itu berjalan lancar, mereka juga sudah menandatangani nota kesepakatan bersama. Alasan yang masuk akal, Arif ditugaskan untuk menjual pabrik itu karena pemiliknya tak sanggup lagi mengelola. Ia mempertahankan nasib para karyawan dengan melepas usahanya itu kepada Wisang.


Usai mengecek keaslian dan keabsahan dokumen itu, mereka lantas makan siang bersama. Normal dan terlihat biasa saja. Bagi Wisang tentunya.


Namun, Wisang menyadari tubuhnya mendadak terasa panas beberapa menit, usai ia menyantap hidangan itu. Dan, seperti atau satu dorongan yang menuntut dirinya. " Ada apa denganku!"

__ADS_1


Arif menyeringai, " Anda kenapa Tuan?" wanita itu meraba pipi Wisang. Mencoba mendekatkan tubuhnya ke tubuh Wisang yang begitu menantang.


" Sial, pasti wanita ini memasukkan sesuatu ke dalam minumanku!"


" Jangan sentuh aku!" Wisang tahu, dari gejolak yang ia rasakan. Wanita itu pasti memasukkan obat perangsang untuknya.


" Tuan, apa anda baik-baik saja!" wanita itu kini meraba paha Kokok Wisang. Suami Sekar itu terlihat keranjingan.


Wisang nyaris saja terbuai. Sejurus kemudian ia mendorong tubuh Arif. " Jangan sentuh saya!"


" Tuan akan saya bantu!" seringai licik timbul dari bibir Arif meski wanita itu baru saja di dorong oleh Wisang.


Dan saat wanita itu hendak menyambar bibir Wisang,


" Aku rasa kita sudah selesai. Terimakasih makan siangnya!" setengah mati Wisang menahan gejolak aneh yang kian menuntut itu. Rasa tidak nyaman yang terus menggebu.


Ia menyambar berkas penting lalu melesat pergi. Pria itu mengeraskan rahangnya guna mengahalau rasa tak nyaman dalam dirinya. Membuatnya gelisah tak karuan.


" Tuan, tuan!!"


" Arggggg!!"


Arif mendadak frustasi , kenapa obatnya lama sekali bereaksi. Sejurus kemudian ia menelpon seseorang " Bos dia pergi!"


" Apa? kamu ini mengurus satu orang saja tidak bisa. Aku tidak mau tahu, pokoknya kamu harus hancurkan reputasi pria itu!"


Wisang tak mungkin menyerang Arif yang notabene adalah wanita, meski ia tahu wanita itu telah berniat tak baik kepadanya. Apalagi, itu adalah tempat umum.


Apalagi ia sudah di wanti-wanti oleh Sekar, untuk menjaga kelakuan saat istrinya itu tengah berbadan dua.


" Oh sial!!!!" Wisang mengemudi kendaraan dengan gusar. Obat itu mulai beraksi dan menjalari tubuhnya. Rasa tak nyaman, rasa yang menuntutnya untuk melakukan pelepasan per segera.


" Minggir brengsek!!" Wisang nyaris saja menabrak pejalan kaki. Pria itu benar-benar menginjak pedal gasnya dengan pol-polan.


Meneriaki siapa saja yang nyaris ia tabrak.


" Hey, apa kau mau mati!" ia lebih baik mengumpat dari pada harus membuat orang lain meregang nyawa.


Setengah mati menahan rasa itu. Rasa yang kian menyiksanya. " Oh Sh*it!!!!" Wisang mengumpat, saat ia membanting setir lantaran nyaris saja seorang pedang itu tertabrak.


Ia melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Dan hanya satu tempat yang tujuannya saat ini.


.


.


Siang itu Sekar menonton TV. Ia mengusap perutnya yang sudah terlihat besar. Wanita itu gemar sekali menonton berita.


Seorang diri di rumah sebesar itu, membuat Sekar kesepian. ART dirumahnya tentu saja sibuk bekerja, tak ada waktu bagi mereka untuk ngobrol.


" Pemirsa, angka kriminal di ibukota semakin meningkat saja. Kapolresta metro menerangkan, tim cobra berhasil meringkus beberapa kawanan pembobol mobil..." ucap news anchor ( pembaca berita).


Sekar memperhatikan beberapa orang yang diringkus, terlihat berjalan berjongkok. Di dunia ini jika di tilik, setiap harinya kian marak saja orang-orang jahat yang tumbuh.


Alasannya sudah pasti klasik. Ekonomi.


Namun saat Sekar tengah sibuk memakan kudapan gurih, ia terkaget dengan pintu yang terbuka kasar. Lebih kaget ia melihat tampilan suaminya yang aneh.


Brak


Suara pintu itu membuatnya berjingkat. Sekar terhenyak dalam waktu bersamaan. Suaminya dengan cepat berjalan ke arahnya. Tatapannya tajam dan seperti memangsa.


" Mas sudah pul...." ucapnya bahkan tidak bisa ia tuntaskan.


Wisang tanpa ba be bo langsung menyergap dan menyerang bibir istrinya. Sekar menjadi terkaget-kaget, ada apa dengan suaminya itu.


" Mas, Kam..."


" Please help me...!" ucap Wisang dengan tatapan sendu.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2