The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 136. Bersolo Karir


__ADS_3

Bab 136. Bersolo Karir


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


Bila cinta menggugah rasa


Begitu indah mengukir hatiku


Menyentuh jiwaku


Hapuskan semua gelisah


Duhai cintaku, duhai pujaanku


Datang padaku, dekat di sampingku


Ku ingin hidupku


Selalu dalam peluknya


Terang saja, aku menantinya


Terang saja, aku mendambanya


Terang saja, aku merindunya


Kar'na dia, kar'na dia begitu indah


( Padi ~ Begitu Indah)


.


.


Wisang malam itu tak membawa Sekar pulang ke Ruko. Ia tak mau ambil resiko bila meninggalkan Sekar seorang diri. Ia membawa wanita itu ke unit apartemennya di kawasan Parasbumi.


Sekar tertidur dengan mulut terbuka di kursi depan. Hati Wisang nyeri melihat kondisi sekar yang turut babak belur. Apalagi ia ingat saat Sekar yang ketakutan dan terus memanggil namanya.


Ia memacu kendaraannya dengan cepat, tak rela jika membuat Sekar lebih lama tidur dengan posisi yang akan membuat leher gadis itu makin sakit.


Tiga puluh menit ia lalui untuk merajai jalanan malam itu, jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Sudah lumayan larut memang. Usai mematikan mesin mobilnya, ia masih berdiam di dalam mobilnya.


Sejenak Wisang menatap wajah sekar yang sudut bibirnya terluka dan kini sedikit berwarna biru akibat lebam. Ia mengeraskan rahang mengingat Johan yang biadab itu. Ia harus memastikan bandot tua beserta komplotannya itu, harus membusuk di hotel prodeo.


Apa hidupmu selama ini berat?


Aku tidak bisa membayangkan jika aku tadi datang terlambat. Mungkin aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri?


Wisang berkata dalam batinnya, seraya memandang bibir Sekar yang sedikit bengkak dan terpahat luka lebam disana. Ia menelusuri garis pipi Sekar dengan wajah layu itu.


Wanita itu menggeliat karena tidurnya merasa terusik.


" Mas!" Sekar mulai membuka matanya seraya berucap dengan suara paraunya.


Ia langsung duduk dan mengawasi sekelilingnya, itu bukan ruko pikirnya.

__ADS_1


" Mas, kita dima...?" Sekar terlonjak kaget karena merasa berada di tempat yang asing.


" Ini apartemenku. Maaf aku tidak memberitahumu tadi. Tapi aku takut jika kamu kembali ke Ruko, Wisnu bakal cari kamu kesana. Dia sudah tahu tempat itu!" Alasan Wisang memang begitu adanya, ia jujur untuk hal satu ini. Apalagi Wisnu masih berkeliaran diluar sana.


"Tapi mas, besok aku gimana?" Sekar cemas karena ia besok harus bekerja, dan malam ini biasanya dia menguleni beberapa adonan kue.


" Aku sudah berkirim pesan pada Abimanyu. Lagipula, ku dengar tadi ruko bakal di kelola Bastian. Jadi, mungkin sekalian berbenah!" ada raut lelah terpancar di wajah Wisang. Membuat Sekar tak mau menyela, apalagi ia menyaksikan sendiri pria di depannya itu sudah bertaruh tenaga saat menghajar dan terlibat aksi baku hantam bersama para preman tadi.


"Kau jangan khawatir, aku akan tidur di luar nanti!" Wisang turun dari mobil. Sekar melihat pria itu agar berlari kecil memutari mobil dan kini membukakan pintu untuknya.


" Ayo!" ajak Wisang.


Sekar belum pernah ke apartemen, ia mendongak melihat ketinggian gedung pencakar langit itu.


" Rumahnya disini?" tanya Sekar." Ibunya mas?"


Wisang tersenyum seraya menggenggam tangan Sekar saat berjalan." Ini apartemenku. Aku , Abimanyu, Danan semua juga punya. Dulu kami sering nginep disini kalau pas lagi .."


Mendadak Wisang tercekat ucapannya sendiri. Ia seolah tersedak dengan kata-katanya yang mustahil ia lanjutkan. Sebab alasan dia kesini, tak lain dan tak bukan adalah saat menuntaskan hasrat bersama para wanita binal kelas kakap, yang biasa ia kencani dalam durasi tak lama.


" Pas apa mas?" Sekar masih ingin tahu.


" Pas lagi lembur. Iya, biasa lah kalau musti balik ke rumah kan agak jauh!" kilah Wisang yang juga sebenarnya belingsatan saat itu. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Persis tingkah orang bodoh.


Sekar hanya manggut-manggut, ia memperhatikan Wisang yang menekan tombol lift. Tertuju ke angka 31.


" Tiga puluh satu?" tanya Sekar.


" Iya, agak ke atas unit punyaku!" sahut Wisang.


Wisang membuka passcode unit miliknya, membuat Sekar terperangah dan takjub melihat semua benda mengkilat disana. Ini adalah pertama kalinya ia menginjakkan kaki ke tempat bernama apartemen.



" Astaga!" Sekar seperti teringat sesuatu.


" Ada apa?" Wisang turut memasang raut cemas.


" Aku tidak bawa baju ganti!" ucap Sekar polos.


Wisang terkekeh," CK, aku kira apa. Ada banyak baju disana!" jawab Wisang enteng lalu membalikkan badannya.


Sekar mengernyit," Kok bisa?" membuat langkah Wisang terhenti.


Wisang meringis dengan posisi membelakangi Sekar, ia bodoh. Mana mungkin ia mengatakan kepada Sekar bila itu adalah spare baju untuk para Friend with benefit- nya dulu.


"Em..itu, nganu!" Wisang membalikkan badannya, dan tak bisa menutupi wajahnya yang belingsatan.


" Ngona- nganu - ngona- nganu!" dengus Sekar, kini ia menatap tajam Wisang, kedua alisnya bertaut mencari jawaban.


" Biasanya si Danan bawa pacarnya dulu. Terus beli baju kelebihan. Jadi ya...!" Wisang mengangkat kedua tangannya.


Sekar memilih diam. Bisa saja itu memang benar, lagipula ia juga tidak terlalu tahu seperti apa kehidupan Wisang sebelum mengenal dirinya, sejurus kemudian ia meninggalkan Wisang. Ia juga sudah lelah malam itu. Ia masuk ke kamar mandi dengan aksen yang lebih dari separuhnya terbuat dari kaca. Ia melihat sebuah bak besar putih bersih.


" Kamu mandi air hangat saja, biar aku siapkan!" Wisang ngeloyor begitu saja saat masuk ke kamar mandi. Sekar menjadi kikuk.


Rupanya Wisang memerhatikan ketakjuban Sekar di apartemennya itu. Dan hal itu membuat Wisang tertawa sendiri. Wisang terhibur.


" Aku ke depan dulu ya, nanti gantian!" ucap Wisang.


Unit Wisang tak seperti milik Abimanyu. Di unit miliknya itu hanya ada satu kamar tidur. Membuat ia harus bergantian untuk mandi.

__ADS_1


Wisang menunggu dengan duduk di sofa warna putih gading itu. Ia menggulir layar ponselnya, sejurus kemudian ia mengetik sebuah pesan kepada Danan.


Kalau mama telpon kamu, bilang aku lagi keluar kota. Ada urusan.


Wisang tak mau bila mamanya sampai tahu, bahwa ia tengah membawa Sekar ke apartemen miliknya. Meskipun Nyonya Lisa belum tahu seputar unit apartemen itu, namun ia tak boleh lupa bahkan meremehkan siapa Nyonya Lisa.


Wisang membuka kaosnya. Ia gerah sekali malam itu. Ia mencampakkan kaosnya, dan meraih remot TV kabel di sampingnya.


Wisang terlihat mengganti channel TV yang mulai membosankan, ia terlihat menguap berkali-kali. Beberapa detik kemudian, ia mendengar suara pintu yang terbuka.


Pria itu terpana melihat Sekar yang mengenakan celana joger panjang warna abu-abu, dengan kaos putih ketat yang menunjukkan dua benda yang sedari tadi membuatnya gelisah.


" Bajunya terbuka semua, cuma ini yang agak beres!" dengus Sekar. Bagiamana bisa semua pakaian disana adalah pakaian penjebak nafsu pria semua.


" Besok kita beli ya. Aku mandi dulu?" tukas Wisang tak mau terlalu lama disana. Khawatir itu tak baik untuk matanya.


Sekar yang melihat Wisang bertelanjang dada sebenarnya malu dan rikuh, namun ia menajamkan pandangannya saat melihat beberapa luka lebam dan goresan kecil di dada dan punggung pria itu.


Sekar mendekat dan mendorong Wisang, membuat pria itu kini terduduk kembali ke sofa warna putih gading itu. Wisang terdiam. Apa yang akan di lakukan wanita itu pikirnya.


Sekar meraba beberapa luka yang tercetak disana sini. Membuat darah Wisang berdesir karena mendapat sentuhan dari tangan lembut Sekar.


" Pasti sakit?" Ucap Sekar seraya meraba luka lebam berwarna ungu kebiruan, tepat di depan susu kekar Wisang. Wisang menelan ludahnya, ia bisa bablas kalau terus di sentuh Sekar seperti ini.


Wajah Sekar terlihat cemas, kedua alis wanita itu saling bertaut. Memancarkan raut penyesalan.


" Enggak kok, nanti hilang sendiri!" jawab Wisang mencoba mengendalikan diri. Ia melihat isi dari dada Sekar yang sedikit terlihat dari balik kaos yang mengendur, saat Sekar mencondongkan tubuhnya yang tengah sibuk mengabsen luka lebam di sekujur tubuhnya.


" Maafin aku ya mas?" Sekar masih menyusuri luka di dada Wisang. Setengah mati pria itu menahan sesuatu yang kini bisa saja bangkit akibat sentuhan Sekar.


" Astaga, di punggung juga!" Sekar memiringkan tubuh kekar Wisang, yang kini bisa Sekar lihat begitu nyata terpampang di depan matanya.


" Mas biar aku obati ya, yang ini pasti sakit?" Sekar meraba punggung Wisang yang memang sedikit lecet.


Sialnya, sentuhan Sekar itu benar-benar membuat kejantanan Wisang menegang.


" Astaga ini..."


Wisang menempelkan tubuh Sekar ke sandaran sofa itu. Ia tak tahan, ia mencium bibir wanita itu. Membuat Sekar diam dengan aksi Wisang. Sesapan dan gigitan kecil di lakukan Wisang. Dalam durasi yang lama mereka berciuman. Ini gila, Wisang nyaris saja kebablasan.


Benda penting miliknya sudah bermetamorfosal mejadi benda keras yang meminta pertanggungjawaban segera.


Saat kewarasannya muncul, ia melepas ciumannya. Membuat Sekar tersipu" Aku mandi dulu!" Wajah Wisang memerah, dan suhu tubuhnya memanas saat itu juga.


Disentuh Sekar saja, sudah membuat kejantanannya terbangunkan. Oh tidak, tentu ia tak mau menyakiti wanita itu pikirnya.


Wisang meninggalkan Sekar yang masih bingung. Pria itu segera melesat ke kamar mandi. Kepalanya mendadak pusing dan berat karena menuntut penuntasan. Dan sepertinya kali ini ia harus menuntaskan hasrat dengan cara independen alias bersolo karir.


.


.


.


.


.


.


Keterangan :

__ADS_1


Credit foto from Facebook


__ADS_2