
Bab 98. Oma Beraksi
.
.
.
...ššš...
Menunggu ada kalanya terasa mengasyikkan
Banyak waktu kita miliki untuk berfikir
Sendiri seringkali sangat kita perlukan
meneropong masa silam yang telah terlewat
*
Mungkin ada apa yang kita cari
masih tersembunyi di lipatan waktu yang tertinggal
Mungkin ada apa yang kita kejar
justru tak terjamah saat kita melintas
*
Menunggu lebih terasa beban yang membosankan
Banyak waktu kita terbuang tergilas cuaca
Sendiri seringkali sangat menyakitkan
Meneropong masa depan dari sisi yang gelap
Mungkin ada apa yang kita takuti
justru t'lah menghadang di lembaran hari-hari nanti
Mungkin ada apa yang kita benci
justru t'lah menerkam menembusi seluruh jiwa kita
Mungkin ada apa yang kita takuti
justru t'lah menghadang di lembaran hari-hari nanti
Mungkin ada apa yang kita benci
justru t'lah menerkam menembusi s'luruh jiwa kita
*
Memang seharusnya kita tak membuang semangat masa silam
Bermain dalam dada
setelah usai mengantar kita tertatih-tatih sampai di sini
( Ebiet G Ade ~ Tatkala letih menunggu)
.
.
Adalah nyonya Regina, wanita berusia lanjut itu kini mengetahui bila Dhira berada di rumah sakit. Rania secara persuasif menceritakan persolan yang dialami oleh kakaknya, juga perihal janin yang di kandung Dhira namun gugur, bahkan saat embrio itu belum terbentuk sempurna.
"Kenapa kalian tidak memberitahuku sedari awal ?" Nyonya Regina dengan terbatuk-batuk berusaha bangkit dari tidur siangnya.
"Oma sakit, lagipula kami tidak ingin membuat keadaan Oma tambah runyam!" ucap Rania.
"Kalau sudah begini sama saja semua jadi runyam. Antar aku kerumah Kartika sekarang juga!" Kini Rania yang merasa menyesal karena menceritakan kejadian itu, kepada Oma.
Alih-alih ingin jujur dan membuat Oma mengerti bila ia tidak keluyuran seperti yang di sangkakan nyonya Regina kepadanya, Rania malah takut hal ini justru berdampak pada kesehatan Oma.
__ADS_1
Bagus bolak-balik melihat kaca kecil di depan jidatnya. Ia memperhatikan Nyonya Regina yang sepertinya marah besar. Rania juga terlihat tegang pagi itu. Kebetulan hari ini adalah hari Minggu. Hari kebebasan untuk kaum buruh kelas pakaian rapih seperti Bastian.
Bu Kartika mengurung dirinya semenjak dari RS kemaren, ia juga menyiksa lambungnya dengan tidak terlalu mau memasukan makanan ke dalam tubuhnya.. Menyiksa diri sendiri lebih tepatnya.
Tak terlalu susah bagi bagus untuk menemukan rumah Bu Kartika, sebab ia pernah kesana saat menjemput Dhira saat akan membuat lapis legit.
Jodhi tak berminat ikut kali ini, ia cukup pengertian rupanya. Menenggelamkan diri ke dunia game, lebih baik daripada harus ikut mendengarkan obrolan seputar dunia orang tua yang membosankan.
Ia dan Raka jelas berbeda.
"Oma, Oma jangan terlalu memaksakan kehendak ya!" Rania mengerucutkan bibirnya, ia khawatir betul bila neneknya itu malah akan terkena hipertensi lagi.
"Khawatirkan dirimu sendiri yang masih menjada sampai sekarang. Persoalan ini masih jauh untuk membawaku pulang ke haribaan." tukas nyonya Regina yang kesal, lantaran melihat Rania berkali-kali mewanti-wanti dirinya.
Ketegasan nyonya Regina lagi-lagi membuat Rania kalah telak. Entah apa yang akan di lakukan oleh Omanya itu.
Tok Tok Tok
Pintu terketuk dengan damai, Nyonya Regina berdiri dengan membawa tongkat penyangga langkahnya yang tertatih karena dimakan usia. Hebatnya, wanita tua itu bisa bersikap setenang itu.
Wanita berambut putih itu terlihat berwajah tegas namun elegan, berbeda dengan Rania yang berwajah murung karena takut. Ia menyesal telah menceritakan hal ini kepada Oma-nya.
Ceklek
Mata Bastian membulat sempurna, saat ia tahu siapa yang mengetuk pintu tersebut. Tetua keluarga Aryasatya tengah berdiri di ambang pintunya.
Bastian melongo beberapa detik.
"Apa kau akan terus membuat kakiku kebas karena membiarkanku terus berdiri disini?" ucap Nyonya Regina.
Bastian menelan ludahnya sebanyak dua kali, ia tercekat baik ucapan maupun tindakannya.".Maaf Nyonya, S-silahkan masuk!" ia sampai grogi dibuat.
Wanita tua itu masuk dan melewati Bastian yang masih ndomblong, sejurus kemudian adik dari Andhira itu menatap atasannya dengan kikuk. " Silahkan Bu, maaf rumahnya berantakan!" ucap Bastian merendahkan diri.
Rania tersenyum," Ibu ada?" bisik Rania.
"Oma mau ketemu!" bisik Rania lagi. Bastian yang bisa merasakan nafas hangat nan segar dari bibir Rania seketika merinding. Apalagi tubuh wanita itu sungguh wangi ia rasakan.
"Hey!, untuk apa bisik-bisik disana. Cepat buatkan aku minum. Aku haus!" Nyonya Regina mendamprat dua anak manusia yang tak sengaja berbicara lirih di depannya.
Nyonya Regina duduk di sofa ruang tamu Bastian. Rumah itu bersih dan nyaman meskipun sederhana. Mata wanita tua itu memandang beberapa foto yang tertempel di dinding rumah itu. Ada foto dua anak , yang ia yakini itu adalah foto Bastian dan Andhira sewaktu kecil.
Sementara Rania duduk dengan posisi harap-harap cemas. Cenderung tegang.
.
.
Bastian tak langsung membuatkan minuman untuk Nyonya Regina, ia lebih memilih untuk nekat masuk ke kamar ibunya.
"Buk!"
"Ibuk!" Bastian mengetuk pintu itu terus menerus.
"Buk!"
Dan saat ia tak tahan, ia menarik handel pintu itu dengan agak kencang. Bastian langsung njongor ke lantai, karena di waktu bersamaan Bu Kartika rupanya membuka pintu.
Brukkkk
Bastian meringis karena dengkulnya terbentuk lantai.
"Kamu ini kenapa Bas, pecicilan begitu?" Bu Kartika terperanjat saat putra bungsunya terjerembab ke lantai kamarnya.
"Ibu di panggil dari tadi ga jawab!" Bastian menggerutu, sambil berusaha berdiri kembali.
"Pintunya gak Ibu kunci, kenapa gak langsung masuk. Ada apa memangnya?" wajah Bu Kartika nampak sembab, matanya juga bengkak.
Bastian memprediksi jika ibunya itu baru saja menghabiskan stok air matanya di kamar . Lantaran sedari rumah sakit, ia tak pernah melihat ibunya diluar. Bahkan ia harus memakan aneka olahan masakan Nusantara, mulai dari rendang hingga soto dalam bentuk mi instan.
" Ada Nyonya Regina di depan!" ucap Bastian dengan mimik serius.
Seketika Bu Kartika terperanjat.
.
.
__ADS_1
Rania yang duduk di samping neneknya itu, berkali-kali melakukan gerakan yang mencerminkan jika dirinya gusar. Mulai dari memainkan ujung bajunya, hingga gerakan menjahit bumi dengan kakinya yang membuat Nyonya Regina terganggu dengan pemandangan itu.
"Ran!" nyonya Rania menatap tajam cucunya itu . Rania meringis.
Sementara Bu Kartika yang masih diam seribu bahasa dengan wajah layu itu, turut memandang atasan anaknya yang bertingkah aneh itu.
"Bu saya numpang ke kamar mandi ya!" ucap Rania. Ia ingin menetralkan dirinya barang sejenak dari ketegangan yang kemungkinan akan segera berlangsung.
Bu Kartika yang telah kehilangan semangat hidupnya itu, hanya tersenyum kecut seraya mengangguk. " Lurus saja kebelakang."
Usai Rania berlalu dari pandangan mereka berdua, Bu Kartika membetulkan letak duduknya. Ia sebenarnya tersanjung karena orang sekelas Nyonya Regina, sudi untuk datang kerumahnya.
"Ehem!" Nyonya Regina berdehem, karena ia merasa Bu Kartika sangat berbeda kali ini. Terlihat beban di sorot matanya, juga kantung mata wanita itu kini gelap.
"Aku tidak ingin basa - basi!" ucap nyonya Regina menatap lurus ke arah Bu Kartika. Dan ibu dari Bastian itu, juga menatap Nyonya Regina dengan tatapan muram.
"Tujuanku datang kesini adalah, aku ingin mendengar secara langsung dari bibirmu. Kenapa cucuku Abimanyu sampai mendapatkan penolakan darimu!"
Deg
Bu Kartika tubuhnya menegang, aliran darahnya mendadak seolah tersumbat. Ia pikir bukan itu yang akan dibicarakan oleh Nyonya Regina.
"A-apa maksud anda Nyonya?" jawab Bu Kartika tercekat.
"Maksudku adalah, apa yang membuat cucuku tidak pantas untuk bersama putrimu?"
Bu Kartika menelan salivanya dengan begitu susah. Abimanyu adalah pria sempurna, ia juga orang yang baik. Tapi terus terang, di relung hatinya ia hanya menganggap keakraban yang terjalin selama ini hanyalah karena keberuntungannya saja. Karena pertemanan Jodhi dan Raka.
Untuk itulah, saat ia bertemu degan Bu Hana yang menceritakan kisah kelam Arya, ia memilih Arya untuk dijodohkan dengan Andhra. Lagipula, Bu Hana adalah teman lamanya. Selain itu, ia merasa mereka sekasta.
"Kau lihat itu!" tunjuk Nyonya Regina ke arah foto dimana Andhira dan Bastia saling berpelukan di usia yang masih kanak-kanak.
"Aku yakin saat itu, yang ada di dalam hati dan pikiranmu adalah kebahagiaan dua bocah yang ada di dalam foto itu. Bocah yang kini sudah beranjak menjadi orang dewasa!"
"Lalu kenapa, saat mereka sudah dewasa justru kamu sendiri yang menciptakan benang kusut, untuk kebahagiaan anakmu!"
"Nyonya saya...."
"Aku belum berhenti bicara, jangan menyela saat orang tua bicara!" hardik Nyonya Regina. Membuat Bu Kartika menunda perkataannya.
"Apa yang kau khawatirkan dengan cucuku?, sampai dia menjadi tidak pantas menurutmu untuk bersama Andhira?"
"Aku melihat cinta di mata cucuku, aku melihat rona kebahagiaan saat dia menceritakan ibu dari teman sebangku Jodhi yang bernama Raka, aku melihat cucuku seperti hidup kembali saat kalian datang ke rumahku!"
"Apaa cucuku begitu buruk, sampai kau tidak mau untuk membuka hatimu?"
Air mata sudah membasahi wajah Bu Kartika, perkataan Nyonya Regina telak membuat batinnya porak poranda.
"Lihat!"Nyonya Regina menunjuk ke arah foto, dimana Bu Kartika dan mendiang suaminya bersanding. Foto itu terlihat jadul, terlihat dari warna dan pakaian model lama yang di kenakan saat berfoto.
Bu Kartika mendongak, seraya berusaha menahan laju air matanya. " Terlepas dari bagaimana kalian menikah dulu, ada atau tidak ada cinta tapi dengan adanya Andhira dan adiknya Andhira ke dunia ini, jelas menerangkan jika kamu mencintai suamimu!"
Bu Kartika memang awalnya menjadikan mendiang suaminya itu sebagai pelarian, karena Joko telah menolaknya dulu. Namun semua yang di ucapkan Nyonya Regina barusaja memang benar adanya, ia menjadi ragu jangan-jangan wanita di depannya itu adalah seorang peramal. Tebakannya benar. Ia mencintaiku mendiang suaminya hingga saat ini, membuatnya untuk tak menikah lagi hingga sekarang. Ia ingin bisa bersama suaminya kembali di nirwana kelak.
"Sama halnya dengan bayi yang berada di rahim Andhira. Itu salah bukti dari cinta mereka. Aku heran, kenapa ada ibu yang tega mempersulit hidup anaknya sendiri. Kemana perginya janji, sewaktu anak-anakmu masih berusia sama dengan di foto itu!" Nyonya Regina kini mengatur nafasnya.
"Bayi tak berdosa itu bahkan kini gugur, apa kau senang jika sudah seperti ini?"
Bu Kartika menangis sejadi-jadinya. Apakah dia salah jika ingin memenuhi kepuasan dirinya dengan ingin membuat Dhira menurut dengan dirinya. Ia sudah pernah kecewa karena penolakan Joko di masa lalu. Ia tidak ingin anak-anaknya menolak keinginannya pula. Hanya itu, lagipula ia merasa keluarga Abimanyu adalah orang terhormat. Sementara dirinya, hanya golongan orang menengah kebawah, yang berjuang di bawah gempuran roda hidup yang naik turun.
Namun ucapan Nyonya Regina barusan, seolah menampar egonya. Sedikit rasa penyesalan menelusup di relung hatinya.
"Dengan Kartika, kau dan aku adalah sama. Hanya seorang janda tua yang menunggu giliran untuk mati. Tak ada hal yang membuat kita bahagia selain melihat anak cucu kita juga bahagia. Apa lagi yang kita harapkan?"
Bu Kartika terlihat mengusap air matanya dengan hijab yang ia kenakan. Ia merasa dirinya bak di telan*jangi oleh wanita tua berambut putih rata di depannya itu.
"Aku dan keluargaku sangat mengharap Andhira juga kalian bisa menjadi bagian dari keluargaku!"
"Tapi Nyonya, kami hanyalah ..."
"Apa kau melihat keluargaku ini adalah keluarga pemilih?"
"Dengar Kartika, aku sudah pernah melakukan kesalahan dengan memperkenalkan Gwen kepada Abimanyu. Dan yang kudapat adalah kekecewaan, dan juga kesedihan. Dan kuharap, kau juga jangan mencobanya. Manusia memiliki takdir sendiri, baik atau buruk. Tapi jangan kamu turut berkontribusi dalam menjadikan nasib anakmu lebih buruk!"
.
.
__ADS_1
.
.