
Bab 215. Chandrakanta?
.
.
.
...ššš...
" Dari keadaan lebih, kita bisa belajar berada di keadaan kurang. Begitu juga sebaliknya. Membuat kita bisa mawas diri, dan lebih bijaksana dalam mengambil sikap"
.
.
Perasaan sayang yang berlebihan, seringkali mengalahkan logika yang ada. Apalagi untuk pria sekelas Abimanyu, pria yang di perbudak oleh cinta kepada istrinya, yang lebih berharga melebihi semua saham yang ia miliki.
" Udah ya, jangan ngambek terus. Aku gak bisa kalau kamu diemin aku lama- lama!" Mereka masih berada di dalam mobil . Abimanyu ingat saat Dhira ngambul ( marah), usai ia membentak Bu Nisa sewaktu mereka masih di rumah sakit.
" Duku nya dapat?" usai melepas ciuman, di sela-sela kemarahannya, mama Raka itu teringat dengan sesuatu yang membuat ludahnya kemecur.
Abimanyu tergelak, bisa-bisanya yang diingat oleh Dhira adalah buah lokal yang memiliki kulit kuning itu.
" Aman bos, tuh!" Abimanyu menunjuk satu tray buah seperti baso yang kini sudah bertengger rapih di jok kursi belakang.
Kening Dhira berkerut, " Banyak banget, siapa mau habisin?" Dhira pikir, suaminya akan memenuhi ngidamnya hanya dengan sekilo atau dua kilo Duku.
Tapi ternyata. Beyond expectations and imagination.
.
.
Dari urusan kehamilan yang berjalan sesuai harapan, merajuk karena Abimanyu yang memarahi orang yang Dhira tidak ketahui identitasnya, hingga soal duku yang banyak banget. Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk mengunjungi Bu Kartika pagi itu. Kali ini tanpa rencana.
" Mas nanti mampir di minimarket depan situ ya!" karena tanpa rencana, Dhira baru saja teringat akan sesuatu.
Bungkisan untuk Ibu dan tetangganya.
"Untuk apa?" Abimanyu adalah pemilik perusahaan Manufacturing, yang memproduksi dan menjual hampir semua produk yang berjajar di rak tiap- tiap minimarket. Mulai dari minyak goreng, hingga Snack kebanyakan micin.
" Aku mau beli sesuatu buat Ibuk. Gak enak kesana cuma bawa tangan kosong, nanti biar di bagi ke cing Tami sama temen-temennya!"
Dhira pandai buat kue, tapi bertandang ke rumah orang tua tanpa perencanaan jelas bukan ide yang baik bila harus menunggu untuk membuat kue.
" Astaga sayang, aku minta di Devan aja ya bua...." Abimanyu langsung membungkam mulutnya saat mata istrinya melotot serata merapatkan giginya ke arahnya.
Menandakan bila Dhira sudah menolak mentah-mentah ide tidak relevan dari Abimanyu.
" Baiklah!" pungkasnya segera sebelum istrinya kembali merajuk.
Ia bisa memberikan sebanyak apapun yang diminta Dhira, seperti saat Danan memesan sesuatu untuk dikirim ke rumah Shinta.
Abimanyu sejenak terkekeh geli demi mengingat tingkah Danan. Istrinya itu bahkan tidak tau bila ia terlibat dalam urusan nyeleneh itu. Benar-benar Trio konglo si raja selap-selip.
" Kita beli ke mereka kan mereka juga biar dapat untung, ada karyawan yang kerja disana. Kalau semua-muanya Pak Devan lagi, pak Devan lagi, terus mas ...." Dhira menatap suaminya seraya mencebik.
Abimanyu hanya menatap dengan wajah tidak mengerti.
" Apa suamiku ganti Pak Devan aja enaknya. Bisa apa-apa dan sat set sat set kalau ngerjain sesuatu?" seloroh Dhira sambil menggunakan bahasa tangan.
" Hah???" Abimanyu seketika mengernyitkan dahinya.
" Emangnya aku gak sat set sat set?" tentu saja pria itu tak mau kalah. Harus berada di atas Devan, apapun yang terjadi.
" Aku aja bahkan udah langsung bisa buat perut kamu begitu loh sayang. Kurang gesit gimana coba aku!" sahut Abimanyu dengan penuh kebanggaan, yang seketika juga bergidik ngeri karena membayangkan bila ucapan Istrinya itu nyata.
" CK, itu terus!!!"
.
.
Obrolan unfaedah mereka rupanya bisa memburu waktu dengan baik, kini mereka sampai di sebuah minimarket yang berjajar memanjang dengan beberapa ruko.
" Tunggu sebentar!" ucap Abimanyu usai menarik tuas handbreak nya, dengan cepat pria membuka pintu mobil dan berjalan memutari mobilnya dengan setengah berlari. Berniat membukakan pintu untuk ratunya.
" Awas hati-hati!" Abimanyu meraih tangan Dhira yang berusaha turun. Tergelincir sedikit saja, justru mala yang di dapat.
Dhira mengedarkan pandangannya ke area itu, " Ini baru kayaknya ya mas, dulu aku pas pernah lewat sini belum lihat ini deh!" ucapnya saat berdiri di samping Abimanyu yang menutup pintu mobil.
Kawasan itu adalah kawasan dekat tempat tinggalnya, sewaktu ia masih menjadi Indra. Dhira melihat minimarket itu bersebelahan dengan toko baju, di sebelahnya lagi toko furniture, lalu ada makanan cepat saji rasa autentik, juga sebuah kedai minuman kekinian, yang kesemua bertuliskan nama yang sama.
...'Chandrakanta Mart'...
...'Chandrakanta food and beverage'...
...'Candrakanta Furniture'...
__ADS_1
Dhira sempat tertegun. Kesemua nama tempat itu ,kenapa bisa kebetulan sekali dengan nama yang tersemat di belakang nama Putranya.
" Kenapa?" Abimanyu melihat Dhira seperti memikirkan sesuatu.
" Gak ada, ya udah ayok!"
Dhira ingin membeli beberapa bawaan yang umum dibawa untuk berkunjung. Ia dan keluarganya berasal dari kalangan menengah ke bawah, tak mau berlebihan ataupun aji mumpung saat ia kini memiliki suami yang tajir melintir.
Bagi Dhira, sekaya apapun kita jika gaya hidup kita itu memang bersahaja, ya kita akan tetap sederhana.
" Mau beli apa sih?" Pria ganteng yang hendak OTW menjadi bapak itu, merangkul pinggang istrinya yang baru saja membuka pintu kaca minimarket itu.
Ia ingin menunjukkan kepada dunia, bila enakta cantik yang tengah bunting itu adalah miliknya. Alias pamer .
Mereka berdua di sambut sejuknya udara AC, begitu memasuki tempat itu. Tempat itu luas ternyata, bahkan mungkin menyaingi supermarket terkenal di kota itu.
" Selamat pagi, selamat datang di Chandrakanta Mart!" Ucap seroang wanita yang tersenyum ramah. Wanita itu berdiri di samping kasir.
" Bu Dhira!" ucap wanita itu kepadanya.
Dhira menatap wanita itu lalu tersenyum, " Loh dia kan..."
.
.
Anggi
Kesehariannya beberapa bulan terakhir ini begitu kompleks dengan tugas dari Indra untuk memonitor semua usahanya.
Ya, kini usaha Indra yang ia beri nama dari nama belakang putranya itu, kian menunjukkan peningkatan dan kemajuan yang pesat.
Chandrakanta sendiri berarti kegemaran untuk selalu bisa mendapat kehormatan. Dalam hal ini, Indra berharap ia bisa mendapatkan kehormatannya kembali sebagai laki-laki atas usahanya sendiri. Dan doa itu, terselip dalam nama belakang putranya bersama Dhira.
Anggi melihat sebuah mobil mewah yang berbelok ke ruko mereka, saat ia sibuk memisahkan uang receh di mesin khusus.
''Selamat pagi, selamat datang di Chandrakanta Mart" itu adalah greeting wajib, yang patut di ucapkan kepada setiap pelanggan yang datang. Mandatori.
Namun ia terperangah saat melihat wanita cantik nan ramah yang menjadi idolanya, beberapa bulan yang lalu. " Bu Dhira!" Anggi menyapa dengan wajah sumringah.
Wanita yang pernah menolong Indra itu, merasa sangat beruntung bertemu dengan Dhira. Sosok wanita ramah yang sumrambah.
" Bu Dhira apa kabar? gak ingat saya ya pasti!" Anggi tersenyum saat melihat wajah Dhira yang masih berusaha mengingat- ingat siapa wanita yang menyapanya itu.
" Saya Anggi Bu, dulu waktu nikahannya Bu Dhira jadi waiters di hotel sama rumah Ibu!" Anggi menyentuh lengan kuning Dhira.
" Yang pernah ngantar makan di kamar nya Bu Dhira!" imbuhnya dengan penuh semangat
" Kamu apa kabar?"
" Saya baik Bu!" ucap Anggi sungkan.
.
.
Abimanyu masih diam menyimak obrolan dua kaum hawa itu. Tak berminat apalagi berniat mengganggu. Sejurus kemudian terlihat pintu itu mengayun kembali, menegaskan bila ada pelanggan lain yang datang.
" Selamat pagi ,selamat datang di Chandrakanta Mart!" ucap Anggi kembali masih di depan Abimanyu dan Dhira.
Membuat Dhira tersenyum. Anggi benar-benar karyawan ramah.
Tak mau membiarkan rasa penasarannya beranak pinak, Dhira kini bertanya kepada Anggi perihal tempat yang baru ia lihat itu.
" Ini baru ya mbak , dulu waktu saya lewat sini belum ada!"
" Dan semua sama nama tempatnya?" dengan tersenyum, Dhira membayangkan Raka. Bagiamana bisa nama anaknya kini berada di empat ruko dengan masing-masing stand yang isinya berbeda-beda.
" Iya Bu, saya juga belum lama disini!"
" Awalnya ya cuma minimarket ini, kemudian merambah ke tiga ruko lain itu!" Anggi benar-benar bisa dengan tenangnya saat berbicara dengan Dhira.
" Jadi yang punya satu orang?" kini Abimanyu angkat bicara. Rupanya, ia juga penasaran.
" Betul pak, nama usahanya ini diambil dari nama anaknya. Begitu!" ucap Anggi masih menatap kagum Dhira.
Deg
Dhira mendadak terkejut dalam hati, " Jadi tempat ini?, ah tidak lah. Mungkin aja nama itu ada yang sama!" dalam hatinya, Dhira mensugesti diri untuk memberikan permakluman.
Tidak mungkin di dunia ini yang memiliki nama Chandrakanta hanyalah putranya saja.
Abimanyu mengangguk, " Ya sudah, kami belanja dulu ya. Senang ketemu sama kamu Anggi!!" pria ganteng itu juga nampak ramah. Ia bisa melihat bila Anggi adalah perempuan baik. Wanita seusia istri Wisang itu terlihat supel.
Anggi mengangguk hormat, sejurus kemudian mereka berjalan untuk mencari barang yang Dhira butuhkan.
" Kok kamu bisa kenal dia!" kini Abimanyu mengambil troli belanja, lali mendorongnya dan berjalan beriringan dengan istrinya.
" Di jadi pelayan pas di acara ijab kita kapan hari!" ucap Dhira seraya berjalan melihat berbagai produk yang berjajar rapih disana.
__ADS_1
" Dia hebat loh mas. Gak ada orang tua, tapi kerja apapun mau dia. Gak cuman berpangku tangan!"
Sejenak Dhira juga ingat dengan Sekar.
" kamu udah kenal dekat?"
" Enggak, cuman dia pas aku lagi make up di kamar kan nganterin makanan tuh. Nah, kebetulan itu minceu yang ngurus aku dulu kan butuh batuan dia, terus cerita-cerita gitu deh. Ya kita kan tim rempong, jadi ya seneng aja gitu ngobrol kalau temannya cocok!" Ucap Dhira seraya menunjuk sekardus minyak goreng.
" Ini kan.." Ucapan Abimanyu menguap saat Dhira membulatkan matanya. Membuat Abimanyu hanya menghela napas. Ia bahkan bisa memberikan satu kontainer minyak jika Dhira meng-iyakan saat itu juga.
" Terus, aku kok gak tahu?" ucap Abimanyu usai meletakkan permintaan Dhira ke troli mereka. Dengan mendengus pastinya.
" Ya enggak terus, kita ngobrol aja!" sahutnya sembari menunjuk gula pasir.
" Sayang tunggu dulu deh. Ini semua kan berat-berat. Gak muat dong!" Abimanyu memasang wajah muram. Membuat Dhira tergelak.
" Ya mas sih bawa troli, ya aku pikir mas sanggup!" Dhira sengaja mengerjai suaminya.
" Mas, sini!" Abimanyu memanggil pegawai pria yang tengah sibuk menata beberapa pembalut ke rak.
" Lagian, begini amat sih yang mau dibawa sayang. kita beli hal yang...."
" Sssttt, mas..!" Dhira meletakkan telunjuknya ke bibir Abimanyu.
" Lingkungan ibuk itu orang sederhana semua. Biar kau pakai cara yang biasa aja ke mereka. Buat temen ngasih Duku nanti!"
Abimanyu benar-benar tak mengerti birokrasi macam apa yang hendak di mainkan Istrinya itu. Terlalu rumit.
" Mas, saya perlu gula, minyak goreng, teh, kopi, sosis yang siap makan, terus sama kantong plastik juga sebendel ya!"
Abimanyu makin tak mengerti dengan mau istrinya. Jika begini caranya, ia sama saja dengan membeli produk buatan pabriknya sendiri.
" Sayang ini se...." Ucapan Abimanyu kembali menguap percuma.
" Aku pingin belanja, kalau semua mas yang kasih, terus uangku buat apa?" Dhira menjawab seraya meninggalkan suaminya yang kalah telak.
Dhira lelah, ia hanya ingin mengimplementasikan cara sederhananya. Itu saja.
Memberi itu terangkan hati bukan?
" Baiklah Bu Abimanyu, kau lah pemenangnya!" Abimanyu terkekeh seraya menatap istrinya yang kini berjalan ke arah depan, dengan wajah bersungut-sungut karena kesal.
Namun, saat mereka tengah asyik berjalan. Terdengar kegaduhan yang mendadak.
" Maling!!!"
" Woy mbak berhenti!!!"
" Wooyyy!!!"
Terdengar suara pegawai pria lain yang berada di deretan ujung timur, berada diantara deretan susu dan popok bayi, meneriaki wanita yang beberapa saat yang lalu masuk ke minimarket itu, saat Dhira dan Abimanyu bersama Anggi masih terlibat dalam satu obrolan.
Abimanyu dan Dhira langsung menoleh ke sumber suara. Ia melihat wanita yang memondong sebuah susu dan popok, berlari ke arah pintu keluar dan di kejar oleh pegawai pria muda itu.
Wanita itu menunduk, dengan rambut menjuntai yang menutupi wajahnya.
" Berhenti mbak,,, woy!!!"
Anggi yang mendengar keributan, langsung berlari bersama tiga karyawan lain. Di saat bersamaan ,wanita yang mencuri susu dan popok itu menabrak seorang pria yang berjalan santai karena sibuk dengan ponselnya yang hendak masuk ke dalam minimarket itu.
Braaakkk
Ponsel pria itu jatuh, dan wanita yang menguntit susu serta popok itu terjerembab ke lantai licin minimarket itu.
Popok dan susu yang hendak ia kuntit berserakan ke lantai itu.
Mata wanita penguntit itu membulat demi melihat siapa pria yang ia tabrak. Disaat yang bersamaan pula, terlihat Abimanyu, Dhira, Anggi dan beberapa karyawan lain tiba di sana.
Dhira juga terkejut saat melihat pria yang ia kenal, tengah terjatuh di depan pintu masuk minimarket itu. Begitu juga dengan Abimanyu.
Anggi langsung menuju ke tempat pria itu, dengan perasaan dan raut wajah penuh kekhawatiran. Membaut Abimanyu dan Dhira saling menatap.
" Mas!!!" ucap Anggi pada pria itu.
.
.
.
.
.
.
Hy reader, aku kangen kalian. Maafin mommy ya baru karena kelar kesibukannya.
Siapakah yang bikin onar di part ini? šš
__ADS_1
Siapakah yang nguntit?