
Bab 106. Pria Lembeng
.
.
.
...ššš...
" Namun cintamu kasih terbit laksana bintang. Yang bersinar cerah menerangi jiwaku"
( Diambil dari lirik lagu D'cinamons ~Selamanya Cinta)
.
.
Dhira mendudukkan Sekar di sofa ruang tamu mini nya, sayup-sayup terdengar gelak tawa Abimanyu yang tengah bersama Wisang. Entah apa yang membuat dua manusia itu, tertawa hingga sebegitu serunya. Begitu pikir Dhira.
"Tangan kamu kenapa Kar?" Dhira khawatir, takut jikalau gadis itu terluka saat tengah menjalankan pekerjaan. Dan Dhira tak mau hal itu terjadi.
"Tadi kena pecahan beling Bu, waktu saya di ajak beli makan Tuan Wisang!" nampak raut yang biasa saja dari wajah Sekar.
"Kamu sudah makan?"
"Sudah sedikit tadi!" jawab Sekar bohong.
Dhira mencoba mencari jawaban dari sorot mata gadis di depannya itu," Beneran, gak karena pas kamu lagi melakukan pekerjaan kamu disini?" selidik Dhira.
"Benar Bu, saya menabrak orang waktu selesai ngambil makanan, jadi terjatuh!"
"Pas saya pungut belingnya, gak tuanya kena tangan saya!"
Sekar tak mau menceritakan persoalannya kepada Dhira. Ia malu, untung saja tadi ia sudah mewanti-wanti Wisang untuk tak menceritakan hal ini kepada orang lain.
Ia tak ingin masalah memalukan itu sampai ada yang tahu. Ia juga tak ingin di cap pencari kesempatan, serta memanfaatkan Dhira sebagai tempat berlindung dari kejaran Wisnu.
Tapi ia tak tahu, bila dua orang disana tengah bergosip. Dan salah satu materi gibah mereka adalah dirinya. Benar-benar tidak bisa dipercaya.
"Ya sudah kalau begitu, saya minta kamu kalau capek atau sedang tidak enak badan langsung bilang ke saya. Jangan di paksa. Anggap saya ini keluarga kamu. Saya seneng kamu mau nginep disini Kar, nyari karyawan yang mau kerja full kayak kamu susah.
Simbiosis mutualisme, itulah hubungan yang terjadi antara Dhira dan Sekar. Sekar merasa beruntung karena ia bisa mendapatkan pekerjaan yang sekaligus bisa menampung dirinya. Sementara Dhira, ia yang cukup kerepotan lantaran Dapur Isun kini makin dilirik peminta Kue itu merasa sangat terbantu akan kehadiran Sekar.
.
.
"Asyik banget!" Dhira berucap seraya duduk di meja makan. Abimanyu rupanya telah sibuk menata aneka makanan yang sudah ia beli tadi. Wisang kebetulan juga lapar, kegiatan makannya tadi terinterupsi oleh ulah Wisnu.
Bahkan ia baru menyuapkan sesendok makanan ke mulutnya.
"Ayo makan Sekar, meski kata kamu tadi kamu udah makan ,sekarang makan aja lagi gapapa!"
__ADS_1
"Makan rame-rame itu enak lo!" ucap Dhira seraya menyendokkan nasi ke piring Abimanyu.
Abimanyu tentu saja senang akan perlakuan manis dari Dhira, nampaknya ia harus segera menghalalkan wanita itu.
Namun mendengar Dhira berkata seperti itu, membuat Wisang belingsatan. Ia lupa kalau sudah di peringatkan Sekar untuk tak menceritakan hal itu kepada orang lain. Termasuk Andhira. Namun, agaknya ia bukan hanya menceritakan kepada Abimanyu soal Wisnu, namun ia lebih ke pembeberan perkara.
"Sekar belum makan lah Dhir, tadi dia kan.."
Kaki Abimanyu di tendang oleh Wisang, ia lupa untuk mewanti-wanti Abimanyu soal itu. Sekar mengernyit. Wisang memberikan peringatan agar Abimanyu menghentikan ucapannya.
"Loh, tadi kan katanya dari rumah makan!" sangkal Dhira.
"Gagal...mantan pacarnya, aduh apaan sih!" Abimanyu kesal karena Wisang sudah dua kali menendang tulang keringnya.
Dhira curiga, " Apa ada sesuatu yang aku gak tahu?"
Kedua pria itu saling tatap, Wisang mendelik seraya merapatkan giginya. Kesal tiada terkira. Maksud hati ingin memberikan clue agar Abimanyu menatapnya, pria itu malah nyerocos.
"Tangan Sekar terluka karena mereka tak sengaja bertemu mantan pacarnya tadi. Kakinya terinjak oleh pria itu, untung Wisang sudah menghadiahi mantan kamu bogem mentah Kar!" tukas Abimanyu bangga karena menjadi informan ulung untuk Dhira.
Dhira memasang wajah khawatirnya," Benar begitu?"
Wisang memijat keningnya, ia pasti akan mendapat masalah nanti. Dasar Abimanyu brengsek!.
Sementara Sekar melirik Wisang dengan sebal. Pria itu benar-benar tak bisa diajak kerjasama.
Sekar tak enak hati jika bosnya itu tahu masalah memalukan yang menimpa dirinya. lagipula, Dhira selama ini sudah terlalu baik. Ia tak mau bila Dhira tahu ia tengah memiliki persolan dengan orang lain, Sekar takut hal itu akan membuat dia dalam masalah.
"Maaf Bu, saya janji tidak akan membuat ruko ini dalam bahaya. Saya bukan bermaksud untuk berbohong. Tapi saya takut Bu Dhira menganggap saya memanfaatkan kebaikan ibu dengan menginap dan tinggal disini. Saya takut ibu menyuruh saya untuk angkat kaki dari sini. Karena jujur, saya memang menghindari Wisnu!"
Abimanyu dan Andhira menatap Sekar iba. Padahal mereka sama sekali tak memikirkan apa yang menjadi kecemasan Sekar. Terutama tentang hal tempat tinggal.
...ššš...
"Aku besok agak sibuk di kantor. Devan bilang, aku gak boleh mangkir lagi dari rapat internal direksi. Aku pingin ngajak kamu ketemu Oma lusa, sekalian kita bahas pernikahan!" Abimanyu dan Dhira kini tengah berada di lantai atas. Tepatnya di balkon kecil, yang terdapat dua pasang kursi sederhana.
"Iya gapapa. Aku gak nyangka mas, semua berbalik tanpa aku kira. Aku bahkan ngira, hari ini gak akan terjadi!" Dhira merasa takdir kadang mempermainkan dirinya begitu dalam.
Dia yang selama menjalin pernikahan dengan Indra ,hanya bisa mengalah dan berusaha memberikan terbaik meskipun yang ia terima tak lebih dari sekedar formalitas sebagai suami istri. Tak pernah merasa tersanjung seperti saat ini.
Namun ia merasa Abimanyu adalah pria yang berbeda, ia pria yang perhatian, lembut dan selalu berhasil membuat Dhira menjadi wanita yang berharga.
"Aku sayang sama kamu Dhir!"
"Sini!" Abimanyu menepuk pahanya.
Dhira berjalan dan mendudukkan bokongnya ke paha Abimanyu. Abimanyu memeluk tubuh Dhira dan menyenderkan wajahnya di lengan Dhira. " Jangan tinggalkan aku lagi Dhir, aku gak sanggup!"
Dhira merasa Abimanyu manja sekali jika begini, Dhira mengusap rambut pria itu pelan. " Aku suka potongan mas yang begini. Rapih!" ucap Dhira.
Abimanyu mendongak, menatap wajah Dhira yang makin hari makin manis saja." Sebentar lagi semua ini akan menjadi milikmu!"
Suasana mendadak senyap, mereka saling berpandangan tak jemu. Saling mengagumi satu sama lain. Dhira mengusap pipi Abimanyu, jauh di dalam hatinya ia merasa bahagia karena di pertemukan dengan seorang pria yang selalu melindungi dirinya, pria yang selalu membuat dia mengerti arti cinta yang sebenarnya. Bukan hanya menerima, tapi juga saling memberi, menyempurnakan.
__ADS_1
Dhira menangkup wajah Abimanyu, kedua tangannya membingkai wajah Abimanyu. Ia mencium pria yang beberapa hari ini membuat hatinya gelisah.
Bibir mereka menempel, Abimanyu tentu saja dengan senang hati menyambut suguhan hangat dari wanita yang begitu ia cintai itu. tangan Abimanyu kini mengusap lembut punggung Dhira.
Tubuh Dhira masih berada di pangkuan Abimanyu, pria itu meremas paha Dhira. Suara decakan ciuman mereka bahkan terdengar. Untung saja Wisang dan Sekar berada di lantai dasar.
Mereka saling melepaskan rindu dengan saling melu*mat, Abimanyu benar-benar menyukai Dhira yang kini lebih ekspresif.
.
.
Sekar berengut sedari mereka di tinggal berdua oleh Abimanyu dan Dhira. Sekar menyibukkan dirinya dengan menjahit daster yang biasa ia gunakan untuk tidur itu. Daster itu koyak di bagian lengannya, terlihat pudar dan mengendur.
Ya, ia tahu bila bos-nya dan calon suaminya itu pasti sedang membicarakan hal penting yang memerlukan privasi. Tentu saja mengenai pernikahan mereka.
"Kenapa kau diam saja!" Wisang mulai tak tahan dengan kebisuan Sekar. Ia tahu, wanita di depannya itu pasti marah karena mulut embernya.
"Aku tidak diam, aku tengah menjahit!" ketus Sekar.
"CK, kau marah kepadaku?" Wisang mendecak kesal.
"Gara-gara aku memberitahu Abimanyu?" Ia menatap wajah Sekar yang murung.
Suasana hening.
"Enggak, untuk apa aku marah!" sahut Sekar sambil menarik benang, setelah jarum itu tertusuk di sela kain itu.
" Oh ayolah jangan seperti anak kecil!" Wisang mulai tak sabar.
Mata Sekar memanas begitu ia dikatai seperti anak kecil. Andai Wisang tahu seberapa berat ia menjalani hidupnya seorang diri, seberapa berat ia menahan serangan verbal dari Wisnu, bahkan tak jarang ia mendapat kekerasan fisik. Belum lagi hasil jerih lelahnya yang sering di minta tanpa memikirkan lelahnya bekerja.
Apa Wisang masih bisa beranggapan bila dia adalah anak kecil yang cengeng?.
Ia bersedih akan hal itu, akan ucapan seorang pria yang tanpa tahu apa-apa langsung memvonisnya bak anak kecil yang bersikap kekanak-kanakan hanya karena dia lebih memilih untuk diam, dan menjaga jarak dari Wisang. Ia tak enak hati dengan pria itu, belum apa-apa sudah terlibat masalah dengan bagian hidupnya yang tak bisa di banggakan itu.
Kebungkamannya barusan adalah lebih ke tidak mau membahas hal memalukan itu tadi. Sudah cukup melibatkan orang lain yang tak tau apa-apa dengan urusannya yang pelik bersama Wisnu. Ia malu dengan keadaannya yang tidak jelas.
Ia tak mau dunia tahu siapa dia dengan segala kenestapaan yang menderanya selama ini. Cukup dia dan Tuhan yang tahu.
"Aku memang anak kecil!!" Sekar menatap wajah Wisang dengan air mata yang sudah berderai.
Wisang terlonjak kaget, wanita itu menangis rupanya.
"Tuan memang tidak usah lagi berbicara dengan anak kecil sepertiku!!" Sekar mengusap air mata di pipinya kasar . Sejurus kemudian, ia berlari menuju kamarnya yang berada di bawah tangga. Lebih tepatnya sebuah gudang yang di sulap menjadi kamar Sekar.
Brakkkk!!!
Wisang menelan ludahnya dengan susah, apa dia menyakiti wanita di depannya itu. Tapi bukankah ia hanya berkata seperti itu tadi. Di bagian mana kalimatnya yang salah?
.
.
__ADS_1
.