
Bab 92. Two Red Lines
.
.
.
...ššš...
....
"Aku pulang!" sorot mata Abimanyu mengisyaratkan kekecewaan. Ucapan Dhira mengenai haidnya barusan membuat dirinya mengerti, akan kata menerima putusan.
Dhira tertegun, entah mengapa dia merasa sangat nyaman saat ada Abimanyu di dekatnya. Meski bibinya mengusir pria itu, namun jauh di relung hatinya ia sangat ingin berlama-lama dengan pria itu. Namun ia juga tak bisa menahan Abimanyu.
Abimanyu tak berani menatap mata Dhira, ia meninggalkan kamar Dhira dengan perasaan tak tentu arah.
Rania yang menyadari murungnya wajah kakaknya tak berani menatap. Sementara Wisang terlihat mencibir. Udah enak - enakan, sok Sokan bermuram durja. Batin Wisang.
Untung saja Sekar tak sampai melihat. Sewaktu Wisang membuka pintu tadi , wanita itu berada di balik punggungnya.
"Dhira udah bangun, dia bisa pulang beberapa jam lagi" ucap Abimanyu. Membuat semua yang disana bernafas lega.
"Om pulang dulu ya, mama gak apa-apa. Jaga mama ya ka!" suara sendu Abimanyu membuat Raka turut mengantarkan kecemasan. Mana Abimanyu yang selalu bersemangat pikirnya.
"Wis, kau antar Dhira pulang. Aku tidak ingin menambah masalah lagi dengan turut bersama kalian"
Wisang mengangguk, baik Shinta, Rania maupun Sekar terhipnotis dengan wajah murung Abimanyu.
"Ran bereskan semua administrasi!" Abimanyu menyerahkan sebuah kartu kepada adiknya. Sejurus kemudian ia melenggang pergi.
.
.
Kabar pingsannya Dhira telah sampai ke telinga Arya. Ia melayangkan protes, mengapa tak ada yang mengabari sedari pagi. Ia tahu dari mamanya yang di telpon oleh Bu Kartika.
Ya, malam ini Arya langsung menemui Dhira di Ruko." Dhir, kamu harusnya ngelibatin aku dong kalau ada apa-apa" Arya memasang wajah cemas, ia tengah berada di kamar Dhira saat ini.
"Aku gapapa mas, dokter bilang aku kecapekan. Tensiku rendah!"
"Aku juga dokter Dhir, harusnya kamu bilang dari pagi"
Bu Kartika mengintip dari balik pintu, anaknya memang terlihat pucat dan lemah. Muncul sebuah pemikiran, untuk menunda saja pernikahan mereka. Ia kini ingin menelpon Bu Hana untuk membicarakan penundaan pernikahan.
.
.
Bu Kartika kini tegah berbicara dengan Arya," nak Arya, melihat kondisi Dhira bagaimana jika nikahnya kita tunda dulu. Ibuk gak tega lihatnya!" ucap Bu Kartika.
"Saya tadi juga mikir begitu Bu, kesehatan Dhira lebih penting. Saya cuma nyesel aja, kok ga ada yang kasih tahu saya sedari pagi"
Bu Kartika saja sudah tahu saat sore, saat Dhira sudah di bawa pulang. Sekar yang mendengar hal itu menjadi salah tingkah, ia takut jika disalahkan.
Baik Shinta maupun Sekar tak ada yang berani mengatakan dengan siapa mereka ke rumah sakit, terlalu beresiko jika Arya tahu, Abimanyu datang ke rumah sakit. Mereka terpaksa berbohong. Dhira pun juga sudah setuju.
.
.
Pernikahan itu benar- benar tertunda, dan selama itu pula Dhira setiap pagi selalu tak bangun. Meskipun obat ia minum rutin, bahkan semua pekerjaan di serahkan kepada Sekar dan Shinta. Namun sama sekali tak mengurangi rasa sakitnya.
Ia masih mual tiap pagi , dan kepalanya pusing. hari itu adalah hari kelima, setelah lewat dari tanggal pernikahan.
"Dhir!" Arya pagi itu datang mengunjungi Dhira bersama Bu Hana.
Ini adalah kali pertamanya Bu Hana datang kesana sejak Dhira sakit. Karena beliau sendiri juga sering tak sehat, efek dari usia.
"Ma Arya, Bu!" Dhira beringsut bangun dari tidurnya. Bu Hana duduk di ranjang , memerhatikan Dhira lekat. Sejurus kemudian, Bu Hana memandang ke arah Arya.
"Bisa kamu tinggalkan kita Ya, mama mau ngobrol sama Dhira!"
Arya mengangguk paham, tanpa curiga ia memberikan ruang bagi kedua wanita itu
__ADS_1
"Dhira kamu haid bulan ini?" Bu Hana langsung menodong Dhira dengan pertanyaan itu.
Dhira mengangguk, " iya Bu". Tapi untuk apa Bu Hana bertanya seperti itu, pikir Dhira.
"Normal kah?" tanya Bu Hana lagi.
"Sedikit Bu, mungkin karena saya terlalu banyak fikiran jelang pernikahan. Makanya haid saya tidak normal."
Bu Hana tersenyum kepada Dhira. " Dhir, kalau boleh tahu apa yang kamu rasakan beberapa hari ini?"
Meski agak curiga, namun Dhira mengira itu adalah bentuk perhatian dari calon mertua kepada dirinya.
"Saya susah tidur Bu, badan saya lemas, tiap pagi bawanya ngantuk. Dokter dirumah sakit bilang jika tensi saya rendah. Makanya kadang mual" terang Dhira.
"Payu*dara kamu terasa kencang gak, terus sering buat air kecil gak?" tanya Bu Hana.
Deg
Dhira tertegun, ia sepertinya mulai paham dengan pertanyaan Bu Hana. Ia lupa , bila wanita di depannya itu adalah mantan seorang bidan.
Melihat kebisuan Dhira, Bu Hana tersenyum. " Tolong kamu test Dhir. Biarkan saya membuktikan jika semua ini hanya kekhawatiran saya. Semua akan jadi rahasia kita. Wanita itu menyodorkan alat penguji kehamilan.
"Kamu jangan mikir macam- macam." Bu Hana tersenyum.
Dhira tentu saja mendelik," apa maksudnya Bu!" Dhira berwajah pias.
"Jangan kuatir. Kamu percaya sama saya!" Dhira melihat ketulusan di wajah Bu Hana.
"Tapi Bu saya ..." Dhira ingin mengatakan jika dirinya baru saja haid.
"Lakukan saja, ibu mohon!" ucap Bu Hana penuh kelembutan.
Dengan ragu Dhira meraih benda berwarna pink itu," kamu masih belum pipis kan?. Ini bagus, kadar HCG kamu pasti sedang tinggi-tingginya."
Saat Dhira berjalan entah mengapa ia menyesal, kenapa ia menurut kepada Bu Hana. Dia terlihat bodoh, dengan mau menuruti perintah konyol calon mertuanya. Bukankah dia barusaja mens. Terlihat tak masuk akal, tapi ucapan Bu Hana seperti sebuah sugesti untuknya.
Bu Hana menyusutkan air matanya sekilas, sesaat setelah Dhira menutup pintu kamar mandinya.
"Semoga hanya perasaanku saja!" gumam Bu Hana.
...Flashback...
Arya mengernyitkan dahi," Arya malah gak tahu ma!"
"Kapan?" Arya yang baru pulang dari rumah sakit itu menjadi agak kesal. Kenapa hal sepenting ini malah melewatkan dirinya, yang notabene adalah calon suami Dhira.
Sejak saat itu Arya sering mengunjungi Dhira. Kepada Bu Hana, ia menceritakan kondisi Dhira. Dari diagnosa sementara , Dhira memang hanya kelelahan. Dhira menderita kekurangan darah atau animea.
Namun dari cerita Arya, yang menerangkan bila Dhira masih saja belum sembuh dan sampai menunda pernikahan mereka, membuat Bu Hana ingin memastikan
Namun , seperti mendapat insting .Bu Hana ingin melihat kondisi Dhira secara langsung. Puncaknya adalah pagi ini ,ia melihat Dhira yang bertubuh lebih kurus, dengan wajah pucat.
Ia tahu bila Dhira sebelum mau menerima lamaran Arya, tegah dekat dengan Abimanyu. Meski agak terlambat mengetahuinya, itu juga karena Bu Kartika yang tak sengaja bercerita.
Bu Hana sengaja meminta Arya untuk menunggu di luar, ia ingin memastikan sendiri bila Dhira memang hanya menderita animea. Bukan gejala wanita hamil
...Flashback Off...
.
.
Dhira
Ia meneteskan urine ke alat sepanjang 7 cm itu, agak gila dan konyol memang. Percaya diri bila tak hamil, namun mau saja diminta untuk tes. Pikirnya. Untung saja Bu Hana adalah wanita lembut.
Awalnya Dhira juga takut jika benih yang di benamkan oleh Abimanyu, akan berubah menjadi zigot, lalu bertumbuh menjadi embrio di perutnya. Namun setelah CD nya terdapat bercak merah, ia merasa lega. Tamu bulanannya datang, pikirannya.
Namun rupanya, ketenangan Dhira hanya bersifat fana. Matanya membulat sempurna, begitu dua garis merah itu muncul. Detak jantungnya seperti di pompa. Tubuhnya lemas, lututnya bergetar.
Dia positif hamil.
"Bagaimana mungkin!!" ucap Dhira dengan jagung berdetak kencang.
Untuk sesaat Dhira tak bisa berfikir, tubuhnya tercekat. Kepalanya mendadak sakit.
__ADS_1
"Dhira!!"
"Dhir!!"
Suara Bu Hana yang mengetuk pintu. Dhira menangis, bagiamana bisa? sedang beberapa hari yang lalu ia mengalami haid.
Ia membuka pintu kamar mandi dengan ragu. Ia tak bisa menyembunyikan tangisnya. Bu Hana menatap Dhira yang menangis, seperti seolah mendapat jawaban.
Ketakutannya terjadi.
"Positif?" tanya Bu Hana dengan suara bergetar.
Dhira sangat malu, ia memegang benda warna pink itu dengan tubuh bergetar.
Dengan pelan Bu Hana meraih benda itu, Bu Hana juga turut menitikan air matanya. Ia bukan benci kepada Dhira, ia hanya merasa bersalah kepada diri sendiri. Mulai menyadari jika Dhira memang tak menaruh hati terhadap anaknya, semenjak Dhira datang kerumahnya. Wajah Dhira menyiratkan bahwa ia melakukan semuanya tidak dari hati.
Pintu mendadak terbuka, " ma ada..." Arya tertegun, melihat mama dan Dhira berdiri seraya menangis.
"Ada apa?" Arya kini menatap kedua wanita itu secra bergantian.
Merasa ada yang tak beres, Arya ngeloyor masuk. Dengan cepat Bu Hana menyembunyikan benda dengan dua garis merah itu.
"Apa itu ma?" tanya Arya.
"Buka apa- apa Arya!"
Bu Hana segera keluar, Arya terus mengejarnya. Dhira tentu saja ikut keluar.
"Ma, apa itu ma!" Arya benar- benar penasaran dengan gelagat aneh kedua wanita tadi. Menyuruhnya keluar, dan saat ia masuk ia melihat keduanya menangis.
Bu Hana tak sengaja menabrak Sekar yang tengah membawa tumpukan baju, usai di setrika. Membuat tespect itu, terjatuh. Saat Bu Hana ingin meraih benda itu, gerakan Arya lebih cepat.
Bu Hana memejamkan matanya, sementara Dhira yang baru tiba disana merasa tubuhnya seperti tersambar petir. Benda itu tengah di pegang oleh Arya.
Arya membulatkan matanya," apa ini?" Arya berucap dengan berang.
Sekar yang tahu ada kejadian menegangkan, tiba-tiba ingat untuk merekam kejadian ini. Takut bila terjadi suatu hal yang tidak di inginkan, ia bisa memiliki bukti. Sekar merekam, dengan menyembunyikan ponselnya di balik tumpukan baju yang masih ia bawa.
"Dhira apa ini!" Arya tentu saja berhak marah, calon istrinya tengah memiliki benda yang harusnya tak berada di sana.
Dhira menangis, Bu Hana bahkan juga tak kuasa menahan kesedihannya.
"Mas!" Dhira berusaha mengambil benda itu.
Mendengar keributan Raka segera keluar dari kamarnya. Apa yang terjadi? Rak bingung, ia mematung melihat pertengkaran disana.
"Lepas Dhira, jawab aku dulu!" Arya dan Dhira terlibat perebutan benda itu
"Sini mas!!" Dhira dengan air mata berlinang, berusaha mengambil benda yang membuatnya malu itu.
"Jawab aku Dhira!!" ini adalah kali pertamanya Arya membentak Dhira. Sekar bahkan sampai memegang dadanya karena takut, Raka memasang wajah marah disana, sementara Bu Kartika merasa air matanya tak mau berhenti mengalir.
"Ya mas, aku hamil. Aku hamil anak mas Abimanyu. Puas kamu mas!!!" Dhira berteriak hingga serak.
Arya mendelik tak percaya, tubuhnya seolah di hantam gada besi. Kepalanya mendadak berat.
Raka dan Sekar bahkan turut mendelik.Tak seharusnya Dhira mengucap hal itu. Namun siapapun yang dilanda emosi, tak akan bisa untuk sekedar berfikir dengan akal sehat.
"Bawa sini mas!!" Dhira masih gencar berusaha meraih benda itu. Arya masih mempertahankan tespect di tangannya. Membuat Dhira saling berebut.
Namun naas, Dhira yang kalah tenaga tak sengaja terdorong Arya. Dan kebetulan posisi mereka berada di samping anak tangga. Dhira yang terjatuh kebelakang, seketika berguling ke bawah. Membuat tubuhnya bergulung dengan puluhan anak tangga.
"Mama!!!" Raka berteriak saat mamanya terguling jatuh dari lantai atas dengan posisi berguling di anak tangga.
"Arya!!!" Bu Hana berteriak, Arya menjadi panik. Tak mengira bila akan begini jadinya.
"Bu Dhira!!!" teriak Sekar.
Sekar yang sedari tadi merekam pertikaian itu, kini mengentikan kegiatannya. Ia memasukkan benda pipih itu keadaan sakunya. Ia berlari menuruni anak tangga, wajahnya pias melihat dengan mata kepala sendiri, Dhira yang berguling ke bawah.
Arya tubuhnya mematung, ia telah mencelakai Dhira.
.
.
__ADS_1
.
.