The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 129. What's wrong with you?


__ADS_3

Bab129. What's wrong with you?


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


" Dan ku akui tanpa kemunafikan, ku cinta kau!. Bahwasanya keakuan ku bersumpah, ku cinta kau!"


( Diambil dari lirik lagu Iwan Fals )


.


.


Di hari yang sama, namun di belahan bumi lain. Shinta bersama Rangga tengah berada di perjalanan menuju Kota B. Perjalanan memakan waktu dua jam.


Ya, Rangga mengajak Shinta untuk berkunjung selama dua hari kerumah orang tuanya. Ia mengambil cuti tahunan selama tujuh hari. Sisanya, ia akan gunakan untuk quality time bersama istrinya nanti.


"Kamu tidur aja dulu, biar gak capek!" Rangga berucap sembari fokus ke depan kemudinya.


Shinta bukan tak suka kepada ibu mertuanya. Tapi ia lebih ke insecure dengan sendirinya. Ia merasa dirinya belum sempurna sebagai wanita. Ia cantik, juga pandai melayani suami di berbagai aspek. Namun ia tak bisa menafikkan perasaan sedihnya, bahwa ia belum bisa memberikan seorang anak kepada Rangga.


"Aku belum ngantuk!" Shinta benar- benar tak bisa menyembunyikan kegundahannya.


Wanita periang itu selama ini memang bisa mengatasi segala sesuatunya sendiri. Tapi entah mengapa, perasaannya begitu tipis jika menyangkut soal anak.


" Kamu jangan mikir macam-macam. Apapun yang terjadi, aku sayang sama kamu Shin. Aku bakal coba bilang ke ibu. Kita bisa adopsi anak nanti!" Rangga meraih tangan Shinta yang menganggur di pangkuannya itu.


Itulah Rangga. Suami idaman yang bisa ia miliki, pria baik dengan segala kesabarannya yang setia menemaninya selama lebih dari sepuluh tahun berumah tangga bersamanya.


"Aku gak masalah Shin meski kita memang belum di kasih rejeki baby. Buat aku, yang terpenting kamu!" Rangga mencium tangan istrinya. Entah sudah berapa kali Rangga memberikan kekuatan untuk Shinta lewat ucapan yang sama.


Dan hal itu bukan isapan jempol belaka, terbukti Rangga tak pernah sekalipun berubah selama mereka menikah. Perlakuannya masih sama dan cenderung bertambah manis. Ia mengijinkan Shinta bekerja bersama Dhira lantaran ia sadar jika pekerjaan di dunia aviasi, sering memakan waktu yang lama.

__ADS_1


Ia hanya tak ingin istrinya itu bosan. Apalagi, Dapur Isun adalah milik Dhira yang notabene adalah sahabat dekat istirnya.


"Aku selalu cinta sama kamu Shin, apapun yang terjadi. Kamu harus percaya ya. Tolong jangan kamu ragukan hal itu!" Rangga menciumi punggung tangan istrinya tak jemu. Membuat hati Shinta menghangat.


...šŸšŸšŸ...


Rania yang tegah berada di ruang kerjanya merutuki dirinya sendiri. Kilasan ingatannya kembali kepada aksi gilanya, yang nekat mencium Bastian.


Ya, waktu enak- enak hanya untuk pengantin baru. Manusia lainnya seperti Rania, harus mulai mengejar matahari kembali.


" Argghhhh!!" Rania mengusap wajahnya frustasi. Ia malu sekarang.


" Bagiamana bisa aku melakukan hal itu. Dan sekarang, kami semua akan rapat bersama!" Rania berbicara seorang diri.


Ya, mereka pagi ini dijadwalkan akan melakukan rapat evaluasi. Barang produksi baru perusahaan Delta Group mendapat sambutan baik di pasaran. Dan itu membuat grafik laba mereka meningkat tajam.


Kopi instan 2 in 1 dan Biskuit saat ini tengah di gemari oleh masyarakat luas. Bahkan, produksi perusahaan itu kian meroket. Membuat pabrik- pabrik baru di berbagai kota segera di dirikan.


Akan ada beberapa orang dari Devisi keuangan yang akan berangkat ke kota lain, untuk memberikan training kepada pegawai baru disana. Untuk itulah, hari ini akan diadakan rapat evaluasi, sekaligus penarikan keputusan siapa-siapa saja yang akan bertolak ke kota D.


Rania memijati keningnya yang mumet. Ia seolah tak memiliki muka untuk bertemu Bastian. Dengan langkah gontai dan malas, ia menuju ruang rapat.


Ia membuka handle pintu itu malas. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan dengan luas 10x 10 meter itu.


Rania menuju ke kursi singgasananya yang berada di urutan paling depan. Rania termasuk Direksi nomer Wahid di jajaran petinggi perusahaan itu.


Wanita itu menghembuskan nafasnya lega. Ia tak melihat Bastian disana. " Bu ini Notula untuk rapat pagi ini!" ucap seorang wanita yang terdapuk sebagai notulen di divisi yang di pimpin oleh Rania.


" Terimakasih!" Rania sekilas para karyawan yang hadir disana. Ia lega namun hatinya sepi. Mengapa Bastian tak ada disana.


" Apa semua sudah hadir?" tanya Rania kepada sekretarisnya.


" Sudah Bu, kita bisa mulai!" jawab indah. Sekretaris Rania.


Dengan tak semangat Rania memimpin rapat itu, kemana Bastian pikirnya. Kenapa ia juga tak melihat dua orang konyol yang biasanya bersama Bastian. Entah mengapa ia malah merasa kehilangan.


Dua jam rapat berlangsung, selama itu pula Rania juga sudah memberikan putusan siapa orang yang harus ke kota D.

__ADS_1


Sejurus kemudian, dengan gilanya Rania turun ke lantai 11. Ia kini mencari alasan yang tepat untuk dia bisa bertemu dengan Bastian. Yakni ingin meminta bantuan untuk membenahi komputer di ruangannya.


Namun ia terkejut saat melihat dua orang tertunduk lesu di kursi meja kerjanya. Dan di waktu yang bersamaan pula, dua pria itu juga turut terperanjat saat Rania datang ke ruangan mereka.


"Bu Rania!" Satrio terkejut. Untuk apa atasannya itu berada di sana.


Bang Togar juga terlihat menelan ludahnya kasar. Apa kesalahan yang mereka lakukan, sehingga membuat atasannya itu bisa nangkring disana pikirnya.


"Mau kemana?" tanya Rania.


"Kami, mau ke ruangan ibu!" tukas Satrio tertunduk sungkan.


"Ke ruangan ku. Laporannya salah?" tebak Rania. Karena tentu saja jika ada salah satu dari anggota tiga serangkai itu datang ke ruangannya, tak lain dan tak bukan adalah mengenai revisi pembukuan.


"Bukan Bu. Kami sebetulnya bersedih betul ini. Apa pula kesalahan kami kepada Bastian. Padahal semalam, kami bertiga masih makan dan bersendawa bersama Bu. Tapi pagi ini....!" bang Togar dengan logat bataknya berbicara seraya menangis. Wajahnya bermuram durja.


Rania yang bingung segera meraih kertas yang di tunjukkan oleh bang Togar. Membuat Satrio muram dan gelisah.


"Bastian resign?" Rania menautkan kedua alisnya karena terkejut.


Kedua pria di depannya mengangguk kompak. " Saya juga terkejut Bu. Kami tidak tahu kenapa dia keluar secara mendadak!"


Rania sejenak berpikir. Apa karena kelakuannya semalam sehingga membuat Bastian ilfill?


" Tapi resign tidak boleh secara mendadak begini. Bisa kena pinalti dia!" Rania mendengus kesal. Lebih tepatnya ia tak rela.


"Itu di lembar kedua, berisikan pernyataan jika Bastian mau untuk membayar pinalti Bu. Kami juga belum bisa menghubungi ponselnya!"


Rania makin tak mengerti dibuatnya. Mengapa Bastian tiba-tiba keluar dari Delta Group. Kini Rania benar-benar berada pada titik sepi. Apakah ini semua salahnya semalam?


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2