The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 161. Hati yang Buta


__ADS_3

Bab 161. Hati yang Buta


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


" Tiadakah ruang di hatimu untukku ,yang mungkin bisa 'tuk kusinggahi. Hanya sekedar penyejuk di saat ku layu.


Ku s'lalu menantimu hingga akhir masa"


( Diambil dari lirik lagu Ada Band ~ Haruskah ku mati)


.


.


Dananjaya


Kepalanya pagi itu sebenarnya pusing dan berat. Ia hanya tertidur sebentar. Raganya berada di rumah, namun hatinya tertinggal di rumah sakit. Harus ia akui, Shinta benar-benar memporak-porandakan keteguhan hatinya untuk tidak keluar dari ranah cinta terlarang itu.


Usai di cecar pertanyaan oleh sang mama, terkait dari mana saja dia semalam, dan mengingatkan akan batas waktu baginya untuk mencari seorang pendamping, yang makin membuatnya mumet saja, pria itu menenggelamkan dirinya ke relaksasi kamar mandi.


Ia berendam beberapa saat di bak mandi besarnya menggunakan air hangat agar lebih rileks. Otaknya masih gencar memikirkan wajah pucat Shinta tadi pagi.


Tapi semua kini sudah tahu bila ia jatuh cinta dengan istri Rangga itu. Tapi ah sudahlah, persetan dengan ketahuan Abimanyu beserta istrinya. Ia tak bisa menghalau laju perasaan yang di titipkan Tuhan itu. Perasaan terlarang yang tak bisa ia tepis dengan mudah.


Usai menyelesaikan ritual mandinya, pria itu beranjak menuju lemari pakaian. Ia mengambil tumpukan baju paling atas. Tak berniat ingin masuk bekerja pagi ini. Ia meraih kemeja warna hijau botol, kemudian mengambil tumpukan celana warna khaki.


Mengancingkan baju itu dengan cepat, kemudian menggulungnya sebatas siku. Ia mematut dirinya di depan cermin. Ia harus kembali ke rumah sakit saat itu juga.


Ia ingin segera memastikan kondisi Shinta.


Dari resepsionis, ia mengetahui bila Shinta dan Rangga berada di ruang Melati nomer 01. Ruang VIP dengan peralatan lengkap. Berada di lantai sepuluh, rumah sakit besar itu.


Pintu itu tak di kunci, Danan terlihat tampan sekali pagi itu. Rambutnya yang terlihat basah akibat sapuan Pomade mahal miliknya, makin membuat tampilannya begitu fresh.


Ia melihat ranjang itu kosong, ia meneruskan langkahnya. Ia melihat pintu konektor di sebelah kanan yang sedikit terbuka.


" Mungkin mereka disana!" ia bermonolog seraya berjalan.


Namun di saat langkahnya kian mendekati pintu itu, samar-samar ia mendengar suara Shinta yang berat. Wanita itu bisa ia pastikan tengah menangis. Sedu sedan terasa kentara di telinganya.


" Mas Rangga!"


Ia menekan salivanya masuk ke tenggorokan saat mendengar suara Shinta yang menangis.


" Suami ibu mengalami benturan yang hebat di kepalanya. Kita berdoa saja, agar beliau bisa melewati masa kritisnya!"


Ia bahkan bisa mendengar penuturan Richard. Entah mengapa hari Danan menjadi sesak saat itu juga.


" Mas, bangun!!!" ucap Shinta lagi. Dan suara bergetar Shinta pagi itu, sukses membuat dirinya menjadi gusar. Ia ingin sekali merengkuh tubuh lemah Shinta ke dalam pelukannya saat itu juga.

__ADS_1


" Dok, apa Suami saya bisa sadar kembali?"


Sayup-sayup ia masih bisa mendengar suara Shinta yang tercekat. Ia mengurungkan niatnya untuk masuk kesana. Ia tertegun menenangkan dirinya.


Dan saat hendak berbalik arah, ia dikejutkan dengan kedatangan satu perawat lagi.


" Tuan, mengapa tidak masuk??" ucap perawat pria itu. Danan seketika terperanjat.


Membuat Richard dan Shinta serta seorang perawat wanita di sana, menoleh ke arah pintu konektor itu.


.


.


Shinta kini kembali duduk di ranjangnya lantaran ia tak kuasa menahan kesedihan, dan nyaris pingsan kembali. Richard membawa Shinta untuk kembali ke ranjangnya agar wanita itu bisa kembali beristirahat.


Danan hanya diam memandang wajah Shinta yang sedari tadi menatap nanar arah pintu. Pandangan wanita itu kosong, wajahnya pucat dan kantong hitam matanya begitu kentara.


" Bu, mari saya bantu sarapan" ucap suster itu.


Richard dan Danan masih berdiri disana, terpekur menatap Shinta yang matanya nyalang menatap daun pintu yang tertutup. Kosong dan kehilangan semangat juang , dan selang beberapa detik kemudian raungan Avenged Sevenfold yang mengalunkan lagu Dear God menginterupsi mereka semua.


" Gue angkat telepon sebentar!!" Richard menepuk pundak Danan, lalu dibalas anggukan oleh pria itu.


" Ya hallo...benar saya dokter Richard..!" suara Richard seraya berlalu dari hadapan mereka.


Suasana hening sejenak, Danan yang bersidekap itu tak lekang memandang ke arah Shinta yang terlihat kacau.


" Bu, buka mulutnya!!!" suster itu masih berusaha membujuk Shinta.


" Bu!!" ucap suster itu kembali dengan nada pelan, namun Shinta hanya diam.


Melihat kebungkaman Shinta, Danan menjadi iba dengan interaksi dua wanita itu. Ia mengembuskan napasnya


" Biar saya coba sus!" ucap Danan.


Suster itu meletakkan kembali breakfast box diatas nakas samping ranjang Shinta. Sejurus kemudian wanita itu undur diri. Menyisakan dua manusia disana.


Usai pintu itu tertutup, Danan meraih box itu. Ia lalu duduk diatas kursi yang berada di sana. Menghadap ke arah yang Shinta masih dalam mode diamnya. Mode nanar yang tak berubah.


" Hey, makanlah dulu!" ucap Danan.


Shinta masih bergeming. Membuat Danan menatap Shinta lekat. Debaran itu terasa, ia pasti sudah gila. Berada dalam satu ruangan dengan istri orang lain, dan lebih parahnya ia mengkhawatirkan wanita itu.


" Aku tahu kamu pasti sedih!"


"Tapi coba kamu pikirkan suami kamu yang tengah terbaring disana!"


Suasana masih senyap.


" Aku yakin, dia pasti juga akan bersedih kalau kamu terus seperti ini. Tidak mau bersemangat, makin membuat orang lain khawatir!" ucap Danan menginginkan sikap Shinta yang tidak seharusnya.


Shinta menoleh lalu menatap Danan, pandangan mereka bertumbuk satu sama lain. Danan menelan ludahnya saat tatapan mereka beradu.


" Kamu gak tahu rasanya jadi aku!" ucap Shinta dengan suara bergetar.

__ADS_1


Mata Shinta memanas, tak ada tempat baginya untuk mengadu. Beban berat perihal anak saja sudah membuatnya tertekan, dan sekarang satu- satunya orang yang selalu mendukung serta membuatnya menjadi wanita berharga tengah terkulai lemah tak berdaya. Bahkan kondisinya belum tentu, antara hidup dan mati.


Suasana hening dalam beberapa detik.


" Ya, aku memang belum tahu rasanya jadi kamu, or whatever!" ucap Danan mengeraskan rahangnya. Ia berusaha menahan laju air matanya sendiri.


" Tapi gimana kamu bisa cepat merawat suami kamu, jika kamu saja gak mau merawat diri kamu sendiri, kamu gak mau fight sama diri kamu sendiri!" Danan menatap Shinta lekat. Pria itu sengaja ingin membakar Shinta dengan ucapannya.


Dan ucapan Danan barusa,n sukses membuat Shinta menitikan air mata. " Aku pembawa sial mas, aku pembawa sial?!" Shinta memukuli dirinya sendiri.


" Pertama aku gak bisa kasih mas Rangga anak. Dan sekarang dia begini karena ikut acaraku, aku istri pembawa sial mas!!" Shinta berbicara dengan suara bergetar, wanita itu menangis seraya terus memukuli dirinya sendiri.


Danan meletakkan kembali makanan itu ke nakas dengan cepat, saat melihat Shinta yang mulai tak terkendali.


" No!!, jangan berkata begitu. Jangan menyalahkan siapapun!" refleks Danan memeluk Shinta guna mengahalau aksi Shinta yang terus memukuli dirinya sendiri. Hatinya terasa sesak. Ia telah jauh melangkah.


Ia ingin menghentikan Shinta yang mulai kacau, bahkan wanita itu terus memukul dirinya sendiri saat tubuh bergetarnya sudah dalam lingkup pelukan Danan.


Ia sejenak bisa menghirup aroma alami dari tubuh Shinta. Oh, bolehkan dia egois untuk sejenak saja kali ini?


Ada rasa tak tega di hati Danan. Wanita itu sangat rapih rupanya, wanita yang terlihat energik dan kadang bersikap sok kuat itu, rupanya lebih rapuh dari yang ia ketahui.


Shinta yang tak memikirkan apapun selain kesedihan yang menderanya, hanya diam saat ia di peluk oleh Danan. Wanita itu benar-benar membutuhkan sandaran saat ini.


" Aku wanita sial mas!!!" Shinta di sela tangisnya masih berucap hal menyedihkan itu.


" Shhttttt jangan katakan itu lagi!!" Danan mengusap lembut punggung Shinta. Ia bisa merasakan pundaknya basah karena air mata Shinta.


" Berhenti nyalahin diri kamu, sekarang lebih baik kamu fokus buat pulih. Biar kamu bisa ngerawat Rangga!!" ucap Danan seraya mengusap punggung Shinta yang kini sudah lebih tenang.


Menyadari perbuatan mereka, Danan melepas pelukan singkat itu. Ia hanya tulus memberikan bahu seorang teman saat itu. Meski ia tak bisa menafikkan buncahan rasa bahagia yang semu.


" Maaf!!" ucap Shinta canggung.


Danan tersenyum simpul, " It's Ok!"


Mereka hening beberapa saat.


"Aku suapin ya?" ucap Danan memecah kesunyian yang tercipta.


" Enggak, biar aku sendiri aja!" ucap Shinta masih dengan suara lemah.


Danan memberikan box sarapan itu kepada Shinta. Meski dengan suapan kecil, wanita itu mau makan. Sejenak hati Danan lega.


Namun ia merasa menjadi pria paling brengsek pagi itu, memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.


Tapi kapan lagi pikirnya ia bisa memeluk Shinta.


Oh Tuhan, maafkan diriku yang terlalu buta dalam memilih cinta ini!


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2