
Bab 153. Tempo Lambat
.
.
.
...ššš...
" Apakah ada bedanya, hanya diam menunggu dengan memburu bayang-bayang? sama-sama kosong"
( Diambil dari lirik lagu Ebiet G Ade)
.
.
Shinta mengurungkan niatnya untuk kembali ke lantai dua mall itu, sudah kepalang malu dia. Ia memutuskan untuk pulang saja. Lagipula, hatinya mendadak sendu karena untuk kesekian kalinya usahanya belum membuahkan hasil.
" Mau kemana setelah ini?" Danan kini lebih manusiawi ketika berucap. Oh andai Shinta seroang perawan tua atau bahkan janda sekalipun, semua tak akan sesulit ini.
" Pulang aja!" dengan bercampur rasa malu, Shinta menjawab tanpa berani memandang Danan. Ia menyibukkan dirinya untuk membuka ponselnya.
" Aku antar!" ucap Danan.
" Enggak usah mas, aku udah pesen taksi kok, nih barusan!" Shinta tak mau membuat persoalan dalam hidupnya. Ia tak mau suaminya salah paham.
" Baiklah kalau begitu!" Danan tak bisa memaksa, toh dengan Shinta sudah tak bersikap antipati terhadap dirinya saja, itu sudah merupakan suatu keuntungan.
Matahari sudah melorot ke sisi barat, acara siang itu hanya membuahkan rasa pegal di kaki Shinta. Ia tak memiliki semangat.
Saat berada di dalam mobil taksi online, ia melihat jaket Danan yang masih ia bawa. Jaket itu kotor pikirnya, ia berniat mampir ke tukang laundry di ujung gang perumahannya. Tak mau membuat suaminya berfikir yang tidak-tidak.
" Mbak gak usah di antar ya, saya ambil aja kalau sudah!" tutur Shinta kepada gadis muda pegawai laundry itu.
Shinta tak mau suaminya salah paham akan pertemuannya dengan Danan yang terbilang tidak sengaja itu. Ia menghela napas. Kapan kegelisahan hatinya akan hilang, kapan rahimnya bisa di isi oleh jabang bayi.
.
.
Danan yang happy siang itu karena Shinta memanggilnya dengan sebutan 'Mas' tak hentinya menyunggingkan senyum. Ia memang gila, mengagumi istri orang lain.
Ia juga memilih untuk pulang saja siang itu, banyak bunga bermekaran di hati Danan. Dengan rasa bahagia, ia bersenandung saat mesin mobilnya ia matikan.
Hari itu adalah titik balik leburnya dinding pemisah nan kokoh, yang membatasi dirinya dengan Shinta karena perseteruannya akibat salah paham di acara resepsi pernikahan Dhira dan Abimanyu.
"*Sejak jumpa kita pertama ku langsung jatuh cinta
Walau ku tahu kau ada pemiliknya
Tapi ku tak dapat membohongi hati nurani
Ku tak dapat menghindari gejolak cinta ini
Ia terus melenggang masuk ke dalam rumah dengan bunga bermekaran diatas kepalanya seraya bernyanyi. Di ruang keluarga, ia melihat papa dan mamanya yang duduk santai sambil memutar televisi. Terlihat melihat perkembangan berita nasional.
__ADS_1
Maka izinkanlah aku mencintaimu
Atau bolehkanlah ku sekadar sayang padamu
Izinkanlah aku mencintaimu
Atau bolehkanlah ku sekadar sayang padamu
Danan bernyanyi dengan wajah riang tepat di depan kedua orang tuanya, bahkan papanya turut mengangguk- angguk menikmati alunan lagu , seraya menatap wajah anaknya yang terlihat amat menjiwai saat menyanyikan lagu itu.
Oh izinkanlah aku mencintaimu
Atau bolehkanlah ku sekadar sayang padamu
Maafkan jika ku mencintamu
Lalu biarkanku mengharap kau sayang padaku*"
( Chrisye ~ Kala Cinta Menggoda)
Sayup-sayup masih terdengar suara Danan yang melantunkan lagu itu, hingga ke kamarnya. Pria itu bahagia sekali kelihatannya.
" Anak mama kenapa itu?" tanya Tuan Yusuf.
" Tau tu, tadi waktu pergi monyong aja mukanya. Sekarang pas balik jadi begitu!" sahut Nyonya Nisa juga turut bingung
.
.
Hari itu sesuai rencana, Dhira terlihat tengah bersiap untuk bertemu Dokter kandungan. Abimanyu rewel dan gencar mengajaknya untuk memeriksakan diri secepat mungkin.
Sebenarnya kemaren Dhira ingin membuat kejutan untuk Abimanyu. Tapi rupanya, justru ia yang terkejut karena suaminya itu rupanya tengah tak ber-mood baik. Dan penyebabnya adalah dirinya.
Dalih tak mendapat kiss morning dari istrinya itu, adalah benar adanya. Namun tak apa, toh akhirnya Abimanyu tahu juga perihal kehamilan Dhira, serta sebab musabab rasa mulanya beberapa waktu belakangan ini.
" Kita pergi pagi aja ya sayang. Siang nanti, aku sama Devan ada rapat direksi!" Abimanyu memeluk istrinya yang tengah memoleskan lipstik ke bibirnya.
" Iya..!" Dhira menjadi sulit bergerak lantaran suaminya itu ndusel ( mepet) ke arahnya terus.
Dhira pagi itu lebih memilih mengenakan dress juga flatshoes. Meski perutnya belum melembung, tapi ia memang lebih nyaman dengan sepatu yang tak ber hak.
Dokter Septa Ayudya, SpOG. Adalah dokter yang di rekomendasikan oleh Richard, mereka juga sudah di daftarkan oleh dokter langganan keluarga Aryasatya itu. Membuat mereka tak perlu merasakan letihnya mengantri.
" Selamat pagi Bu!" sapa dokter yang terlihat begitu ramah itu. Dokter itu cantik dan seusia Dhira sepertinya, bahkan bisa jadi lebih muda.
" Pagi dok saya Andhira dan ini suami saya!" jawab Dhira seraya bersalaman.
" Baik Bu, tadi dokter Richard sudah mengabari saya. Mari Bu langsung saja!"
Dokter Septa mempersilahkan Andhira untuk berbaring di ranjang matras ruangannya, Abimanyu terlihat sigap membantu istrinya. Pria itu bahkan tak mau diam saja disana.
" Permisi ya!" dokter Septa terlihat menyingkap pakaian atas Dhira. Membuat Abimanyu gelisah. Ia tak bisa membayangkan jika dokter yang bertugas adalah dokter pria.
" Ibu ada keluhan?" ucap dokter Septa sambil memberikan gel dingin keatas perut Dhira yang rata.
" Enggak ada dok, suami saya justru yang ..." Dhira terkekeh.
__ADS_1
Abimanyu menggaruk tengkuknya, namun dokter itu tersenyum.
" Itu artinya suami Ibu sangat memiliki empati yang kuat Bu!" ucap dokter itu seraya mengarahkan sebuah alat ke perut Dhira. Alat yang tersambung ke layar ultrasonografi ( USG).
" Tu kan sayang, aku ini beneran cinta sama kamu. Gak bisa di sangkal pokoknya!"
Dokter Septa tertawa sementara Dhira terlihat mencibir.
Abimanyu kini tak mengalihkan pandangannya barang sejenak pun, dari kegiatan dokter itu.
" Oke kita lihat ya...." ucap dokter Septa.
Dhira dan Abimanyu mengarahkan pandangannya ke layar pekat dengan empat view di sana.
Tertera nama Ny. Andhira Avanti Abimanyu diatas layar itu. Ini bukan pertama kalinya bagi Dhira, tapi perasan harunya tak bisa ia tutupi. Ia merasakan bahagia yang tak terkira.
Abimanyu yang baru sekali mendapatkan pengalaman membahagiakan itu, tak mau menyia-nyiakan penglihatannya. Ia seperti bocah TK yang tekun mendengar penjelasan seorang guru.
Memandang lekat ke arah layar dengan saksama.
" Baik saya jelaskan yah, usia bayinya empat Minggu. Ini bulatan sebesar kacang hijau ini adalah calon bayi Bu Dhira dan pak Abimanyu!" terang dokter Septa melingkari bulatan kecil menggunakan kursor merah.
Dhira hatinya merasa menghangat, ada kehidupan di dalam perutnya. Abimanyu terlihat terharu, bukti keperkasaannya kini bisa ia lihat meski dalam bentuk yang belum jelas. Hatinya larut dalam haru kebahagiaan.
" Untuk sementara belum bisa dilihat yang lain- lain ya Bu. Setelah ini saya akan periksa tensi darah dan juga kita mulai timbang BB ya, bukan depan kita sudah lakukan pemeriksaan rutin!"
Abimanyu membantu istrinya untuk bangkit kembali, ia puas dengan kebenaran berita baik ini. Ia akan menjadi seorang papa dalam arti sebenarnya.
Pemeriksaan berjalan dengan lancar, tekanan darah Dhira juga normal. Tak ada pemeriksaan tinggi fundus dan lain- lain karena usai kehamilan Dhira memang masih muda sekali.
Dokter hanya memberikan wejangan agar jangan terlalu letih dan kecapekan. Sebab usia Dhira yang terbilang mendekati usia rawan, tentu harus mendapatkan perhatian lebih.
" Usahakan untuk tidak membuat ibu dari bayi stres ya Pak. Kemudian pastian Ibu mendapat istirahat yang cukup!"
Mendengar kata istirahat yang cukup, Abimanyu sedikit gelisah. Pasalnya tiap malam pria itu tak pernah membiarkan istrinya untuk beristirahat.
" Mmmmm Dok!" Abimanyu memberanikan diri untuk bertanya.
" Maksudnya Istirahat yang cukup, tidur cukup atau...??"
" Iya pak, ibu harus bisa mendapatkan RHM ( Rest Hour Minimum). Yakni, waktu tidur yang cukup. Dalam hal ini delapan jam standard manusia untuk tidur ya pak" tutur dokter Septa.
" Mmmm jadi...." Abimanyu menjadi belingsatan.
Melihat kegelisahan pria ganteng di depannya, dokter Septa tersenyum. Ia tahu penderitaan apa yang terpikirkan oleh pria itu.
" Boleh melakukan hubungan suami-istri, tapi untuk di perhatikan temponya ya pak. Jangan terlalu ....... Janin Bu Dhira masih di kategorikan sangat rawan, apalagi Bu Dhira pernah mengalami keguguran!" ucap dokter Septa seolah mengerti kegelisahan Abimanyu.
" Jadi boleh ya Dok, yang penting boleh aja dulu. Masalah tempo aman Dok!!" ucap Abimanyu tanpa tedeng aling-aling. Membuat wajah Dhira malu karena kelakuan suaminya.
.
.
.
.
__ADS_1