The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 89. Niat Yang Urung


__ADS_3

Bab 89. Niat Yang Urung


.


.


.


" Hidup ini hanya kepingan, yang terasing di lautan. Memaksa kita memendam kepedihan!"


( Diambil dari lirik lagu Pas Band ~ Kesepian Kita)


.


.


Abimanyu


Ia bisa mendengar dengan jelas semua yang di ucapkan seorang pria bersuara berat itu. Sudah jelas, Dhira hanyalah korban dari pelampiasan ibunya, karena kekecewaannya di masa silam.


Abimanyu sejenak menatap Raka. " Raka, om pulang dulu. Jangan katakan kepada siapapun jika om kemari ya" Abimanyu tersenyum, seraya menepuk pipi Raka pelan.


Anggukan Raka adalah mewakili jawaban 'YA'. Sejurus kemudian ia meninggalkan Raka seorang diri di ruangan itu. Ia menuju dapur, tempat dimana dirinya meninggalkan Wisang.


"Ngapain lu senyam senyum?" ucap Abimanyu, melihat gelagat sahabatnya yang aneh.


"Bibir gue barusan kesengat tawon. Tawon betina, galak lagi. Kayak macam!" Wisang terkekeh.


"Mana?, coba lihat!" ucap Abimanyu ingin memeriksa bibir Wisang.


"Ga usah udah kempes kok!"


Abimanyu mengernyit heran," sebenarnya tawon apa macan? aneh banget si lu!"


"udah lah Wis, kita balik aja. Situasinya gak tepat buat adu mulut!" meski Abimanyu berharap bisa bertemu Dhira, meski keadaannya kacau. Tapi ia merasa, waktu saat ini tidaklah tepat.


Ia merasa Tuhan tengah membantunya mengurai benang kusut, ia lebih memilih meninggalkan ruko Dhira sebelum ada yang menyadari kehadirannya. Ia tak ingin Dhira di salahkan kembali nantinya.


"Belum juga aku tahu!" gerutu Wisang.


"Nanti aku ceritakan, sekarang ayo kita pulang!"


.

__ADS_1


.


"Ayah, tunggu dulu. Jadi ...." ucap Dhira kepada Pak Joko, ia sampai kehabisan perkataan. Ia memandang ke arah adiknya yang memegangi kepalanya seraya duduk. Bastian benar- benar mumet saat ini.


Pak Joko mengangguk, ia senang Dhira masih memanggilnya dengan sebutan menenangkan itu. " Kalau Raka malam itu tidak memperlihatkan foto Kamu yang tengah melangsungkan lamaran, Mungin sampai detik ini aku tidak akan pernah tahu Dhir" pak Joko melirik Bu Kartika, yang masih terisak.


"Aku tidak mau tahu, pernikahan Arya dengan Dhira akan tetap tergelar sesuai tanggal yang di tentukan." Bu Kartika seolah frustasi. Ia menangis, degan tubuh bergetar.


"Terserah!, tapi aku ingatkan sekali lagi. Jangan sampai kau membuat hidup anakmu sendiri, bagai di neraka!. Antara kita sudah berbeda jalan Tik, lepaskan Dhira. Biarkan dia memilih kebahagiaannya sendiri. Kalau kau mau sedikit saja menyadari, apa maksud Tuhan mempertemukan anak - anak kita, itu karena Tuhan ingin mendamaikan kita. Ingin membuat kita sebagai saudara. Tapi hatimu begitu buta, pikiranmu begitu picik. Nurani mu sudah mati!!" Pak Joko berucap dengan nafas tersengal.


"Cukup!! Joko !!"


"Cukup!" Bu Kartika menangis sejadi-jadinya, ia menutup telinganya agar tak mendengar ucapan pak Joko, yang berisikan kenyataan itu.


"Ayah, sudah yah. Ayo kita pergi dari sini!" Indra tak mau membuat masalah lebih dalam lagi. Ia cukup syok mendengar kenyataan, bila ayahnya pernah memiliki sepenggal kisah hidup, dengan mantan mertuanya itu.


Dhira yang merasa tubuhnya lelah, tak banyak bicara. Ia lebih memilih membawa ibunya masuk kedalam bersama Bastian. Meski hatinya diliputi kegundahan. Entahlah, ia tak bisa berfikir jernih. Terlalu banyak persolan yang menyelinap masuk ke dalam hidupnya.


Sementara saat Indra keluar bersama ayahnya, ia melihat Abimanyu yang baru masuk ke dalam mobilnya, yang terparkir di bahu jalan sebelah kiri ruko Dhira. Tapi ia tak mau ambil pusing, ia sudah merelakan mantan istrinya itu untuk menjemput masa depannya yang lebih baik.


.


.


" Dhira tinggal dulu buk, kepala Dhira juga pusing dari kemaren. Ibuk sama Bastian dulu, Dhira mau minum obat sakit kepala dulu!" pamit Dhira, ia merasa badannya meriang.


Ia menapaki anak tangga menuju kamarnya. Saat tiba diatas ia bertemu Sekar," Eh Bu tadi ada .." ucapan Sekar menggantung, saat melihat Raka rupanya berada di belakang Andhira. Bocah itu merapatkan giginya, seraya mendelik. Seolah mengisyaratkan kata " Stop! jangan bilang-bilang!"


Andhira mengernyit heran," ada apa Sekar?" Dhira makin penasaran.


"Oh itu, ada telur balado kalau mau sarapan lagi. Saya baru masak!" Sekar menghela nafasnya, ia awalnya mau memberitahu bila Abimanyu dan pria kurang ajar tadi datang ke Ruko bosnya itu. Namun melihat warning dari Raka, Sekar mengurungkan niatnya.


"Oh iya, saya lagi pusing. Kamu tata aja di meja makan, siapa tahu Utinya Raka mau makan habis ini!" jawab Dhira tersenyum, ia ingin segera merebahkan dirinya yang merasa lemah, letih, lesu.


Usai Dhira berlalu dari hadapannya, Sekar mengehela nafas lega. " Kenapa sih, aku hampir saja bilang ke ibu tadi!" Sekar mendatangi bocah remaja di depannya itu.


"Sssss!, mbak Sekar gak usah bilang kalau om Abimanyu sama temannya tadi kesini. Om Abi udah pesen gitu tadi ke aku. Ini rahasia!" ucap Raka berbisik ke telinga Sekar.


Sekar yang mendengar kata ' Rahasia' seketika merinding, ia teringat bibirnya yang ngeloyor terdampar tak sengaja di bibir pria dengan mata sipit tadi.


...šŸšŸšŸ...


"Lu tu gimana sih Bim, elu tadi maunya apa. Ngajak aku kesana, tapi tiba-tiba pulang šŸ˜’" Wisang tentu saja menggerutu. Ia belum mendengar apapun, bahkan percakapan di ruang depan tadi belum sempat ia sadap. Gara-gara keburu ada insiden ciuman nyasar.

__ADS_1


"Awalnya tadi aku mau bilang langsung ke ibunya Dhira, aku mau mencelikkan mata calon ibu mertuaku yang sepertinya kerasa kepala itu!"


"Tapi mendengar kenyataan bila mereka ada keruwetan tadi, aku jadi gak tega jik harus menambahi beban untuk Bu Kartika Wis!" jawab Abimanyu lesu.


"Memangnya kenapa?"


Abimanyu mengehela nafas, menceritakan semua yang ia dengan tadi. Bahkan bisa di pastikan, ceritanya itu komplit dan tak ada yang ketinggalan.


Wisang nampak agak terkejut, ia memasang wajah serius saat mendengar Abimanyu yang bercerita dengan raut tegang.


"Jadi Dhira cuman jadi alat pelampiasan ibunya aja?" Wisang menggelengkan kepalanya," Gue gak ngerti sama jalan pikiran ibunya Dhira Bim!"


"Dhira terjebak di permainan takdir, ia hanya ingin menjadi pribadi yang baik dengan tidak membangkang . Sedang Bu Kartika, merasa ada kepuasan tersendiri bila anaknya itu menurut kepadanya."


"Kau tahu sendiri, Dhira pernah membangkang saat bersama Indra dulu!" Abimanyu bernafas lesu.


Mereka berdua kini terdiam, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Abimanyu yang memikirkan bagaimana bila Bu Kartika tetap melanjutkan pernikahan Dhira, yang hanya menghitung hari. Sementara Wisang, mengapa justru terbayang akan wajah Sekar yang manis bahkan saat marah tadi.


"Gadis tadi siapa?" tanya Wisang.


Membuat Abimanyu menatapnya heran, sejak kapan sahabatnya itu tertarik dengan wanita yang tak sexy?


Visual Sekar. Gadis muda yang energik dan mandiri.



Ini Wisang, pria berusia sama dengan Abimanyu. Berwajah oriental dan belum pernah serius kepada wanita.



Buat kalian yang penasaran dengan Indra, penggambaran ada disini. Usianya hanya beda satu tahun dengan Abimanyu.



.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2