The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 40. Permintaan Jodhi


__ADS_3

Bab 40. Permintaan Jodhi


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


"Kata orang bijak, pikir itu pelita hati"


Bu Kartika


Hatinya sebenarnya bak dihujam belati, tatkala melihat anaknya di katai dengan ucapan yang tak baik. Ia tak bisa membayangkan seperti apa dulu Andhira, dalam bertahan menjalani rumah tangganya.


"Maafkan Ibu nak!" sesalnya dalam hati, karena tak cepat mengambil langkah. Egonya yang besar membuatnya melakukan pembiaran terhadap putri sulungnya itu.


Kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah. Meski putrinya dulu tak menghiraukan peringatannya, namun saat dalam keadaan terpuruk ibu mana yang tega melihat anaknya menderita.


Ia berjanji dalam hati, bila Dhira mau membuka lembaran baru, ia akan merestui siapapun orangnya. Asal baik budinya, dan bisa menerima keadaan anaknya itu apa adanya.


Apalagi beliau juga teringat akan Raka, diusianya yang masih belia ia harus melihat kesemrawutan yabg terjadi antara kedua orangtuanya. Sudah barang tentu semua itu akan menjadi trauma untuknya.


Ia merasa tak enak hati dengan kebaikan Keluarga Aryasatya, pasalnya biaya Rumah Sakit rupanya sudah di selesaikan. Membuatnya lagi-lagi merasa berhutang budi. Apa alasan mereka begitu baik kepada keluarga biasa seperti dirinya.


Mereka kini tengah dalam perjalanan, menuju kediamannya. Ia ingin cucunya beristirahat dengan tenang dulu, karena jika harus kembali ke ruko Andhira, jelas membuatnya tak bisa merawat dengan sempurna.


"Bawa pulang ke rumah ibu saja!" pintanya saat mereka akan pulang.


.

__ADS_1


.


Rania, Andhira, Raka dan Bu Kartika berada dalam satu mobil yang sama. Ya, mereka kini memesan taksi online. Lantaran Abimanyu yang sudah melesat terlebih dahulu, guna membereskan persoalan. Sementara Bastian dan Jodhi, berada di mobil lain. Tentu saja, mobilnya masih ada di pegadaian.


"Nak Rania terimakasih banyak sudah membantu" ucap Bu Kartika yang berada di samping wanita cantik itu. Duduk di bangku paling belakang.


"Sama-sama Bu, kesusahan Raka kesusahan Jodhi juga. Saya yang berterimakasih. Karena kehadiran Raka, membuat Jodhi lebih baik" ucap Rania tersenyum.


"Tadi itu siapa, calon papanya Jodhi?" tanya Andhira, yang mengingat interaksi antara Rania dan Fredy.


"Oh, bukan Mbak. Tadi itu temenku sekolah dulu, tadi mobilku bannya kempes. Gak sengaja ketemu di jalan" Rania langsung menjelaskan, merasa tak setuju dengan tuduhan Andhira.


Bu Kartika tersenyum," Lebih dari teman juga gapapa nak, kamu masih muda" ucap Bu Kartika, yang sudah sedikit banyak telah mengetahui tentang Jodhi dan keluarganya.


Rania hanya malu, pasalnya bukan Fredy tipe Rania. Entahlah, apa dia bisa move on dari mantan suaminya dulu. Meski jarak seakan tak bisa ia gapai, namun sosok Chandra selalu melekat di hatinya.


Sementara Raka semenjak mengetahui mamanya menangis, ia menjadi pendiam. Rasa kebencian yang memudar terhadap papanya, kini seolah menebal kembali.


"Gapapa ma, ngantuk aja" bohongnya, seraya tersenyum ke arah mamanya, ia berjanji dalam hati akan berusaha melindungi surganya itu.


Dhira tahu bila putranya tengah memikirkan sesuatu, dia akan menanyakannya nanti saat mereka hanya berdua.


Ia menghela nafas, sampai kapan kehidupannya itu akan berada di situasi yang tak menyenangkan ,seperti saat ini.


.


.


Sementara Bastian dan Jodhi terlihat asyik mengobrol, sepertinya mereka sangat cocok satu sama lain.


"Om tadi itu papanya Raka kan?" ucap Jodhi yang sibuk dengan game onlinenya.

__ADS_1


"Heem, kenapa?" tanya Bastian, yang juga terlihat sedang mengetik sebuah pesan.


"Mulutnya jahat banget om, apalagi ke Tante Dhira!" ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya.


"Hus, anak kecil ga boleh bicara begitu!" ucap Bastian menoleh sekilas, pada bocah yang masih tenggelam dalam dunia game.


"Tapi masih beruntung Raka om, ya walaupun begitu setidaknya masih bisa melihat papanya" Membuat Bastian menatap ke arah bocah di sampingnya itu.


Sejurus kemudian, Jodhi terlihat mematikan ponselnya. Mungkin sudah bosan.


"Dari pada aku, kalau kangen cuma bisa lihat foto. Makamnya pun gak ada!" ucapnya enteng.


Bastian mengernyitkan dahinya, ia tahu bila ayahnya Jodhi sudah tiada. Namun ia tak mengetahui hal sedetail ini.


"Maksudnya?" Bastian tak mengerti.


"Papa kecelakaan waktu naik pesawat, jasadnya gak ditemukan kata mama" lagi, ucapnya tanpa beban.


"Om" panggil Jodhi lagi.


"Ya!" jawab Bastian.


"Om mau gak jadi papaku?"


Seketika mata Bastian membulat.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2