
Bab 151. Pahlawan Kesiangan
.
.
.
...ššš...
" Bagai Ayam mati di lumbung"
( Seseorang yang sengsara, dalam keadaan yang berkecukupan)
.
.
Dengan masih terkejut, Abimanyu berusaha memahami yang terjadi. Istrinya itu kini bahkan lebih lincah saat setelah menikah.
" Dhira?" Abimanyu menatap istrinya yang berwajah sengit , seraya berdiri di ambang pintu connecting menuju ruang istirahatnya itu.
" Sayang kenapa kamu bisa...." keterkejutan melanda.
" Pak Devan terimakasih!" ucap Dhira pada Devan, tanpa menggubris kebingungan yang melanda Abimanyu. Seolah menyiratkan kepada assisten muda nan ganteng itu untuk meninggalkan mereka.
Devan enyah seketika, hatinya bersorak karena sudah pasti Abimanyu akan makin keranjingan disana.
Aku di pihak anda Nyonya
Pintu telah tertutup rapat, kini dhira duduk di kursi yang berada persis di depan meja kebesaran suaminya. Wanita itu bertopang dagu seraya menatap tajam ke arah suaminya.
" Siapa yang mas katakan tidak waras tadi?"
Dhira mengangkat wajahnya searah, membuat tatapan mereka bertemu. Sebenarnya Dhira ingin tertawa karena melihat suaminya yang kikuk itu.
" Sebentar, tadi aku nyari kamu dirumah gak ada. Aku udah minta Sugeng sama Yuni buat nyari kamu tapi enggak ada..!" wajah Abimanyu muram.
Dhira terkikik dalam hati, suaminya benar-benar sudah menggantungkan hidupnya kepada dirinya rupanya.
" Coba mas buka itu, buka kado dari orang gak waras!" ucap Dhira datar. Membuat Abimanyu sulit menelan ludahnya, barang sedikit saja.
Ia telah salah bicara. Kemarahan Dhira , bisa jadi lantaran kado itu adalah pemberian dari istrinya itu.
Dan tanpa membantah lagi, pria ganteng itu langsung tekun menguliti bungkus kado. Tapi ulang tahunnya masih lama, dan sialnya ia malah memaki istrinya dengan sebutan orang gak waras.
Matanya membulat begitu ia melihat benda dengan panjang lebih kurang 10 senti berwarna magenta, Abimanyu meraih benda itu dengan penuh tanda tanya.
" Apa ini?" Abimanyu membolak-balikkan benda yang tak ia ketahui jenis apa itu.
Dhira masih diam, ia ingin melihat reaksi suaminya.
Tak mendapat jawaban ,Abimanyu berusaha mencari tahu sendiri benda apa itu. Ia terlihat menggeser penutup garis berwarna putih, Dan surprise....... ia terkejut saat melihat dua garis merah yang terdapat di alat itu.
Saat itu juga ia tahu, bila benda dengan bentuk aneh itu adalah alat penguji kehamilan.
" Sayang??" Abimanyu menatap tak percaya kearah Dhira yang tersenyum.
__ADS_1
" Jadi...ini...." Abimanyu bahkan menjadi tercekat. Rasa tidak percaya, cenderung senang.
Bahagia? sudah pasti.
" Selamat Tuan Abimanyu Aryasatya, sebentar lagi akan jadi papa lagi. Raka punya adik!" Dhira menyahut dengan posisi masih duduk.
Abimanyu memutari mejanya dengan buncahan rasa bahagia, ingin segera memeluk Dhira. Namun saat ia lekas merenggangkan kedua tangannya...
" Stop!!!" Dhira mengangkat tangannya. Membuat Abimanyu mengerem mendadak.
" Kenapa?" dahi Abimanyu berlipat.
" Masih mau meluk orang gak waras??" cibir Dhira.
Abimanyu keranjingan dibuat istrinya, " Aku kan tidak tahu?!" Abimanyu menekuk mukanya.
" Maafkan aku sayang!" memelaskan diri, serta menyuguhkan wajah yang bermuram durja , bisa ia jadikan senjata untuk meminta ampunan.
" Terus kalau gak tahu, boleh ngatain orang seenaknya? Anak udah mau dua masih aja begitu. Sama pak Devan juga gak ada baik- baiknya. Makanya mas kayak ada ikatan sama pak Devan!" Dhira mencecar suaminya dengan siraman rohani.
" Maksudnya?"
" Kata dokter Richard, mual yang mas alami itu karena sindrom kehamilan simpatik!" terang Dhira.
" Apalagi itu, kok si Richard gak ada bilang ke aku kemaren. Malah aku dibilang bohong lagi!" Abimanyu menggerutu.
" Intinya mas itu beneran sayang ke aku, makanya saat aku isi malah mas yang ngerasain efek hamil. Gimana enak gak?" Dhira Ki malah mencibir dengan terkekeh.
" Berani ya sekarang?!" Abimanyu menggelitik perut istrinya. Membuat mereka malah seperti bocah yang pecicilan.
" Mas udah, nanti anaknya sakit!!" ucap Dhira yang tak tahan dengan rasa geli.
Dhira tersenyum penuh arti.
" Jangan lupa, mas udah gak pro sama pak Devan. Jadi aku bisa rebut dia biar jadi tim sukses aku!!" ucap Dhira.
" Devan!!!!"
Dan yang di sebut namanya merasa berdenging telinganya, lantaran sedang menjadi bahan pergunjingan suami istri itu.
...ššš...
Shinta pagi itu kembali ke rutinitas awal sebelum ia bekerja di Dapur Isun. Tempat itu kini tengah dalam masa rehab dan pelebaran. Intinya Bastian ingin dan akan membuat tempat itu menjadi lebih besar.
Pagi ini Rangga dinas siang, membuat Shinta tak terlalu terburu-buru dalam menyiapkan segala sesuatunya. Ketidakhadiran seorang buah hati dalam rumah tangga mereka, sudah pasti membuat rumah dengan ukuran sedang itu teramat sepi.
Rangga bukan orang kaya yang hartanya tak habis dimakan tujuh turunan, Shinta juga bukan berasal dari keluarga tajir melintir. Namun, Rangga selalu bisa memberikan apa yang Shinta mau. Ia juga di kategorikan sebagai suami yang lebih dari sekedar bertanggung jawab.
Jika keluarga Rangga adalah keluarga yang kesemuanya berkecimpung sebagai abdi negara, berbeda dengan Shinta yang berasal dari keluarga biasa. Tak kaya dan tak miskin. Hanya saja, kedua orang tua Shinta telah bercerai dan masing-masing sudah kembali berumah tangga.
Namun, dari jerih lelah Rangga mereka bisa membeli rumah, mobil dan juga bisa hidup layak. Hanya satu yang kurang.
Anak.
Rangga tempo hari memberi izin kepada istrinya untuk bekerja di Dapur Isun, lantaran Dhira yang membutuhkan bantuan di awal-awal usahanya. Shinta yang setiap harinya hanya mengurus rumah tangga, tentu sangat senang dengan tawaran itu. Apalagi, ia dan suami juga belum terepotkan dengan urusan anak.
Selain itu, seiring kemajuan usaha Dhira, gaji yang ia dapat juga lumayan. Kepergian Sekar karena di persunting oleh sahabat dari suami Dhira tak pelak membuatnya sepi. Meski ia nanti akan kembali ke Dapur Isun setelah pembangunan gedung baru selesai, namun agaknya hari-hari ini kesepian mulai melanda dirinya.
__ADS_1
Dan pagi ini, ia kembali seperti beberapa bulan yang lalu. Ia memasak sambal bajak, merebus sayur, juga menggoreng ikan nila serta tahu. Suaminya sangat suka akan makanan itu.
" Wih udah mau matang ya?" Rangga mencomot tahu yang masih mengeluarkan kepulan asap. Melahapnya dalam sekali suapan.
" Mas, panas loh!" ucap Shinta yang merasa suaminya itu tak sabaran.
" Icip doang, gak terlalu kok!" ucapnya dengan mulut penuh, seraya menguyah dengan asyiknya. Membuat suaranya lebih mirip seperti gumaman.
" Enak sayang, aku mau dong di bungkusin, buat bekal!" pinta Rangga. Pria itu memang tahu betul cara menyenangkan istri, salah satu ya dengan memuji rasa masakan istrinya.
Sepuluh menit berlalu, dan kesemua masakan Shinta telah terhidang ke meja makan. " Mau makan sekarang?" tawar Shinta.
" Boleh!" Rangga mencintai Shinta dengan segala lebih kurangnya. Ia tahu, hingga saat ini ia tengah diuji oleh keberadaan anak.
" Mas!" Shinta agak sedikit ceria pagi ini.
" Ya, kenapa?" ucap Rangga.
" Biasanya tanggal segini aku mens, tapi sekarang belum. Semoga kali ini jadi ya mas!" Shinta kerap optimis tiap taggal periodenya terlambat.
Rangga tersenyum, " Amin. Semoga ya??" Rangga mencubit pipi Shinta gemas.
.
.
Setelah mengantongi izin dari Rangga, ia ingin jalan-jalan ke mall seorang diri. Ia tak berani mengajak Dhira dan Sekar. Mereka berdua bisa di kategorikan sebagai pengantin baru. Apalagi, mereka berdua mendapatkan suami kelas kakap. Tak seperti dirinya.
Membuatnya sedikit sungkan jika ingin mengajak mereka untuk keluyuran seperti saat ini.
Ia berjalan menuju eskalator, celana body fit warna putih dengan atasan warna mustard rambut tergerai indah, membuat Shinta cantik siang itu. Pakaian casual yang selalu menjadi favoritnya.
Dari lantai dasar, ia menuju lantai dua. Dan kedatangannya, langsung di sambut oleh stand pakaian bayi dan anak-anak. Tangannya secara refleks terulur lalu meraba beberapa deretan baju yang lucu dan menggemaskan.
Hatinya berdesir kala ia mengambil sebuah sarung tangan bayi. Tak terasa air matanya lekas menggenangi sudut mata Shinta, hidungnya terasa panas. Shinta sedih dalam sepersekian detik.
Ya Tuhan, semoga aku bis memilikinya
Meninggalkan keharuan seraya menyusut matanya yang berair, Shinta berjalan menuju pakaian orang dewasa, ia terlihat mengambil baju pria. Berniat ingin membelikan baju untuk suaminya.
" Bagus banget, pasti mas Rangga suka!" wajah Shinta berbinar saat ia memindai baju itu.
Ia sedari tadi merasa gerah walau di ruangan ber-AC, area bawahnya juga terasa lembab. Namun, ia lebih memilih untuk berjalan menuju tempat pakaian wanita. Banyak pasang mata yang menatap dirinya, tak sedikit pula yang berbisik- bisik Shinta sempat bingung. Tidak ada yang aneh dengan penampilannya menurutnya
Dia juga tidak bermake-up menor. Ia lebih memilih tak menghiraukan tatapan dari ora pengunjung lain, terhadap dirinya. Namun saat ia hendak mengambil gantungan baju yang menarik perhatiannya, seorang pria dengan gerakan cepat tiba-tiba melingkupi bokongnya dengan sebuah jaket.
" Diam dan segera berjalanlah ke toilet, sesuatu yang tidak kamu sadari tengah menyita perhatian orang!" ucap seorang pria dengan masih mengikatkan simpul lengan jaket, agar bisa menutupi bokong Shinta.
" Kamu?" Shinta terkejut saat melihat Danan berbicara di samping telinganya, bahkan mereka kini tak berjarak, deru nafas pria itu bahkan bisa ia hirup. Segar dan hangat.
" Kau bisa memarahiku nanti, sekarang yang terpenting aku akan mengantarmu ke toilet!"
.
.
.
__ADS_1
.
.