
Bab 252. Kalyna Divya Abimanyu
.
.
.
...ššš...
" Kau adalah hidupku, lengkapi diriku..."
~ Andra and the Backbone
.
.
Ruang Operasi
Lahir sebelum waktunya, membuat bayi Abimanyu dan Dhira harus dirawat di ruang NICU.
NICU atau neonatal intensive care unit adalah ruangan khusus untuk merawat bayi baru lahir yang mengalami masalah kesehatan maupun bayi yang terlahir prematur. Di ruangan itu, bayi dirawat dan dipantau selama 24 jam penuh oleh tenaga medis dan bantuan alat yang lengkap.
Hal ini wajib dilakukan, karena bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu berisiko mengalami beragam masalah kesehatan, akibat kondisinya yang masih sangat lemah dan organ tubuhnya yang belum berkembang sempurna.
" Pak, bayinya akan kami bawa dulu, sambil nunggu Bu Dhira di pindahkan ke ruang perawatan setelah ini ya Pak!" ucap Dokter Septa kepada Abimanyu.
" Baik Dok, lakukan yang terbaik untuk anak saya!" Hati Abimanyu diliputi kebahagiaan. Meski ia tak menampik, hatinya juga masih nyeri melihat perut Dhira yang saat ini di bersihkan.
Saat Dhira menjalani operasi caesar ,ada 7 lapisan perutnya yang harus disayat. Sementara saat proses penutupan luka, 7 lapisan tersebut dijahit satu demi satu menggunakan beberapa macam benang jahit.
Abimanyu terlihat meringis nyeri saat melihat proses itu. Sungguh, semua ini benar-benar mencelikkan matanya. Bahwa wanita sejatinya benar-benar mahluk yang wajib dan harus di hormati. Mengingat perjuangannya yang tiada banding, bertaruh nyawa untuk buah hati mereka.
" Dokter, apa luka itu akan membutuhkan waktu yang lama untuk kering. Kau bisa berikan obat yang terbaik untuk istriku kan?" Abimanyu benar-benar mencemaskan Dhira.
Dokter Septa tersenyum, saat rekannya yang ahli menjahit luka itu tengah berjibaku dengan jarum dan darah " Biasanya, untuk jahitan bagian luar sudah mengering dalam waktu 2 minggu saja. Sedangkan jahitan pada lapisan otot dalam akan menyatu dalam waktu satu bulan. Namun, untuk menyatukan semuanya, perlu waktu sekitar 4-6 bulan!"
Abimanyu menatap istrinya muram. Andai ia bisa menggantikan. Sejenak hati Abimanyu dirundung rasa haru. Berjanji dalam hati agar ia tak akan pernah membuat Dhira bersedih.
Dhira terlihat dipindahkan dari ruang operasi ke ruang perawatan, setelah semua prosedur operasi caesar sudah dilakukan dan kondisi Dhira kini normal.
Dokter juga terlihat meresepkan obat pereda rasa nyeri untuk mengurangi rasa sakit pada bekas sayatan.
"Akan terjadi perdarahan normal yang keluar dari kema*luan pada beberapa hari pertama setelah melakukan operasi caesar.!"
"Darah ini disebut dengan lokia. Pada tiga hari pertama, lokia dapat berjumlah cukup dan berwarna merah terang, dan warnanya akan perlahan berubah menjadi kecokelatan, hingga akhirnya berwarna kuning hingga putih. Anda tidak perlu khawatir!" Tutur dokter Septa kepada Dhira dan Abimanyu.
Meski kurang paham istilah medis, namun ia tahu jika istrinya akan mengalami nifas. Dhira juga terlihat tekun mendengar penuturan dokter itu.
Jelang petang, Dhira kini sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Semua yang menunggu diluar sudah tak sabar untuk melihat keadaan Dhira juga bayi mereka.
Dokter terlihat memberikan penyuluhan kepada Dhira. Meski ini adalah kali kedua bagi Dhira, namun cara lahir yang berbeda jelas membuat Dhira wajib mendengarkan dengan saksama, arahan Dokter.
" Saya sarankan untuk menopang bagian perut dengan bantal saat menyusui!"
"Hindari mengangkat sesuatu yang lebih berat dari bayi dan banyak beristirahat!"
"Minum banyak cairan untuk mengganti cairan yang hilang saat operasi caesar dan menyusui serta mencegah konstipasi!"
"Menghindari berhubungan seksual sampai waktu yang diizinkan oleh dokter. Biasanya pasien dilarang berhubungan seksual empat sampai enam minggu setelah operasi caesar!"
Penjelasan yang terkahir sukses membuat Abimanyu meneguk ludahnya. Waktu puasanya benar-benar telah tiba.
" Saya tinggal dulu Ya Pak Bu, boleh di jenguk tapi bergantian ya. Bu Dhira harus beristirahat dulu.
...ššš...
__ADS_1
Wisang
Ia masih di perjalanan bersama tuan Wikarna saat itu. Pria itu sibuk lantaran harus membangun kerajaan bisnisnya sedari awal. Meski di bantu lawyer dan Anton, namun ada beberapa hal yang musti melibatkan dirinya beserta tuan Wikarna secara langsung.
Perhatiannya terpecahkan saat ponselnya bergetar.
My Wife Calling...
" Sekar, ada apa ya?" gumamnya dengan rasa penasaran.
" Ya sayang" jawab Wisang menekan earphone di telinganya. Membuat papanya kini turut menoleh.
" Bu Dhira lahiran mas, barusan Pak Abimanyu telepon aku. Katanya telpon mas gak di jawab!" suara Sekar terdengar riang gembira.
Wisang tersenyum, dalam hatinya turut merasakan kebahagiaan. Apalagi, hal itu bisa menjadi mood booster untuk istrinya.
" Ya sudah, kamu siap-siap ya. Kita kerumah sakit setelah ini!"
" Love you!" ucapnya sesaat sebelum memungkasi panggilan.
" Kenapa?" Tanya tuan Wikarna.
" Anak Abimanyu udah lahir Pa!" jawab Wisang dengan tersenyum senang.
" Loh, bukannya masih bulan depan?"
" Gak tahu, tapi infonya udah lahir itu. Aku turut happy Pa. Finally he became a real Papa!"
.
.
Dananjaya
Ia tengah asyik berbincang dengan Rudi. Rupanya ia memiliki kesamaan. Yakni pecinta minum minuman beralkohol.
Namun, Danan sudah kapok dan menjaga kesehatannya. Pria itu hanya menemani Rudi minum dengan kadar alkohol yang tak terlalu tinggi. Hanya sekedar ingin menyenangkan hati mertuanya saja.
" Mas Danan!"
Shinta lari dengan tergopoh-gopoh. Membuat Danan dan Rudi menyuguhkan raut cemas.
" Ada apa? kenapa lari-lari?" Danan berdiri menyongsong kedatangan Shinta.
" Dhira udah lahiran, aku baca WA dari Rania. Coba mas cek ponsel mas, ada mas Abimanyu kasih kabar gak?" ucap Shinta seraya menautkan kedua alisnya.
Danan merogoh sakunya, membuat Rudi turut menunggu.
" CK, iya bener dia nelpon aku tapi gak kejawab!" ucap Danan muram.
" CK, ayo kita kesana mas. Jelas Dhira lahiran prematur ini. Lawong masih bulan depan Lo prediksinya!"
...ššš...
Bu Kartika rupanya juga sudah tiba di sana bersama Bastian. Sempat menyesalkan kenapa Dhira maupun Abimanyu tak menghubungi mereka lebih awal.
Devan terlihat standby di luar, seraya fokus membalas chat dari para istri anggota ataupun member trio konglo itu.
Mereka lebih dulu menemui Dhira yang kini sudah berada di ruang perawatan VIP. Menepikan rasa kecewa karena lambat diberi kabar.
" Dhir, gimana keadaan kamu. Kok gak ngabarin ibuk tadi?" Bu Kartika cemas, ia baru tahu dari Bastian yang tadi di hubungi oleh Abimanyu.
Bu Kartika menuju ke tempat Dhira yang berbaring di ranjang khusus itu dengan wajah cemas, karena ia tahu bila anaknya baru saja menjalani operasi dan melakukan persalinan prematur.
" Maaf ya Buk, tadi Dhira sama mbak Yuni panik. Gak ngira kalau mau lahiran. Udah ada mas Abi juga kok. Cucu ibuk perempuan, Raka sekarang punya adik perempuan Buk!" Dhira menitikan air matanya saat Bu Kartika memeluknya dengan posisi masih berbaring. Ia sangat mengucap syukur atas segala kebahagiaan yang ia dapat saat ini.
" Raka, Jodhi sini!" ucap Dhira usai Bu Kartika melepas pelukannya. Wanita tua itu kini juga menangis. Anaknya yang sudah berusia matang itu rupanya masih bisa melahirkan anaknya dengan selamat meski dengan jalan operasi.
__ADS_1
" Selamat ya, sekarang udah jadi kakak!" Dhira mengusap punggung kedua anaknya dengan posisi berbaring.
" Sekarang adeknya mana Bun?" tanya Jodhi tak sabar.
" Ada, di ruangan sebelah. Setelah ini gantian ya kalau mau nengok. Adiknya masih kecil banget!" Abimanyu menjawab pertanyaan anaknya itu dengan tersenyum.
Usai dua bocah itu mendatang Dhira. Kini, Nyonya Regina dengan di bantu Rania juga turut berjalan ke arah istri Abimanyu itu.
" Selamat dan terimakasih sudah menghantarkan cicitku ke dunia dengan selamat nak!" suara nyonya Regina bergetar. Wanita tua itu menangis kala menyadari Abimanyu yang kini telah memiliki anak di usianya yang menuju ke 44 tahun.
Wanita itu menangis demi mengingat semua yang telah terjadi dalam hidup cucunya. Kesedihan, duka, pengkhianatan, dan perjuangannya untuk mendapatkan Dhira.
Kini terbayar lunas dengan hadirnya malaikat kecil di tengah-tengah keluarga mereka.
" Oma jangan nangis, saya yang terimakasih. Karen Oma selalu mendoakan saya!" ucap Dhira dengan suara bergetar, membuat kesemua orang yang di saya larut dalam tangis.
Apalagi Rania, wanita itu sangat merasa bahagia saat ini. " Selamat ya Kak, aku turut bahagia!" Rania menahan sesak sembari mencium pipi Dhira penuh kasih, sebagai seorang adik.
" Maksih ya Ran!" Dhira mengusap pipi Rania sembari berbaring. Kini Devan yang terlihat menyusut air matanya, karena tak tahan dengan pemandangan mengharukan itu.
" Selamat Kak Dhira. Aku juga turut bahagia!" ucap Bastian seraya menyusut sudut matanya. Pria itu terlihat mengusap rambut kakaknya. Ia tak memeluk Dhira karena ada Abimanyu di sana. Ia tahu, kakak iparnya itu rawan dengan hal-hal macam itu.
" Ka, udah ada nama belum buat adek?"
" Kalau belum ada, aku yang bak...!" ucap Jodhi dengan wajah memancing.
" Sssttt!" Raka meletakkan jari telunjuk ke depan bibir Jodhi. Membuat kesemua yang disana kini tergelak karena tingkah dua bocah laki-laki itu.
Abimanyu menatap Raka, apakah putranya itu yang akan memberikan naman untuk adiknya?
" Kalyna Divya Abimanyu!" ucap Raka dengan penuh semangat.
" Nama Sansekerta!" tukasnya kembali dengan mantap dan wajah berbinar.
Semua orang yang disana menatap Raka tak percaya. Bagiamana ia bisa mendapatkan nama sebagus itu.
" Artinya?" kini Abimanyu yang bertanya kepada putranya itu.
Raka tersenyum menatap semua wajah yang ada di sana " Kalyna berarti keberuntungan. Raka percaya, kita semua beruntung karena memiliki dia. Aku juga berharap, nasib dan hidupnya akan seperti namanya yang selalu mendapatkan keuntungan!"
Mata Dhira berkaca-kaca kembali demi mendengar anaknya berucap sedalam itu. Sejenak ia sadar akan Raka yang harus menjadi korban perceraian antara ia dan Indra.
" Divya berarti kekuatan dari Tuhan! Raka yakin dan percaya, jika bukan karena pertolongan Tuhan, kita semua gak akan bisa melihat adek di dunia ini!" kini Raka yang meluncurkan air matanya. Ia sadar betul, usia ibunya yang terbilang beresiko itu, pasti akan melewati persalinan yang tak mudah.
" Dan Abimanyu, adalah nama Papa yang aku sematkan ke dalam nama adek!" ucapannya ini mengandung ironi karena dalam namanya tak tersemat nama Abimanyu.
" Nama Papa yang hebat, papa yang jelas menjadi figur yang luar biasa. Yang akan terus mengiring langkah adek!"
Mereka semua mengangguk setuju, nama sejatinya adalah doa bukan?
Abimanyu langsung menubruk tubuh Raka dan memeluknya erat. Membuat Dhira kian menangis terisak-isak. Tak mengira bila Raka sedewasa ini dalam pemikiran.
Nyonya Regina dan Rania juga saling berpeluk, mereka berdua menitikan air mata. Devan dan Bastian juga tak hentinya menyusut air mata mereka.
" Makasih nak. Nama yang indah, nama yang luar biasa!"
" Kalyna Divya Abimanyu!" ucap Abimanyu mengulang ucapan Raka dengan memeluk putranya itu penuh kasih.
Raka tersenyum menatap Jodhi yang mengacungkan jempol. Pertanda Raka memang bisa di andalkan.
" Good Job!" ucap Jodhi seraya mengerlingkan matanya.
.
.
.
__ADS_1
.
.