The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 47. Prestasi Raka


__ADS_3

Bab 47. Prestasi Raka


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


"Sesal itu sungguh tiada guna!"


Raka


Sinar bulan yang penuh ketentraman, kini berganti dengan mentari yang memberikan semangat bagi setiap insan.


Waktu begitu cepat bergulir, kurang lebih dua Minggu pasca kejadian yang menyebabkan Raka cedera, kini bocah itu terlihat sudah siap untuk masuk ke sekolah. Hanya saja , Raka belum bisa mengikuti latihan.


Dengan terapi dan juga resep obat dari dokter, diharapkan sebulan lagi ia sudah bisa lebih baik. Engkel kaki memang memerlukan waktu yang lama untuk penyembuhan.


Ini adalah Senin pertama di bulan Januari, seperti biasanya rutin di adakan upacara bendera. Hormat kepada Sang Saka merah putih, menyanyikan lagu wajib karangan W.R. Supratman, adalah kegiatan wajib yang musti dilakukan.


Sekolah TUNAS BANGSA harus puas dengan torehan prestasi yang menduduki klasemen kedua, atau dalam arti lain mereka kalah dalam babak final, lantaran Raka yang mengalami cedera.


Pemain yang menggantikan Raka tempo hari, rupanya tak mampu mempertahankan irama pertandingan. Membuat mereka harus menerima kenyataan di set ke lima, bahwa mereka kalah dengan skor tipis. Pasalnya pemain andalan seperti Raka yang mengalami cedera praktis membuat pertahanan tim mereka porak poranda.


Tapi sekolah itu masih bangga, lantaran ini pertama kalinya cabang olahraga Voli mendapat juara dua, selama kurang lebih satu Dekade. Meski bukan juara satu, namun ini jelas merupakan peningkatan yang cukup baik.


"Kita semua patut berbangga, atas kerja keras dan usaha yang dilakukan oleh Tim Bola Voli Putra dan Putri yang telah berhasil menyabet juara dua, di ajang pekan olahraga provinsi"


Terdengar riuh suara tepuk tangan dari ratusan siswa yang tengah berbaris.


Bu Retno memberikan sambutan saat acara amanat tengah berlangsung, sengaja menunggu Raka untuk masuk. Meski dengan kaki pincang, karena masih agak sulit digunakan untuk berjalan. Bahkan sebuah ulasan medis menerangkan, bila cedera engkel kaki bisa memakan waktu tiga bulan lebih untuk masa pemulihan.


"Dan dengan bangga, salah satu siswa terbaik di sekolah ini rupanya mendapatkan prestasi menjadi pemain terbaik untuk kategori putra. Kami ucapkan selamat kepada, Ananda Raka Chandrakanta. Mendapatkan predikat sebagai pemain terbaik Pekan Olahraga Provinsi tahun 20xx"


"Wuuuuuuu!!!" riuh suara tepuk tangan bahagia dan bangga, dari seluruh murid berserta dewan guru.


"Wah ka, gila!!!. Gak rugi sampai cedera begitu, rupanya masuk list lu Ka!!" ucap Jodhi yang juga berbasis di samping Raka.

__ADS_1


"Mari, kepada Ananda Raka, kami persilahkan untuk ke podium!" ucap Bu Retno.


Acara itu sengaja dibuat live di akun resmi, berbagai media sosial milik sekolah TUNAS BANGSA.


Ia dengan di bantu Jodhi berjalan tertatih menuju podium, senyum penuh kebanggaan, juga keharuan mengiringi langkahnya. Diiringi suara tepuk tangan para siswa yang berbaris rapi. Bahkan Chiko pun meski dengan wajah malas juga turut memberikan tepuk tangan.


"Saya persilahkan Ananda Raka, untuk memberikan sepatah dua patah kata!" Bu Retno memberikan microfon kepada Raka.


Semua siswa diam dan menatap Raka, yang dengan agak gugup mulai mengarahkan benda berbentuk mirip es krim itu, ke arah mulutnya. Menunggu bocah yang sudah menyiratkan gari- garis ketampanan di Wajahnya.


Ia gugup, pasalnya ia tak pernah sebelumnya menjadi pembicara di kegiatan apapun. Benar-benar amatir.


"Selamat pagi, Bapak ibu guru. Juga teman- temanku sekalian!" ia awali dengan menyapa terlebih dahulu. Not bad!.


"Pagi!!" koor semua yang disana, menjawab sapaan Raka.


Suasana hening beberapa detik.


"Emm mau ngomong apa ya ini!" ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Membuat ucapan polosnya untuk menjadi bahan teman-temannya untuk tertawa, bahkan Bu Retno juga terlihat tertawa demi menanggapi ucapan Raka.


Bahkan Jodhi yang berada di belakang terkikik geli, sungguh ucapan Raka tadi sangat menggelitik.


Sejurus kemudian, ia terlihat memasang wajah serius.


"Terimakasih untuk sekolahku tercinta, TUNAS BANGSA. Terimakasih untuk Bapak ibu dewan guru, Pak Renaldi beserta tim official, juga teman-temanku sekalian yang saya sayangi. Jika bukan karena dukungan dari kalian, semua ini mustahil tercapai"


Entah mendapat kata-kata dari mana, Raka yang sebelumnya belum pernah berbicara di depan umum itu, kini memiliki keberanian dan lancar mengucapkan sambutan.


Semua yang berdiri disana nampak masih diam, sabar menanti kalimat demi kalimat yang di lontarkan okeh Raka. Dalam sekejap, ia menjelma bak orator ulung.


"Terimakasih untuk mama, dan papa!" ia berucap agak berat di akhir kalimat. Mengingat kejadian tempo hari dirumah sakit, Jodhi menundukkan kepalanya , tatkala mendengar suara Raka tang mulai bergetar.


Harusnya torehan prestasi yang ia capai bisa di rayakan bersama kedua orangtuanya, harusnya kebahagiaan ini seirama dengan hatinya. Namun apa mau dikata, nasib memiliki jalannya sendiri.


"Ini semua untuk kalian!, terimakasih karena selalu mendukung Raka!" matanya mulai memanas, suaranya pun kian bergetar. Nampaknya ia saat ini tengah mengharu- biru.


" Semoga papa dan mama bangga sama Raka. Ini untuk kalian!!" ucapnya mengangkat piala di tangan kirinya, seraya tersenyum menahan air mata yang hampir saja lolos. Semua yang disana turut larut dalam kaharuan, apalagi beberapa yang disana sudah tahu bila Raka adalah manifestasi dari broken home.


"Raka sayang sama Mama dan Papa!"

__ADS_1


.


.


Andhira


Ia yang tengah sibuk di ruko, terkejut dengan teriakan Shinta yang nyaring. Untung saja blender yang ia pegang tidak jatuh.


"Dhirrr??, Dhira!!!" panggil Shinta dengan gencar.


"Apa sih, ribut mulu dari tadi!"


"Anak elo live ni, di Facebook!!" Shinta menunjukkan sebuah siaran yang tengah berlangsung, di ponsel milik Shinta.


Demi apapun, air matanya lolos seketika saat mendengar putranya menunjukkan prestasinya.


Shinta bahkan turut senang, gak nyangka bila Raka bisa berkata-kata sediplomatis itu.


.


.


Indra


Tak sengaja ia membuka ponselnya, memburu bosan dengan berselancar di dunia maya. Namun, saat ia menscrol beranda facebooknya, dan melihat akun resmi sekolah TUNAS BANGSA ia melihat anaknya tengah berpidato ringan.


Tentu saja setiap orang tua wajib memiliki akun resmi dari pada sekolah anak-anak mereka.


Hatinya tersentuh, buncahan kebahagiaan menelusup sanubarinya. Bagaimanapun juga, Raka adalah putranya. Ia bahagia melihat Raka yang berprestasi.


Kini nampaknya Indra sedang dirundung penyesalan yang teramat dalam. Sekelebat bayangan wajah Dhira tiba-tiba muncul.


"Astaga apa yang sudah aku lakukan selama ini?" Indra mengusap wajahnya kasar, nafasnya memburu. Kini ia tengah berada di titik rendah dalam hidupnya.


Namun bukankah penyesalan itu hanya sebuah kesia-siaan?. Manusia tidak akan pernah tahu caranya menghargai, sebelum dia kehilangan.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2