The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 149. Arrogant mother-in-law


__ADS_3

Bab 149. Arrogant mother-in-law


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


" Tirani kerap membuat jurang pemisah antar insan. Persoalannya hanya satu, harta!"


.


.


Andhira terpaksa meminta Yuni untuk pergi ke apotek saat itu juga, usai Richard berlalu. Ia sudah tak sabar ingin segera membuktikan ucapan dokter Richard. Jika yang di ucapkan Dokter kepercayaan keluarga Aryasatya itu nyata adanya, maka ia akan menjadi wanita paling beruntung di dunia ini.


Ia juga sudah meminta Yuni untuk tak mengatakan hal apapun, kepada suaminya. Dengan raut gembira, Yuni pergi untuk menunaikan tugas dari Dhira. Ia adalah salah satu orang yang merasa bahagia dengan semua ini.


" Mbak Yun, nanti kalau udah sampai panggil saya aja ya. Saya yang turun nanti!" ucap Dhira.


" Nggeh ( iya) Nyonya!" jawab Yuni sopan.


Usianya yang diujung usia produktif, rupanya masih bisa di percayai kembali oleh sang maha pencipta untuk di tinggali jabang bayi. Sejurus kemudian ia melesat menuju kamar bayi besar yang rewel.


" Masih mual?" tanya Dhira usai menutup pintu, kepada Abimanyu yang tengah sibuk menggulir ponselnya.


" Sudah enggak, kamu dari mana aja lama benget!" gerutu Abimanyu.


" Kan dokter Richard mau pulang mas, masa iya aku biarin aja?" sungut Dhira.


" Lain kali biarin aja, biasanya juga begitu!" sahut Abimanyu setengah cemburu.


Dhira menggeleng pasrah, " Mas sejak kapan sih begini?" tanya Dhira.


" Gak tahu, baru beberapa hari ini kayaknya. Kenapa?" Abimanyu meletakkan ponsel, di nakas samping ranjang mereka. Sejurus kemudian ia merentangkan tangannya, meminta Dhira untuk masuk kedalam dekapannya


" Ya enggak, dokter bilang mas gapapa. Tapi...."


" Aku gak bohong Lo Dhir, kamu ngira aku drama ya?. Aku beneran mual loh, apalagi kalau Deket si Devan. Asli tu anak kayaknya jarang mandi sekarang deh!" wajah Abimanyu kusut, se kusut bajunya yang turut terkena imbas drama mual pagi ini.


" Mas sarapan yuk, aku temenin. Habis itu minum obat!"


" Cium dulu sini, aku belum kamu cium!" Abimanyu manja tiada tara.


Alhasil, decakan pagutan bibir mereka menyuara di dalam kamar itu. Ciuman yang seolah menjadi candu satu sama lain.


Surga dunia bukan hanya soal urusan ranjang. Tapi perhatian, kelembutan, dan kasih sayang Dhira agaknya membuat Abimanyu merasa bak di surga. Cihaaaaaa!


...šŸšŸšŸ...


Hari terus berganti, dan tak bisa untuk di hindari. Dinginnya malam, berganti menjadi pagi yang penuh semangat. Meski semangat itu, tak menghinggapi insan yang satu ini.


Adalah Wisang, ia masih enggan untuk masuk ke kantor. Pengantin baru gitu loh, masa iya harus melewati hari indahnya dengan setumpuk berkas di kantor. Ya, meski malam pertamanya harus diundur hingga batas waktu, yang belum bisa di tentukan.


" Mas, kita pulang kemana?" Sekar pagi itu sudah mandi dan cantik, keharumannya menyeruak memenuhi seluruh kamar hotel itu. Hotel yang menjadi saksi penderitaan seorang Wisanggeni.


" Sini!" Wisang yang baru saja mengganti bajunya itu, duduk di sofa kamar eksklusifnya itu. Meski belum bisa menghanyutkan diri ke aliran kenikmatan bersama Sekar, tapi ia boleh dong bermesraan dengan cara lain.


Sekar mendekat, ia duduk di pangkuan suaminya.


" Kamu mau tinggal dimana memangnya, mau balik ke apartemen atau mau beli rumah kayak Dhira, hm?" tanya Wisang langsung memeluk erat istrinya itu.

__ADS_1


" Beli?"


" Rumah?"


Sekar dengan dahi mengkerut menatap suaminya, mengatakan beli rumah seperti hendak beli kue bakiak saja.


" Iya, aku gak mau kamu kerja lagi. Kamu setelah ini hanya boleh sibuk karena urusanku!" Wisang menciumi tangan Sekar.


Sekar tertegun, tak pernah dalam sanubarinya terselinap pikiran untuk mendapatkan semua ini. Ia hanya gadis kampung, yang terdampar putaran roda nasib busuk di kota. Namun rupanya, nasib orang tiada yang bisa menerka.


" Kita habis menikah mas, sebaiknya sowan ( berkunjung) ke tempat mama mas Wisang dulu!" Sekar menatap wajah suaminya.


Wisang sedikit terkejut sebenarnya, ia tak mengira bila istrinya masih mengingat mamanya. Wanita yang terang-terangan menolaknya.


Wisang tak menjawab, masih larut dalam pikirannya yang salut akan kepribadian baik dari istrinya itu.


" Aku tau mama mas Wisang gak suka sama aku mas, tapi gimanapun juga beliau sekarang sudah menjadi orangtuaku juga. Aku belum mau kemana-mana dulu, sebelum ketemu sama mama mas Wisang!" ucap Sekar mantap.


" Mas juga harus sowan ke mamanya mas. Kita sebagai anak gak akan bisa mas mendahului orang tua kita, sesalah-salahnya orang tua, kita sebagai anak gak akan pernah berada di atas mereka. Sampai kapanpun, kita tetap dibawah mereka !" untuk kali pertamanya, Sekar berucap panjang lebar.


Wisang tak menyangka pikiran istrinya berbudi luhur seperti ini, wanita sederhana yang malah lebih dewasa dari usianya. Secara pikir waskita pastinya.


" Kamu kok beda gini habis aku nikahin, hm?" Wisang terpukau dengan ucapan Sekar yang menurutnya luar biasa itu.


" Ya sudah, kita check out sekarang juga!" jawab Wisang, sejurus kemudian ia melahap bibir istrinya. Lipthin rasa Cherry yang di poleskan Sekar ke bibirnya itu ,malah membuat Wisang serasa menjilat permen.


.


.


Kediaman Wikarna pukul 07 pagi


Wisang menggeret koper mini berisikan beberapa keperluan pribadi milik Sekar. Ya, wanita itu belum terbiasa dengan kesimple an keluarga kaya, yang jarang meributkan masalah seperti itu. Karena bagi mereka, uang selalu bisa memangkas birokrasi rumit yang melelahkan.


" Pa...aku pulang!" ucap Wisang dengan nada riang gembira, persis seperti Ā© Nobita saat pulang dari sekolah.


Dua orang tua Wisang rupanya tengah berada di ruang keluarga pagi itu. Tuan Wikarna tengah membaca koran, sementara Nyonya Lisa terlihat tengah menelpon seseorang.


.


.


Tuan Wikarna


Tuan Wikarna yang mendengar suara putranya berada di sana, membuat bentangan koran itu, segera ia lipat. Keterburu- buruan tuan Wikarna membuat lipatan koran itu, menjadi asimetris.


Tuna Wikarna beringsut dengan cepat, guna menyongsong kedatangan putra dan menantunya pagi itu. Sementara nyonya Lisa hanya menatap suaminya sambil masih terlibat obrolan dengan seseorang di sambungan teleponnya.


" Wisang...Sekar!!" tuang Wikarna memeluk putranya layaknya baru bertemu dari kepergiannya yang jauh. Padahal kemarin ia juga menyaksikan acara sakral anaknya itu.


Sejurus kemudian, ia meraih tubuh Sekar dan memeluknya. Sekar yang kaget awalnya hanya mematung, namun beberapa detik kemudian ia juga memeluk erat tubuh pria tua itu. Pelukan seroang ayah yang menenangkan sekaligus menentramkan.


Membuat cairan bening itu, meluncur dari kedua netra Sekar.


Sekar terharu, entah sudah berapa lama dia tidak mendapatkan pelukan seperti itu, dari seroang pria bernama ' Ayah'.


" Papa kira kamu masih lama pulangnya, kenapa tidak bilang. Kami bisa melakukan persiapan buat menyambut kalian!" tuan Wikarna yang baru saja melepaskan pelukannya, kini memegangi kedua pundak Sekar. Menatapnya dengan senyum tulus,. Membuat menantunya itu, haru dalam senang.


" Harusnya begitu pa, tapi...." Wisang melirik Sekar yang tampaknya masih sibuk menyusut ekor matanya karena air mata haru.


" Ya sudah, ayo bawa istri kamu masuk. Kita sarapan bersama- sama setelah ini!"


.

__ADS_1


.


Nyonya Lisa


Ia masih menelpon Mira. Sepertinya mereka masih berhubungan baik, dan hendak janjian akan belanja bersama.


Dari sayup-sayup sebelah telinganya, ia mendengar suara putra bungsunya. Ia sebenarnya juga kaget, mengapa sepagi ini pengantin baru seperti mereka malah pulang.


Dari seberang telepon, ia memberitahu Mira jika Wisang pulang. Dia hanya melihat suaminya yang sepertinya terburu-buru melipat koran berita pagi itu. Ia mengiringi kepergian suaminya, dengan tatapan.


" Ya sudah, kamu kesini aja langsung. Tante tunggu ya!"


" Ya oke, byeee!"


Nyonya Lisa memutuskan sambungan teleponnya. Sejurus kemudian, ia menuju kamarnya. Mana sudi dia menyambut wanita miskin yang dengan tidak tahu malunya nekat menikah dengan putranya meski dirinya tak merestui. Begitu pikirnya.


Ia melenggang masuk dan hendak siap-siap untuk pergi degan Mira. Wanita berkelas yang ia puja sebagai menantu ideal.


.


.


" Mama mau kemana?" tanya Tuan Wikarna yang melihat istirnya sudah berganti pakaian.


Wisang dan Sekar yang duduk di sofa ruang tengah itu, hanya diam. Mereka masih setia menyaksikan dialog kedua orangtuanya.


" Mau pergi sama Mira!" tukas nyonya Regina seraya memasang jam tangan dengan aksen berlian yang berkilau. Terlihat mahal dan eksklusif.


" Mama !!! Wisang baru aja nikah, dan sekarang datang bukannya di sambut malah mau di tinggal pergi, mama ini gimana sih?" protes Wisang yang merasa istrinya di acuhkan oleh mamanya.


" Nikah?"


" Sampai kapanpun mama gak pernah mau anggap dia menantu mama!!" Nyonya Lisa meradang pagi itu.


Tuan Wikarna memejamkan matanya, sementara Wisang mengeraskan rahangnya. Sekar yang duduk tiba-tiba berdiri.


" Selamat pagi Ma!" Sekar hendak meraih tangan mertuanya, namun hanya di sambut oleh lirikan tajam.


Membuat istri Wisang itu hanya mengulum senyum. Ia harus sabar, setidaknya ia sudah beritikad baik dengan menyapanya terlebih dahulu, meski sambutan yang ia dapat malah membuat dirinya malu.


" Ma!!" bentak tuan Wikarna yang merasa istirnya kekanakan karena membiarkan tangan menantunya menganggur menunggu uluran tangan istrinya itu.


" Jangan pernah hadapkan mama dengan dia!" Tunjuk Nyonya Lisa kepada Sekar yang baru saja menarik uluran tangannya kembali.


" Kalian berdua sama aja, anak sama papa gak ada yang mau ngerti sama mama!!" Nyonya Lisa melenggang pergi tanpa mempedulikan mereka bertiga.


Membuat Wisang melemparkan tubuhnya ke sandaran sofa, kemudian mengusap wajahnya frustasi.


.


.


.


.


.


.


.


Keterangan :

__ADS_1


Ā© Nobita : Tokoh dalam serial kartun Jepang Doraemon


__ADS_2