
Bab 180. Selamat Jalan
.
.
.
...ššš...
" Sulit teramat sulit jalanku, melawan takdir ini sendiri tanpamu. Senyuman, terkahir itu. Pecahkan saraf sadarku!
Aku harus bagaimana, berjalan tanpa kamu...apa dayaku?"
( Diambil dari lirik lagu Iwan Fals feat. Geisha ~ Tak Seimbang)
.
.
Danan mengangkat tubuh Shinta yang mendadak limbung. Ia menidurkannya ke atas sofa. Ia bingung kini harus berbuat apa. Danan memprediksi, Shinta tumbang karena wanita itu terlalu banyak emosi yang meresap, kemudian membuncah. Setangkup senada dengan kesedihan yang Shinta alami.
Dan di saat kecemasan tengah mendera, beruntung seorang perawat yang sedari tadi menjaga Bu Nisa, kini tengah melintas tepat di depan Danan.
" Mbak...mbak!!!! bisa bantu saya?" Danan sejenak berfikir , jelas ia tidak mau menjadi dalang dari kesalahpahaman yang bisa saja terjadi nanti.
" Ya Pak!" seru perawat itu dengan wajah cemas.
" Bu Shinta pingsan, saya...."
Seoalah mengetahui isi hati pria di depannya. Perawat yang sedari tempo hari merawat Shinta sewaktu dirumah sakit itu, langsung mengangguk menatap Danan. Seolah mewakili ucapan ' akan saya tangani'.
Sekilas Danan menatap peti berisikan jasad suami Shinta yang terbuka itu. Danan berjalan mendekat dengan langkah kaki yang kuat.
Ia kini menatap wajah Rangga yang sudah begitu pucat. Danan mengamati lekat wajah pria yang sempat ia jadikan saingan terselubung dalam hatinya itu.
Selamat jalan Ngga. Tenang di sana!
Sejurus kemudian Danan menatap perawat yang sibuk membuat Shinta sadar. Ia tahu, wanita itu pasti lelah jiwa raganya. Lahir dan batinnya.
Namun, memaksa Shinta untuk mengikuti semua sugestinya. Juga bukan satu opsi yang baik saat ini.
Danan menutup peti itu dengan kain mirip kelambu putih, kemudian memandangnya lekat. Detik berikutnya ia memilih pulang meski dengan hati gundah gulana. Hatinya penuh gelita saat ini.
__ADS_1
.
.
Abimanyu terlihat mengecup kening istrinya pagi itu. Sejurus kemudian ia mencium bibir Dhira dan memberikan gigitan kecil.
" Kamu harus sarapan dulu! Kita gak tahu disana berapa lama nanti. Kamu juga harus pikirin adiknya Raka!" Tukas Abimanyu yang kemudian menarik kursi untuk istrinya.
Ya, Abimanyu sengaja meminta Yuni untuk masak lebih pagi. Dhira yang tak terbiasa dengan roti dan selai sejak perawan dulu, mengharuskan nasi dan teman- temannya untuk menu sarapan wajib.
" Kita nanti malam jemput Raka. Kasihan dia udah lama sama Oma!" Abimanyu sejenak merasa bersalah. Usai menikah ia belum sempat quality time bertiga dengan putra sambungnya itu.
Sibuknya urusan juga banyak sekali kejadian diluar kendali Abimanyu, membuat dia kerap menitipkan Raka kepada Oma. Mau bagaimana lagi, toh disana ada Jodhi. Begitu pikir Abimanyu.
" Iya mas, aku jadi ngerasa bersalah sama Raka. Tapi Shinta lebih butuh kita sekarang!" jawab Dhira.
Pagi itu Dhira tak ingin makan aneh- aneh. Ia ingin makan masakan berkuah. Abimanyu turut menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, meski tak banyak. Terlalu pagi untuk sarapan memang. Namun ia tak mau menggadaikan kesehatan istrinya dengan hal apapun.
.
.
Karangan bunga dari instansi tempat Rangga bekerja, juga dari perusahaan milik Abimanyu, Danan dan Wisang serta dari beberapa instansi lain, kini terlihat berbaris rapi di sepanjang depan pagar rumah Shinta.
Adalah Dian, kakak perempuan Rangga itu tiba jelang subuh. Usai mendapat informasi bila adiknya telah meninggal dunia, wanita itu bersama suami dan kedua anaknya kini terlihat setia menemani Bu Nisa yang nampak memberi tatapan kosong.
" Terimakasih banyak Pak, mohon kesalahan suami saya di maafkan!"
Shinta pagi itu nampak berwajah layu. Kalimat itu terus ia ucapkan kepada para pelayat yang baru datang pagi itu. Bahkan, Eksekutif Manager dari BUMN tempat Rangga bekerja terlihat datang pagi itu, beserta jajarannya.
" Terimakasih banyak Pak, terimakasih sudah datang!" Shinta menyambut para pelayat di temani Pak Ali. Pria tua itu kini nampak lebih ikhlas, dari sorot matanya pria itu lebih menampakkan sorot mata tegar.
Semua pelayat terlihat tumpah ruah, dan memadati rumah duka. Bastian, Bu Kartika bahkan Indra terlihat turut datang disana. Bagaimanapun juga, Rangga adalah orang yang dulu memperkenalkan Indra kepada Dhira, sewaktu Dhira masih bekerja sebagai Customer Service di Airport kota itu.
.
.
TPU Pondok Asri
Shinta
Deretan batu nisan , dengan hamparan gundukan yang membentang sejauh nyala mata itu, nampak menghiasi pandangan mata semua pelayat. Shinta yang sedari tadi di apit oleh Dhira dan Sekar kini nampak berdiri di bibir liang tempat jasad suaminya akan di kebumikan.
__ADS_1
Dengan wajah tanpa make up ataupun riasan, mata bengkak dengan wajah sayu itu kian membuat Shinta menjadi seperti mayat hidup.
Sesekali Shinta membetulkan pasmina hitamnya, yang terkena sapuan angin. Bersamaan dengan itu, terlihat tokoh agama memberikan sebuah kata-kata penghibur, dan juga dalil-dalil tentang kematian. Membuat kesemua yang disana larut dalam haru.
" Yang kuat!" Dhira membisikkan kata-kata itu, meski ia sendiri seolah ingin menjerit. Shinta hanya menampakkan tatapan kosong, pucat dan tak memiliki gairah hidup.
Ia sudah banyak banyak mendapat kata-kata penghibur dari para pelayat.
"Yang ikhlas. Kita semua akan pergi dan di tinggal pergi!"
"Yang tabah nduk, kita ini gak ikut punya. Yang punya yang diatas. "
"Kami turut berdukacita, yang sabar dan kuat!"
Kata-kata itu amat indah bukan. Tapi mengapa, bagi Shinta saat ini kata sabar tak semudah seperti saat mengucapkannya.
Wanita itu terlihat mengeraskan rahangnya, saat penutup bungkusan putih yang ia ketahui itu adalah suaminya mulai di buka. Liang itu kini di kerubungi banyak sekali orang. Hatinya mendadak bergetar hebat saat melihat tubuh suaminya yang di bungkus itu, kini beralih ke tangan tiga pria yang ada di dalam liang lahat itu.
Matanya tak lepas memperhatikan proses pemasukan jenasah suaminya ke liang lahat itu. Bak di sambar petir, ia tak mengira akan berpisah dengan Rangga dalam waktu secepat ini.
Selamat jalan mas....kuatkan aku dari sana.
Air mata Shinta menetes. Hatinya seolah runtuh saat itu. Hidupnya benar-benar terasa hancur, porak poranda tak bersisa. Kematian Rangga jelas meluluhlantakkan hidup wanita itu.
Ia merasa sendiri, kosong dan tak berpenghuni.
Matanya terus meneteskan cairan bening saat para petugas gali itu mulai membuka tali pengikat kafan suaminya. Ia masih mematung dan berusaha terlihat tegar.
Ia memejamkan matanya seraya meresapi yang tejadi, menghela napas guna menetralisir gejolak di hatinya saat papan kayu itu , terlihat mulai menutup bagian jasad suaminya yang sudah miring menghadap barat, dengan posisi kepala di Utara itu.
Shinta menghela napas panjang, saat petugas gali makam itu mulai mencangkul gundukan tanah di tepi kubur yang masih terbuka itu. Tumpukan kayu yang di tata miring itu kini perlahan tertutup oleh tanah.
Semakin terisi , penuh dan meninggi. Saat itulah, Shinta yang dalam mode kesadaran full benar-benar terlah berpisah dengan Rangga untuk selama-lamanya.
Separuh jiwanya itu, telah benar-benar melesat ke nirwana bersama dengan segala kenangan yang ada. Matanya nanar menatap liang yang kini sudah menjadi gundukan tanah, dengan di tancapi nama suaminya itu.
Ia telah menjadi seorang janda.
.
.
.
__ADS_1