The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 138. Satu kantong Restu


__ADS_3

Bab 138. Satu Kantong Restu


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


" Cinta karena cinta, tak perlu kau tanyakan. Tanpa alasan cinta datang dan bertakhta..."


( Diambil dari lirik lagu Judika~ Cinta)


.


.


Sepekan berlalu, semua lini masih berjalan sesuai orbitnya masing-masing. Abimanyu yang kian mesra dengan istrinya. Wisang yang belakangan ini tengah mengatur strategi untuk membuat mamanya menyetujui rencana dirinya yang akan mempersunting Sekar, Danan yang kian sehat usai menjalani perawatan rutin,dan Rania yang selalu baper saat berbalas pesan dengan Bastian.


Adalah Rania dan Bastian. Walaupun sudah banyak yang mengetahui hal terselubung diantara mereka berdua, namun mereka masih abu-abu dalam menunjukkan kedekatan mereka ke muka umum.


Semacam backstreet cenderung lebih ke upaya Bastian dalam memantaskan diri untuk Rania terlebih dahulu. Dia adalah laki-laki yang punya standar sendiri dalam urusan finansial.


Sebenarnya harga diri seorang pria itu adalah bekerja. Tak peduli mau kerja halus, kerja kasar, kerja mikro halus. Yang penting judulnya bekerja. Namun agaknya, Bastian memiliki penilaian lain akan hal itu.


Setali tiga uang dengan keputusan Abimanyu yang akan pindah ke rumah barunya, nasib Dapur Isun kini beralih ke tangan Bastian. Usai membicarakan hal itu dengan serius bersama Andhira tentunya.


Ya, meski sempat mendapat sambutan kurang baik dari Oma terkait kepindahan mereka. Namun agaknya wanita tua itu kini menyadari, bila mereka pasti punya privasi. Wanita tua itu akhirnya harus merelakan cucu dan cucu mantunya untuk berpisah darinya.


Kami akan sering berkunjung Oma.


Oma jangan khawatir, anak-anak akan sering menginap disini nanti .


Kata-kata seperti itulah yang sering diyakinkan oleh Dhira kepada Oma Regina. Dan sepertinya Raka akan menjadi anak, yang akan memiliki mobilitas paling tinggi untuk urusan tempat tinggal.


Karena seperti biasa, tiap malam Minggu ia ikut Indra ke rumah Kakungnya. Dan jika lusa Dhira dan Abimanyu jadi menempati rumah baru mereka, praktis ia juga akan ikut mamanya. Dan jika sesuai time frame, ia juga akan menginap dirumah besar itu bersama Jodhi yang kini sudah menjadi saudaranya.


Bastian sudah memantapkan hatinya untuk menjadi enterpreneur. Zona nyaman sebagai karyawan ia tepikan. Sadar bila laki-laki itu harus memiliki tulang yang kuat untuk di banting. Mencari nafkah untuk anak istrinya kelak, karena ia merasa mumpung masih muda, ia harus mengikat punggungnya lebih kencang lagi. Agar di hari tua nanti, ia tinggal menikmati.


.


.


Selama sepekan terakhir, Sekar tinggal di apartemen milik Wisang. Karena selama itu pula mereka harus bolak-balik ke kantor polisi, guna memberikan keterangannya sebagai saksi kasus Johan CS.


Johan rupanya merupakan otak dari human traffic, selain itu ia merupakan lintah darat kelas kakap yang kerap memperdayai korbannya dengan pinjaman tanpa agunan.


Hal melawan hukum lainnya yang ia lakukan adalah penyelundupan barang haram. Membuat dia dan anggotanya, terkena pasal berlapis. Mereka terancam hukuman seumur hidup hingga hukuman mati, karena soal urusan narkoba sudah pasti bukan urusan sepele.


Dan itu cukup membuat Wisang puas. Setidaknya manusia biadab seperti mereka memang harus membusuk dan merasakan dinginnya jeruji besi.

__ADS_1


Selain itu, dengan adanya penjahat seperti mereka para sipir bisa terus memiliki pekerjaan. Namun Wisang masih memiliki satu kecemasan. Yakni Wisnu, pria itu masih buron. Membuat Wisang menyembunyikan keberadaan Sekar terlebih dahulu.


Ia berniat ingin segera menikahi gadis itu agar bisa terus melindunginya, karena terus terang saja ,dia tidak bisa berlama-lama seperti itu. Apalagi tiap dia menemui Sekar, kejantanannya selalu menuntutnya melakukan hal lebih. Ia tahu Sekar bukan seperti wanita yang pernah ia kencani sebelumnya.


Gadis itu adalah gadis baik-baik yang terbungkus peliknya kehidupan kelas bawah. Dan Wisang mau di temani oleh gadis seperti itu, gadis yang tak mau hanya pasrah seraya berpangku tangan menerima nasib.


Dengan gugup Wisang menggandeng tangan Sekar. Ia berniat akan mengatakan hal penting ini kepada kedua orangtuanya sekarang juga. Meski ia tahu, jika mamanya pasti akan berang. Tapi setidaknya, ia mau mencoba.


"Mas, aku takut!" Sekar pagi itu sudah cantik, tapi tak sebanding dengan nyalinya.


" Sstttt tenang, ada aku. Apapun yang terjadi, aku tetap maju untuk kamu, hm?" Wisang mencubit lembut pipi Sekar.


Mereka masuk kedalam di sambut oleh Mbah yang menjadi abdi dalem rumah Wisang, sejak ia kecil.


" Mama sama papa ada Mbah?" tanya Wisang.


" Ada Den, itu kebetulan lagi ngobrol sama Mbak Mira!"


Mata Sekar mendelik, dadanya berdebar. Ia takut cenderung minder dan malu. Bagiamana bila papa Wisang juga melakukan hal yang sama.


Seperti seolah tahu yang dirasakan oleh Sekar, Wisang menggenggam erat tangan wanita itu. Sejurus kemudian mereka melangkah menuju rumah tengah, tempat dimana terdengar sayup-sayup suara orang bersenda gurau.


" Pagi ma!!" ucap Wisang dengan suara tegas, seraya terus menggandeng tangan Sekar. Dan wanita yang di gandeng itu, sebisa mungkin menyembunyikan kegugupannya. Sekar gemetar melihat tatapan tajam dari Nyonya Lisa.


Tuan Wikarna masih sibuk dengan korannya. Ia rupanya tak terlibat dengan obrolan seru dua wanita bergaya hedon itu, hingga sampai telinganya mendengar suara Wisang, pria dengan uban rata itu melipat kertas yang ia baca.


" Berani - beraninya kamu membawa wanita itu kemari!!!" tanpa menjawab salam dari anaknya, Nyonya Lisa langsung berdiri seraya emosi, karena melihat Wisang yang menggandeng Sekar.


Sekar makin gemetar, ia menatap Wisang yang masih berwajah tenang. Ia heran, kenapa pria di sampingnya itu masih bisa bersikaplah setenang itu.


" Ma, anak baru datang bukannya di sambut malah langsung di damprat!. Duduk kalian semua!" tuan Wikarna bertitah. Membuat dua wanita dengan nafas memburu karena buncahan emosi itu, duduk kembali.


Wisang menggeret Sekar pelan, ia duduk di sofa besar itu sambil tak melepaskan genggamannya barang sejenak pun. Membuat Mira memandang bengis ke arah Sekar.


" Maaf Pa, Ma Wisang baru bisa pulang. Kantor lagi banyak masalah" ia memang tak bohong untuk hal itu, selain sibuk riwa- riwi ke kantor polisi, salah satu anak perusahaannya mengalami persoalan. Pabrik sarden di kawasan pantai timur mengalami kebakaran. Meski ia tak mendatangi tempat itu, namun ia cukup dibuat pusing lantaran biaya operasional untuk menutup kerugian korban lumayan membengkak. Belum lagi, ia harus membenahi semua kerusakan tempat itu.


Tuan Wikarna diam, ia tahu bila putra bungsunya itu pasti hendak membicarakan hal penting.


" Wisang cuma mau bilang sama Papa sama Mama.." ia hanya menatap wajah kedua orangtuanya, ia melewati sosok Mira yang baginya tak penting itu. Ia tak menganggap keberadaan Mira.


" Wisang mencintai Sekar" ucapnya mantap.


Membuat Sekar merona sekaligus senang dalam hati, pria dewasa itu benar-benar terlihat jantan sekali saat di berucap hal itu, di depan kedua orang tuanya.


" Wisang mau menikah sama Sekar secepatnya. Wisang cuma mau minta doa restu dari Mama sama Papa!!" ucapnya seraya terus menggenggam tangan Sekar.


Mira membelalakkan matanya, apa pria di depannya itu sudah tak waras pikirnya. Ia langsung menjadi gusar tatkala melihat pemandangan di depannya. Apakah rencana yang bahkan belum sempat ia jalankan, sudah harus gagal begitu saja?


"Apa maksud kamu Wisang?? mama gak sudi punya mantu yang asal usulnya gak jelas kayak dia!!" Nyonya Lisa berdiri seraya menunjuk Sekar dengan wajah marah.


" Kamu ini udah gak waras apa gimana, kamu pelet anak saya ya, hah!!!???" nyonya Lisa berang. Ia berusaha menarik lengan Sekar dan ingin menyerang wanita itu.

__ADS_1


Tuan Wikarna tentu tak tinggal diam, " Mama!!!" ia membentak istrinya di depan tiga orang disana. Membuat Mira ketakutan. Sekar apa lagi, wanita itu kini sekujur tubuhnya gemetar.


Aksi Nyonya Lisa akhirnya terhenti.


" Mama mau sampai kapan begini?, nyuruh anak buat segera cari calon istri! giliran udah mau mengenalkan calonnya, malah mama rewel begini!!" tuan Wikarna telah berada di ambang batas kesabarannya saat itu.


Wisang masih terdiam seraya mengatur nafasnya. Menelan salivanya berkali- kali, ia tak mengira jika mamanya akan semarah ini.


" Mama gak mau punya mantu kayak dia, terserah kamu mau menikah sama dia. Tapi sampai kapanpun, mama gak akan pernah menganggap dia Pokoknya sampai kapanpun mama gak akan merestui kalian. Mama gak sudi!!!" Nyonya Lisa berteriak histeris. Sejurus kemudian ia melesat pergi menuju kamarnya.


Tuan Wikarna memejamkan matanya, berusaha menenangkan diri sendiri. Sementara wajah Sekar sudah berlinang air mata. Ia sedih, keberadaannya tak di inginkan oleh ibu dari pria yang kini berhasil merebut hatinya itu. Nyonya Lisa kepalang benci terhadap dirinya.


"Mira, sebaiknya kamu pergi. Om mau bicara penting dengan Wisang!" Tuan Wikarna berucap seraya memijat keningnya yang mendadak pening.


Mira yang di usir secara halus itu, langsung melenggang pergi. Ia menabrakkan tubuhnya ke pundak Sekar. Membuat wanita itu terhuyung.


" Astaga!" Sekar yang terkaget langsung memegangi dadanya.


Wisang mengeraskan rahangnya melihat kelakuan Mira yang kelewatan. Sejurus kemudian, ia mengusap punggung Sekar.


" Tenanglah, kita bicara sama papa!" ucap Wisang lembut, menenangkan Sekar.


Mereka akhirnya duduk di hadapan Tuan Wikarna. Papa Wisang itu tersenyum kepada Sekar, membuat gadis itu turut melakukan hal yang sama.


"Kamu beneran mau sama anak saya?" ucap Tuan Wikarna.


Membuat Wisang mendengus karena mendengar kata yang di pilih papanya, untuk memulai pembicaraan normal yang serius pagi itu .


Duh kenapa papa begitu banget sih kalau nanya, batin Wisang.


Sekar tersenyum," mas Wisang baik pak. Saya mau jadi istri mas Wisang!" Sekar yang lugu, menjawab sebisanya. Lagipula, ia memang jujur akan hal itu.


Tuan Wikarna terkekeh," Papa merestui kalian. Lebih cepat lebih baik, untuk urusan mama kamu nanti biar papa yang bicara!" Tuan Wikarna dengan segala sikap bijaknya, berbicara dengan mantap. Ia hanya ingin putranya segera menyudahi masa lajangnya.


Wisang lega, rupanya kekhawatirannya soal sikap papanya tak terbukti. Papanya memang selalu lebih bijaksana pikirnya. Detik itu juga, ia berjanji akan memberikan cucu yang banyak untuk papanya. Ia langsung mengkhayal jika papanya itu repot karena di kerubungi banyak bocah hasil produksinya bersama Sekar.


" Mas!!" Sekar menepuk paha Wisang yang malah senyam-senyum sendiri tidak jelas.


" Eh maaf-maaf. Aku seneng soalnya!" sahut Wisang. Tuan Wikarna hanya menggelengkan kepalanya melihat putranya itu.


"Rencana mau menggelar pesta dimana?" tanya tuan Wikarna.


Sekar diam tergugu. tertegun sejenak, dan entah kenapa ia berani angkat suara " Bolehkah jika tanpa pesta Pak?"


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2