
Bab 207. Kilas Balik
.
.
.
...ššš...
" Kejujuran adalah perhiasan jiwa!"
.
.
Tujuh Tahun yang lalu
.
.
" Mas aku kok deg-degan ya?" Shinta menggamit lengan Rangga saat ia berjalan di lorong koridor menuju ruangan dr. Novan.
Novan adalah seorang Dokter spesialis andrologi yang memiliki keahlian khusus dalam menangani masalah pada sistem reproduksi pria, seperti gangguan kesuburan atau gangguan fungsi sek*sual.
Andrologi sendiri merupakan cabang ilmu kedokteran yang mempelajari struktur dan fungsi sistem reproduksi pria.
Setelah beberapa hari sebelumnya Shinta di nyatakan belum di temukan masalah yang mengganggu reproduksi maupun rahimnya juga di nyatakan tidak masalah, Rangga juga memutuskan untuk memeriksakan diri.
" Sama sayang!" jujur Rangga juga takut apabila ia yang bermasalah.
Hampir menginjak di tahun tahun pernikahan, namun belum di karuniai momongan. Rangga sempat berfikir mungkin memang Tuhan belum memberikan rejeki buatnya. Namun, lambat laun seiring dia menjadi cemas.
Dan puncaknya, membuatnya memutuskan untuk melakukan pemeriksaan saja.
" Tunggu sebentar ya, aku ambil hasilnya dulu. Kamu santai aja disini dulu!" Tukas Novan kepada Rangga dan Shinta yang kini sudah berada di ruangannya.
Ruangan itu bersih, terdapat rak di belakanganya yang di penuhi buku dan juga ordner serta berbagi map.
Shinta sedari tadi melakukan gerakan menjahit bumi saking groginya. Padahal yang menunggu hasil adalah Rangga.
" Mas, aku ke toilet dulu ya. Nervous banget aku!" Nampaknya rasa cemas membuat kandung kemihnya lebih cepat terisi.
" Aku antar ya?" tawar Rangga.
" Gak usah, nanti mas Novan cariin kita. Aku bentar kok!"
Shinta lalu menuju toilet yang sialnya berada di ujung lorong. Ia harus melewati banyak bilik perawatan guna menemukan toilet umum.
Pintu mengayun dan terlihat Novan yang menyembul dari balik pintu tersebut. Rangga menjadi harap-harap cemas dengan raut wajah Novan yang berbeda dari saat dia hendak keluar tadi.
" Apa semua baik- baik aja Van?" Rangga menelan ludahnya saat bertanya. Ia tak sabar.
Novan diam, pria itu seolah tak tega saat akan mengutarakan kenyataan.
" Van, jawab gue!!!" melihat kebisuan Novan, membuat Rangga tak sabar, mendadak ia tak memiliki kepercayaan diri.
__ADS_1
" Elu...!" Novan seakan tercekat.
" Iya Ngga, elu yang bermasalah!" sahut Novan dengan wajah tertunduk seraya menyerahkan kertas berisikan hasil pemeriksaan.
Petir seolah menyambar bahkan disaat tidak ada mendung apalagi hujan. Rangga mendadak tercenung. Tubuhnya mendadak tak memiliki kekuatan saat membaca hasil pemeriksaan miliknya.
"Kelainan enzim pada spe*rma. Kondisi ini bisa menyebabkan sper*ma sulit berenang dan menembus sel telur, sehingga tidak terjadi pembuahan" terangnya dengan kedua alis yang bertaut.
Mereka berdua senyap dalam beberapa detik.
" Lu bisa tolongin gue nggak?" Rangga mengiba menatap Novan. Novan berada di ambang kebingungannya. Sebagai dokter yang sudah di sumpah jabatan, tentu ini sangat bertolak belakang dengan permintaan Rangga.
" Please tolongin gue sebagai sahabat. Elu tanggalkan dulu diri elu dan seragam elu sebagai Dokter!" Rangga menatap Novan dengan suara bergetar.
Novan sejenak berpikir, hati nurani dan logikanya berperang. Menuntut dirinya untuk cepat bertindak.
Novan resah dan gelisah di waktu bersamaan.
" Haduh mas, toiletnya jauh banget!" Shinta membuka pintu itu seraya berbicara. Membuat mereka berdua terkaget.
Rangga dengan cepat melipat kertas dari Novan yang berisikan pembeberan hasil pemeriksaannya itu. Dengan cepat pula Rangga mengantonginya sebelum Shinta tahu.
" Gimana mas udah?" Shinta duduk di samping suaminya yang berusaha bersikap biasa saja.
" Emmmmm!" Novan angkat bicara. Rangga harap- harap cemas menantikan mulut Novan yang terbuka.
" Gimana mas?" Shinta menatap dua pria itu secara bergantian.
Novan gugup. Berbohong sebenarnya bukanlah dirinya.
" Sejauh ini tidak ada masalah!" Novan menelan ludahnya saat usai mengatakan hal itu.
" Hasilnya aku kirim besok ya, ini tadi yang tugas di laboratorium gak ada. Aku udah baca di sistemnya, tinggal print out buat kalian aja!"
Hati Novan tidak tahu apakah ini benar apa tidak, tapi sebagai sahabat ia juga tak tega kepada Rangga.
.
.
Paparan radiasi di mesin X-ray bandara dan juga seringnya Rangga yang berkecimpung di kawasan metal detektor bukanlah sesuatu yang mengkhawatirkan sebenarnya. Kadar radikal bebas dalam kondisi itu masih sama menghawatirkannya saat kita berada di luar ruangan.
" Kalau kita udah periksa dan hasilnya gak ada yang bermasalah, fix kita emang belum di kasih rejeki mas!" Shinta duduk di tepi ranjang kamarnya usai pulang dari rumah sakit.
" Maaf sayang!" Rangga memeluk Shinta. Pria itu benar-benar merasa bersalah. Ia takut bila Shinta meninggalkan dirinya.
Maafin aku Shin, aku terpaksa bohong. Aku gak mau kehilangan kamu.
" Kok minta maaf sih mas, emang belum rejeki!" Shinta memandangi wajah suaminya usai mereka saling melepas pelukan.
Hari berganti hari, Rangga kini membawa hasil yang bisa di katakan 'palsu' untuk formalitas apabila Shinta menanyakan. Secara stamina dan gairah saat bercinta tidak ada masalah.
Rangga juga selalu bisa membuat Shinta mencapai puncak kenikmatan saat ia memberikan nafkah batin terhadap perempuan yang ia cintai itu. Namun, menurut penuturan Novan spe*rma yang di hasilkan sulit menembus sel telur.
Kondisi ini bisa menyebabkan sel spe*rma tidak bisa masuk ke cairan ma ni (azoospermia). Penyebabnya bisa karena bawaan lahir atau trauma fisik yang mengenai testis, prostat, dan uretra.
Rangga terpekur menatap kertas di dalam map yang ia pegang malam itu. Ya, usai pulang dari dinas ia menuju rumah sakit untuk menemui Novan.
__ADS_1
Mungkinkah terjatuhnya dia sewaktu kecil dulu mempengaruhi semua ini? atau ada bawaan lain yang memang terjadi dalam dirinya? Yang ia juga tidak tahu. Apa sebenarnya yang salah dalam dirinya.
Oh Tuhan, sungguh di hanya manusia yang takut kehilangan cintanya.
Gue gak bisa bantu lagi Ngga, elu tebus resep obat ini biar lebih baik.
Rangga menghela napasnya. Pria itu sangat mencintai Shinta, ia hanya takut serta tidak percaya diri. Ia takut bila Shinta tahu kebenaran bahwa selama ini , ia yang berkontribusi menjadi penyebab belum hadirnya malaikat kecil di dalam biduk rumah tangga mereka.
Rangga melihat hasil asli rekam medisnya. Sejenak matanya memanas. Ia begitu tidak percaya diri.
" Mas, makanannya udah siap. Ayo makan dulu!" Shinta tiba-tiba membuka pintu. Membuat Rangga terperanjat.
" I-iya sebentar sayang!"
Rangga dengan gerakan cepat menyelipkan kertas itu ke bagian paling bawah lemari bajunya semesta. Begitu pikir Rangga. Ia menutupi benda itu dengan baju yang jarang terjamah, tak memiliki pilihan lantaran ia takut Shinta melihat.
" Kamu ngapain sih mas, ayo buruan!"
" Oh iya sebentar!" Rangga menjejalkan kertas itu dengan terburu-buru.
Dalam perjalanan rumah tangga mereka di tahun- tahun berikutnya, Rangga kerap meminta Shinta untuk adopsi anak namun Shinta selalu menolak.
" Sabar aja mas, memang belum rejeki kita!"
" Jangan mikir macam-macam mas!"
"Anak itu juga sama kayak rejeki!"
Kata-kata itu sering meluncur begitu saja dari mulut Shinta, saat Rangga membahasa soal adopsi. Rangga hanya ingin istrinya itu tidak sepi lalu berpotensi menitikberatkan masalah mereka pada dirinya sendiri.
Dan saat hari terus berganti, detik ke menit, menit ke jam, jam ke hari, hari ke Minggu, dan Minggu ke bulan, bahkan bulan ke Tahun Rangga dan Shinta masih hidup dalam kebohongan.
Hingga suatu saat, Rangga yang lupa dengan rekam medis asli itu mendadak ingat. Rangga lupa dimana meletakkan kertas itu karena saking lamanya. Ia benar-benar ceroboh.
Ia takut jika Shinta menemukan. Sesal menyelinap ke hatinya. Mengapa ia tak memusnahkan saja barang itu sejak dulu.
Shinta bahkan turut membantu Rangga yang mencari hasil pemeriksaan palsunya, Rangga pikir hasil aslinya mungkin terselip di map hasil palsu. Namun sudah seperti kebiasaan, barang jika sedang di butuhkan sangat susah di ketemukan, namun apabila tak di butuhkan, barang itu seringkali nongol di mana-mana.
Dan semua itu terlupakan hingga di satu dekade usia pernikahan mereka.
.
.
Masa sekarang
Dengan hati hancur Shinta langsung melorot ke lantai sembari memeluk hasil itu.
" Mas kenapa bohong, apa mas takut aku bakal ninggalin mas Rangga kalau aku tahu mas Rangga yang gak bisa kasih aku anak?" suara Shinta bergetar hebat.
" Mas Rangga salah besar mas!" Shinta menangis seorang diri. Hatinya nyeri.
Ia mencintai Rangga dengan kurang dan lebihnya. Pria baik itu tak pernah berlaku kasar bahkan di saat tiga tahun mereka masih belum mengetahui satu sama lain tentang kekurangan dalam hal reproduksi.
Sejenak Shinta berpikir, apa mama mertuanya juga tidak tahu bila Rangga yang bermasalah? jika sudah tahu, mengapa selama ini ia yang menjadi kambing hitam?
.
__ADS_1
.
.