The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 179. Lintas Perasaan


__ADS_3

Bab 179. Lintas Perasaan


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


" Mengapa terjadi, kepada dirimu. Aku tak percaya kau telah tiada....


Haruskah ku pergi, tinggalkan dunia, agar aku dapat berjumpa denganmu..."


( Diambil dari lirik lagu Peterpan feat. Chrisye ~ Kisah Cintaku)


.


.


Dikamar yang luas seorang wanita terlihat baru saja membersihkan dirinya, kini ia menatap pantulan dirinya di cermin. Dhira mendadak menjadi insecure atas kejadian yang menimpa sahabatnya itu.


Kini sahabatnya itu turut menyandang status seperti dirinya dulu. Menjadi seorang janda. Tapi entah mengapa, hati Dhira turut merasakan nyeri. Ia bahkan tak sanggup bila semua itu menimpa dirinya, apalagi ia yang juga begitu mencintai Abimanyu.


" Hey... what's wrong?" Abimanyu yang baru masuk ke dalam kamarnya usai membuatkan susu kehamilan untuk istrinya itu, mendekati istrinya dengan membawa serta segelas minuman berwarna putih itu.


Abimanyu meletakkan susu itu di nakas ranjang mereka, sejurus kemudian ia menghampiri lalu memeluk istrinya yang terduduk di depan meja rias dari arah belakang.


" Kamu kenapa sayang...hm? Abimanyu memeluk erat istrinya yang kedapatan menitikkan air mata.


" Aku gak nyangka kalau mas Rangga pergi secepat ini mas!" Dhira menyusut air matanya seraya menarik cairan yang memenuhi rongga hidungnya, meraih tissue di depannya lalu menyusut hidungnya pelan.


" Sini ...!"Abimanyu menggiring istrinya untuk duduk di ranjang. Pria itu terlihat memeluk istrinya dari arah belakang sambil membisikkan kata-kata penguat.


"Kita semua harus ikhlaskan, aku juga masih gak percaya jika akan secepat ini. Aku bahkan belum mengenal dekat suami dari sahabat kamu itu. Tapi semua yang ada di dunia ini juga pasti bakal kembali kan. Cuma kita gak tahu tiba masanya kapan. Aku...kamu...semua....!"


Dhira masih tekun dengan tissue dan kegiatan menyeka air matanya yang tak mau berhenti keluar.


" Aku gak kuat pas lihat Shinta kayak gitu mas....gak tega!" Dhira sejenak membiarkan tissue di matanya menempel dalam diam. Ia membiarkan buncahan kesedihan yang turut ia rasakan keluar dengan sesukanya.


Tubuh wanita itu bergetar.

__ADS_1


Abimanyu yang memahami perasaan istrinya, terus menciumi punggung bergetar Dhira yang terus berguncang karena tangis.


" Aku gak sanggup kalau itu terjadi sama aku mas....!" ucapnya sembari menyusut hidung yang kian terasa lembab.


" Ssstttt....kita tidak tahu apa yang akan terjadi di hari-hari depan. Ada Tuhan yang mengatur semuanya. Udah ..stop berfikir yang macem-macem. Ada ini yang harus kita sama-sama jaga ..hm?" tunjuk Abimanyu ke arah perut Dhira. Mengingatkan istrinya itu bila ia tengah berbadan dua.


Abimanyu menangkup wajah istrinya yang matanya mulai terlihat membengkak karena Isak tangis, " stop berfikir macam-macam!"


" Berjanjilah untuk hati-hati mas. Aku sayang banget sama kamu...sayang banget!" Dhira melingkarkan kedua tangannya ke perut suaminya. Ia menyenderkan kepalanya ke dada bidang suaminya yang kini terus mengusap punggungnya dengan telaten.


" Aku bahkan lebih dan lebih sayang sama kamu!!" Abimanyu mengecup puncak kepala istrinya dalam dan lama. Ia memahami, istrinya itu pasti terbawa perasaan. Apalagi istrinya itu tengah hamil. Perubahan mood yang cepat, harus bisa ia maklumi.


" Makasih mas!" Dhira menatap wajah suaminya teduh. Dengan gerakan pelan Abimanyu mencium bibir istrinya, pria itu Melu*mat bibir istrinya penuh cinta. Seolah menegaskan bila ia akan selalu ada menjadi pelindungnya.


Dhira memejamkan matanya menikmati sapuan lidah suaminya. Sedikit lama dari biasanya, dengan terengah-engah mereka saling melepaskan tautan bibir basah mereka.


Hidung Dhira yang lembab makin membuatnya kesulitan bernafas. Abimanyu memungkasi ciuman itu dengan kecupan singkat sebanyak dua kali di bibir istrinya, lalu berpindah ke kening sebanyak dua kali pula.


" Kita istirahat, besok kita harus ke pemakaman Rangga!" Abimanyu meraih susu di nakas, memberikannya kepada Dhira untuk di teguk.


Dhira begitu merasa bersyukur, Abimanyu kelewat dari kata perhatian. Suaminya itu benar-benar wujud nyata dari seorang penjaga dan pelindung untuknya.


Abimanyu meraih gelas kosong itu lalu meletakkannya di nakas kembali, ia mematikan lampu kamarnya menggunakan remote, lalu membaringkan tubuh istrinya seraya memeluknya dari belakang.


...šŸšŸšŸ...


Dua tangan mungil Sekar kini ia satukan dan ia gunakan untuk menopang pipinya yang sudah rebah miring menghadap wajah suaminya di kamar mereka malam itu.


" Kamu kenapa?" tanya Wisang yang kini turut membaringkan tubuhnya menghadap ke wajah istrinya yang masih nyalang menatap dirinya.


Wisang menarik selimut itu hingga sebatas perut istrinya. Ia juga turut berada dalam lingkupan selimut tebal itu.


" Aku gak bisa bayangin kalau jadi mbak Shinta mas....!"


Nampaknya semua wanita selalu menjadi insecure mendadak, saat suatu kejadian yang tak di harapkan menimpa orang lain, turut mereka rasakan.


"Sayang...udah jangan mikir macam-macam. Hari ini kita begini, besok kita begitu semua sudah ada jalannya!" Wisang mengelus pelan pipi istrinya.


Sekar menatap lekat suaminya yang malam itu baru saja mandi. Aroma sabun ekslusif menguar di hidungnya.


" Aku kasihan aja mas sama Mbak Shinta. Dia wanita kuat yang pernah aku kenal, tapi... ngeliat dia hancur kayak tadi..rasanya aku....!" Sekar merasa dadanya sesak.

__ADS_1


" Hey....kalau kamu turut larut dalam kesedihan, besok yang menghibur Shinta siapa. Kita sebagai sahabat harus lebih kuat. Harus bikin mereka percaya bahwa semua yang terjadi adalah bagian dari takdir yang harus terlewati dengan cara di hadapi!" Wisang merengkuh tubuh istrinya dalam dekapannya.


" Gak ada satupun orang yang tahu apa yang akan terjadi besok!" Wisang mengusap punggung istrinya lembut. Hatinya juga sedih, ia bahkan teringat akan hidupnya yang hampir terisi dengan kesia-siaan itu.


" Kamu harus kuat agar bisa menguatkan orang lain!" Wisang mengecup kening Sekar.


" Udah, kita tidur ya. Besok kita masih harus bantu Shinta buat acara ke pemakaman!" Wisang memeluk istrinya yang kini juga memeluknya erat. Mencium bibir Istrinya sekilas, lalu memejamkan matanya.


...šŸšŸšŸ...


Jam sudah lewat dari pukul satu dini hari. Shinta masih bergeming di sebelah jasad suaminya. Hanya ada beberapa tetangga dekat yang masih mengobrol seraya menguap berkali-kali di depan rumah.


Pak Ali rupanya berlanjut berbincang dengan Danan hingga jam tersebut. Dan menyadari bila Istrinya telah di tinggal terlalu lama, pria tersebut pamit kepada Danan untuk menengok Bu Nisa.


" Shin... kamu istirahat. Biar aku yang disini!" ucap Danan yang baru muncul dari arah belakang.


Shinta menatap Danan sekilas tanpa ekspresi, lalu kembali menekuni wajah suaminya yang sudah menjadi mayat itu.


Hati Danan nyeri. Shinta benar-benar terguncang pikirnya.


" Shin...ini udah mau pagi, kamu isti....!"


" Aku bisa jaga diri aku sendiri...kamu aja yang istirahat!" jawab Shinta tanpa memandang Danan.


Kecanggungan kini menyeruak disana. Dan kenyamanan menguap.


" Shin....!" ucap Danan masih bersikeras.


" Aku bisa jaga diri aku sendiri!" Shinta menatap tajam Danan. Membuat pria itu tersentak. Ini kali pertamanya mereka berbicara usai dari rumah sakit, namun dalam keadaan tidak baik-baik saja.


Bisa Danan simpulkan Shinta dalam kondisi tidak stabil.


" Oke...oke..baik jika itu mau kamu!" Danan tak bisa menekan Shinta lebih lagi. Ia bisa melihat wajah Shinta yang menahan emosi, kesedihan dan tertekan di waktu bersamaan.


Dan sejurus kemudian, tubuh Shinta limbung. Wanita itu mendadak tak sadarkan diri.


"Shinta!!!"


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2