
Bab 144. Teripang
.
.
.
...ššš...
" Merindukan purnama, bertahan walau di dalam duka...."
( Diambil dari lirik lagu Judika )
.
.
" Maafin suami saya ya pak Devan!" bisik Dhira kepada Devan yang terlihat tertunduk layu. Dhira sungkan karena suaminya tanpa tedeng aling-aling memarahi bawahannya yang ia rasa tak bersalah itu.
Devan meringis, istri bosnya itu malah meminta maaf untuk kesalahan yang tak ia perbuat. " Ga pa pa Buk, kebetulan saya mau makan siang diluar sekalian. Permisi?" Devan berjalan dengan menghembuskan napas tak tenang. Jelas akan banyak kerewelan lagi nantinya kalau sudah begitu.
Usai Devan pergi, Abimanyu nampak bugar kembali. " Mas sakit?" Dhira menempelkan punggung tangannya ke dahi Abimanyu. Mengecek suhu suaminya.
" Gak tahu nih, aku mual dari pagi tadi. Kayak gimana gitu?" Abimanyu berjalan menuju sofa di ruangannya. Dhira mengekor di belakangnya dan kini turut duduk si sebelah Abimanyu.
" Jangan keras-keras ke bawahan!" pinta Dhira seraya mengusap lengan suaminya.
" Itu gak keras, kamu aja yang terlalu baik ke dia sayang. Tuman nanti!" sahut Abimanyu. Membuat Dhira mencibir.
" Sayang, kamu gak nyium bau aneh apa emang tadi?" Abimanyu memanyunkan bibinya, mencoba menutupi cuping hidungnya sendiri.
" Enggak, pak Devan wangi loh mas orangnya!"
Tentu saja Dhira menjawab dengan sebegitunya. Ia yakin pria selicin Devan, pasti akan cross check dua kali soal penampilannya, sebelum ia pergi ke kantor.
" Perutku mual banget tiap nyium bau Devan!" Abimanyu merengek bak bocah. Membuat Dhira iba.
" Jadi gimana, makan di kantor aja kalau gitu. Pesen aja ya?" bujuk Dhira. Melihat wajah pucat suaminya serta keringat dingin yang tercetak di dahi suaminya itu, jelas menandakan jika Abimanyu tak membual terkait kemualannya itu.
...ššš...
Wisang selalu terlihat gelisah tiap mengunjungi Sekar. Sekar yang makin hari makin bersih, dan dua gumpalan daging berbentuk gunung itu selalu mengacaukan pikirannya.
kapan dua benda menggelisahkan itu, bisa ia gapai pikirnya. Bukan cabul, namun ia pria normal bukan. Apalagi, semenjak dekat dengan Sekar beberapa bulan ini, pria itu sudah tak terlihat jajan di luar.
" Mas gak perlu tiap siang kesini. Kita mau nikah, takutnya ada apa-apa dijalan!"
Selama ini Wisang tak mengijinkan Sekar untuk kembali ke Dapur Isun, alasannya apa lagi kalau bukan soal keselamatannya. Wisnu hingga saat ini masih berkeliaran bebas diluar sana.
Sekar yang gencar menolak karena akan bingung melakukan apa, membuat Wisang menjadikan apartemennya sebagai alat untuk membuat Sekar tak pergi.
Kamu beresin apartemen ini aja, Aku udah bilang ke Dhira. Mereka juga mau rekrut karyawan baru kok. Si Bastian yang ambil usahanya sekarang.
Selama kita nunggu berkas buat nikah beres, kamu bisa disini dulu.
Aman lah, aku pulang tiap hari kok. Kamu jangan khawatir.
Ia benar-benar berusaha mengendalikan diri, agar tak grusa- grusu. Sekar wanita baik-baik pikirnya. Ia tak mau sampai kebablasan.
Kata-kata seperti itu, tak pelak membuat Sekar akhirnya mau diam dan menurut. Bagiamana tidak diam, Wisang saja selalu memperlakukannya begitu lembut.
Malam harinya Wisang lebih dulu pulang kerumahnya. Ia tak mungkin mendatangi Sekar dengan tampilan kusut begitu. Usai menenggelamkan dirinya di bak mandi besar berisikan air hangat dan aromaterapi, ia membilas tubuhnya dengan air dari shower.
__ADS_1
Keperkasaan Wisang nyata terpahat, gugusan otot perut yang timbul, bahu lebar yang kekar, lengan dengan urat yang begitu kentara. Wajah oriental, makin menjadikan Wisang benar-benar tampan.
Ia malam itu ingin berpakaian santai saja. Sebuah kaos berwarna hitam membungkus tubuh yang liat. Celana chinos berwarna coklat juga match dengan tampilannya yang casual malam itu.
Dari dalam kamarnya, ia mendengar suara ribut- ribut.
Praaanngggg!!!!!
Terdengar suara pecahan benda di luar. Wisang segera melesat menuju luar, guna mengetahui sebab musabab suara gaduh di waktu malam seperti itu.
Dan matanya membulat melihat mamanya mengamuk," Kalau sampai wanita itu papa bawa kemari. Mending mama mati aja!!" suara Nyonya Lisa benar-benar marah.
" Mama jangan begini dong ma. Mama dari kemaren gak mau makan, mama tega banget sama Wisang. Dia bentar lagi mau nikah ma!" Tuan Wikarna berusaha membujuk istrinya.
Hati Wisang sedih, bahkan mamanya tidak mau memasukan apapun ke dalam perutnya karena keinginannya yang akan menikahi Sekar.
Melihat Wisang berdiri mematung, membuat Nyonya Lisa mengembangkan cuping hidungnya lalu melenggang kembali ke kamarnya. Wanita itu benar-benar marah terhadap Wisang karena akan nekat menikahi Sekar.
Brakkkk
Tembok rumah itu seakan bergetar dan mau roboh saja. Akibat bantingan pintu yang di lakukan oleh istri dari tuan Wikarna itu. Keras dan terkandung makna kekesalan.
Tuan Wikarna menarik lalu mengembuskan napasnya kasar, ia yang baru menyadari keberadaan Wisang agak terperanjat.
" Kamu udah pulang rupanya?" tanya tuan Wikarna.
" Pa...!" Wisang yang berkepribadian kuat, seakan menjadi rapuh usai melihat mamanya yang seperti itu.
" Tenang, kamu lanjutkan saja sesuai rencana. Lebih baik begitu, dari pada kamu hamilin anak orang karena gak bisa nahan diri." untuk hal yang satu ini, tuan Wikarna tak salah prediksi.
Ia tahu seperti apa Wisang selama ini, putranya itu pasti saat ini kerap menahan gelisah saat bersama dara muda yang ia akan persunting itu.
" CK, papa!!" Wisang mendengus, papanya itu memang selalu jitu dalam menebak.
.
.
Dengan diri yang kerempongan, Wisang membawa semua belanjaan seraya berdiri menunggu Sekar membuka pintu apartment.
" Mas Wisang!" Sekar mendelik begitu ia membuka pintu apartemen itu. Tubuh pria itu bahkan tidak terlihat. Giginya pun turut menyapit kantong belanjaan, yang berisikan jajanan berisikan keripik yang memakai banyak micin sebagai bumbunya. Namun Sekar suka dengan makanan itu.
" Bantu aku!!" suara Wisang sampai tidak jelas. Namun Sekar segera membantu calon suaminya itu membawakan belanjaan yang sangat banyak.
Ia meletakkan semua belanjaan Wisang ke meja makan di dapur mini apartemen itu.
" Banyak banget, yang kemaren aja masih ada. Jangan boros- boros mas!" Sekar menggerutu. Wisang terlalu royal menurutnya.
" Buat stok kamu!"
" Maaf karena aku masih harus ngurung kamu begini, ini semua biar kamu gak kekurangan selama aku sekap disini!" ucap Wisang terkekeh.
" Sini dong, aku kangen!" Wisang menepuk pahanya. Meminta Sekar untuk duduk di pangkuannya.
Sekar menurut, lagipula ia memang rindu dengan Wisang. Harum aroma tubuh pria itu, seakan bisa meredam rasa letihnya.
Sekar duduk sembari di peluk Wisang malam itu, Sekar mengenakan celana jeans selutut dan kaos model A, yang nampak ketat membungkus tubuhnya.
" Kamu seharian ini ngapain aja, hm?" Wisang mencium rambut bergelombang Sekar yang tergerai.
" Gak ada mas, mau bersihin tempat ini tapi tempatnya udah bersih. Bersih banget malah!"
" Jadi ya, ngapain lagi. Palingan main hp !" Sekar jujur, apartemen itu memang sudah kinclong sejak ia pertama datang.
__ADS_1
" Kamu gak capek kan?" tanya Wisang kini menciumi lengan Sekar.
" Capek kenapa, orang kerjaannya cuma tidur sama makan doang!" sahut Sekar.
Wisang tergelak," Sabar ya. Besok kalau kita udah nikah, kamu pasti bakal capek!" pria itu menyeringai licik. Sementara Sekar tak terlalu menanggapi, karena ia memang tak nyambung ke arah mana ucapan Wisang itu.
" Mama mas gimana. Kita jadi akad dirumah mas kan?" Sekar mengusap-usap rambut Wisang.
Pria itu diam sejenak, rencananya ia akan melangsungkan pernikahan di rumahnya saja. Mengingat Sekar benar-benar menolak untuk berselebrasi. Tapi, kejadian dirumah tadi sungguh membuat Wisang bingung.
" Yang penting legalitas kan, bukan selebrasi?" Wisang mengulang perkataan Sekar yang terucap kepada papanya tempo hari.
Sekar mengangguk.
" Kalau disini pun gapapa kan?"
" Nanti papaku juga datang sebagai saksi, Abimanyu sama istrinya, Danan dan semua yang dekat dengan kita!" Wisang mencoba menghibur.
" Mamanya mas pasti masih gak mau terima aku ya?" wajah Sekar berubah sendu. Wanita itu tertunduk layu.
" Hey, kok sedih. Mama belum terima aja, kamu percaya sama aku ya. Mama pasti mau buka hati nanti. Aku cinta sama kamu Sekar. Aku gak pingin kita begini terus, aku pingin kita bahagia kayak Abimanyu!" Wisang menatap wajah Sekar yang kian muram.
" Tapi..." Sekar benar-benar tak tenang, lantaran orang tua perempuan Wisang antipati terhadapnya.
" Pelan-pelan kita yakinkan, dan kita buktikan bahwa pilihanku tidak salah!" Wisang menggenggam tangan Sekar. Pria itu mencium tangan mungil itu lama dan dalam.
Sejurus kemudian, Wisang menarik tengkuk Sekar. Bibir lembab yang ranum itu kini sudah berada dalam lumatannya. Sekar yang selalu rindu dengan sentuhan itu memejamkan matanya. Ia merasakan bibir hangat Wisang yang membuat dirinya merasa begitu dicintai.
Tangan mungil itu tak menganggur, Sekar kini lebih atraktif dengan berani meraba dada Wisang. Meskipun hanya berciuman, namun Sekar selalu berhasil dibuat melayang ke langit.
Tangan Sekar menelusuri tiap inci lengan kekar Wisang, menuju punggung pria itu lalu ke punggung yang lebar dan kokoh. Sampai akhirnya tak sengaja tangannya terus turun dan menyenggol benda mengerikan di balik celana Wisang.
Seketika ciuman itu terlepas, membuat Wisang bingung dengan wajah sendu karena keasikannya terinterupsi.
" Mas tadi itu apa?" Sekar merasa ngeri dengan benda yang tak sengaja ia senggol.
Wisang tergelak, ia memang kerasa kalau aset berharganya tersenggol oleh Sekar saat tegang- tegangnya.
" Itu Teripang ku!" bisik Wisang.
Membuat Sekar melongo dengan bibir yang terbuka serta kening yang mengkerut, lantaran terkejut dengan jawaban yang di ucapkan oleh Wisang.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa like dan komentar nya dong. Jangan jadi pembaca gelap ya. Karena like itu gratis tis tis Lo.
Hargai penulis dengan mengapresiasi karyanya.
Pasti pinisirin beut ya sama kisah Danan dan Shinta? Tenang, kita kawal sama-sama.
Makasih yang udah kasih hadiah sama vote. Kiranya kebaikan readers sekalian juga mendapat kebaikan dari hal lain juga.
Mommy mau ngucapin selamat Natal nih buat readers mommy yang merayakan. Damai sukacita Natal senantiasa hadir dan selalu beserta keluarga readers sekalian ya.
__ADS_1
Love you all
sun dari Mommy Eng š¤š¤š¤ššš