
Bab 65. Aku Menyayangimu
.
.
.
...ššš...
"Ijinkan aku membuktikan, inilah kesungguhan rasa. Ijinkan aku menyayangimu, oh....sayangku!)
( Diambil dari lirik lagu Iwan Fals~ Ijinkan aku menyayangimu)
.
.
"Dosa yang melampaui batasan yang ada!"
Andhira
Sudah lewat 5 hari pasca kejadian tak menyenangkan tempo hari, selama itu pula Dhira mengabaikan ratusan pesan dari Abimanyu. Meski tak di pungkiri Dhira menyukai sentuhan Abimanyu , namun dia harus memaksakan dirinya untuk menjauhi pria itu. Sebisanya.
Ia bahkan memblokir nomer Abimanyu karena pria itu tak jera untuk terus menghubunginya. Ia hanya tak mau Raka kecewa kepadanya. Ia belajar dari pengalaman sewaktu ibunya tak merestui dirinya dengan Indra.
Hari Sabtu sore ini, Raka akan ikut dengan Indra ke rumah Pak Joko dan Bu Novi. Ia lekas berdamai dengan masa lalunya, tak mau membatasi Raka.
"Titip salam pada Uti sama Kakung ya!"
"Jangan terlalu merepotkan disana!"
Dhira mengusap punggung Raka sewaktu memeluk bocah itu.
"Iya ma, nanti Om Bas jemput kesini jam berapa?" Raka hanya ingin memastikan, bila mamanya aman saat ia tak berada dirumah.
" Mungkin sebentar lagi!"
Dhira memberikan dua kotak berisikan kue, brownies dan juga wingko. Kue berbahan dasar ketan, kesukaan mantan mertua laki-lakinya.
"Terimakasih!" untuk pertama kalinya,Indra berucap dengan ramah.
Dhira hanya tersenyum, melambaikan tangan kepada Raka yang akan masuk ke dalam mobil bersama mantan suaminya. Dhira memandang nanar kepergian mobil itu yang sudah hilang dari pandangannya.
Meski ia sudah menganggap semua ini adalah takdir yang musti ia lalui, namun Dhira tetap menjaga jarak dengan Indra.
Andai Indra dulu tak berbuat keji kepadanya, mungkin ia bisa bersama-sama dalam mobil itu untuk berkunjung ke tujuan yang sama.
Saat dia akan masuk, ponselnya berbunyi.
Kak, aku belum bisa jemput. Anak- anak ngajak jalan ke acara temen nih!
Dhira menghembuskan nafasnya , mungkin malam ini ia lebih baik sendiri. Meski kesepian, tapi ia harus membiasakan diri.
Namun saat ia akan masuk, ada sebuah mobil yang masuk ke rukonya, sejurus kemudian dengan gerakan cepat seseorang datang dan membekap mulutnya. Dhira meronta, namun kalah tenaga. Sejurus kemudian ia tak sadarkan diri.
.
.
Abimanyu
Yang gawat itu bukan menahan rindu, tapi dua centang abu-abu yang tak kunjung menjadi biru. Ia sudah sangat frustasi. Dhira mengabaikan dirinya.
Sejak ia bertengkar dengan Gwen tempo hari, dia tak pulang. Ia menanyakan kabar Omanya melalui Rania. Rania yang selalu workaholic itu juga tak terlalu memusingkan Abimanyu.
Dia hanya berpesan kepada Bik surti, untuk memastikan makan dan obat untuk Nyonya Regina. Ia juga berpesan agar jangan membiarkan Gwen masuk ke kamar neneknya itu.
Ia merasa tak tahan lagi, jika dia nekat kesana dia takut akan pandangan orang setelah pertengkaran yang melibatkan Gwen tempo hari. Ia tidak mengkhawatirkan dirinya, melainkan Dhira. Tapi rindu di dadanya sudah sesak. Abimanyu tak peduli. Ia berkuasa, ia bisa menggunakan cara apapun.
__ADS_1
Ia harus bisa memastikan, jika Dhira akan menjadi miliknya. Tak peduli seberapa badai akan menerpa. Dia berhak bahagia dengan caranya sendiri. Sudah cukup kesabarannya selama ini.
Puncaknya adalah hari ini, ia rindu dengan Andhira. Secuil ide gila menyelinap di otaknya.
Van, minta orang mu untuk membawa Dhira secara paksa ke apartemen ku, sekarang!
Abimanyu ingin berbicara, ia ingin Dhira tak terus- terusan menyalahkan dirinya. Ia harus membuat Dhira percaya, bahwa dirinya begitu berharga dimata Abimanyu. Hanya saja waktunya yang belum tepat.
...ššš...
Titah yang mulia Abimanyu adalah merupakan hal yang wajib ditunaikan per segera, hitung-hitung sebagai penebus kesalahan tempo hari, hari ini Devan gercep dalam melakukan tugasnya.
"Ingat jangan sampai menyentuh berlebihan, lakukan dengan hati-hati!" Devan memerintahkan dua orang anak buahnya, dari pandangan Devan Dhira tengah seorang diri di ruko itu. Karena sedari tadi rupanya ia memantau daerah disana.
Devan berada di sebelah kemudi , dan seorang anak buahnya lagi bertugas sebagai sopir. Memantau pergerakan dua orang anak buahnya yang lain.
"Bos, target sudah aman!" ucap seorang pria yang masih mengenakan penutup wajah, seraya memapah tubuh Dhira yang lemas.
"Cepat tidurkan di mobil!"
Untung saja tidak ada yang melihat kejadian itu, kebetulan sore itu keadaan tengah sepi. Dan juga setelah memastikan ruko Dhira terkunci, mereka langsung melesat menuju apartemen Abimanyu.
Devan memandang wajah Dhira yang memang cantik, pantas saja Bos tergila-gila. Lawong body, wajah sama semuanya top markotop.
"Hey, jaga tanganmu!"
"Bisa di potong bos nanti!" Devan mewanti-wanti anak buahnya agar tak terlalu terlibat sentuhan dengan Dhira, meski tidak sengaja.
Mendengar ancaman itu, membuat dua orang itu bergidik ngeri.
.
.
Apartemen Abimanyu
Devan mengangguk hormat setelah ia selesai menunaikan tugasnya dengan lancar.
"Baik Tuan"
Usai pintu apartemen itu tertutup dan terkunci, Abimanyu berdiri di samping Dhira yang tengah terlelap. Masih dalam pengaruh obat bius.
"Maafkan aku sayang!" Abimanyu menyusuri wajah cantik Dhira, ia terpaksa melakukan ini karena tak sanggup lagi menghadang rasa ingin bertemunya dengan wanita yang menjadi mama Raka itu.
Abimanyu mengecup kening Dhira yang masih tak sadarkan diri, ia mengusap rambut hitam Dhira penuh kasih. Desiran aneh itu muncul, ia tersenyum memandang wajah teduh Dhira.
Ia memilih untuk keluar kamar, akan sangat tidak baik bagi isi celananya bila ia terus berada di dekat Dhira. Ia membiarkan Dhira bangun dengan sendirinya. Dan rencananya, Abimanyu akan berbicara hal serius dengan Dhira nanti.
Tuan, sepertinya putra dari Nyonya Andhira tengah pergi bersama papanya.
Ruko itu kosong saat ini
Dua pesan dari Devan tadi membuat Abimanyu sedikit tentang, itu artinya ia tak perlu buru-buru untuk mengantarkan Dhira pulang.
.
.
Dhira mengerjapkan matanya, agak sedikit pusing dan berat menjadi rasa di kepalanya saat ini. Dia mengedarkan pandangannya ke kamar luas itu, ia mencoba merangkai ingatannya.
Ia ingat seseorang telah menyatroni rukonya, lalu ada seseorang yang mendekati dirinya, lalu ia tak ingat apa-apa.
"Dimana aku ini?" dengan takut Dhira beringsut dari kasur lebar itu, ia berlari membuka pintu bercat putih gading itu, dan saat pintu terbuka.
"Mas?" mereka berdiam nyaris saja bertabrakan.
"Kau sudah bangun?" Abimanyu tersenyum, namun tidak dengan Dhira. Apa maksud dari semuanya ini. Apa Abimanyu menculik dirinya.
"Kenapa aku bisa di sini? Dhira menatap tajam kepada pria yang tengah memakai kaos polos hitam itu, dan entah mengapa kaos hitam selalu bisa membuat laki-laki ganteng berkali lipat.
__ADS_1
"Dhira tenang lah!" Abimanyu memegang kedua bahu wanita itu.
"Mas jangan main-main , kenapa aku bisa ada disini?" Dhira tak suka dengan cara Abimanyu, ia menjadi agak takut, ia menghempaskan tangan Abimanyu yang memegangi dirinya.
"Kamu jangan takut!"
"Aku hanya ingin bicara!"
Plaaaak
Dhira menampar pipi Abimanyu, Dhira bahkan bergetar setelah melakukan hal itu. Pria di depannya masih diam, berusaha menenangkan diri.
Dhira benar-benar tak mengerti apa mau pria di depannya itu, kenapa nekat.
"Kenapa kamu susah banget di kasih tau mas!"
"Jangan hubungi aku!, jangan temui aku lagi!"
"Aku gak sanggup dengar penghinaan mereka mas!!!"
Dhira nampak histeris, Abimanyu menjadi panik saat ini. Tak menghiraukan rasa perih di wajahnya.
"Dhira!! Dhira!!"
"Aku mau pulang, biarkan aku pulang mas!!" Dhira berusaha menerobos, wanita itu berusaha memberontak.
"Dhira!!" Abimanyu memeluk tubuh Dhira yang menangis," kau tenang dulu, aku mau bicara sama kamu!"
"Kasih aku kesempatan sebentar, setelah itu kamu yang putuskan!" ucapan Abimanyu sukses membuat Dhira berhenti berontak.
Abimanyu melepas pelukannya, setelah Dhira dirasa sudah tenang , sejurus kemudian ia menatap Dhira yang air matanya sudah menganak sungai itu.
" Pesan ku tak satupun yang kamu baca!" Abimanyu merendahkan suaranya.
"Aku tahu kamu juga memiliki rasa yang sama dengan aku!"
"Tolong bantu aku, kita berjuang sama-sama!"
Dhira masih menangis, ia tak berani menatap wajah Abimanyu. Ia merasa dirinya tak pantas. Apalagi, hinaan Gwen yang benar adanya, malah semakin membuat dia kerdil.
"Tatap mataku!" pinta Abimanyu.
Dhira menggeleng.
"Tatap mataku Dhira!"
"Aku tahu kita sama-sama memiliki perasaan lebih, bantu aku buat perjuangan semuanya!"
Dhira mendongak, dengan air mata yang berlinang ia menatap Abimanyu.
"Aku takut mas!" Dhira memberanikan diri menatap wajah Abimanyu. Dan semua yang dikatakan Abimanyu tadi adalah benar.
Munafik bila dia tak mengakui bila dirinya memiliki perasaan yang sama dengan pria lembut di depannya itu, Pria yang membuat dirinya berharga, pria yang membuat dirinya merasa di sayangi, pria yang memberikan dia arti dibutuhkan sebagai seorang wanita.
" Bantu aku dengan tidak lari Dhir, aku butuh kamu!" mata mereka saling bertemu, Abimanyu sudah kehabisan kata-kata untuk sekedar meyakinkan Dhira bahwa untuk sama sama bahagia, mereka harus saling bekerja sama.
"Aku sayang sama kamu!" lirih Abimanyu yang malah membuat Dhira semakin terisak.
Abimanyu mengusap air mata Dhira dengan kedua ibu jarinya, menangkup wajah sendu itu dengan tangan kekarnya. Abimanyu mendekati wajah cantik itu, ia mencium Dhira penuh kelembutan. Ciuman kerinduan yang telah tertahan.
Dhira juga tak mampu menepis rasa yang sama, entahlah jalan hidup yang rumit mengapa hadir mengiringi dirinya.
Abimanyu memagut bibir Dhira dengan penuh perasaan yang mendalam, ia menekan tengkuk wanita itu. Merasa tak ada penolakan dari Dhira ia melakukan ciuman itu dalam waktu lama. Dan saat nafas Dhira mulai tersengal, ia melepas ciuman itu.
"Kita bicara setelah ini!" Abimanyu menatap sendu wajah Dhira yang sudah merah padam karena malu.
.
.
__ADS_1
.