
Bab 254. Trio konglo dan para betina
.
.
.
...ššš...
" Hidup yang tenang, adalah hidup yang tidak pernah memusingkan apa kata orang lain!"
.
.
Kendati Wisang cukup lelah petang itu, namun melihat Sekar yang antusias untuk untuk datang menjenguk Dhira, membuatnya menepis segala rasa itu.
Ia juga ingin melihat darah daging dari sahabatnya itu. Meski dalam hati ia masih terpukul karena kepergian Armaan yang terbilang terlalu dini. Tapi ia harus memikirkan Sekar jauh dari apapun. Baginya, Sekar adalah skala prioritasnya saat ini.
" Jemput gue Danan, gue nebeng sama elu!" ucap Wisang dalam pesan singkatnya.
" Tumben!" balas Danan dengan cepat.
" Sekali-kali biar elu agak kelihatan ada gunanya dikit jadi teman!" balas Wisang kembali.
Wisang senyam-senyum sendiri tatkala ia saling berbalas pesan dengan Danan. Terasa lebih menyenangkan dari saat mereka masih membujang dulu.
" Kenapa wajah mas begitu?" ucap Sekar yang kini terlihat telah selesai dengan penampilannya. Terlihat cantik dalam kesahajaan.
Wisang menatap Sekar dari ujung rambut hingga ujung kaki. Terlihat menawan. " Kamu makin hari makin cantik aja sayang. Sama mama diajakin kemana aja? Kayaknya mama sekarang lebih sayang ke kamu ketimbang ke aku ya?" Wisang berdiri seraya menyisir rambut Sekar yang sudah rapi, menggunakan jarinya.
" Harum banget!" Wisang mencium rambut Sekar sejurus kemudian. Membuat pria itu serasa mabuk kepayang.
" CK, mas! aku udah ngerapihin rambut malah kamu rusak lagi!" Sekar mendengus. Kini ia harus kembali merapikan rambutnya.
Wisang terkekeh, kini pria itu mengikuti langkah istrinya yang menuju ke meja rias. Memeluk pinggang Sekar lalu menopangkan dagunya ke pundak istrinya itu. Wisang harus membuka kakinya lebar, guna menyamakan tinggi wanita yang amat ia cintai itu.
" Aku seneng kalau kamu ngambek begini. Makin gemes!"
" Love you!" Wisang malah mengganggu Sekar yang kini sibuk membenahi rambutnya. Menginterupsi tiada henti.
.
.
" Tumben mas Wisang gak bawa mobil sendiri?" tanya Shinta yang kini berada di samping Danan yang tengah fokus mengemudi.
" Gak tau, tapi ya biar kita rame- rame lah!" Danan tersenyum. Mau dengan siapapun ia akan ke rumah sakit, yang penting kini Shinta ada di dekatnya.
" Aku seneng banget mas. Akhirnya, Dhira bisa punya anak lagi!" Shinta tersenyum senang. Ia jujur dan tulus sewaktu mengucapkan hal itu.
"Aku juga seneng. Akhirnya kamu mau sama aku!" ucap Danan malah berkelakar. Pria itu tak bisa menyembunyikan rasa bahagia karena bisa mendapatkan Shinta, meski telah menapaki jalan terjal panjang dan cukup melelahkan.
" CK, orang ngomongin apa jawabnya apa!" cibir Shinta..Membuat Danan terkekeh.
__ADS_1
" Aku gak sabar nunggu dua Minggu lagi!" ucap Danan seraya mencium punggung tangan Shinta. Dan hal itu sukses membuat hati Shinta turut merasakan kebahagiaan.
Ya, jika tidak ada perubahan karena suatu hal lagi. Maka bisa di pastikan, malam-malam panjang Danan yang biasa ia isi dengan bercumbu bersama bayang-bayang, dua pekan lagi akan tergantikan dengan indahnya kegiatan berkeringat bersama bersama janda kembang di sampingnya itu. Janda kembang karena sama sekali belum turun mesin, atau belum pernah beranak pinak.
.
.
" Kami di belakang, kalian santai saja! di depan" ucap Wisang setelah menutup pintu mobil seraya mendaratkan bokongnya di kursi penumpang belakang bersama Sekar ,yang kini terpaksa menguncir rambutnya karena ulah usil Wisang yang tak kunjung berhenti menguyel- uyel rambutnya.
" Aman!" sahut Danan sembari menarik tuas transmisi mobilnya.
Wisang berada tepat di belakang Danan. Ia duduk di tepi jendela sebelah kanan, sementara Sekar berada tepat di belakang Shinta.
" Aku turut senang mbak Shin, akhirnya...." Sekar menatap wajah suaminya saat mengatakan hal itu. Memberikan kode tentang hubungan dua manusia di depan mereka.
Kini, Shinta malah merasa malu. Sebab Sekar dan Wisang adalah orang terakhir yang mengetahui kedekatan mereka.
" Ya, beginilah Sekar. Nasib orang gak ada yang tahu!" Danan malah justru yang menjawab.
" Jadi kapan?" tanya Wisang. Ia tak mau lagi-lagi ketinggian informasi. Sejenak Wisang juga tak mengira bila mereka akhirnya berjodoh. Mengingat dulu Wisang paling sering memperingati Danan untuk tidak menjadi si perusak.
" Kalau sesuai schedule, two weeks again!" tukas Danan seraya menatap wajah Wisang di pantulan rear vision mirror depannya.
" Semoga lancar!" Wisang menepuk pundak Danan dari belakang.
" Harus lancar, kan Elu yang jadi panitianya Wis!Dan jangan lupa..."
" Untuk memblokir akses para Panda lokal kan?" Wisang berucap los dol. Tak memikirkan dua betina di sampingnya yang belum tahu istilah- istilah nyeleneh, yang menjadi callsign para betina liar yang dulu sering mereka kencani.
" Apa itu mas?" tanya Shinta kepada Wisang dengan penuh rasa ingin tahu.
Kini mata Danan mendelik, mulut Wisang agaknya mulai ngeslong. " Brengsek si Wisang!"
...ššš...
Abimanyu
"Pa, Mama nyari papa. Katanya penting.Biar aku yang temani Uti!" Ia terkejut saat Raka mengatakan hal itu. Ada apa pikirnya.
" Ada apa ya nak?" Apa yang ada dalam pikirannya, justru ia keluarkan sebagai sebuah kalimat.
" Emmm anu...!"
" Udah buruan kesana, nanti ada yang Dhira perlukan Bim!" ucapan Raka menguap sia- dia ke udara karena Bu Kartika langsung menyahut.
Ia yang kini berjalan menuju ruang dimana Dhira dirawat, memikirkan hal yang tidak-tidak. Namun, seketika ia mengembuskan napas lega saat kecemasannya tiada terbukti. Rupanya dua sahabatnya beserta para betinanya ada di ruangan itu. Pantas saja Dhira meminta Raka untuk memanggil dirinya.
" Oh astaga, aku nyaris berpikiran negatif!" ucap Abimanyu kini menyapa kedua sahabatnya. Saling ber- high five dan memeluk.
.
.
" Congrat bro, finally complete!" tukas Danan yang lebih dulu menyongsong kedatangannya.
__ADS_1
" Thanks buddy!" jawab Abimanyu membalas pelukan Danan.
Mereka sahabat yang karibnya melebihi saudara.
" Selamat Bim. Finally, you become a father in the truest sense!" ucap Wisang dengan penuh ketulusan.
" Makasih Wis, Thank you for coming!"
Sungguh, mereka kini bak tiga buah panci, yang sudah menemukan tutupnya.
" Jadi Yuni yang nemenin kamu tadi? kenapa gak ngubungin aku Dhir kalau Masmu lagi ke tempat Indra?" sesal Shinta yang baru tahu kronologi kejadian itu.
" Maaf ya, tapi aku juga bener- benar gak kepikiran. Soalnya aku juga panik, tapi untung semua lancar. Dokter bilang, Kalyna usianya sudah 35 Minggu. Jadi, paru- parunya udah terbilang ready untuk lahir?"
" Nama keponakanku Kalyna? emmm cantik banget?" Shinta gemas. Kini, Danan bisa melihat sifat asli Shinta yang sebenarnya hampir sama dengan Danan. Bar-bar dan energik.
Sekar mendadak teringat dengan Armaan. Sejumput rasa sedih kini menyelinap ke relung hatinya.
" Hey, kenapa? " Dhira seperti bisa tahu pikiran istri Wisang itu.
Sekar tersenyum simpul, " Andai Armaan panjang umur, mungkin kita bisa berbesan Bu!" ucap Sekar yang sepertinya amat merindukan anaknya. Membuat Wisang kini mendatangi istrinya yang berdiri.
" Hey, stop untuk larut dalam kesedihan!" ucap Danan yang membuat kesemua yang disana menatapnya heran. Terutama Wisang yang kini mengusap punggung istrinya.
" Mungkin belum rejeki buat kamu menjadi besannya si Abimanyu, Sekar! Tapi, kau bisa memprogramkan diri untuk berbesan denganku dan Shinta!" ucapnya percaya diri.
Membuat Abimanyu dan Dhira saling menatap.
" Mas Danan..... Shin?" tanya Dhira menatap sahabatnya itu. Sepertinya mereka ketinggalan info terupdate.
Shinta tersenyum, " Kau harus cepat pulih agar bisa menyaksikannya!" ucap Shinta yang kini nampak tak canggung.
" Oh astaga, kita benar-benar ketinggalan informasi sayang!" Abimanyu lagi-lagi tersenyum lebar. Setelah adiknya, kini kabar yang membahagiakan juga datang dari sahabat gesreknya, Dananjaya.
" Aku tidak yakin jika harus berbesan denganmu Dan!" ucap Wisang mendadak seraya berjalan menuju tempat Danan berdiri.
" Kenapa?" jawab Danan. Membuat kesemua orang disana menatap Wisang. Terutama Shinta.
" Aku takut jika anakmu akan menjadi kolektor para fauna sepertimu!" ucap Wisang mencibir seraya terkekeh.
" Brengsek si Wisang, mulai dia!" umpat Danan dalam hati seraya menatap Shinta yang mulai terpantik rasa ingin tahu.
" Fauna?" Tanya Shinta dengan segala rasa ingin tahunya.
" Ayam kampus, bebek distro, Panda Lokal, kelinci jembatan, bekicot gurun, penduduk danau tempe dan lain sebagainya!" ucap Wisang terkikik geli . Puas menatap wajah Danan yang kini pucat pasi.
" Wisang!!!"
.
.
.
.
__ADS_1