The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 237. Lintas Perasaan


__ADS_3

Bab 237. Lintas Perasaan


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


" Ku tak akan pergi, meninggalkanmu sendiri. Kuatkanlah hati, cinta!"


( Diambil dari lirik lagu Letto~ Sebelum cahaya)


.


.


Shinta


Noda merah kehitaman yang kontras dengan kulit bersih Danan, sontak membuatnya menajamkan pandangannya ke lengan yang terluka itu.


Ia tak lagi menghiraukan beberapa manusia disana. Pandangannya sudah kadung terfokus kepada luka yang sudah hampir mengering itu.


" Mas, tangan kamu kenapa?" Shinta panik. Wanita itu kini langsung memeluk Danan. Pria itu tersenyum bahagia walau lengan kirinya berdenyut dan terasa pedih.


" Hanya peluru, it's oke!" Danan rindu kepada wanita itu. Padahal, hanya berpisah beberapa jam saja. Benar-benar terbuai akan indahnya cinta.


" Kena tembakan peluru, tapi mas cuma bilang 'hanya'? Dasar!" Shinta mencubit kecil perut Danan degan mendengus.


Kesal dengan sikap Danan yang malah membuat kekhawatirannya, sebagai sebuah candaan.


" Auwh, rasanya lebih sakit saat kamu cubit!" ucap Danan. Membuat Shinta baper.


Kini, mereka berdua terkekeh bersama. Shinta bersyukur. Nyatanya, meski pria yang mulai menambat hatinya itu terluka, namun Danan masih selamat.


Dari tiga orang pria disana, hanya dia yang terluka. Membuat Danan harus segera mencari dokter ke dalam.


"Emmm Bim aku ke dalam dulu ya?" Danan meringis menahan nyeri saat pamit kepada sahabatnya itu.


Pria dengan tindik di telinga itu, bersama Shinta menuju kedalam untuk mengeluarkan proyektil yang bersarang di dalam daging lengannya.


" Wis, ayo!" ajak Danan kenapa Wisang yang mendadak tertegun.


.


.


Abimanyu membiarkan dua insan yang agaknya memiliki sesuatu yang belum mau mereka bagikan itu, untuk pergi bersama Wisang.


Ia memilih menatap istrinya yang tersenyum menatap dirinya yang dalam kondisi baik- baik saja, meski wajah dan bajunya sangat kotor.


" Terimakasih!" Ucap Dhira memeluk tubuh suaminya yang bau asap. Lengket dan berminyak. Tapi, Dhira suka bau pria itu.


" Untuk?" Abimanyu menautkan alisnya seraya tersenyum.


" Sudah memenuhi janji untuk baik-baik saja!" Dhira berjinjit dan mengecup bibir suaminya sekilas.


Begitu terasa menyenangkan hati. Dhira mencintai Abimanyu, begitu juga dengan Dhira. Perasaan yang sama yang terus terpupuk indahnya kebersamaan.


Dua anak manusia itu melebur rasa takut kehilangan mereka dalam ciuman yang penuh rasa cinta dan kasih sayang itu. Ciuman yang seolah menjadi candu buat keduanya.

__ADS_1


Nanang yang hendak memanggil Abimanyu seketika memalingkan wajahnya begitu melihat hal absurd di depannya itu.


" Astaga, aku tidak melihatnya. Sungguh!!" gumam Nanang dengan jantung yang seakan copot. Pemuda itu menjadi belingsatan dengan sendirinya.


.


.


Wisang


"Gue harus menemui Sekar dulu, maaf gak bisa ngantar elu!" Wisang kini berucap saat ia dan Danan akan berpisah di persimpangan lobi rumah sakit itu.


" Ok, nanti gue nyusul kalau udah selesai ini!" Danan memperlihatkan lengannya yang makin terasa pedih dan berdenyut.


Wisang mengangguk setuju, sejurus kemudian ia membalikkan badannya dan berjalan cepat. Otaknya di penuh banyak sekali pemikiran negatif.


Ia melewati koridor yang pajang sebelum menemukan meja petugas yang berjaga disana, dan menanyakan tentang keberadaan istrinya.


" Atas nama Sekar Dwi Pangesti , korban tertembak mbak?" Ia bertanya kepada wanita berkerudung itu dengan wajah pias.


" Beliau sedang dalam tindakan pak, ruang operasi ada di lantai sebelas!"


Tanpa menunggu lagi, pria itu berjalan dengan cepat menyusuri koridor, dan juga beberapa ruangan di rumah sakit besar itu.


Sampai ia akhirnya menemukan dua sosok manusia yang ia kenal. Tengah duduk sambil menyenderkan kepalanya ke dinding rumah sakit berwarna biru muda itu.


" Mama!" Ucapnya saat melihat Nyonya Lisa dan Tuan Wikarna duduk dengan wajah lesu.


" Wisang!" kedua manusia tua itu kini berdiri seraya menyongsong kedatangan anaknya.


" Maafin mama Wis, mama udah salah selama ini. Semua ini karena mama!" Nyonya Lisa tak bisa menyembunyikan rasa bersalahnya.


Wisang memejamkan matanya saat ia dipeluk oleh wanita yang melahirkannya itu. Terasa dadanya sesak sekali kala itu.


Wisang lagi-lagi menarik nafasnya dalam. " Dia sudah mendapatkan bagiannya ma. Semua sudah selesai!" Wisang menitikan air mata kala itu.


Nyonya Lisa melonggarkan pelukannya " What do you mean?" wanita dengan uban separuh itu, kini menatap wajah putranya tak mengerti.


" Mira tewas ma!" jawab Wisang seraya membuang mukanya.


Mata wanita itu mendelik, Tuan Wikarna bahkan juga terkejut. Tak menyangka bila akhir dari wanita itu harus meregang nyawa di usia yang terbilang masih muda.


" Keluarga Pasien!" pintu tiba-tiba terayun dan menampilkan sosok pria dengan pakaian khusus yang tak lain adalah dokter bedah. Membuat percakapan mereka terinterupsi.


Tiga manusia itu langsung berduyun-duyun menuju pria yang mengenakan masker dan penutup kepala itu, dengan wajah panik.


" Saya suaminya dok!" Wisang yang kala itu berpenampilan kacau, terlihat menunggu jawaban dokter dengan wajah tegang.


" Kita bicara di ruangan !"


.


.


Mata Wisang seketika memanas, ia mendadak susah untuk sekedar menelan salivanya sendiri. Lutut dan kakinya bergetar hebat.


" Apa maksud anda dok?, itu artinya cucu saya..." Nyonya Lisa terlihat tidak terima dengan kalimat dokter yang bernada informatif itu.


" Peluru itu menembus selaput plasenta bayi. Kami harus mengeluarkan janin demi keselamatan nyawa ibunya. Sebab, janin tersebut di perkirakan sudah meninggal saat dalam perjalanan Bu!"


Wisang tertegun, otaknya mendadak tak biasa diajak berpikir. Tubuhnya kaku, dadanya berdetak kencang dan ia merasa dirinya bagai tak bertulang.

__ADS_1


" Sekar..!" batinnya menyebut nama istrinya yang pasti saat ini masih belum siuman. Rahang pria itu terus terlihat mengeras sedari tadi.


" Kami sudah melakukan yang terbaik dan sesaui dengan segala prosedur yang ada Pak. Pasien sedang dalam pengaruh obat bius. Dukungan keluarga sangat penting bagi kesembuhan pasien. Saya turut prihatin atas kejadian ini!" tutur dokter itu kian membuat nyonya Lisa menangis histeris.


Ketiga manusia itu hanya bisa menahan sesak dari segala ketetapan sang maha pemilik kehidupan.


" Untuk mayat janin, anda bisa mengambilnya usai mengisi beberapa persyaratan Pak!"


Petir benar-benar seolah menyambar dirinya. Wisang benar-benar merasa dirinya bak dihantam badai yang besar. Meluluhlantakkan hidupnya dalam sekejap. Menjadi bak kehilangan pengharapan.


.


.


Jam tujuh malam di ruangan lain.


" Apa masih sakit?" Shinta yang duduk di ranjang ruang tindakan itu menatap kuatir kepada Danan.


Ya, mereka kini sudah selesai melakukan operasi kecil, untuk mengangkat proyektil peluru yang bersarang di daging lengan kiri Danan.


" Sudah aku katakan, masih sakit rasa saat kamu cubit!" Danan mengerlingkan matanya seraya tersenyum genit.


" CK, kamu ini bisa gak sih mas kalau lagi serius jangan begitu!" Shinta mendengus. Ia makin bersungut-sungut kala mendengar Danan yang malah berkelakar.


" Kamu gak tahu aku sama Dhira khawatir dari tadi!"


" Kamu itu bisa gak sih mas jangan menyepelekan hal kecil!"


" Kamu tuh gak tahu waktu ak...!"


Cup


Danan mengecup bibir ceriwis itu. Membuat wanita itu kini tak memiliki stok kata untuk bicara.


Suasana hening sejenak dengan posisi bibir yang saling menempel.


" Udah ngomelnya?" Danan tersenyum dari jarak yang sangat dekat. Menatap wajah Shinta yang berengut.


Shinta kesal, namun sejurus kemudian ia tersenyum. Danan memang pria bar-bar yang sangat menyebalkan, namun kerap membuatnya bahagia.


Detik berikutnya, Shinta mengalungkan tangannya ke leher Danan. Ia kini mencium Danan terlebih dahulu.


Dan tentu saja, Danan sangat suka akan hal itu. Danan merengkuh pinggang Shinta dengan tangan kanannya. Mereka saling melu*mat, menghisap dan menyesap.


Meluapkan segala rasa kekhwatiran, rasa ketakutan dan lintas perasaan lainnya yang mereka lebur menjadi satu.


Dilebur menjadi rasa takut kehilangan, yang kini terpatri dalam sanubari Danan dan Shinta. Sungguh, cara Tuhan yang merenda kisah mereka sangat unik dan berbeda.


Shinta yang tersulut gelora itu tak sengaja menyenggol lengan kiri Danan yang lukanya masih basah. Membuat Danan kini melepaskan pagutan mereka dengan terpaksa.


Dug


" Arrghhhhhhh!!" Kali ini, Danan benar-benar merasakan sakit yang asoy geboy.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2