
Bab 67.Orang Tua tetaplah Orang Tua
.
.
.
...ššš...
"Kasih itu memaafkan!"
Abimanyu nampak berdiri polos dengan tanpa rikuhnya, sementara Dhira yang melihat itu kepalang malu. " Aku mandi dulu, setelah ini kita makan!" ucap Abimanyu. Dhira memunguti pakaiannya yang tercecer di lantai, ia mengenakan pakaian itu dulu sebelum masuk kamar mandi.
Apartemen ini terbilang mewah, Dhira yang seumur- umur belum pernah memasuki tempat seperti ini cukup takjub akan tampilan kamar Abimanyu. Bahkan hotel yang pernah ia tiduri sewaktu pelatihan kerja di Airport dulu, juga tak sebagus apartemen Abimanyu.
Sejenak Dhira menyibak tirai putih yang menutupi jendela kaca besar kamar Abimanyu, ia melihat malam yang gelap itu menjadi cantik, karena hamparan perkotaan yang mirip seperti lampu Tumbler yang berkelap-kelip di sepanjang jalanan rumah ibunya saat bulan Agustus.
Pandangannya menerawang jauh, ia sudah terlalu dalam bersama Abimanyu. Ia berjanji dalam hati akan turut berusaha, kebahagiaan adalah diri kita sendiri yang putuskan. Hidup hanya sekali, dan kita sebagai manusia hanya bisa berusaha.
Saat masih asik melamun, pintu kamar mandi terbuka. Ia membalikkan badannya, muncul Abimanyu di bibir pintu bertelanjang dada dan hanya membaluti bagian bawah tubuhnya dengan selembar handuk putih.
"Aku sudah selesai, kamu mandi atau tidak?" tawar Abimanyu.
Dhira mengangguk, " udah malam, kamu mandi air hangat saja!" tukas Abimanyu.
"Aku tidak bawa baju!" ucap Dhira yang merasa baju yang ia kenakan sudah tak nyaman, karena foreplay tadi membuat CD nya basah.
"Oh jangan khawatir, kamu buka lemari disana!" tunjuk Abimanyu kepada lemari putih besar, yang berada di sisi kanan.
Dhira melangkah dan membuka daun pintu lemari itu, ia terperangah melihat ada banyak sekali baju wanita dengan model baru tergantung rapi, juga setumpuk celana dan juga pakaian dalam.
"Mas kok.." ucap Dhira yang bingung, kenapa banyak sekali pakaian wanita.
"Kamu jangan salah paham dulu, semenjak aku pindah ke apartemen ini Devan mengisi semua lemari dengan baju baru. Dia bilang jika Rania kesini atau keluargaku mampir, jadi gak repot!" Abimanyu terpaksa berbohong, ia sengaja menyiapkan itu beberapa jam sebelum Dhira diculik.
__ADS_1
"Oh!!" Dhira mengangguk tanda mengerti, sejurus kemudian ia mengambil dalaman dan juga dress model A warna hijau botol yang nampak fit di tubuhnya.
"Kamu mandi dulu, biar aku pesankan makanan!" Dhira mengangguk, kemudian ia pergi menuju kamar mandi. Ia menjadi gelisah saat memandang Abimanyu yang bertelanjang dada, apalagi ia sempat melihat bagian pusar Abimanyu yang tertutup handuk itu. Benda berharga yang sudah dua kali menyatroni liang miliknya.
Di dalam kamar mandi Dhira kembali dibuat terperangah, kamar mandi itu benar-benar mewah. Sebuah bathtub berwarna putih bersih yang sudah di isi air hangat oleh Abimanyu, berbagai botol aromaterapi, juga perlengkapan mandi yang ia taksir pasti tak berharga murah.
Ia melucuti pakaiannya, kemudian membenamkan dirinya ke air hangat. Ia memejamkan matanya. Tak mengira bila hidupnya akan begini jadinya.
...ššš...
Rumah orang tua Indra masih berada di kota yang sama, hanya saja beda daerah. Pukul 19.00 mereka tiba dirumah Pak Joko. Ini adalah kali pertamanya Indra sambang kerumah orang tuanya semenjak ia menyandang status sebagai duda.
"Ayo, Kakung sama Uti pasti seneng. Papa gak bilang sama mereka!" Indra membukakan pintu mobil.
"Iya pa!"
Raka masih berwajah biasa saja, keluarga Pak Joko adalah orang yang berkecukupan namun bukan golongan orang kaya raya, yang hartanya tak akan habis dimakan tujuh turunan. Rumah mereka juga tidak semewah keluarga Abimanyu, tapi mereka juga punya usaha sendiri yang bisa dibanggakan.
Indra membantu Raka membawa sekotak Brownies coklat lezat dan juga Wingko. Dengan hati bahagia, Indra mengetuk pintu.
Anak kunci itu terlihat berputar, pertanda ada orang dari dalam. Muncul seorang gadis cilik berusia 5 tahun dari dalam rumah. Ya, dia adalah Dea. Anak dari adik perempuan Indra yang bernama Pratiwi.
"Pakde!!!" anak kecil itu berjingkrak riang, sudah nyaris satu tahun ia tak bertemu dengan Indra.
"Dea!, kamu disini?" Indra turut tersenyum saat bocah itu berteriak melesat kedalam, hendak membawakan kabar bagi penghuni rumah itu.
"Uti ada Pakde di depan!!" Ucapan bocah Lima tahun itu membuat Bu Novi langsung berdiri dari duduknya, ia mengabaikan lompatan ceria dari cucu perempuannya itu.
"Indra!" Bu Novi menyebut nama anaknya itu dengan suara bergetar, matanya mengkristal karena tergenang air mata.
"Bunda!" Indra juga berucap dengan bibir bergetar, selama hampir satu tahun ini ia tak pernah bertemu. Ia tak menampik, terpergoknya perselingkuhan dirinya dengan Renata waktu itu membuat hubungan anak dan orang tua itu merenggang.
Apalagi, terakhir mereka bertemu adalah mereka sama-sama dalam posisi marah dan tak bisa berfikir waras.
Indra bersujud di kaki Bu Novi, menangis bergetar dan terdengar terisak-isak." Maafin Indra Bun, Indra kualat sama Bunda!" ia menangis demi mengingat kelakuan Renata yang juga mengkhianati dirinya, ia juga teringat jika dirinya saat ini tengah menjadi seorang pengangguran yang hidup dengan mengandalkan sisa tabungan.
__ADS_1
Ibu mana yang tahan melihat anaknya meringkuk meminta ampun seperti itu, sebenci- bencinya seorang ibu, jauh di dasar hatinya selalu ada kata maaf untuk darah dagingnya. Tak peduli setua apapun usia Indra, bagi Bu Novi ia tetap putra kecilnya.
Bu Novi tak bisa berkata apa-apa, lidahnya kelu menahan haru. Ia menarik tubuh putranya untuk berdiri. Wajah Indra sudah sangat kacau, aliran air matanya yang deras ia usap dengan lengannya.
Suasana yang mengharu biru itu, membuat Raka yang melihat interaksi antara papa dan utinya, juga tak bisa menahan tangis. Ia menyusut cairan bening di sudut matanya dengan punggung tangannya.
"Raka!" Bu Novi memeluk cucunya yang kini terlihat hampir menyamai tinggi papanya.
"Kamu apa kabar nak, mama sehat?" Bu Novi mencium puncak kepala cucunya.
"Sehat ti!" Raka menjawab dengan suara nyaris tak terdengar.
"Uti Uti, ini siapa kok semua nangis!" Dea menarik rok panjang yang di kenakan Bu Novi.
Antara Dea dan Raka belum terjadi interaksi yang baik, hal itu terjadi lantaran Tiwi adik Indra yang tak menyukai Dhira, Tiwi mengungkapkan alasan ketidaksukaannya kepada Dhira, lantaran Bu Kartika yang menolak Indra. Bahkan, meski Dhira sudah lebih memilih Indra, ia tetap tak menyukai Dhira pada saat itu.
Namun begitu mendengar berita soal kelakuan bejat kakaknya, ia sedikit mengubah pandangannya kepada mantan kakak iparnya itu. Tapi selama itu pula, Tiwi bahkan tidak pernah bertemu degan Dhira dan Raka.
"Ayo salim sama Pakde sama mas Raka!" tukas Bu Novi dengan hidung dan mata yang merah, seraya menyusut sisa air matanya.
Dea anak yang cerdas dan comel, ia meraih tangan Indra juga Raka. " Ini mas ku?" tanya Dea memandang Raka, Raka yang melihat bocah cerewet itu sungguh merasa gemas.
Raka mengangguk, seraya mengusap puncak bocah berponi dan memiliki pipi gembul itu.
Namun belum juga selesai mereka saling mengharu biru, terdengar suara pak Joko dari dalam.
"Mau apa kamu kemari anak kurang ajar!"
.
.
.
.
__ADS_1
.