
Bab 264. Kisah Bahagia
.
.
.
...ššš...
" Biar cinta, bergelora di dada.
Biar cinta, memadukan kita.
Cerita cinta yang pertama kurasa
Jangan pernah, berakhir cerita cinta kita!"
( Ardy Widianto~ Cerita Cinta)
.
.
Shinta
Dua bulan menjalani pernikahan dengan Danan ia justru lebih sering merasakan pegal dan remuk di tubuhnya, bukan letih karena bekerja seperti saat menjadi istri Rangga dulu karena mengisi kebosanan hari- hari.
Namun lantaran Danan yang tak henti-hentinya mengajaknya terbang menuju lautan kenikmatan duniawi.
Melebur cinta dalam dahsyatnya gairah.
Hingga pada suatu hari, ia yang kerap merasa kandung kemihnya cepat penuh menjadi tak nyaman.
" Kok aku sering pipis ya mbak!"
" Aku juga beberapa hari ini kayak meriang!"
Bahkan Sukoco dan Sundari tak absen membuatkan rebusan kunyit, daun adas, daun binahong, sereh,jahe, serta rempah-rempah lainnya guna menyegarkan tubuh Shinta.
Keesokan harinya Shinta yang mual-mual tiap Danan berangkat ke tempat kerjanya, di dapati oleh Sundari dalam keadaan lemas.
" Bu Shinta kenapa?" tanya Sundari cemas kala menghampiri majikannya yang bersandar loyo usai mengeluarkan seluruh isi perutnya.
" Aku sakit mbak, ada Paracetamol enggak?" Shinta lemas dan merasa tak memiliki daya.
Merasa ada yang janggal, wanita yang sudah menjadi abdi dalem Danan itu memberanikan diri untuk mengajukan pertanyaan.
" Buk, maaf apa periode bulan ini lancar? maksud saya...Bu Shinta sudah datang bulan?" Sundari ingat betul, jika bulan lalu dan bulan ini dia tak diminta untuk membeli pembalut seperti biasanya!"
Sebagai Wanita, tentu ia paham akan siklus ini. Apalagi, Shinta merupakan pengantin baru. Sundari dan Sukoco juga sudah mengetahui rekam jejak wanita itu bersama mendiang Rangga dahulu. Membuatnya kini lebih proaktif untuk bertanya.
Mata Shinta membulat tak percaya. seperti diingatkan oleh sesuatu.
Para abdi dalem itu lantas membagi tugas mereka. Jika prediksinya tepat, rumah majikannya itu tak lama lagi akan penuh degan keceriaan.
Sukoco bertugas membeli sepuluh jenis tespeck berbagai merk serta lintas harga. Mereka berdua bak orang sepuh yang menunggui anaknya menjalani pemeriksaan.
Beberapa jam kemudian.
Pintu kamar mandi mengayun, kepala Shinta terlihat menyembul dari balik pintu dengan tangis yang tak bisa ia tahan.
Dua abdi dalem tersebut saling menatap dengan rasa keingintahuan yang semakin membuncah.
" Positif mbak!"
Dengan rasa tak percaya, Shinta menunjukkan beberapa tespeck yang telah ia pakai kepada dua ART- nya.
Sukoco dan Sundari saling menatap dengan wajah haru, Cenderung bahagia. Buah dari kesabaran majikannya itu nyata adanya. Tuhan memang maha membolak-balikkan hati insannya.
.
.
Dananjaya
Matanya tertegun melihat banyak sekali alat penguji kehamilan yang bertengger diatas kotak beludru besar, yang Shinta tempatkan di wadah sabun dengan aksen warna merah mencolok yang mengundang perhatiannya.
Tubuh Danan bergetar, ia tahu arti dari benda pipih dengan panjang sekitar sepuluh centi itu.
Apakah kebahagiaan yang ia nantikan bersama Shinta kini telah tiba?
Pria itu meraih dan melihatnya secara seksama. Dua garis merah yang tercetak disana jelas menjadi bukti nyata jika dirinya telah berhasil menanamkan benihnya ke ladang milik Shinta.
Usahanya telah berhasil.
Ia melesat keluar dengan perasaan campur aduk. Senang, tak percaya, haru, bahagia. Bergabung setangkup senada.
Sejurus kemudian ia mendapati istrinya tengah duduk di ranjang dengan mata yang berkaca-kaca sembari menatapnya dengan penuh cinta.
Ia langsung memeluk seraya menghujani wajah Istrinya yang sudah bergetar karena tangis.
" Terimakasih sayang!"
" Terimakasih!"
Shinta yang di peluk terus mengeluarkan air mata kebahagiaan. Tak mengira ia diberikan anugerah untuk merasakan menjadi seorang ibu.
" Aku yang terimakasih mas!" dengan suara bergetar, Shinta mengeratkan pelukannya sembari terus mengucap syukur dalam hatinya.
...ššš...
Keesokan harinya Keluarga Tuan Wikarna mengundang dokter Richard dan seorang dokter lain atas permintaan Sekar yang tak tega melihat suaminya sakit.
Melalui sambungan telepon, Sekar menginformasikan penyakit yang di dera oleh suaminya itu. Terutama rasa yang di eluhkan suaminya itu bersarang di bagian perut dan kerap mual kala mencium bau tertentu.
" Mas Wisang muntah kalau pagi dok, nyium minyak rambut mama mertua saya langsung mual!"
Richard membawa seorang obgyn wanita lain. Sebab dokter Septa dikabarkan telah berpindah tugas mengikuti dokter Arya suaminya. Sejenak Richard ingat dengan Abimanyu usai mendengar ringankan cerita dari Sekar.
" Apa suami saya perlu dirawat dok?" ucap Sekar yang panik.
Nyonya Lisa dan tuan Wikarna hanya berdiri dari ambang pintu. Sebab menyadari jika Wisang kerap mual karena mencium parfum dan minyak rambut yang mereka kenakan.
__ADS_1
Dokter obgyn itu tersenyum menatap Sekar yang wajahnya tegang " Tidak perlu, ini hanya sementara. Dugaaan saya, Tuan Wisang mengidap sindrom kehamilan simpatik!" tugasnya jelas.
Wisang yang awalnya lemas kini menatap dokter Richard dengan tatapan penuh tanya. Sekar dan juga kedua mertuanya apalagi.
" Ya Wis, istrimu diperkirakan hamil dan kamu yang ngidam!"
" Apa?" Nyonya Lisa dengan wajah semringah turut menyahuti.
" Benar Nyonya, sekarang coba anda test dulu ya. Biasanya wanita yang pernah mengalami keguguran lebih cepat memiliki janin kembali!"
Wisang yang perutnya masih rewel itu, kini beringsut bangun.
" Apa itu benar?" tanyanya kepada Richard.
" Kau tanya saja kepada Abimanyu. Dia sudah lebih dulu mengalami!"
" Hal itu terjadi karena rasa empati yang berlebihan kepada istrimu. Kau tenang saja, itu hanya akan terjadi selama beberapa bulan saja!"
.
.
Dua tahun kemudian
SMP TUNAS BANSA
Raka dan Jodhi berlari kencang menuju halaman sekolah bersama seluruh teman-temannya. Dengan cepat, aula sekolah itu penuh dengan lautan anak sekolah yang berjingkrak karena merayakan kelulusan.
" Aku lulus, yey!!!"
Selaras dengan rasa bangga yang menyelimuti hati keempat orang yang telah duduk manis dalam kegiatan pelepasan siswa-siswi kelas 12 tahun ajaran 20xx.
Raka menjadi lulusan terbaik tahun itu. Dengan penuh kebanggaan, ia menunduk saat sebuah medali di kalungkan oleh Bu Retno selaku kepala sekolah kepada Raka.
" Lulusan terbaik SMP TUNAS BANSA tahun ajaran 20xx diraih oleh Ananda Raka Chandrakhanta!"
Riuh rendah suara tepuk tangan para wali murid menjadi pengiring aksi itu. Raka mengangkat tinggi-tinggi tropi yang diberikan kepadanya.
Abimanyu beserta Dhira, juga Indra yang bersama Anggi yang tengah hamil anak kedua telah turut hadir disana.
Menitikan air mata penuh rasa haru dan bangga.
" Terimakasih untuk Dua papaku, dan dua mamaku tercinta. Tanpa kalian, aku tidak akan bisa sampai di titik ini!"
Raka dengan mata berkaca-kaca menatap empat orang yang duduk saling berdekatan di barusan kursi pertama aula gedung sekolah itu.
" Terimakasih untuk cinta kalian yang tiada pernah berhenti, untukku!"
Raka berucap dengan suara bergetar dan air mata yang sudah menetes. Membuat kesemua tamu yang hadir turut menatap empat orang yang di tatap Raka dengan rasa haru.
Raka tidak malu apalagi minder , meski jelas papa dan mamanya telah memiliki kisah hidup masing-masing. Namun yang lebih penting dari itu, kesemua orang tuanya kini telah bahagia dan hidup dengan baik.
.
.
Kediaman Aryasatya
" Itu gelasnya taruh sini semua aja!" ucapnya kepada Siti.
Rania kini menjadi koordinator acara ucapan syukur kelulusan Jodhi dan Raka di rumah keluarga Aryasatya.
Sementara Bastian Jodhi dan Raka kini sibuk dengan api dan panggangan di halaman belakang rumah besar itu.
" Pa, jangan begini. Ini harusnya disana!" Jodhi benar-benar membuat Bastian geleng-geleng. Anaknya itu benar-benar perfeksionis.
Nyonya Regina dan Bu Kartika duduk diatas permadani yang ada di Selasar belakang sembari bermain dengan Kalyna yang sudah berjalan kesana kemari di temani oleh Endang.
" Uti capek nak, sini aja ya kita duduk!" Bu Kartika sudah tidak sanggup untuk mengejar bayi yang kini tengah aktif- aktifnya itu.
Ya, singkat cerita keluarga Dhira tengah mengadakan acara ucapan syukur dan kumpul- kumpul degan keluarga dan para sahabat dengan suasana santai.
" Astaga, apa aku terlambat?" ucap Danan yang kini lebih rempong karena ia dan Shinta di karuniai sepasang anak kembar.
" Mbak Shinta , mas Danan aduh sini aku bantu!" Rania terperanjat saat melihat Danan yang menggendong sembari membawa banyak sekali kantong hadiah untuk Raka dan Jodhi.
" Belum kok, mas Wisang juga belum datang!" sahut Rania yang terkejut melihat Shinta dan Danan yang membawa banyak sekali hadiah untuk Raka dan Jodhi sembari menggendong anak mereka masing-masing.
" Untuk Raka dan Jodhi!" Shinta menambahi.
" Aduh jadi ngerepotin nih, halo Banyu, Agni!" Rania menoel pipi gembul kedua anak Danan dan Shinta dengan gemas.
Ya, Shinta mendapatkan hadiah luar biasa dari sang pencipta. Anak kembar berjenis kelamin laki-laki dan perempuan.
Banyu Biru Danadyaksa, nama yang berarti pria tampan bersifat menentramkan laksana air biru yang menjadi penjaga kekayaan.
Agni Ekavira Swastika, wanita cantik dengan simbol kobaran api penyemangat yang sarat dengan pesona dan keberanian.
Kedua nama yang Danan dan Shinta harapkan menjadi kenyataan. Doa yang tersemat dalam nama itu, senantiasa Shinta dan Danan percaya.
Tuhan benar-benar tak tanggung-tanggung dalam mengganti semua kenestapaan Shinta di masa lalu. Kini, ia tegah menikmati peran sebagai ibu yang tiap hari rempong lantaran mengurus dua bayi mungil dan satu bayi tua yang rewelnya makin menjadi.
.
.
" Selamat siang, halo!!" ucap Wisang yang menggendong baby Al lantaran Sekar telah hamil anak ketiganya.
Rupanya Danan dan Wisang datang dalam jarak yang tak terlalu lama. Membuat suasana rumah itu kini ramai.
" Sekar, aduh ada baby Al disini. Sini biar aku yabg gendong, Mbak Dhira kak Abi mas Wisang sama istrinya udah datang ini!" Rania lagi-lagi menjadi tim rempong disana.
" Ini untuk Jodhi sama Raka!" Sekar menyerahkan seabrek kantong yang entah isinya apa saja itu.
" Ya ampun, ini kok malah jadi merepotkan loh!"
Kelahiran anak Wisang dan Danan hanya terpaut dua Minggu saja. Agaknya cita-cita ingin berbesan di dengar oleh sang pencipta.
Alsaki Wasupati, adalah nama putra kedua Wisang dan Sekar. Nama yang berarti Pria tampan murah hati yang bergelimang harta.
Setali tiga uang dengan Danan dan Shinta, mereka juga menyematkan doa dalam nama anaknya itu.
Lengkap sudah Kebahagiaan mereka. Apalagi, kini Sekar telah hamil kembali. " Wah, Banyu sama Agni udah datang ternyata!" seloroh Sekar yang tersenyum menatap bayi berusia satu tahun lebih itu dengan riangnya.
__ADS_1
.
.
" Raka, ini buat Raka. Semoga nanti sekolahnya tambah semangat ya!" Anggi memberikan sebuah hadiah berupa ponsel keluaran terbaru kepada anak sambungan itu.
" Makasih ma!" Raka tersenyum senang demi melihat hadiah yang diberikan oleh mama Anggi.
Indra yang menggendong Elang , turut menatap Raka dengan tersenyum. " Anak papa luar biasa, habis ini SMA jangan sampai kendor prestasinya kalau udah kenal cewek!" ucap Indra berkelakar.
" Apaan sih pa!" Raka meninju pelan lengan papanya yang tenang menggendong Elang.
Jatayu Elang Pamungkas, adalah nama anak Indra bersama Anggi.
Masa lalu bukan untuk kita hindari, kita bisa belajar dan hidup berdampingan dengan hal tersebut guna hidup yang lebih baik.
Rekam jejak yang ada, bisa kita jadikan sebagai cermin agar langkah kedepannya bisa lebih baik lagi.
Baik Abimanyu maupun Indra sudah sama-sama melupakan segala kesilapan yang terjadi. Kini, mereka sudah menjadi satu bahagian yang akan terus saling terhubung.
" Elang ikut mas yuk!" Raka meraih tubuh adik dari pihak papanya itu, lalu mengajaknya untuk menemui Jodhi dan om Bastian yang asyik membuat Barbeque.
Indra dan Anggi tersenyum senang, sungguh kita tak akan pernah tahu apa yang terjadi bila kita tidak membuka lembaran baru dalam hidup kita.
.
.
Shinta, Sekar dan Dhira serta Anggi kini sibuk menata berbagai makanan yang akan mereka santap di halaman belakang. Ya, acara mereka berkonsep outdoor.
" Al makin gembul aja Sekar!" ucap Dhira sembari memotong semangka.
" Iya Bu, mama Lisa tiap hari yang bikinin makanan!"
" Orang tua emang gak bisa diragukan ya, mama Alda juga sering banget ngingetin untuk beli ini itu buat Banyu sama Agni!" sahut Shinta.
" Benar mbak, kalau sudah sama mereka, kita kadang gak kebagian jatah ngasuh ya!"
Mereka semua saling berbaur. Penuh harmoni dan rasa yang karib.
Al, Banyu, dan Agni kini di kerubungi oleh Oma Regina, Bu Kartika dan Bik Surti. Kehadiran bayi berusia satu tahun lebih itu benar-benar sangat membuat para sesepuh itu senang.
Sementara para bapak- bapak asik memanggang potongan daging dan berjibaku dengan kepulan asap.
Jodhi, Raka sibuk mengasuh Kalyna dan Elang. Mereka terlihat asik bermain dengan banyaknya mainan yang sudah Bastian siapkan di Selasar halaman belakang.
" Si Raka sama Jodhi kalau disuruh momong jago banget Nggi!" Seloroh Sekar kepada Anggi.
Ya, mereka berdua kini sama-sama hamil. Menikmati indahnya mengandung dengan segala perhatian spesial dari suami mereka.
" Iya Mbak, malah jago mereka ketimbang bapaknya!" mereka saling terkekeh.
Dan saat mereka semua tengah sibuk dalam tugas masing-masing, Rania datang dengan berteriak.
" Pah, papah!" Ia meneriaki Bastian dengan berjingkrak. Membuat kesemuanya menatapnya bingung.
" Kenapa Mah?" Bastian langsung melesat dan meninggalkan daging yang ia garap.
" Lihat!" dengan mata berkaca-kaca Rania menunjukkan dua garis merah kepada Bastian.
Tubuh Bastian langsung menegang saat meraih benda berbentuk strip itu. tak mengira jika akhirnya mereka di karuniai anak usai menjalani program dengan dokter spesialis kandungan selama ini.
Abimanyu berjalan mendekati adik iparnya saat ia tahu benda yang di serahkan oleh Rania.
" Sudah sering aku katakan. Segala sesuatu ada waktunya!"
" Dan waktumu, adalah sekarang!" Abimanyu menepuk pundak adik iparnya.
" Selamat!"
Bastian dan Rania sempat hope less lantaran sudah dua tahun menikah namun belum juga bisa memiliki anak.
" Anak itu sama dengan rejeki, kalau belum waktunya di kasih ya gak akan dapat!"
" Sabar, yang penting usaha dan minta dengan sungguh-sungguh!"
Baik Oma Regina maupun Bu Kartika tak hentinya mengatakan hal yang sama tiap ia melihat menantu atau cucunya bersedih. Rania selalu berusaha menepis rasa gundahnya itu. Mereka berdua sama-sama sehat dalam pemeriksaan organ reproduksi.
Dan dari semua itu berarti, mereka harus memasrahkan semuanya kepada sang khalik.
Dan pagi tadi, ia yang merasa terlambat haid sengaja melakukan test mandiri. Meski ragu tapi apa salahnya mencoba. Ia tak memberitahu Bastian dulu lantaran takut jika hasilnya kembali mengecewakan.
Singkat cerita ia kemudian lupa dengan strip yang baru saja ia celupkan kedalam urine miliknya, karena Abimanyu dan Andhira yang kemudian datang dengan terburu-buru. Benda itu Rania letakkan begitu saja diatas wastafel kamar mandi kamarnya.
Dan saat ia merasa ingin buang air kecil, ia kembali teringat dengan hasil tesnya tadi. Tak di nyana, matanya membulat demi melihat dua garis merah sebagai penegas jika jabang bayi telah bersarang di dalam rahimnya.
"Selamat Ran!"
" Akhirnya!"
Suara-suara kebahagiaan turut terdengar dari bibir para wanita disana. Shinta turut menitikan air mata bahagia. Ia paham betul perasaan Rania. Mengingat ia dulu juga seperti itu.
Bastian memeluk mesra istrinya. Menciumi puncak kepala Rania dengan penuh cinta.
" Terimakasih sayang. Akhirnya kita juga bisa seperti mereka!" bisik Bastian dengan suara bergetar.
Kini Bu Kartika dan Oma Regina menangis haru. Sungguh, tiada kata lain yang bisa mereka kecap selain rasa syukur kepada yang kuasa.
Dan sejurus kemudian.
" Bos, mohon maaf ijin terlambat !"
Devan dengan ngos-ngosan berlari sembari menggandeng Alexa yang juga terlihat sama kembang kempisnya.
.
.
.
.
.
__ADS_1