The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 260. Fire of love


__ADS_3

Bab 260. Fire of love


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


" Kemarilah, cintaku terlalu besar untuk disimpan sendiri. Datanglah, kasih sayangku terlalu banyak untuk akan rasakan sendiri!"


.


.


Andhira


Ia berniat mencari suaminya lantaran ia ingin memberitahu bila Nanang ingin izin cuti. Ada sesuatu yang membuatnya harus pulang Kampung.


Namun, saat ia mendengar dua pria lintas usia itu ngobrol, Dhira mengurungkan niatnya. Hatinya mengharu biru kala Indra pendengarannya menyaring suara penuh keseriusan dari suaminya.


"Papa sebenarnya masih berharap agar bisa memberikan kamu adik lagi. Tapi, mengingat usia mama kamu dan cara lahir Kalyna yang membuat papa gak tega, jadi membuat papa berpikir"


Ia tahu benar akan ucapan Abimanyu mengenai hal itu. Usianya memang tergolong beresiko untuk hamil kembali. Tapi bukannya minder, ia justru merasa sangat bersyukur dengan kebesaran hati Abimanyu.


Sosok suami yang teramat berharga sudah Tuhan persandingkan dengan dirinya. Putra putri yang sehat menjadi harapan Dhira untuk aset hari tuanya.


Sungguh, Dhira bahkan mendapatkan lebih dari yang dia doakan. Kebahagiaan, kecukupan, semua lebih dari yang ia pinta kelas sang khalik, lewat untaian doanya.


Sejurus kemudian ia memilih pergi dan membiarkan suaminya melanjutkan obrolan mereka.


.


.


Dikamar.


Saat pintu kamar itu mengayun, Dhira terlihat menata kembali pakaian mungil Kalyna kedalam lemari khusus yang steril untuk bayinya.


" Belum tidur sayang, hm?" ucap Abimanyu sembari menutup pintu.


" Belum, Kalyna habis nyusu!" jawabnya seraya menutup pintu lemari pakaian putrinya.


" Tadi Nanang minta izin , lusa mau pulang kampung. Kalau boleh tiga hari!" Ucap Dhira sembari membuka lemarinya dan mengambilkan kaos tidur untuk suaminya


" Lusa ya?" sahutnya berpikir sambil meraih baju yang di berikan istrinya.


Dhira mengangguk " Emm, kasih izin aja mas. Mungkin ada hal penting. Nanti Raka biar bareng mas aja dulu tiga hari. Soalnya udah mau ujian!"


Dhira menutup kelambu di atas baby box Kalyna. Ia tersenyum menatap bayi yang berangsur-angsur menampakkan kenaikan berat badannya itu.


" Sekarang dia dimana?"


" Tadi aku suruh tunggu, tapi udah aku suruh dia istirahat aja solanya mas tadi...!"


Abimanyu yang kini sudah bertelanjang dada lantaran mengganti bajunya menatap istrinya " Jadi mama Raka udah tahu kalau aku lagi..." Kini Abimanyu mengenakan kaos longgar sebagai baju kebesaran untuk melesat ke dunia mimpi.


" Terimakasih!" ucap Dhira dari ranjang menatap suaminya penuh cinta.


Abimanyu sudah tahu maksud ungkapan Dhira itu. Ia kini menyusul istrinya dan merebahkan diri di samping istrinya.


" Aku udah bicara sama Raka!"


" Aku tahu!"


Hening.

__ADS_1


" Semoga Indra...!"


" Raka pasti bisa berbuat adil mas. Dan untuk anak..."


" Ssst, aku memiliki Kalyna sudah terlampau bahagia. Terlebih memiliki kamu!" Abimanyu merengkuh istrinya kedalam dekapannya.


" Mau punya berapapun, tugas kita hanya mengantarkan mereka untuk siap memecah kehidupan sayang. Ujung dari kesemuanya kita pasti akan berdua lagi setelah anak- anak menemukan belahan jiwa mereka. Jadi kamu jangan merasa bersalah atau apapun!"


Mata Dhira kembali berkaca-kaca. Suaminya itu selalu berhasil membuatnya bersyukur berkali-kali.


" Aku mencintai kamu lebih dari yang kamu tahu Dhir. Jangan pernah sedikitpun meragukan perasaanku!" Abimanyu mengecup lama puncak kepala istrinya.


Kasih sayang, cinta, perhatian selalu tiada terhenti ia curahkan kepada istrinya itu.


...šŸšŸšŸ...


Shinta kini telah selesai membersihkan tubuhnya. Terasa begitu segar. Ia menggulir ponselnya dan melihat jam. Sudah pukul delapan lebih seperempat malam tapi ia merasa sudah terlalu malam. Apa karena ia sibuk sedari pagi?


Sempat berpikir Apa itu artinya dia mandi juga sangat lama?


Dimanakah suaminya berada. Kenapa kamar pengantin itu kosong melompong. Mungkin Danan keluar pikirnya.


Merasa tidak ada orang Shinta melepas handuk kimono putih yang ia kenakan. Berniat untuk mengganti baju. Kini, Shinta hanya terlihat mengenakan CD dan penyangga dada. Namun tak di nyana, lampu kamar tiba-tiba padam dan hanya menyisakan lampu duduk yang kini memancarkan cahaya temaram yang eksotis.


Shinta kebingungan, dan saat hendak memungut handuknya ia di kejutkan dengan tangan kekar pria yang melingkar di perutnya.


" Mas Dan...!" Shinta terperanjat dengan kemunculan suaminya yang tiba-tiba.


Danan meraup bibir istrinya dengan serakah, usai ia berhasil membalikkan tubuhnya istrinya ke hadapannya. Pria itu rupanya membersihkan dirinya di tempat lain. Hotel itu milik keluarganya, jelas bukan hal rumit untuk sekedar mencari tempat mandi.


Shinta yang mendapat serangan mendadak tentu tak bisa mengimbangi Danan. Wanita itu berciuman dengan pakaian yang mirip seperti orang yang akan berjemur di pantai.


Danan melepaskan ciumannya dengan menatap wajah istri sendu " Apa aku boleh meminta hakku sekarang?" ucap Danan dari posisi yang tak berjarak. Membuat Shinta merinding.


Ya, mereka adalah dua insan dewasa yang jelas tahu menahu soal urusan itu. Tangan Danan piknik dari punggung istrinya hingga meremas bo*kong kenyal itu sembari menatap lekat Shinta.


" I want it right now baby!" bisiknya dengan suara yang kian parau.


" Bolehkan?" bisik Danan di telinga Shinta seraya menggigit kecil cuping telinga istrinya.


Danan membingkai wajah Shinta yang sebenarnya sudah sangat merah karena sulutan gelora.


Shinta mengangguk, jelas pria itu tak akan menunda untuk hal penting satu itu. Shinta adalah milik Danan lahir batin, ia sudah siap meski sebenarnya ia cukup lelah.


Merasa mendapat lampu hijau, Danan langsung merengkuh dan membopong tubuh Shinta. Meletakkannya di tepi ranjang. Dari sorot lampu yang sama, Shinta bisa melihat suaminya kini melepas kaos yang ia kenakan dengan sekali tarikan. Membuat Shinta meneguk ludahnya dengan sesak.


Otot lengan yang kentara, bahu kokoh yang tegap serta cetakan otot perut yang timbul itu semakin membuat Shinta keranjingan.


Danan benar-benar akan memakannya.


Danan merayap diatas tubuh Shinta, mengungkung tubuh wanita itu sembari terus menatap. Ditatapnya dua gundukan yang sudah lama membuatnya resah itu. Istrinya masih cantik meski tanpa balutan make up bold favoritnya itu.


Danan menciumi leher istrinya, memberikan sapuan lidah yang membuat Shinta merinding. Laju darahnya kian berdesir, semakin menuntut.


Pria itu terlihat menghujani dada Shinta yang masih mengenakan penutup itu dengan ciuman yang tiada henti. Seolah menandakan bila itu adalah miliknya.


" Eughhh!" lenguhan yang terdengar seoalah menjadi pemandu sorak buat Danan.


Dana terus menciumi dan bergerilya hingga ke bagian perut istrinya. Sampai akhirnya ia menemukan hutan belantara yang telah lama ingin ia lihat. Ia melepas penutup hutan itu dengan pelan dan terarah. Ia menciumi bagian itu dengan tanpa ragu, membuat Shinta tersentak.


Namun Danan terus melakukan hal itu lebih dalam lagi, ia membuka satu foot istrinya. Kini ia bisa melihat dengan jelas benda yang selama ini mengusik pikirannya. Tanpa ragu, Danan menyapukan lidahnya pada benda pengusik pikirannya itu degan rakus. Dia adalah pemain kelas kakap, dan tentu saja melakukan hal seperti itu sudah diluar kepala Danan.


Beringas dan kawakan.


Shinta merasa tubuhnya melayang saat ia merasa sesuatu yang licin menyusuri bagian dirinya yang sensitif itu. Membuatnya mengge* linjang.


Kegiatan itu berlangsung sangat lama. Membuat Shinta merasa tak bertulang dan terbang ke langit ketujuh di saat bersamaan.

__ADS_1


Danan melahap bagian itu dengan tiada henti, sampai akhirnya.


" Ma-aaas!" Shinta merasa sesuatu keluar dari dalam dirinya. Begitu banyak dan ia tak bisa mengehentikan laju air puncak itu.


Danan tersenyum smirk. Merasa menang atas tuduhan brengsek Wisang tadi. Ia adalah ahlinya ahli, sudah wajib baginya untuk mengantarkan istrinya untuk sampai terlebih dahulu.


Dan saat Danan hendak mencium bibir istrinya yang terlihat masih mengatur napas itu, Shinta menutup mulut suaminya dengan jarinya. Membuat Danan ganti tersentak.


Rupanya Shinta menggiring Danan membalikkan tubuhnya. Shinta ingin mengambil alih kegiatan itu lantaran ia melihat bekas operasi kecil dari peluru yang sempat nyasar di lengan kiri Danan. Danan tersenyum penuh arti melihat istrinya yang atraktif.


Kini, Shinta duduk diatas benda penting suaminya yang masih terbungkus celana joger panjang. Namun, bisa Shinta rasakan jika mahkluk mungil itu kini mendadak berubah ukuran. Besar dan terlihat mengganjal her ***.


Shinta merunduk dan mencium bibir Danan, membuat pria itu mende*sah. Dengan gerakan cepat Danan melepas pengait benda penyangga dada istrinya. Kini, dua benda bulat itu bisa ia sentuh. Terasa melegakan. Membuat percikan api cinta itu kian membara.


Shinta melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan oleh suaminya tadi, puas dengan area leher Shinta menciumi otot kekar suaminya hingga menuju ke enam cetakan otot perut.


Terasa menggairahkan.


Shinta bahkan melucuti pakaian bawah Danan dengan santainya. Jelas mereka berdua telah terbakar oleh api asmara yang selama ini tertahan. Gila dan dahsyat.


Shinta sempat tertegun demi melihat ukuran aset berharga itu. Namun, sulutan hasrat mengalahkan logika yang ada.


Danan memejamkan matanya saat ia melihat benda penting miliknya berada dalam cakupan bibir Shinta. Ini gila, benar-benar gila. Tak mengira jika istrinya juga lihai dalam urusan begituan.


Shinta terlalu baik menservis Danan. Danan memejamkan matanya. Entahlah, rasa gila itu benar-benar tak bisa di definisikan. Ini terlalu menyenangkan.


Shinta terus melakukan hal itu bahkan saat kebas dan pegal sudah menyerang bibirnya. Benar-benar lama dan tak terkendali.


" Argghhhh!" Danan menekan rambut istrinya saat ia merasa benda pentingnya telah mengeluarkan sesuatu.


Kini, mulut Shinta penuh dengan Fla.


" Maaf!" ucap Danan yang buru-buru menyambar tissue. Mereka telah berada di ambang kegilaan. Shinta tersenyum sembari mengusap bibirnya, ia berhasil mengimbangi permainan mantan Cassanova kelas kakap itu.


" Huft astaga!" Danan benar-benar tak mengira jika istrinya itu benar-benar luar biasa. Merasa adiknya belum tertidur, Danan kembali menggulingkan istrinya ke matras pegas itu.


Shinta tersenyum menatap suaminya yang sepertinya tak memiliki rasa lelah jika sudah menyangkut urusan itu. " Jangan di buang, ini harus bis masuk ke ladangmu sayang!" bisik Danan yang membuat tubuh Shinta meremang.


Bibir itu kembali menyatu, lidah mereka juga saling berbelit. Danan kini memulai kembali peperangan yang sesungguhnya.


Kuncup dada istrinya yang kerap membuatnya resah itu, kini ia lahap dengan rakus. Kini, keduanya benar-benar terbakar gelora cinta yang membuncah. Menuntut dan membuat keduanya menggila.


Danan meraba bagian bawah istrinya. Merasa telah lembab dan siap untuk di masuki, kini pria itu mengarahkan aset berharganya dan siap menembus batas kegilaan yang pernah ada.


Shinta memejamkan matanya saat sesuatu yang menyesakkan telah memasuki dirinya. Oh astaga, rasa yang Tuhan berikan itu benar-benar tiada terkira dan tiada terukur nikmatnya.


Dalam tempo cepat, Danan menghentak seraya terus menyambar kuncup dada itu degan tiada jemu.


Peluh kian gencar terproduksi. Decitan dipan mewah itu seolah menjadi penegas kekuatan seorang Dananjaya.


Danan benar-benar menguasai atma wanita itu. Ini terlampau nikmat untuk ditahan. Danan kini menatap wajah istrinya di sela-sela hentakan yang ia lakukan dengan cepatnya.


Ia melihat wajah sendu istrinya yang menyiratkan kobaran api cinta. Kening yang mengandung buliran keringat itu kian membuat suasana semakin gila.


" Mas aku!"


" Sebentar lagi, kali ini kita akan sama-sama!" jawab Danan yang kian berusaha keras mengayun dalam tempo cepat.


Hingga akhirnya.


" Argghhhh!" Keduanya saling memeluk. Danan mengantarkan benihnya untuk bermigrasi menuju ladang istrinya. Dengan setangkup harapan, kecebong dalam ukuran mikro itu akan mampu menembus dan mau bersemayam menjadi jabang bayi yang telah lama Shinta rindukan kehadirannya di muka bumi ini.


Dengan peluh yang membuat keduanya licin, mereka saling memeluk. Berharap Tuhan memberikan mukjizatnya, kepada wanita yang Danan cintai itu.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2