The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 55. Dunia ini Panggung Sandiwara


__ADS_3

Bab 55.Dunia ini Panggung Sandiwara


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


"Mungkin salahku, melewatkan mu hingga kau kini dengan yang lain. Maafkan aku!"


( Diambil dari lirik lagu Sheila on 7~ Yang Terlewatkan)


Dhira


Pagi ini ia sudah berada di rukonya, seperti biasa dia harus menata dagangannya. Shinta juga sudah terlihat di belakang menggoreng Risoles. " Gimana semalam?" Shinta bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari wajan, saat Dhira datang ke dapur untuk mencuci perabot.


"Gimana apanya?" Dhira mengernyit.


"CK, Jangan jadi cantik tapi oon!"


"Ya acara semalam lah!" Shinta mendengus, demi melihat reaksi Andhira.


Andhira terkekeh, ia lupa jika sahabatnya itu masih menjadi pemegang predikat Miss kepo number one.


"Oma senang, terus pestanya bagus. Dan gila Shin, barang kita harus masuk X-ray dulu waktu mau masuk. Jadi keinget mas Rangga deh kalau begitu" Dhira malah terkikik geli, karena Rangga adalah seorang Aviation Security yang biasanya memeriksa barang penumpang di Bandara.


Shinta hanya mengernyit, karena aneh Dhira menertawakan hal yang tak lucu. " CK, bukan itu!!" Shinta mendecak kesal.


" Tuan tampan!" ucap Shinta menaik-turunkan alisnya, meminta jawaban segera dari Dhira.


"Oh" Dhira ber oh panjang.


"Istrinya balik semalam!" ucap Dhira datar, fokus melumuri piring kotor dengan sabun, membilasnya kemudian meniruskan di rak stainless.


"Apa?" Shinta bahkan langsung mematikan kompornya, usai mengangkat Risoles yang sudah matang. Ia kemudian menghampiri Dhira yang mengelap beberapa piring dan sendok.

__ADS_1


"Yang bener lu Dhir ?, bukannya lu pernah cerita kalau dia itu duda?" Shinta benar- benar seorang kepowers.


"Siapa yang bilang, dia itu istrinya 10 tahun gak pulang. Nah sekarang balik dia!" Dhira berucap santai.


Shinta Terlihat kecewa, " ah elah Dhir, elu sih kurang gercep. Tapi emang bisa udah lama pisah balik lagi begitu?"


"Kalau di desa mbahku dulu, mereka harus bangun nikah lagi demi menghilangkan keraguan bila masih saling mencintai. Tapi ada yang bilang gapapa mereka samaan lagi, hal itu kan dijaman nabi udah ada. Waktu para suami berperang, mereka berpisah lama dengan para istri!" ucap Dhira.


"Ya kan ini beda, yang ninggalin istrinya!" Shinta seolah masih tak terima.


Dhira hanya mengendikkan bahunya," Selama suaminya gak menjatuhkan talak, mereka masih sah. Tapi ya Wallahu alam!"


"Aku juga kurang berkompeten buat jawab!"


Wajah Shinta makin kusut, entah mengapa sahabatnya itu gencar sekali menginginkan Dhira untuk menyudahi status jandanya.


Status janda memang kerap di pandang sebelah mata, belum lagi stigma yang kadang ngawur mengecap seenaknya dengan kalimat wanita penggoda suami orang.


"Padahal gue iyes banget kalau lu jadi sama Tuan tampan itu Dhir. Kalau gue lihat, dia itu naksir elu!"


"Jugaan, dia udah berkali-kali nolongin elu, Raka!"


"Kok gue jadi gak terima ya istrinya seenaknya aja balik begitu, kayak apa sih rupanya istri tuan tampan?"


Dhira mengembuskan napasnya, andai Shinta tahu bila Abimanyu telah dua kali menyatakan perasaan ketertarikannya kepada Dhira, Shinta pasti akan bersorak hore. Tapi kedatangan istri yang masih sah itu, tak pelak membuat Dhira harus tahu batasan. Otaknya masih waras, hatinya juga masih berfungsi normal. Tau membedakan mana yang baik, mana yang tidak baik .


Ia tahu bagaimana rasanya terkhianati, ia tahu bagaimana rasanya disakiti oleh Renata. Apalagi sesama perempuan, mengapa ada yang tega berbuat begitu.


Dhira juga cukup tahu diri akan siapa dirinya dan siapa Abimanyu, ia tentu lebih memilih untuk memendam semua ini sendiri. Baginya, mungkin jalan hidupnya memang harus sendiri seperti saat ini.


Atau, mungkin jalan sulit hidupnya adalah bagian dari penebusan kesalahannya di masa lalu. Sebagai bentuk dari sebuah karma.


Mereka sama - sama terdiam di dapur itu, hanya terdengar dentingan air kran yang menetes karena Dhira tak terlalu rapat menutup kran itu. Sama sama sibuk dengan pikirannya yang melayang entah kemana.


...šŸšŸšŸ...


Meja makan yang biasanya hangat kini menjadi sedikit canggung, Nyonya Regina meminta Bik Surti untuk mengantarkan makanan ke kamar.

__ADS_1


Abimanyu duduk di kursi paling ujung, disebelah kanan ada Gwen dan Calista, di sebelah kiri Abimanyu duduk Rania yang berdampingan dengan Jodhi.


"Ma aku mau ayam itu!" Calista berbicara kepada Gwen, Jodhi melihat tak suka. Ia bahkan tak kenal dengan mereka. Sementara Abimanyu juga terlihat biasa saja dengan ajah datar, sangat berbeda dengan 10 tahun silam.


"Kamu apa kabar Ran?" Gwen mencoba menyapa adik iparnya itu, meski Rania sebenarnya bingung bagaimana menempatkan dirinya diantara kakak dan kakak iparnya itu.


"Aku baik kak!" hanya itu yang bisa ia jawab, selebihnya hanya rasa canggung.


Gwen tersenyum," Siapa nama kamu?" ia bertanya kepada Jodhi.


"Jodhi!" bocah itu muak, entah mengapa ia tak suka dengan wanita berpakaian terbuka di depannya itu.


"Kak, aku mau anggur itu!" Calista yang terpaut usia kurang lebih 3 tahun dari Jodhi nampak senang bocah itu, karena ia mempunyai teman.


"Ambi saja sendiri!" Jodhi malas, ia langsung melesat pergi.


"Jodhi!, Jodhi!" panggil Rania namun bocah itu tak menghiraukan.


Abimanyu menatap Calista yang sudah menangis karena di bentak Jodhi, ia menjadi tak tega dengan bocah perempuan itu. Meski Gwen berkata jika Calista adalah anak mereka, namun ia tak merasakan getaran apapun saat bertemu anak itu.


"Maaf ya Mbak, aku kejar Jodhi dulu!" Rania sungkan kepada Gwen, bagaimanapun juga berbicara kasar dengan orang lain, apalagi keluarga itu tidak di benarkan.


Gwen hanya mengangguk, sejurus kemudian ia menenangkan Calista yang masih menangis. " Sama mama aja ya?" bujuk Gwen kepada Calista.


Abimanyu menjadi kehilangan selera makan, bukan karena Calista menangis. Tapi dalam sekejap saja, sikap ramah Jodhi langsung berubah saat Gwen dan Calista kembali kerumahnya.


"Aku pergi dulu, kau bisa meminta Agus untuk mengantarmu jika ingin pergi!" tak ada ciuman kening, atau kiss morning seperti dulu. Ia melenggang begitu saja meninggalkan Gwen yang masih mengurus Calista.


Hatinya nyeri, nampaknya tak mudah jalan yang harus ia lalui. Tapi ia harus sabar, mengingat ia sendiri adalah biang dari semua ini. Ia hanya ingin anaknya mendapatkan hidup yang terjamin, karena status perkawinannya dengan Senopati yang hanya istri siri. Secara hukum, terang saja tak akan mendapatkan bagiannya.


Ia mensugesti dirinya sendiri untuk tetap dalam mode sabar, ia harus bisa mengambil hati semua penghuni rumah itu. Bagaimanapun caranya, ia tak mau hidup masa depan Calista tak terarah, rasa malunya sudah ia telan dalam-dalam. Dengan semangat muka tebal, ia akan merenda kembali, menyusun kembali kepingan puzzle yang menurutnya masih bisa dia susun.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2