The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 220. Orang Itu


__ADS_3

Bab 220. Orang Itu


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


" Jalan terjal dan berbatu yang pernah engkau tapaki, menjadi saksi cinta kita..."


.


.


Menunggu ada kalanya memang terasa mengasyikkan. Banyak waktu yang kita punyai, untuk memikirkan langkah-langkah apa yang baik. Seperti strategi pendekatan mungkin.


Ya bisa dikatakan, semua hal itu perlu mitigasi yang terencana. Pun demikian dengan urusan cinta. Kasak kusuk asmara yang kerap membuat resah juga gelisah.


Hal ini berbanding lurus dengan Danan. Dengan keyakinan penuh, ia malam ini akan memperkenalkan Shinta kepada kedua orangtuanya.


" Take it easy, they're not what you fear!" ( Santai saja mereka tidak seperti yang kamu takutkan).


Shinta mungkin sedikit traumatik dengan Bu Nisa. Wanita yang nyaris tak pernah beramah tamah sejak pernikahannya dengan Rangga, memasuki tahun ketiga.


Namun malam ini, ia seolah mendapat sentuhan keajaiban. Entahlah. Ia sendiri tidak tahu, mengapa ia menerima ajakan Danan malam itu.


" Aku lupa tidak membawa sesuatu untuk ibu kamu mas?" Shinta benar-benar kelupaan. Mungkin hampers bisa ia jadikan buah tangan agar terlihat lebih sopan.


Danan tergelak " Memangnya apa yang mau kamu bawa. Kamu mau kesini saja beliau sudah senang. Sudah ayo!"


Jika dilihat, rumah Danan mirip seperti mansion yang ada di film2 yang pernah Shinta tonton. Terlihat megah dengan aksen lampu- lampu kristal mahal, yang koceknya jelas tak sedikit.


Benar-benar orang kaya.


Seketika Shinta menjadi merasa kecil, rendah dan....minder. Apa benar, orang kaya sekelas Danan mau menerimanya yang dari golongan darah rakyat. Kelas teri, mahluk biasa khas rengginang Nusantara yang cinta kearifan lokal.


" Hey, kenapa?" pria itu seolah tahu apa yang ada di pikiran Shinta.


" Well, don't be nervous, don't feel inferior!"


( Udah, Jagan grogi jangan minder)


" Kamu cantik malam ini, aku suka!" Danan menaik-turunkan alisnya.


Shinta mendecak saat pria itu melayangkan gombalan maut, kemudian menggeleng seraya tersenyum. Ia tak percaya, pria yang pernah ia kasari itu, kini menggenggam tangannya.


" Wajahmu lucu jika tegang begitu!" Danan menoel pipi Shinta. Membuat wajah wanita itu merah.


" Mbak Las, mama di dalam kan?" ucap Danan kepada ARTnya.


" Ada mas, udah di tunggu di dalam!"


Shinta mengangguk seraya tersenyum kepada wanita berusia setengah orang itu. Danan terlihat sangat di hormati dirumahnya. Ia menjadi mendecak dalam hatinya, demi mengingat Danan yang pernah ia lakukan seenaknya.


Kasar bahkan cenderung tak memperdulikan.


Shinta masuk ke ruangan utama. Sofa besar modern berwarna rose gold dengan aksen mahal, menjadi penegas kenyamanan.


Lemari dengan isi porselen berharga fantastis, anak berjajar rapih. Sebuah foto keluarga dengan pakaian mahal, ia sempat menyunggingkan senyum, tatkala melihat Danan yang memakai kemeja batik. Terlihat ganteng sekali.


Ruangan itu harum sekali, seoalah ada bunga hidup disana. Tak seperti rumahnya yang sesak, rumah Danan lega dan bisa menampung banyak tamu.


" Ma, Pa!" pria itu dengan kepercayaan diri penuh memasuki rumahnya sembari terus menggenggam tangan Shinta tak lekang.


Shinta deg degan sekaligus grogi.


" Kalian sudah sampai?" Nyonya Alda menyongsong dari arah dalam. Shinta yang melihat wanita berusia sangat matang dengan make up dan tatanan rambut di sanggul, berjalan ke arahnya.

__ADS_1


Mamanya saja cantik sekali. kembali Shinta berucap dalam batinnya. Ia begitu kagum dengan mama Danan.


" Ma, kenalin ini Shinta!"


" Shin, kenalin ini mamaku yang paling cantik!" Danan memperkenalkan dua wanita penting dalam hidupnya secara bergantian.


Nyonya Alda menyunggingkan senyuman paling hangat malam itu. " Saya Alda mamanya Danan!"


" Kamu sesuai dengan bayangan saya Shinta. Cantik dan anggun!" Nyonya Alda menyalami Shinta lalu merengkuh tubuh Shinta kedalam pelukannya, serta mendaratkan ciuman ke pipi kiri dan pipi kanan Shinta.


Shinta tak mengira akan di perlakukan selembut dan sehangat ini. Ia menatap Danan yang mengedipkan sebelah matanya ke arahnya. Seolah mengatakan everything will be fine.


CK, orang itu


Shinta mendecak demi melihat tingkah pecicilan Danan. Agaknya, pria itu lekas menunjukkan tabiat aslinya yang bar-bar.


" Wah wah, papa ketinggalan ini!" suara Tuan Yusuf nampak menggema dari arah dalam.


Shinta tersenyum dan mengangguk hormat.


" Apa kabar Shinta, saya Yusuf papanya Danan!" pria itu mengulurkan tangannya kepada Shinta.


Papanya juga kelihatan bugar banget. Lagi-lagi, hanya berani berbicara dalam batinnya.


" Emmm baik ....Om!" Ia sempat bingung, akan menyebut pria terhormat itu dengan nama apa.


Tuan Yusuf tergelak " Kamu benar-benar meniru jejak papa. Calon istri kamu cantik pakai banget!" tuan Yusuf berbisik namun keempat orang disana justru mendengar dengan jelas. Membuat Shinta mendelik.


Calon istri?


Danan hanya menggaruk kepalanya yang jelas tidaklah gatal. Ia lupa untuk meminta papanya agar lebih bersabar. Tapi, ya sudahlah.


" Emmm kita makan dulu ya, ayo Shinta. Nanti kita ngobrol lagi!" Nyonya Alda melihat kecanggungan di mata Shinta.


Bagiamana tidak, baru saja ketemu kok sudah membahas soal istri segala. Jelas itu bukan rencananya bukan.


.


.


" Apa anak saya suka maksa- maksa kamu?" ucapnya seraya menatap Shinta.


" Maaf, terutama pas mendiang suami kamu masih ada?"


" Maaf ya Shin, Tante harus tau dari bibir kamu sendiri. Soalnya si Danan itu...." nyonya Alda menggelengkan kepalanya, seolah mewakili perkataan 'anak yang suka bikin onar'.


" Uhuk..uhuk!" Danan tersedak, jelas itu bukanlah rencananya. Bisa hancur reputasinya.


" Mama!" Danan mencoba memperingati. Tapi, agaknya malam itu Danan harus diam dan manut ( menurut).


Shinta terkekeh demi melihat wajah konyol Danan yang terkejut. Mungkin, ini bisa jadi ajang balas dendam.


" Emmm, dua kali Tante!" jawab Shinta seraya tersenyum.


" Oh ya, soal apa? apa dia membuatmu tidak nyaman?" raut wajah Nyonya Alda terlihat serius.


JANGAN DI KASIH TAHU , mulut Danan komat kamit memberikan instruksi kepada Shinta, agar tak membocorkan sesuatu. Ia takut mamanya akan marah, saat tahu ia sempat menguncinya di rumah baru Dhira, saat Rangga masih hidup.


" Mas Danan..." Shinta menatap wajah Danan yang menggaruk keningnya frustasi.


Kedua orang tua Danan menunggu dengan alis mengernyit. Tak sabar.


" Mas Danan..."


Danan takut, ia tahu jika mamanya tidak mentolerir pengacau. Dan itu jelas sudah pernah ia lakukan.


" Mas Danan mengirimkan saya dua ART tanpa memberitahu saya dulu, kemudian dia pernah mengirimkan saya pasokan sembako tanpa konfirmasi ke saya dulu. Bahkan saya malah menjadi mirip seperti korban pengungsian Tante!" tukas Shinta melirik wajah Danan dengan senyum kemenangan.


" Pyuhhhhhhfftttt!!" Ada kelegaan terhembus dari nafas Danan. Nyaris saja.

__ADS_1


Sepertinya mama dan pujaan hatinya itu bisa menjadi ancaman buatnya.


Tuan Yusuf justru tergelak kencang saat mendengar penuturan Shinta. " God job nak, kamu sepertinya tahu tanpa harus di tatar!" Tuan Yusuf menepuk bahu Kokok putranya dengan bangga.


Nyonya Alda tersenyum " Kalau itu, mama juga setuju sama dia!" kesemua orang disana tergelak kecuali Danan yang menatap Shinta dengan raut muram. Nyaris saja ia pasti akan mendapat masalah.


Sejurus kemudian ia mengetik sebuah pesan kepada Shinta.


"Aku nyaris habis"


Danan meletakkan kembali ponselnya, usai ia mengirim pesan.


" Selamat senam jantung!" balas Shinta.


" Aku akan menghukummu!"


Mereka berdua menatap menyeringai, sambil terus melanjutkan makan.


" Lakukan jika bisa, dengan senang hati aku akan menerima !"


Oh tidak, andai di meja makan itu kedua orangtuanya tidak ada. Ia pasti akan langsung menerkam Shinta.


" Ehem, jadi kapan kita bisa membicarakan pernikahan?" ucap Nyonya Alda.


" Uhuk...uhuk!" kini Shinta yang tersedak air minum itu. Apa pembahasan itu termasuk agenda malam ini pikirnya?


" Mama, jangan buat Shinta terkejut dong!" Tuan Yusuf memarahi istrinya.


" Kami tidak apa-apa, hm?" Danan memijat tengkuk Shinta. Wanita itu hanya menjawab dengan anggukan. Mewakili jawab am fine.


Wajah nyonya Alda terlihat muram, ia merasa bersalah sekali " Maaf Shinta, kamu tidak apa-apa kan?" ia panik, sangat panik.


Atmosfer disana mendadak menjadi canggung.


" Emmm, saya rasa ini terlalu cepat Tante. Emmm saya..." Shinta bingung, terus terang ia belum ada pandangan ke arah sana.


" Maafkan saya Shinta. Saya hanya terlalu senang. Kamu wanita pertama yang di bawa anak bengal itu kerumah!"


Shinta tersenyum kikuk, really?


" Saya dan Om Yusuf ini sudah tua. Ingin sekali rasanya melihat Danan menikah dan segera memiliki anak"


" Saya yakin, anak- anak Danan nanti akan terlahir dari ibu yang kuat seperti kamu?" Nyonya Alda menatap Shinta dengan tersenyum.


Wajah dan hidung Shinta seketika memanas. Hatinya mendadak mengharu biru, tatkala mendengar kata anak-anak.


"Saya setuju jika Danan menikah sama kamu!" Nyonya Alda meraih jemari Shinta.


" Kamu pikirkan matang-matang ya. Saya tahu semua hal berat yang terjadi sama kamu!"


Saat ibu dari Danan itu mengatakan hal itu, ia menatap pria pemaksa itu dengan tatapan penuh selidik. Membuat Danan belingsatan.


" Kamu harus bahagia nak, dan Terimakasih sudah mau terima anak saya!"


Apa?


Apa yang dibicarakan orang itu memangnya?


Shinta tak tega menatap wajah penuh antusias dari dua manusia tua di depannya itu. Tapi sungguh, meski selama ini ia belum pernah mengatakan iya ataupun tidak. Namun, jelas ia tak berfikir ke arah sana untuk malam ini.


Orang itu benar-benar!


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2