The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 112. Candu Bagiku


__ADS_3

Bab 112. Candu Bagiku


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


" Jika bukan kepadamu, aku tidak tahu lagi. Pada siapa rindu ini kan ku beri..."


( Diambil dari lirik lagu Anji ~ Menunggu Kamu)


.


.


Abimanyu mengumpat dengan kesal pasca Wisang memutuskan sepihak sambungan telepon mereka.


"Ada apa?, bener Sekar sama mas Wisang?" Dhira menatap calon suaminya itu dengan wajah tak sabar.


Ya, saat mereka tiba di Ruko dengan beberapa makanan. Mereka melongo demi melihat Ruko yang tertutup. Bahkan mereka sudah mengitari bagian belakang.


" Iya, kampret emang. Bawa pergi anak orang gak ijin. Udah kayak pedofil aja dia. Gimana terus ini. Aku gak mau kamu di keroyok nyamuk disini!"


"Sialan emang si Wisang !" Abimanyu mendengus kesal.


Dhira justru tertawa. Ya, mereka sudah mirip dengan orang tua yang mengkhawatirkan anak gadisnya, yang pergi kelayapan di malam Minggu karena tak ijin.


"Kita ke apartemen aja yuk, sekalian mau nyicil kerjaan. Dari pada disini!"


Mendengar Abimanyu menyebut soal pekerjaan, membuat Dhira tersadar jika pria di sampingnya itu adalah seorang kepala yang membawahi ratusan anak buah yang menggantungkan hidupnya di perusahaan miliknya. Termasuk adiknya, Bastian.


"Ya udah!" Sangat aneh, sudah berada di depan tempat tinggalnya, hanya karena sebuah kunci membuat Dhira kini harus merajai jalanan lagi.


Abimanyu membuka pintu apartemennya," Kamu kalau ngantuk tidur aja, aku mau cek dulu beberapa laporan yang dikirim Devan. Aku gak mau pas kita nikah nanti direcokin kerjaan terus. Aku kan pingin manja-manjan sama kamu Dhir" Abimanyu melepas sepatunya, dan menggantinya dengan sandal rumahan.


Ia kemudian mencampakkan kemeja birunya, ke kasur kamarnya. Dhira mengangguk, ia memang lelah saat ini.


"Aku kesana ya?" Abimanyu pamit menuju meja kerjanya, yang berada di sebelah ranjangnya.


Dhira mengangguk, sejurus kemudian memunguti baju yang teronggok di kasur. Ia mencantolkan kemeja itu ke gantungan baju milik Abimanyu. Ia tak tahu baju itu mau di kenakan Abimanyu lagi atau tidak.


Abimanyu langsung membuka komputer di kamarnya, ia mengecek harga saham yang secara fluktuatif naik turun. Mengecek segala kestabilan lini di perusahaannya.


Menenggelamkan dirinya selama beberapa menit, membuat Abimanyu menoleh ke kasur yang berada di depannya.


Ia tersenyum melihat Dhira yang sudah terlelap. Wajah teduhnya membuat Abimanyu merasa tenang. Ia kadang tak percaya dengan apa yang terjadi. Waktu memang sebuah misteri yang tak terpecahkan jika kita tak melaluinya.


Dan ia bersyukur bisa juga sampai di posisi saat ini. Bersama Dhira.


Ia ingin cepat membereskan pekerjaannya, sungguh ia sudah membayangkan hari- hari indah yang akan ia lalui bersama Dhira di sisa usianya dalam waktu sebentar lagi.


...šŸšŸšŸ...


"Memangnya malam - malam begini ada sales yang masih kerja?" dengan polosnya Sekar memastikan jawaban asal yang di lontarkan oleh Wisang.


" Sales gak tau diri, jam kerjanya gak jelas!" jawabnya sembari memasukkan ponselnya ke dalam sakunya.

__ADS_1


"Habis ini mau kemana lagi?" Wisang yang juga sudah selesai makan lebih memilih mengganti topik pembicaraannya.


"Sebelum pulang aku mau mampir ke minimarket Tuan, yang sejalan!"


"Pulang ya?" Wisang menimang jawaban Sekar, padahal ia ingin lebih lama lagi besama Sekar.


"Saya pergi gak bilang sama Bu Dhira, saya gak enak. Lagipula Tuan mau kemana lagi?" Sekar menautkan kedua alisnya.


Wisang tersenyum dalam hati, padahal Abimanyu dan Dhira pasti sudah tahu bila mereka memang telah pergi berdua. Wanita di depannya itu memang mudah menaruh rasa tak enak hati kepada orang lain.


"Ya sudah ayo!"


Usai membayar bill, mereka menuju parkiran. Sepasang mata yang mengamati mereka sedari tadi juga turut keluar. Bersembunyi di balik deretan mobil yang terparkir rapi disana.


"Dimana, disini aja atau di tempat lain?" tanya Wisang yang sudah menyalakan indikator lampu sen untuk berbelok.


" Disini saja, dari pada belok-belok. Saya enggak lama, Tuan tunggu disini saja!" Sekar langsung turun tanpa memandang Wisang.


Brak


"Astaga!" Wisang yang masih sibuk dengan tuas handrem nya menjadi terperanjat. Ia memegangi dadanya karena kaget.


"Huh, dia pikir mobilku ini Lin kuning apa? yang musti di banting kalau nutup pintunya!" gerutu Wisang karena kaget seraya menggelengkan kepalanya.


Wisang tentu tak mau taat pada permintaan Sekar yang menyuruhnya untuk diam disana, mana mungkin Wisang tega membiarkan gadis yang kerap membuatnya gelisah itu seorang diri.


Dengan mengendap- endap dan derap langkah yang nyaris tak terdengar, Wisang membuntuti Sekar yang terlihat sedang memilih beberapa perlengkapan pribadi.


Sekar terlihat mengambil Sebuah lulur, perlengkapan mandi, juga sebuah pembersih kewanitaan.


Untuk apa dia beli itu, memangnya punyanya dia sudah terpakai apa?


Sekar memajukan langkahnya bergeser ke rak dengan susunan body lotion , pelembab wajah , parfum juga facial wash, yang biasa di iklankan artis di TV. Ia terlihat mengambil ukuran yang kecil setelah mengecek pautan harga. Memilih yang lebih murah.


Membuat hati Wisang nyeri dengan sajian yang ia lihat, gadis di depannya itu tengah menimbang harga untuk segala keperluannya.


Masih dalam mode tak menyadari keberadaan Wisang di belakangnya, ia menuju ke rak dimana terdapat banyak sekali pakaian dalam wanita dan merk pembalut. Wisang mendelik, ia menyapukan pandangannya ke sekeliling. Untung pengunjung lain tak terlalu memperhatikan.


Sejurus kemudian, Sekar berpindah ke lajur susunan makanan ringan. Ia mencomot beberapa jajan dengan bumbu micin yang membuat lidah cukup tebal usai memakannya.


Setelah dirasa cukup, ia melajukan langkahnya menuju kasir.


"Selamat malam Bapak Ibu, ada lagi yang mau di tambah?" sapa pramuniaga perempuan dengan name tag Eva itu.


Sekar langsung menoleh ke arah belakang begitu petugas itu menyebutkan kata 'Bapak'. Ia membelalakkan matanya melihat Wisang yang nyengir di belakangnya.


"Ngapain Tuan ikutin saya?" Sekar mendengus.


"Aku...aku juga ingin membeli sesuatu!" Wisang gelagapan, sikapnya menjadi belingsatan saat itu juga. Benar-benar terlihat bodoh.


"Ini aja mbak!" ucap Sekar cepat, karena ia tersadar telah membuat Eva menunggu.


" Semuanya Dua ratus tiga puluh ribu!"


"Pakai ini aja mbak!, sekalian rokok yang itu!" Wisang mengeluarkan kartu saktinya, kemudian menunjukkan merk rokok cigaret yang berada di etalase belakang Eva.


Sekar menoleh wajah Wisang," Tuan..!" ia hendak melayangkan protes.


"Aku akan mencium mu jika kau terus saja cerewet!" Wisang berucap dengan bibir nyaris tak terbuka dengan pandangan tetap tertuju pada kasir itu.

__ADS_1


Orang ini benar-benar terlahir sebagai pemaksa


Dengan wajah bermuram durja, Sekar menutup kembali resleting tasnya. Lagi-lagi ia tak enak hati, apa pria di sampingnya itu kasihan karena dia miskin?.


"Silahkan Pak!" Eva menyerah kartu milik Wisang usai digesek.


"Terimakasih mbak!"


Setelah belanjaan berada dalam genggaman, mereka kembali masuk ke mobil.


"Tuan aku tidak suka jika anda begini, ini berlebihan!"


"Ini keperluanku, aku harus membayarnya. Aku tidak mau ji..."


Wisang menyumpal mulut Sekar menggunakan bibirnya. Pria itu menyesap bibir manis dan sudah menjadi candu baginya itu dengan dalam.


"Tuan!!!" lagi-lagi ciuman itu terlepas secara paksa setelah Sekar mendorong tubuh Wisang. Sekar kesal sekali.


"Sudah ku bilang, jika kau cerewet aku akan mencium mu. Kau harus ingat itu sekarang!" Wisang tersenyum penuh kemenangan saat melihat Sekar yang membuang pandangannya dengan bibir manyun.


...šŸšŸšŸ...


Dhira terbangun, ia melihat meja kerja Abimanyu telah kosong. " Kemana mas Abi?" ia bangun, menyisir rambutnya yang kusut karena tidurnya barusan.


Abimanyu gerah malam itu, ia berniat mandi. Lagipula, ia sejak sore keluar bersama Dhira. Ia merasa tubuhnya lengket. Abimanyu keluar dengan bertelanjang dada , rambutnya juga basah karena air.


"Udah bangun?" Abimanyu mengusap rambutnya dengan handuk kecil. Ia hanya menutup bagian bawahnya dengan balutan handuk.


"Mas Abi mandi?" meski dengan dada bergetar, Dhira mencoba bersikap biasa saja. Padahal jelas ia terpana dengan tubuh sexy Abimanyu yang pernah ia sentuh beberapa waktu yang lalu.


"Gerah banget Dhir, lagian sejak sore tadi aku keluar!" ia membuka lemarinya yang berada persis di sisi ranjang, mengambil tumpukan kaos. Ia mengambil kaos polos warna Hitam.


"Aku tunggu diluar!" Dhira merasa tak nyaman, lebih tepatnya tak tahan.


Abimanyu yang sudah selesai memasang kaos di badannya, menarik tangan Dhira. Ia memegangi kedua lengan Dhira lalu mencium bibir calon istrinya itu.


Ciuman yang selalu membuat keduanya merasa saling dibutuhkan satu sama lain. Dhira bisa merasakan rasa pasta gigi di bibir Abimanyu. Aroma segar khas sabun mandi ekslusif juga menyerukan di hidungnya.


"Udah, nanti bablas!" Dhira mendorong tubuh Abimanyu pelan. Meski ia suka dengan sikap Abimanyu itu, namun ia lebih memilih untuk menyudahi sebelum ia menjadi penyebab bangkitnya makhluk keras tak bertulang milik Abimanyu.


"Bablas juga gapapa, kan udah pernah!"


"Mas!!" Dhira memelototi Abimanyu.


Abimanyu terkekeh," Aku gak sabar Dhir. Gak bisa apa nikahnya besok aja ya?" wajah memelas Abimanyu terpampang.


Membuat Dhira menghembuskan napasnya, pria di depannya itu kini menjelma menjadi bocah manja dan rewel, yang kemanjaannya melebihi Jodhi.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2