The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 58. Dirundung Kegalauan


__ADS_3

Bab 58. Dirundung Kegalauan


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


"Asmara tak selebay yang aku kira!"


Abimanyu tak merasa puas dengan jawaban Dhira. Ya, secara tak langsung Dhira mematahkan semangat yang membara dalam diri Abimanyu, untuk mendekati wanita itu. Membuat dirinya bimbang. Telah berjam-jam ia duduk dengan menggerakkan kursi kebesarannya itu, ke kanan dan ke kiri. Pikirannya melayang, tak tentu arah.


"Tuan, sudah waktunya pulang!" Devan sengaja mengingatkan bos-nya itu. Biasanya tak pernah terlambat pulang, bahkan cenderung berfore schedule.


"Kamu duluan aja Van!" tukasnya.


Devan tak mau ambil pusing, malam ini ia akan berkencan dengan wanita yang tak sengaja dia temui di club' kemaren, akan jauh lebih baik bila dia segera pulang. Sebelum bosnya itu memberinya tugas nyeleneh lagi. Ia yakin jika Abimanyu saat ini tengah galau seputar janda pemilik kedai kue yang lezat itu Pikirnya.


Ya, Abimanyu malas untuk pulang . Semenjak ada Gwen dirumah itu, ia menjadi tidak kerasan. Tapi, ada neneknya disana. Huh, kenapa jadi runyam begitu hidupnya.


"Huft!" ia menghela nafas, kepalanya benar- benar mau pecah.


Tepat pukul lima sore dia sampai di rumah utama, ia langsung menuju kamarnya. Matanya terkejut menangkap Gwen yang tengah duduk menyisir rambutnya di meja rias kamarnya.


"Sejak kapan kau disini?" Abimanyu melempar jasnya sembarangan, kemudian melonggarkan dasi yang ia kenakan.


"Kau sudah pulang?" Gwen mendekat, tanpa aba-aba ia memeluk tubuh Abimanyu. Meski sudah sore, namun suaminya itu masih tetap wangi. Tak meladeni wajah kesal Abimanyu yang terlihat tak suka Gwen memindahkan barang-barangnya ke kamar Abimanyu.


"Aku lelah Gwen, dan kapan kau ?" entah mengapa Abimanyu tak suka melihat Gwen berada di kamarnya, padahal beberapa bulan yang lalu ia amat merindukan wanita di hadapannya ini.


" Apa kau tak rindu kepadaku?" Gwen menangkup wajah Abimanyu, dan dengan berjinjit dia mencium bibir Abimanyu. Abimanyu tidak menolak, namun juga tak menyambut ciuman itu.


Gwen masih gencar untuk menyapu bibir Abimanyu dengan lidahnya, hampir saja pria itu hanyut dengan ciuman panas dari Gwen.


"Aku mandi dulu!" Abimanyu mendorong pelan tubuh Gwen, sejurus kemudian ia berniat masuk kedalam kamar mandi. Meninggalkan Gwen yang mematung dengan kesal.


"Kenapa kau berubah Bim, pasti karena wanita itu!" Gwen menatap punggung lebar Abimanyu yang menghilang di balik pintu kamar mandi.


...šŸšŸšŸ...


Dhira terlihat menghitung labanya hari ini, sebuah pembukuan sederhana tetap ia kerjakan. " Besok aku harus kasih ke Bastian sebagian dulu" uang yang di dapat hari ini, laba bersihnya harus segera ia setor ke bank. Sementara sebagian ia ambil untuk belanja juga untuk operasional.

__ADS_1


Saat ini, Dhira sudah bekerjasama dengan agen tepung juga beberapa toko terkait, guna kelancaran tokonya. Sebagian bahan, diantar oleh toko yang sudah menjalin kerjasama.


"Ka, ayo makan dulu!" ajak Dhira kepada anaknya, yang tengah sibuk menonton pertandingan voly virtual.


"Iya ma!" ia menutup ponselnya, kemudian berjalan menuruni tangga menuju dapur.


"Tadi papa ngomong apa aja?" tak bermaksud kepo, tapi Dhira sedang ingin membangun komunikasi yang terbuka antara dia dan anaknya. Ia ingin menjadi seorang teman, juga sahabat pagi putranya itu.


" Papa minta maaf ke Raka. Dia kasih sangu ke aku tadi" ia berucap seraya mengambil dua centong nasi, lalu ia tuangkan ke piring putih besar itu.


Dhira terkejut, selama ini Indra bahkan tak peduli dengan anaknya. Apalagi Dhira tau, bila mantan suaminya itu sudah tidak bekerja pada Abimanyu.


"Kamu beneran gak di apa-apain kan?" Dhira takut bila Indra punya maksud terselubung, karena ini aneh. Selama mereka resmi bercerai tak sekalipun mantan suaminya itu membantu soal pendidikan anak mereka.


" Papa kayak orang lain ma, kayaknya dia udah berubah. Ngomongnya jadi sopan" Raka melahap dengan pasti makanan itu, " ini enak ma, kalau Jodhi ada disini jelas dia akan nambah" Raka terkekeh demi mengingat teman sebangkunya itu, yang selalu memuja hasil masakan Dhira.


Dhira tersenyum, ada kelegaan menyusup di hatinya. Ia bukanlah tipe orang yang akan mengkudeta anak mereka, perpisahan mereka adalah karena murni sudah tak bisa bersama, Dhira tak bisa mentolerir pengkhianatan. Karena perselingkuhan itu, adalah perbuatan yang dilakukan dengan cara sadar.


" Mama gak akan menghalangi kamu kalau mau ikut ke rumah utimu, bagaimanapun juga itu adalah orang tua papa kamu. Mama senang, karena Raka selalu mengerti akan kondisi Mama" Dhira menatap wajah anaknya yang masih terlihat menikmati makan malamnya.


"Ma?" Raka malah bertanya, sesaat setelah dia meneguk segelas air di depannya.


"Ya?"


Dhira terdiam, tadi pagi dia sudah berbicara panjang lebar dengan Abimanyu. Ia adalah wanita waras, ia tak mau melangkah lebih jauh lagi. Meski ia tak menafikan rasa, jika dirinya butuh sosok yang bisa ia jadikan sandaran, bisa ia jadikan sebagai teman. Tapi, nampaknya tidak ada pilihan lagi selain diam dan menuruti permintaan Raka.


"Dalam hidup mama yang paling penting cuma kamu nak, mama hanya minta tolong kamu belajar yang betul, kamu harus bisa hidup lebih baik dari mama"


Mata Raka selalu saja memanas, saat mamanya berbicara lembut. Apakah dia saat ini egois dengan meminta mamanya untuk tetap seperti itu?, entahlah ia hanya ingin mamanya tidak terluka.


...šŸšŸšŸ...


" Kamu mau kemana lagi mas?" Gwen muncul dari belakang, saat Abimanyu sudah rapi dengan celana chinos juga kemeja navy yang terlihat fit di tubuh kekar Abimanyu.


"Aku ada urusan" jawabnya singkat.


"Apa jika tidak ada aku, kamu juga begini?"


"Sering keluar saat baru sampai?"


"Oh ayolah Gwen, aku tidak mau berdebat denganmu!"


"Mas!! mas!!" Gwen meneriaki Abimanyu yang berjalan tanpa mempedulikan dirinya.

__ADS_1


"Arrgghhhh!" Gwen berteriak frustasi, ia benar-benar kesal dengan Abimanyu yang terus cuek kepadanya. Ia memang tidak tahu malu, tapi mengingat Calista, ia selalu siap dengan semangat muka tebalnya.


Nyonya Regina yang baru muncul dari belakang menatap tak suka kepada Gwen, wanita itu dirasa benar-benar telah putus urat malunya.


"Apa kau tidak punya kerjaan lain berteriak malam-malam begini?" Nyonya Regina yang berjalan di temani Rania sudah tak sabar ingin mendamprat Gwen.


"Oma, Oma kemana?" ia menjilat.


"Bukan urusanmu!" wanita tua yang menjodohkan Gwen dan Abimanyu itu kini nampak menjadi orang yang paling anti terhadap dirinya, membuat Gwen mengumpat dalam hatinya.


.


.


Abimanyu gusar malam ini, ia menuju Pub langganannya setelah menghubungi dua rekan gilanya. Wisang sudah rapi begitu juga Danan, nampak tampan dengan style masing-masing.


"Oh biar ku tebak, apa kau gagal berkencan dengan janda itu, atau apa karena kau bingung akan menggunakan gaya apa saat membantai istri hiatusmu di ranjang nanti hah?" Danan menaikturunkan alisnya, menggoda Abimanyu dengan kelakarnya.


"Brengsek lu!" umpat Abimanyu menghisap rokoknya, merek bertiga sedang minum disana, seraya mencari target untuk ganti oli malam ini.


"Hahahahaha!" Danan malah tersenyum lebar, pria itu sejurus kemudian mendatangi wanita montok yang berada di meja bar, nampak memandangi sirinya sedari tadi.


"Gue kesana dulu!" pamitnya.


"Nyelup teros, gue doain kudisan itu anumu!" sahut Abimanyu.


"Sialan lu!!" kini ganti Abimanyu yang tertawa terbahak-bahak, rupanya berada disana membuat moodnya sedikit membaik karena mulut lemes Danan.


"Kau jadi menemui janda itu?"


"CK," demi apapun yang ada di dunia ini, Abimanyu ingin sekali menabok mulut Wisang yang selalu menyebut Dhira seperti itu. Itu memang keadaannya, tapi entah mengapa Abimanyu tak terima.


"Upsss, baiklah. Mama Raka!" Wisang terkekeh demi melihat ekspresi Abimanyu yang kesal.


"Kepalaku mumet Wis, Dhira malah menyalahkan dirinya sendiri jika aku nekat nanti, alasannya klasikal. Dia korban pelakor, dan dia tentu tidak mau jadi pelakor" Abimanyu menghembuskan kepulan asap putih itu.


"Apa?" jadi singkat cerita kau ditolak janda?" Wisang terkekeh, selama ini belum pernah ada yang menolak pesona Abimanyu. Abimanyu lah yang sering menolak.


"Matamu!" umpat Abimanyu, membuat Wisang tambah mengeraskan tawanya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2