
Bab 155. Do not go
.
.
.
...ššš...
" Lelah ku cari tak juga ku temui, saat kau hilang tujuh sumpah ku maki ..."
( Diambil dari lirik lagu New Eta ~ Tujuh Sumpah)
.
.
Dari kejauhan Danan melihat sesuatu yang menyita perhatiannya. Para supir keluar dari ruang kemudi mereka masing-masing.
" Ada kecelakaan Wis kayaknya!" tukas Danan seraya mengurangi gigi kecepatannya.
" Mana?" Wisang memanjangkan lehernya, berharap bisa melihat apa yang terjadi, begitu juga dengan Sekar.
" Bentar deh, gak bisa lewat kayaknya. Kita nepi aja dulu!!" ucap Danan menepikan kendaraannya di bahu jalan.
Mereka bertiga lantas keluar dari mobil Danan. Sepertinya pusat kecelakaan masih berada radius sekitar seratus lima puluh meter dari tempat mereka berdiri. Danan berada di barisan depan, Wisang dengan setia menggandeng tangan Sekar yang terlihat cemas dan penasaran.
" Ada apa pak?" tanya Danan kepada supir truk kontainer yang berada di paling depan. Pria itu juga terlihat baru saja turun dari ruang kemudinya.
" Mobil nyungsep mas, tadi dari depan sebelum tikungan itu udah oleng. Bahkan udah mau nabrak truk saya tadi!" terang supir truk bertubuh gemuk itu.
" Mobil....Oleng?" Danan menjadi kian penasaran, jam malam begini biasanya memang jam bagi para supir logistik untuk berlalu- lalang.
" Iya mas, mobil mewah itu. Saya juga mau lihat itu!"
"Kasihan udah malam, takutnya gak ada ada yang bantu nanti!"
Dari tempat mereka berdiri, kenek supir truk itu juga turut bersama mereka berjalan menuju tempat terjadinya kecelakaan. Total ada enam orang dari arah depan yang berjalan menuju lokasi kecelakaan.
Mata Danan membulat begitu ia melihat bentuk mobil yang sudah tak karuan itu, mobil yang mirip seperti mobil Wisang. tapi ia masih ingin memastikan apa itu benar mobil milik sahabatnya atau bukan. Mengingat di muka bumi ini, bukan Wisang saja yang mampu membeli mobil mahal itu.
Saat berjalan, jantung Danan mendadak berdebar.
" Wis, cepat sini!!!" Danan meminta Wisang untuk mempercepat langkahnya. Dan dari jarak yang semakin mendekat, mereka semua terperanjat demi melihat plat mobil yang menjelaskan bila mobil yang terlibat kecelakaan tunggal itu, adalah mobil milik Wisang.
" Shinta!!!" Danan refleks berucap dengan paniknya. Ia berlari menuju onggokan mobil yang terlihat ringsek di bagian depannya.
Membuat Wisang menatap sahabatnya itu. Ia menangkap nama Shinta yang diucapkan pertama kali oleh mulut sahabatnya itu.
" Astaga, mas itu kan....." Sekar berteriak, tubuhnya seketika bergetar tatkala melihat bila itu adalah mobil suaminya. Membuat lamunan Wisang akan Danan dan Shinta menguap.
" Kenapa ini bisa terjadi!!" Wisang menelan ludahnya. Jika supir truk tadi berkata mobil yang di tumpangi Shinta dan Rangga oleng, besar kemungkinan mereka mengalami kecelakaan karena human eror.
Danan segera berlari menuju ruang kemudi ,dan benar ia melihat Shinta dan Rangga yang memejamkan mata. Kepala mereka mengeluarkan darah.
" Astaga Rangga.. Shinta!!!" Danan terkejut, panik dan bingung.
" Shinta...Rangga bangun?!!" Danan berusaha meneriaki.
" Cepat pak tolong, korban masih ada di dalam!!" Wisang berteriak kepada para supir yang menghentikan mobilnya di tepi jalan itu. Membuat mereka semua berlari menuju tempat mobil Wisang.
" Astaga Shinta!!!" Danan terperanjat begitu melihat darah yang keluar dari hidung dan dahi Shinta. Ia tak bisa membayangkan seberapa keras mereka menghantam pembatas jalan itu.
__ADS_1
Ya, Danan membuka pintu kiri mobil itu, sementara Wisang membuka pintu sebelah kanan. Mereka berdua dengan sigap mengevakuasi korban kecelakaan itu sebisanya.
" Shinta bangun Shinta!!?" Danan teramat panik pria itu menepuk pipi Shinta berkali kali. Danan merengkuh tubuh Shinta dalam pangkuannya, dan kejadian itu terekam jelas oleh mata elang Wisang.
Sekar menangis, tubuhnya bergetar, lututnya terasa lemas saat melihat dua orang yang ia kenali itu bersimbah darah.
Wisang menempelkan jarinya di sela hidung Rangga, memeriksa apakah nafas masih berhembus di tubuh pria itu.
" Masih nafas, ayo cepat kita bawa ke rumah sakit. Pak minta tolong pak!!" Wisang meminta bantuan supir tadi untuk membopong tubuh Rangga menuju mobilnya.
" Sayang, kamu telpon polisi!!" pinta Wisang kepada Sekar. Dari tempat yang sama Wisang memerhatikan Danan yang terlihat kacau, sahabatnya itu terlihat raut mukanya mendung dan amat sedih.
" Mas mau dibawa kemana ini?" sergah supir pickup kedua tadi.
" Mereka teman saya pak, ini mobil saya yang di pakai. Kami akan membawa mereka ke rumah sakit!" terang Wisang. Membuat kesemua yang disana mengangguk paham.
Danan refleks mengangkat tubuh Shinta seorang diri, ia membopong Shinta dengan setengah berlari. Berharap sesuatu yang tidak ia inginkan, tak terjadi
" Lo bisa kan bawa mereka sama istri gue ke rumah sakit?, gue mau ngurus ini dulu. Bentar lagi polisi pasti datang, gue juga mau minta keterangan dari para supir itu!!" ucap Wisang mendatangi Danan yang barusaja meletakkan tubuh Shinta di kursi tengah mobilnya.
Danan mendadak menjadi pribadi yang lain, pria itu bahkan tak menjawab ucapan Wisang. Ia merasa dirinya hancur melihat Shinta yang keadaannya mengerikan itu.
" Sekar cepat masuk mobil!!" pinta Danan usai Rangga dan Shinta sudah berada di dalam kursi penumpang tengah dan belakang.
" Sayang aku..." Sekar bingung harus berbuat apa.
" Kamu tenang. Temani Danan mengurus mereka, nanti aku nyusul. Tenang aja!"
.
.
Sepanjang perjalanan hati Danan berdebar, sementara Sekar terlihat menangis. " Mbak Shinta kenapa jadi begini?" Sekar yang berada di kursi tengah itu terlihat memangku kepala Shinta yang penuh luka sana sini.
" Sekar kamu tolong telpon Abimanyu, kamu ada nomernya nggak?" Danan kini harus meminta bantuan Abimanyu. Pria itu yang kenal dengan Richard. Dokter yang punya kuasa di rumah sakit itu.
" Kalau udah tersambung, kasih ke gue !" ucap Danan masih setia di kemudinya.
Panggilan dari Sekar tak langsung di jawab oleh Abimanyu. Ini sudah lewat tengah malam, sebenarnya agak tidak sopan menggangu istirahat orang. Tapi ini adalah hal urgent.
" Gak di angkat mas, apa udah tidur ya?" Sekar gelisah.
" Telpon terus!!" ucap Danan.
Dan saat panggilan yang ketiga, telpon mereka baru di angkat.
Ya hallo ada apa Wis?
Abimanyu menjawab telepon mereka dengan suara parau. Sementara Sekar langsung memberikan benda pipih itu, kepada Danan.
" Kalau elu lagi kelonan, udahi dulu kegiatan elu itu njing. Gue butuh bantuan elu. Rangga sama Shinta kecelakaan. Gue dalam perjalanan ke rumah sakit, elu tolong telponin si Richard itu. Mereka dalam keadaan urgent!"
.
.
Dengan rasa terkejut akibat Danan yang mencecarnya dengan informasi cepat, ia mulai bangun dari tidurnya.
" Yang kelonan siapa juga njing!" Abimanyu mengumpat ke arah ponselnya.
Abimanyu memandangi layar ponselnya, dengan kesadaran yang masih berserakan ia mencoba mencerna kalimat seroang pria di telpon itu.
" Kecelakaan, bukannya mereka udah pulang masing-masing??" ia memandang ke arah istrinya yang terlelap dengan mulut setengah terbuka, ia melihat jam di nakas.
__ADS_1
" Semoga mereka tidak kenapa-kenapa!" ucap Abimanyu seraya beringsut dari kasur mereka.
00.57
Abimanyu merasa gusar, tapi ia tak tega membangunkan istrinya. Namun terlambat, saat Abimanyu hendak mengganti bajunya istirnya itu bangun.
" Mas??" suara parau Dhira mengagetkan Abimanyu.
" Kamu bangun sayang?" Abimanyu menghadap ke arah istrinya.
" Mau kemana?" Dhira melek dari tidurnya, namun, masih berbaring layaknya putri duyung yang bersantai. Menatap suaminya yang mengenakan jaket dengan terburu-buru.
" Danan barusan telpon, Rangga sama Shinta kecelakaan. Tapi aku belum tahu parah atau enggaknya, mereka keburu mematikan teleponnya.
" Kecelakaan???" Dhir kini terkejut, mereka kecelakaan kok kamu biasa aja sih mas?? Dhira langsung melempar selimutnya.
" Shinta itu sahabat aku loh!!" Dhira beranjak dan segera mengganti gaun tidurnya dengan baju lain.
Abimanyu menelan ludahnya.
Suami Dhira itu bukannya tidak bersimpati, ia sebenarnya juga kaget dan lebih ke tidak percaya atas apa yang menimpa sahabat Istrinya itu. Tapi malam itu ia tak ingin membuat istrinya yang tengah hamil muda itu turut panik dan cemas. Ia berusaha untuk memasang wajah tenang.
" Bukan begitu sayang..aku..."
" Udahlah mas cepetan, kita susul mereka sekarang!!!"
.
.
" Korban kecelakaan, tolong !!!" Danan berteriak saat dia baru sampai di lobby rumah sakit itu.
Membuat wajah terkantuk-kantuk dari beberapa perawat pria yang standby di ruang resepsionis itu sigap dalam sepersekian detik.
" Dua orang!!!" ucap Danan yang baru turun dari mobilnya.
Terlihat empat orang pria membawa dua brankar menuju luar. " Maaf pak, permisi?!" ucap para perawat itu saat Danan menghalangi jalan.
" Maaf.. maaf!!" Danan begitu cemas, ia memandangi wajah pucat Shinta yang terlelap.
Shin kamu harus baik-baik aja
" Mas yang satu disebelah sini. Cepat ya mas, darahnya banyak banget?!" ucap Sekar memberitahu bila Rangga berada di kursi belakang.
Danan juga memandang wajah Rangga yang tak kalah pucatnya. Hatinya nyeri melihat pemandangan yang seperti itu. Tubuhnya mendadak tercekat, seolah bingung harus berbuat apa
" Pastikan mereka dapat perawatan yang tebaik!!" ucap Danan sebelum para petugas itu membawa masuk Shinta dan Rangga.
" Baik Pak!"
" Mas Danan sebaiknya pindahkan mobil mas dulu, saya masuk dulu!" pinta Sekar yang di balas anggukan oleh Danan.
Saat berada di dalam mobil, Danan menatap nanar ke arah luar. Danan menangis. Entah mengapa hatinya nyeri melihat kejadian yang menimpa Sekar. Air matanya kini tak bisa ia tahan.
Sedari tadi ia menahan kesedihannya, ia tak tahan melihat kondisi Shinta . Tapi ia cukup tahu diri untuk hal ini, Shinta bukan siapa-siapanya. Ia hanya pria yang jatuh cinta kepada istri pria lain.
Tolong jangan pergi Shin...
Tubuh Danan bergetar. Ia menundukkan kepalanya ke setir budarnya. Dan untuk pertama kali dalam hidupnya, ia menangisi seorang perempuan. Bahkan perempuan yang bukan menjadi apa-apa dalam hidupnya.
Shinta....
.
__ADS_1
.
.