
Bab 250. Surgery CS
.
.
.
...ššš...
" Aku tahu, cinta kerap menjadikan beberapa populasi manusia jadi bodoh!"
.
.
Abimanyu
Berita ini rupanya benar- benar berhasil membuat lutut Abimanyu bergetar. Bagaimana tidak, ini adalah kali pertamanya sepanjang empat puluh tiga tahun bernapas di muka bumi ini, ia akan menghadapi persalinan Istrinya.
Bagaimana dan seperti apa mekanismenya, jelas ia cukup amatir akan hal ini. Dengan wajah yang mendadak di penuhi buliran keringat, ia kembali ke tempat Kakung Joko berada.
" Emmm Pak saya harus kembali sekarang. Sepertinya mamanya Raka mau melahirkan!" ucapnya dengan penuh rasa cemas.
" Apa? Bukannya kata Raka masih bulan depan prediksinya?" kini Kakung Joko turut terkontaminasi kepanikan.
Dengan kecepatan tinggi, Abimanyu melesatkan sendiri kuda besinya. Nanang ia tugaskan untuk menunggui Raka, sebab bocah itu terlihat asyik mengobrol dengan para saudaranya.
Ia memahami Raka yang mungkin jarang bahkan sudah lama tak berinteraksi dengan orang sepupunya dari pihak Indra.
Tak apa pikirnya, ia sudah meminta Nanang untuk memberitahukan Raka jika kegiatannya itu sudah agak longgar.
" Van, dimana kamu? cepat kerumah sakit, saya lagi perlu kamu!"
Titahnya cepat kepada Devan saat ia berhasil menghubungi assiten dengan slogan loyalitas tanpa batas itu.
.
.
Rumah Sakit
Bumil Resti, atau yang biasa di sebut ibu hamil beresiko tinggi, adalah sebutan yang pantas di sematkan kepada Dhira.
Selain riwayatnya yang pernah mengalami keguguran, usianya yang sudah masuk kepala empat memang beresiko.
Dokter Septa terlihat memeriksa Dhira dengan intens sesaat setelah Dhira masuk ke ruang tindakan itu. Pengecekan lengkap ia lakukan, bahkan memverifikasi data dari rekam medis Dhira. Dan benar, usia janin Dhira memang baru memasuki usia 34 Minggu.
__ADS_1
" Dokter, ini kenapa ya saya kok..."
" Saya periksa tekanan darahnya dulu ya Bu?" Dokter Septa terlihat mengeluarkan alat pengukur tekanan darah dengan wajah serius.
Yuni yang menunggui majikannya itu, kini harap-harap cemas.
" Bu Dhira, ini tekanan darahnya lumayan tinggi, ketuban Bu Dhira juga terus saja merembes. Saya sarankan bayi ini harus segera di keluarkan dengan prosedur operasi Caesar karena ketubannya yang semakin berkurang!" tukas dokter Septa dengan wajah penuh keseriusan.
Melahirkan melalui bedah caesar berarti mengeluarkan bayi melalui sayatan dari perut sang ibu, bukan dari jalan lahir.
Dhira menyapa Yuni, " Tapi sok suami saya...." Dhira cemas seketika mendengar kata operasi.
Brak
Dengan nafas tersengal-sengal, Abimanyu langsung menjebak pintu itu degan wajah pias. Membuat dokter Septa mengangguk hormat kepada pria itu.
" Mas Abi!" Dengan posisi masih berbaring, Dhira menatap suaminya yang seperti habis mengikuti lomba lari maraton. Bersimbah keringat.
" Apa aku belum terlambat?" pria yang masih mengenakan setelah jas formal itu, terlihat berjalan ke arah istrinya.
Kesemua manusia disana hanya bisa diam saat Abimanyu mendominasi atmosfer disana.
" Sayang, are you ok?" Abimanyu bahkan bingung memilih kata-kata yang relevan.
" No!" sahut Dhira dengan wajah muram dan menahan sakit Jelas dia tidak OK.
Mustinya ia memang harus mengganti pertanyaannya. Jika sudah begini, mungkin Danan atau Wisang harus mengatai Abimanyu dengan kata-kata ' semua akan bodoh pada waktunya!'
Dokter Septa tersenyum demi melihat kepanikan Abimanyu yang kentara. Pria itu benar-benar terlihat begitu mengkhawatirkan istrinya.
" Tenang dulu Pak!"
" Jadi begini, usia Bu Dhira memang masuk kategori Ibu hamil beresiko. Tapi, janin di dalam perut beliau sehat. Riwayat Bu Dhira yang pernah mengalami keguguran membuat janin lahir prematur Pak. Bu Dhira harus segera di operasi Caesar karena air ketuban yang terus saja merembes!"
" Usia janin Bu Dhira sudah terbilang cukup kuat Pak untuk di lahirkan meski belum waktunya. Baik fisik maupun paru- paru janin yang berusia 35 Minggu sudah kuat untuk dilahirkan!"
" Kita sama-sama berdoa saja agar segala sesuatunya dilancarkan ya Pak!" dokter Septa tersenyum ramah kepada pasangan di depannya itu.
Meski otaknya tak mampu mencerna kata demi kata dari dokter itu, namun yang ia tangkap adalah istrinya bagus segera di operasi.
" Lakukan apapun, demi keselamatan istri dan anak saya!"
" Lakukan yang terbaik!" titah Abimanyu jelas dan tegas.
" Baik, setelah ini saya minta Pak Abimanyu untuk segera menandatangani surat pernyataan ya Pak, saya permisi dulu!"
Dokter Septa mengangguk, sejurus kemudian ia undur diri guna mempersiapkan tim yang akan bertugas. Jelas mereka harus melakukan yang terbaik, mengingat Abimanyu adalah orang yang selalu bisa mengintimidasi.
__ADS_1
" Yun, makasih ya kamu udah bawa istri saya kemari tepat waktu!" Abimanyu kini menatap Yuni yang sedari tadi menghaturkan raut wajah khawatir.
" Enggeh Pak, tapi sebenernya Bu Dhira sendiri yang ambil keputusan tadi!"
Abimanyu kini menatap istrinya yang masih saja meringis " Benar?" ucapnya.
" Cuma nyuruh aja, sisanya mbak Yuni kok. Ya kak mbak Yun?" Dhira mengerlingkan matanya memberikan instruksi agar Yuni menurut. Tensinya tinggi karena sebenarnya Dhira banyak pikiran ini itu sebelum ke rumah sakit.
" Sayang ini pasti sakit, maafkan aku ya?" kini Abimanyu mengecup kening Dhira dengan penuh kekhawatiran.
Dhira mengangguk " Raka mana mas?"
" Tadi aku tinggal sama Nanang, habis terima telpon dari Yuni aku langsung kesini. Maafin aku ya, udah buat kamu jadi ngerasain sakit kayak begini!" Abimanyu menghujani tangan Dhira dengan kecupan mesra.
Abimanyu terus saja meminta maaf, karena tak tahan melihat istrinya yang kesakitan.
" Bu, saya mau keluar sebentar. Mau ke..." Yuni pamit, pasalnya ia merasa sudah ada Abimanyu di sana. Ia juga sungkan karena harus melihat adegan romantis yang membuatnya resah.
Suasana senyap, hanya menyisakan dua anak manusia yang dilanda kecemasan yang bertangkup.
" Sebenarnya aku mau lahiran normal mas, tapi..." wajah Dhira tertunduk layu.
" Sstttt mau lahir normal mau Caesar, yang penting kamu sama anak kita selamat. Mau normal mau Caesar kamu juga sama bertaruh nyawa untuk anak kita sayang. Jangan mikir macam-macam, kamu harus rileks. Tensi kamu agak tinggi loh tadi, so do the best you can, hm?"
Sejenak Abimanyu benar-benar merasa bingung, ia jelas tak bisa melihat istrinya yang kesakitan seperti itu. " Aku yakin kamu bisa!" pria itu memeluk istrinya yang tengah berbaring.
Antara bahagia dan harap-harap cemas. Jika bisa, ingin rasanya pria itu menggantikan rasa sakit yang di alami istrinya. Tapi, mana mungkin.
" Mas?" tanya Dhira.
"HM, Kenapa?" Abimanyu mengusap rambut Istrinya dengan lembut.
" Terimakasih untuk semuanya!" mata Dhira berkaca- kaca. Ia merasa begitu beruntung karena meski di usia yang matang ini ia masih bisa memiliki anak kembali. Buah cintanya dengan Abimanyu.
Apalagi, ia melihat cinta yang begitu besar di mata suaminya itu.
" Hey, aku yang terimakasih. Sudah, fokus ke baby kita ya..i love you!" Abimanyu mengecup bibir Istrinya penuh cinta. Ia sangat mencintai Dhira dengan segenap jiwa dan segenap raganya.
" Pak, dokter mint...!" entah sudah berapa kali Devan selalu dibuat belingsatan, saat melihat bosnya yang tengah enak-enak bersama istrinya.
Ia yang panik karena saat baru tiba di rumah sakit, pria itu diminta dokter Septa untuk cepat meminta tanda tangan kepada Abimanyu. Ia bahkan lupa untuk mengetuk pintu, saking paniknya. Al hasil, matanya harus kembali ternoda.
" Van!!!"
" Oh sial!"
.
__ADS_1
.
.