
Bab 57. Alasan Raka
.
.
.
...ššš...
Indra
Usai merasakan di khianati membuat Indra lebih pendiam, meski masih menjadi pengangguran berkantong tebal tapi ia tak panik. Ia menghabiskan harinya dengan sering minum di club' tempat Anggi bekerja. Tapi selama itu pula, ia tak melihat Anggi.
Sempat memiliki niat untuk datang kerumah Anggi, tapi itu dirasa aneh. Lantaran tak memiliki hubungan apapun, murni kenal karena sebuah keadaan yang tak sengaja membuat mereka sama-sama untuk kabur. Ya, Indra memang bukanlah pria baik-baik. Tapi dia juga bukan tipe orang yang mudah untuk melakukan kejahatan juga kepada orang yang tak dia kenal.
"Bengong aja Lo!" sapa Doni, teman Indra baru- baru ini. Bertemu saat mereka mabuk di tempat yang sama.
"Gue kangen anak!" sebuah kejujuran yang terlontar dari mulutnya, apa jika dia ingin memperbaiki diri masih belum terlambat pikirnya. Bukan untuk siapapun, hanya untuk Raka.
"Gue gak ngerti seburuk apa hubungan elo sama mantan bini Lo, tapi termasuk hal gak bener juga kalau dia ngehalangin niat Lo buat ketemu anak Lo itu!" sahut Doni.
Oh astaga, andai Doni tahu jurang pemisah yang Indra ciptakan itu seolah tak memiliki dasar untuk digapai. " Gue banyak salah sama anak gue!" Indra tersenyum getir. Semua adalah salahnya.
" Semua orang punya salah man!, gue tau elu emang brengsek. Tapi gue yakin, elu sekarang lagi terima ganjaran kan?" Doni tahu karena Indra sudah banyak bercerita. Tak peduli sehancur apapun hidupnya saat ini, ia hanya perlu teman untuk bercerita.
Ucapan Doni barusaja tak pelak membuatnya sadar, ia adalah manusia yang tak tahan uji. " sekarang gue bingung, rumah mantan mertua gue selalu tertutup buat gue, dan anak sama mantan gue itu udah gak di sana!"
"Cari tahu donk, itu anak Lo. Investasi masa depan, gue yakin belum terlambat kalau lu mau menyambung hubungan baik lagi sama anak Lo!.
.
.
Ucapan Doni agaknya mampu menghipnotis Indra untuk menjalankan mobilnya menuju sekolah Raka, ia kini tengah berada di ruang kepala sekolah dan meminta Bu Retno untuk memanggil putranya.
"Sebentar lagi jam pelajaran usai, kita tunggu sekalian ya pak!" tukas Bu Retno sopan.
"Baik Bu!" berubah itu memang susah, tapi akan jauh lebih susah lagi bila kita tak mau mencoba untuk berubah. Indra tak peduli apa reaksi putranya nanti, yang jelas kedatangannya ke sekolah siang ini adalah salah satu bagian ikhtiarnya.
Bocah itu masih duduk di kursi warna abu-abu yang berad di ruangan BP, sengaja memberikan ruang kosong itu agar memudahkan mereka untuk ngobrol.
"Anak papa apa kabar?" Indra membuka suara, memandang bocah yang tak menampilkan senyumnya itu.
Hening
Indra tahu, perbuatannya tempo hari jelas membuat anaknya mendiamkan dirinya. Jelas ada perbuatan ada konsekuensi. " Papa mau minta maaf sama Raka!" Indra memang lemah dalam soal membangun komunikasi, harus ia akui itu. Karena selama dia berumah tangga dengan Dhira ia hanya tau bekerja, jarang memberikan perhatian kecil.
"Papa mau sambang kerumah Mbah itu, kalau Raka gak banyak tugas besok papa jemput pas mau libur sekolah!"
" Aku gak ada waktu!" ketus Raka, bocah itu sebenarnya ingin dipeluk ayahnya. Apalagi akhir-akhir ini ia tahu bila mamanya tengah di dekati oleh Ayahnya Jodhi, dan ia menjadi makin tak suka tatkala ia tahu bila istri dari Abimanyu telah kembali. Ia tahu saat dirinya bersama Jodhi tak sengaja mendengar ucapan Endang dan Siti.
__ADS_1
Ia merasa kasihan dengan mamanya, apalagi perkataan seorang ibu-ibu yang melabrak Dhira tempo hari juga sampai ke telinganya. Hatinya sakit saat melihat ibunya itu direndahkan, tubuh kecilnya masih belum bisa melindungi mamanya dari cacian orang.
"Raka, papa tahu papa banyak salah sama Raka sama mama sama semua. Kasih papa kesempatan buat perbaiki diri !"
Mata Raka sudah memanas, pertahanannya hampir jebol. Selama ini ia butuh figur ayah ia butuh kehangatan sebuah keluarga. Ia menggigit bibirnya guna menahan segala rasa tak nyaman di hati.
"Kenapa harus menemui di sekolah?" Raka berucap seraya kesal.
"Papa gak tahu dimana kamu tinggal, mama kamu juga pasti gak ngijinin papa kalau datang kesana!"
"Itu pikiran papa kan!" ketusnya lagi.
Indra menghela nafas, sabar , sabar.
"Maaf jika papa gak tahu!"
"Papa emang gak pernah tahu apa-apa!" ucap Raka keras.
Mereka diam, sama sama diam. Percakapan anak dan papa itu agaknya tak menemui titik terang. Menenangkan anak banteng yang mengamuk memang susah.
"Papa antar kamu sekarang!" Indra mengusap puncak kepala Raka, ia harus memulai dari nol.
...ššš...
Perasaan sukanya kepada sosok Abimanyu tengah turun level, semenjak Raka memergoki Siti yang bergosip dengan Endang tentang kembalinya istri Hiatus Abimanyu, rasa kecewa itu kian mendominasi. Ini tidak benar, jelas tidak benar. Abimanyu rupanya seorang pria beristri, tapi kenapa dia mendekati ibunya.
Hatinya sudah sangat sakit tatkala mulut liar seorang ibu-ibu tempo hari mengata-ngatai mamanya dengan kata-kata kasar yang menyakitkan telinga. Ia seperti merasa tengah bergumul seorang diri dengan doanya.
"Mau makan dulu atau langsung pulang?" Indra mencoba tak membahas hal lain, ini murni hanya antara dirinya dan papanya itu.
" Ini kamu simpan, maaf selama ini papa jarang ngerti Raka. Papa akan perbaiki pelan-pelan!" Indra memberikan amplop kepada Raka.
"Gak usah pa!" tolak Raka.
"Kamu terima, gak usah bilang mama kalau kamu takut. Buat jajan kamu, biar mama gak keluarin uang lebih!" mendengar ucapan yang menguntungkan mamanya, Raka menurut.
"Terimakasih pa!"
Hati Indra menghangat, meski hanya dengan mendengar ucapan terimakasih.
Indra mengikuti arahan Raka, ia cukup takjub dengan bangunan dua lantai milik mantan istrinya itu yang kini tengah ditempati oleh Raka.
Indra menarik tuas handbreak lalu melepaskan sabuk pengaman yang ia kenakan, saat hendak turun ia melihat Dhira yang menyambut Raka dengan wajah terkejut.
"Aku jemput Raka, Sabtu sore kalau dia berubah pikiran mau aku aja ke rumah Bunda!" kali ini intonasi suara Indra normal, sorot matanya juga wajar. Mungkin Indra memang sudah ingin berubah.
Dhira mematung, tak menjawab apa yang terucap dari bibir mantan suaminya itu. " Raka papa pulang dulu, nanti telepon papa kalau Raka mau ikut!" Indra mengusap puncak kepala Raka.
Raka tak menjawab, diam mematung melihat mobil Indra yang terlihat bermanuver. " Raka, masuk dulu!" pinta Dhira.
Sejak tadi pagi Dhira belum sempat ngobrol dengan Shinta, lantaran saat kembali bersama Abimanyu kedai miliknya sudah ramai. Ia merasa tak enak hati kepada Shinta. Dan saat pelanggannya berangsur sepi ia malah melihat Indra yang datang bersama putranya.
__ADS_1
" Anak mama mau ma..."
"Aku capek ma, aku belum lapar!" Raka melengos melewati ibunya. Tentu saja Dhira terkejut, belum pernah putranya itu bersikap dingin seperti ini.
Shinta yang tau akan hal itu hanya menggelengkan kepalanya, seolah berucap aku juga tidak tahu .
Dhira menyusul putranya ke kamar, bocah itu terlihat sedang melepas seragamnya. Kemudian meraih kaos di dalam lemarinya, sejurus kemudian ia merebahkan dirinya ke kasur kamarnya.
Menutupi wajahnya dengan lengan kirinya , entah saat ini dia kecewa kepada siapa, ia hanya merasa tak memiliki arti.
"Raka?" ucap Dhira duduk di mulut kasur, di samping Raka berbaring.
"Kamu kenapa?"
Tak ada sahutan, hening.
"Papa tadi gak ngapa-ngapain kamu kan?"
Dhira was-was, tentu saja dia berfikir seperti itu lantaran selama ini perlakuan Indra terhadapnya memang tak ada yang bisa dikategorikan tindakan baik.
" Apa papa memarahi kamu lagi!"
"Atau ada hal yang mem..."
"Papa gak marahin aku, papa gak ngapa-ngapain aku!" ia menyahut tanpa membuka matanya.
Wanita itu menghela nafasnya, berusaha bersabar Dhira yakin, anaknya itu tengah marah. Tapi untuk sebabnya, ia berniat ingin menggali saat ini juga.
"Kalau begitu kenapa anak mama pulang sekolah kusut begini?, apa mama ada salah?
Inilah yang paling tidak bisa Raka hindari, sikap lembut mamanya yang selalu membuat dirinya merasa bersalah bahkan hanya untuk mendiamkan saja.
Ia bangkit, menatap mamanya muram.
"Aku gak mau lihat mama dihina orang lagi ma, aku gak mau mama dekat dengan om Abimanyu, aku gak mau nanti mama dikatai perebut suami orang!" Raka menitikan air mata, hati Dhira bak disayat ia tak mengira bila Raka akan sesensitif ini.
"Raka!" wajah Dhira sendu.
"Wanita yang semalam datang dirumah Oma Jodhi adalah istri Om Abimanyu kan ma!" Raka tak mau lagi melihat mamanya nanti tersandung masalah karena pria lagi.
Sebelum Gwen kembali', Raka tak suka tatkala Abimanyu mendekati Dhira karena Raka takut jika pria itu akan menyakiti mamanya seperti Indra, adalah suatu kewajaran bila dia takut, entah mengapa naluri ingin memberi perlindungan kepada mamanya tumbuh.
Padahal diawal perkenalan, Abimanyu adalah sosok superhero untuknya. Tapi seiring berjalannya waktu, ia hanya takut mamanya terluka kembali.
Dhira memejamkan matanya, keputusannya menolak Abimanyu adalah tepat. Selain hati terdalamnya berkata untuk tak maju karena kehadiran Gwen, nampaknya permintaan Raka ini tak bisa ia tepikan begitu saja.
.
.
.
__ADS_1
.
.