
Bab 127. Making Love
.
.
.
...ššš...
"Aku sedang ingin bercinta karena, mungkin ada kamu disini. Aku ingin...."
( Diambil dari lirik lagu Dewa 19)
.
.
Kesemua taburan manusia di ballroom itu berangsur sepi. Menyisakan pekerja yang sibuk membereskan sisa acara tersebut. Jam juga sudah malam, para insan juga pasti sudah kembali ke rumah masing-masing dengan segala hal yang terjadi malam ini.
Dhira begitu lelah malam itu, usai mandi ia terperanjat dengan kehadiran Abimanyu yang tiba-tiba muncul. Ia mengira suaminya itu masih menemui beberapa rekannya di bawah. Sebab usai mengantar Dhira tadi, Abimanyu pamit ke bawah.
Rupanya selain ia membereskan beberapa urusan, rupanya ia juga memastikan bila keluarganya sudah terurus dengan baik.
Dhira benar-benar terkejut dengan kemunculan Abimanyu. Ia mandi di kamar mandi satunya rupanya.
"Kenapa tidak mandi di dalam tadi.. maksudku, kenapa gak menungguku dulu?" Dhira sampai salah memilih kata.
Abimanyu terkekeh," Badanku juga sudah sangat lengket, aku sudah tidak tahan sayang. Kita makan sekarang ya, tadi pelayanan sudah mengantarkan makanan untuk kita!" Abimanyu mencium kening istrinya penuh cinta.
Dhira membelalakkan matanya saat suaminya dengan entengnya menjatuhkan balutan handuk yang tadi ia kenakan ke lantai. Pria itu polos los saat ini. Membuat wajah Dhira bersemu merah. Ia malu.
Abimanyu melirik istrinya yang agaknya tengah bingung mengatur dirinya sendiri. " Cepatlah ganti baju. Aku sangat lapar!" Ucapnya seraya memakai celana dan kaos polos putih.
Dhira yang gelagapan karena tingkah suaminya itu, segera menuju lemari yang sudah tersedia baju ganti untuknya.
Dhira membulatkan matanya," Apa ini tidak salah?" Dhira yang masih mengenakan handuk kimono itu, bertanya kepada suaminya yang tengah menepukkan pelembab khusus pria ke wajahnya.
__ADS_1
"Salah?, apanya yang salah. Kita akan tidur bukan, jadi itu sudah sesuai dengan kepentingan kita malam ini!" Abimanyu tersenyum licik. Dhira mendengus kesal.
Bagiamana bisa lemari itu semua berisikan lingerie dengan bahan kain kelambu bayi. Ia memilah dan memilih sebuah gaun tidur satin warna rose pink, yang dirasa agak sopan. Meskipun Abimanyu sudah resmi suaminya, namun ia yang tak biasa dengan baju sexy, tentu perlu waktu untuk menyesuaikan.
"Biar aku bantu!" Abimanyu membantu mengeringkan rambut Dhira yang basah dengan hair dryer. Ia dengan telaten melayani istrinya.
"Kamu pasti capek, hm!" ucap Abimanyu seraya mengacak rambut Dhira pelan, berharap terpaan angin dari alat itu bisa segera membuat kadar air di rambut istrinya berkurang.
"Kakiku pegel mas, lama gak pakek heels. Sekarang sakit!" keluh Dhira dengan wajah pucat, karena tak memakai riasan apapun kecuali cream malamnya.
"Setelah makan kita istirahat!" ucap Abimanyu.
Dhira hanya mencibir, tak mungkin suaminya itu tak memakannya malam ini. Namun, Dhira sudah siap akan hal itu. Itu adalah kewajiban yang harus ia tunaikan.
Mereka makan dalam diam, Abimanyu rupanya tak bohong soal rasa laparnya. Terbukti, dalam beberapa suapan saja, makanan itu licin tandas. " Aku sudah selesai, kamu lanjutkan dulu ya. Aku pijat kakimu setelah ini, mau ngecek email sebentar" Abimanyu mengusap puncak kepala Dhira.
Namun sebelum Abimanyu melakukan hal itu, ia terlebih dahulu menyikat giginya kembali. Sudah menjadi kebiasaan untuknya. Pengajaran sederhana nan luhur dari mendiang ibunya, yang masih ia laksanakan hingga sekarang.
Dhira memperhatikan suaminya yang sibuk dengan laptopnya. Ia masih tak percaya jika berada di titik ini. Titik yang seratus delapan puluh derajat berubah, dari hidupnya yang hampir setahun terlewat.
Ia turut menghabiskan makanannya, membereskan sisa acara makan malamnya,lalu menuju kamar mandi untuk menyikat giginya.
Dhira membuka penutup gaun tidurnya. Kini belahan dadanya yang sering membuat Abimanyu gelisah terpampang jelas. " Katanya mau mijitin aku!" Dhira seolah menagih janji suaminya.
"Sini!" Abimanyu meminta Dhira untuk bersandar di dadanya sembari setengah berbaring di ranjang king sizenya.
Dhira menurut, ia bisa merasakan aroma tubuh Abimanyu yang membuatnya tenang. Suaminya itu menciumi ubun-ubun istrinya itu dengan kasih sayang.
"Kamu emang capek banget?" Abimanyu membelai rambut Dhira dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya merangkul istrinya erat.
"Capek lah mas, tapi aku seneng. Kita udah melewati semuanya!" ucap Dhira sambil membuat bentuk- bentuk aneh di dada Abimanyu.
"Mas!" tanya Dhira masih bermain-main di dada suaminya.
"Hemm!" jawab Abimanyu sambil menciumi aroma shampoo istrinya.
"Besok kita pulang kemana?"
Abimanyu masih tak mengentikan kegiatannya, ia senang sekali saat bermesraan bersama istrinya seperti saat ini " Aku nurut istriku aja. Mau balik ke rumah Oma atau beli rumah sendiri. Apapun untuk nyonya Abimanyu!" pria itu mencium kening istrinya sesaat setelah berucap.
__ADS_1
"Bukan itu. Aku masih boleh enggak buka Ruko. Aku kasihan sama sekar mas. Tapi gak mungkin juga kan mas tinggal di Ruko!" bahkan di malam pertama mereka, dua manusia itu malah membicarakan hal lain.
Abimanyu terkekeh," Jadi itu..." Abimanyu kini merubah posisi agar bisa menatap istrinya.
"Besok kita pulang ke rumah Oma dulu. Masalah Ruko nanti aku minta Devan buat cari teman buat Shinta sama Sekar. Kamu tinggal ngawasi aja. Mulai sekarang, perhatian kamu harus lebih banyak ke aku. Aku juga gak mau kamu capek. Kamu hanya boleh capek pas sama aku aja, mengerti?" Abimanyu mencium bibir istrinya.
Dhira tentu saja menerima hal itu dengan sukacita. Tidak ada yang perlu ia khawatirkan lagi saat ini. Ia dan Abimanyu sama-sama saling memiliki.
Abimanyu terlihat membuka kaosnya lalu mencampakkan benda itu ke sembarang tempat. Ia kini berada di atas dan mengungkung istrinya. Ia tersenyum menelisik tiap bagian tubuh istrinya yang selalu berhasil membuatnya gelisah.
Ia mencium bibir kemudian beralih ke leher istrinya, membuat Dhira menggeliat. Gulungan ombak gelora seakan menghampiri mereka. Ia memperlakukan istrinya dengan begitu lembut.
Ia menciumi tiap inci bagian tubuh istrinya. Erangan serta ******* kini tak ragu di lontarkan Dhira. Dan entah sejak Kapan, kain satin yang tadi melekat di tubuh Dhira kini sudah teronggok di lantai marmer hotel itu.
Abimanyu menatap sendu istrinya yang kini sudah setengah telanjang. Ia menyambar dua gundukan menggiurkan itu, dengan posisi masih berada di atas tubuh Dhira.
Tangan Dhira tak menganggur, ia menelusuri lengan Abimanyu yang menjadi ketat dan liat saat itu. Ia bisa merasakan otot Abimanyu tengah menegang.
Dhira mendesah berkali- kali saat kuncup gunung itu ter*lu*mat sempurna oleh Abimanyu. Gelora hangat berubah menjadi panas. Foreplay itu selalu berhasil dilakukan oleh Abimanyu.
Abimanyu yang merasa tubuh Dhira sudah siap untuk dimasuki, tanpa menunggu lagi ia menggiring kejantanannya untuk memasuki tempat ternyaman untuknya. Dhira memejamkan matanya begitu merasakan benda besar nan keras menghujam milikinya yang basah.
Abimanyu berdiam sejenak, seraya Melu*mat kembali kuncup dada istrinya itu. Ia mencoba menghentak dengan pelan, saat ia masih menyesap kuncup itu. Membuat Dhira merasakan hal yang luar biasa.
Ayunan dalam tempo sedang tengah terjadi, tubuh kekar berotot itu kini menghujam tubuh Dhira yang masih setia di bawah Abimanyu.
Dhira merasa laju darahnya cepat, ia bagai tak menjejak bumi, tubuhnya seolah melayang saat itu. Abimanyu kini menyambar bibir Dhira yang sedari tadi terkulum sendiri. Penyatuan itu kini berlangsung sangat lama. Dhira bahkan bisa merasakan keperkasaan Abimanyu saat itu juga. Pria yang mengungkungnya itu benar-benar berstamina prima.
Makin lama hentakan itu makin cepat , Dhira merasa sesuatu akan keluar dari miliknya. Di saat yang sama pula, Abimanyu membenamkan dalam- dalam benda penting miliknya. Meledakkan ****** ***** secara bersamaan ke dalam rahim Dhira, membuat mereka berdua melayang ke pusaran terindah dalam hal percintaan yang paling memabukkan.
Ia memeluk erat tubuh Dhira yang bersimbah keringat. " Terimakasih sayang!" ia berucap lalu mencium kening Dhira. Wanita itu terengah-engah, stamina seorang Abimanyu benar-benar membuat lututnya lemas dan bergetar.
Dan malam itu, mereka habiskan untuk melebur setiap gelora kerinduan yang tertahan selama ini.
.
.
.
__ADS_1
.
.