
Bab 118. You and Me , Us
.
.
.
...ššš...
Heart beats fast
(Jantungku berdebar kencang)
Colors and prom-misses
(Warna-warni dan janji-janji)
How to be brave
(Bagaimana agar berani)
How can I love when I'm afraid to fall?
(Bagaimana bisa aku cinta saat aku takut jatuh?)
But watching you stand alone
(Namun melihatmu sendirian)
All of my doubt suddenly goes away somehow
(Segala bimbangku mendadak hilang)
One step closer
(Selangkah lebih dekat)
I have died every day waiting for you
(Tiap hari aku tlah mati karena menantimu)
Darling don't be afraid
(Kasih jangan takut)
I have loved you for a thousand years
(Aku tlah mencintaimu ribuan tahun)
I'll love you for a thousand more
(Aku kan mencintaimu ribuan tahun lagi)
Time stands still
(Waktu berhenti berputar)
Beauty in all she is
(Segala tentangnya begitu indah)
I will be brave
(Aku akan berani)
I will not let anything take away
(Takkan kubiarkan segalanya berlalu begitu saja)
What's standing in front of me
(Apa yang menghalangi di depanku)
Every breath
(Tiap tarikan nafas)
Every hour has come to this
(Tiap jam telah sampai di sini)
One step closer
(Selangkah lebih dekat)
And all along I believed I would find you
(Dan selama itu aku yakin aku kan temukan dirimu)
Time has brought your heart to me
__ADS_1
(Waktu tlah membawa hatimu padaku)
I have loved you for a thousand years
(Aku tlah mencintaimu ribuan tahun)
I'll love you for a thousand more
(Aku kan mencintaimu ribuan tahun lagi)
( Christina Perri ~ A Thousand Year)
.
.
" Siapa mas?" tanya Dhira yang kini tengah terlihat membuat makanan di dapur Bu Kartika. Abimanyu membuntuti Dhira kemanapun calon istrinya itu pergi. Dan kini terlihat duduk di depan meja yang berada di dapur belakang.
"Wisang!" jawab Abimanyu.
"Nyari Sekar palingan!" imbuh Abimanyu seraya memasukkan ponselnya ke saku celananya.
"Kamu masak apa sih, enak banget baunya!" Abimanyu memanjangkan lehernya guna melihat maha karya Dhira yang terlihat tengah ia tunggui sedari tadi.
" Ini namanya sawut, Bastian suka banget ini!" Dhira membuat panganan dari ketela yang di parut kasar, di kukus lalu di beri gula merah dan parutan kelapa. Cocok di makan di suasana dingin seperti malam ini.
"Apa itu, kok aku gak pernah lihat!" ucap Abimanyu.
"Mas taunya ilmu laba rugi. Mana tahu panganan ndeso begini"
Membuat Abimanyu terkekeh.
"Tapi mas, biar ndeso begini ini otentik lo rasanya!" Dhira berucap seraya menata gula merah dan kepala parut yang sudah di kukus.
Abimanyu makin takjub dengan kepiawaian Dhira. Wanita di depannya itu benar-benar calon istri idaman. Sudah cantik, hot, jago di dapur wes pokok komplit tenan.
"Mau dong!" ucap Abimanyu tak sabar.
"Belum juga matang!" Dhira berbalik dan menaruh beberapa perkakas kotor, ke wastafel cuci piring.
Mereka hanya berdua disana. Sementara Bu Kartika, tengah mengunjungi para saudara jauh yang berada komplek lain bersama Bastian dan Raka, untuk atur-atur ( memberi tahu) terkait hari ijab kabul Dhira, yang akan di laksanakan tiga hari kedepan. Tentunya usai mereka berbicara serius, soal pernikahan Dhira dan Abimanyu.
Dhira terlihat membuka penutup dandang kerucut itu, membuat kepulan asap dari hasil kukusan itu membubung tinggi ke dapur itu. Uapnya memenuhi plafon dapur Bu Kartika.
"Wihhh, bisa begitu ya. Kamu gak kepanasan Dhir?" Abimanyu takjub, rupanya wanita itu sangat banyak memiliki keahlian ya.
"Begitu gimana. Cara buka tutup dandang kan memang begini!" Dhira menggelengkan kepalanya. Calon suaminya itu apa tidak pernah melihat orang memasak pikirnya.
Dhira mengambil 5 piring ukuran sedang, dan mengisi tiap piring itu dengan sawut. " Ini mas coba dulu, takutnya lidah mas gak biasa!" kekeh Dhira.
"Apapun yang kamu masak kan seolah dapat sentuhan ajaib. Bukti nyatanya ya Jodhi. Dia adalah pemuja masakan mu Dhir!" tukas Abimanyu seraya tertawa.
Abimanyu mulai menyendokkan makanan itu, kemudian mengarahkan ke mulutnya. Ia membelalakkan matanya dengan kepala manggut-manggut.
Dhira seolah bak menunggu hasil penjurian dari lomba yang ia ikuti, begitu melihat Abimanyu tengah mengoreksi rasa panganan yang ia coba itu dengan wajah misterius.
"Mmmmmmm" wajah Abimanyu nampak menimbang- nimbang usai makanan itu berhasil di rasakan oleh lidahnya.
"Gimana?" Dhira tak sabar, raut wajah Abimanyu tak bisa ia tebak.
"Mmmmmmmm" kali ini Abimanyu malah ber- am em am em.
"Mas!!!"
"This is delicious Dhir. I like it!" Abimanyu berucap bak seorang chef yang tengah menjadi juri bagi Dhira dengan mulut penuh makanan tradisional itu.
Dhira tergelak, " Aku kira gak suka!" ucap Dhira seraya menata 4 piring lagi, yang telah terisi sawut. Menaburinya dengan parutan kelapa.
"Nambah lagi dong, enak banget ini. Tambahin gula sama kelapanya!" pinta Abimanyu.
"Ini, tapi yang itu buat ibuk, Bastian sama Raka!" ucap Dhira menunjuk tiga piring di sampingnya.
"Kenapa gak buat banyak. Jatah terakhirku dong ini!" Abimanyu berengut.
Dhira tertawa kecil, wanita mana yang tak senang bila hasil olahannya laris dan di sukai orang yang dia sayangi.
"Besok aku buatin lagi, orang ketela harganya murah!" ucap Dhira seraya membereskan peralatan dapur.
"Jadi ini dari ketela?, kok bisa enak begini. Oma harus coba ni kapan- kapan. Dia pasti suka!"
" Aku beruntung Dhir dapat istri kayak kamu. Paket lengkap emang kamu itu!"
...ššš...
Abimanyu
Hari yang di nantikan Abimanyu tiba. Pria itu terlihat mematut dirinya cermin. Sebuah songkok hitam bertengger di atas kepalanya sebagai pelengkap. Setelan jas mahal juga sudah terpasang fit di tubuhnya. Abimanyu pria kaya, namun Dhira meminta untuk tak berlebih-lebihan.
Ia menuruti segala kemauan Dhira yang dinilai memiliki sifat bersahaja itu. Lagipula, nanti malam masih ada acara resepsi di hotel Danan pikirnya.
Abimanyu sudah sangat tidak sabar. Meski ini bukan acara menikah eksklusif bagi mereka, tapi yang paling penting bagi Abimanyu adalah tentang siapa wanita yang bakal menemani sisa umurnya kedepan. Wanita yang jelas akan melengkapi dirinya sebagai suami dan juga calon papa.
__ADS_1
Udara sejuk pagi itu benar-benar ramah kepada Abimanyu, udara yang jauh lebih baik karena belum terkontaminasi kemunafikan dunia. Menjadi pilihan mereka untuk menyelenggarakan proses sakral, pengukuhan janji.
Ia bersama Oma dan Rania terlihat baru tiba di kediaman Bu Kartika. Dhira tak mementingkan selebrasi, dia lebih fokus ke proses legalisasi dirinya untuk menjadi istri sah Abimanyu.
Sebelum berangkat tadi, ia sudah meminta doa restu kepada Oma-nya juga adik satu-satunya. Rania.
.
.
Rumah ukuran standar itu hanya di pasang sebuah tenda di depan pelataran yang tak terlalu luas. Sebuah catering sewaan lengkap dengan beberapa pekerjanya juga sudah standby sedari hari masih gelap.
Banyak keluarga dekat yang ada di sana. Raka sudah rapih dengan kemeja batik, Bu Kartika juga tampil lebih cantik saat ini dengan polesan make up dan hijab yang indah, serta Bastian juga terlihat gagah dengan baju batik.
Jika di tilik, gelaran acara itu terlihat standar. Padahal, yang menjadi mempelai pria adalah orang berada. Dhira berdalih, ia bukan anak perawan yang segala sesuatunya musti heboh. Ia cukup tahu diri akan hal itu.
"Wih, kamu ganteng banget Ka!" Bastian memindai tampilan Raka dengan rambut klimis rapih karena sapuan Pomade. Benar-benar ciamik.
"Om juga ganteng, sayang gak laku-laku!" Raka terkekeh.
"Bukan gak laku, belum laku!" Bastian justru tertawa bersama keponakannya.
Dhira memakai kebaya elegan yang fit di tubuhnya, kedua gunungan di depan dadanya itu terlihat padat naik karena tekanan korset yang berada di balik kebayanya.
Sanggulan simple dan make up yang tak terlalu tebal, malah justru membuat Dhira laksana bidadari pagi itu.
Ya, Bu Kartika lebih memilih membiayai anaknya itu sesuai kemampuannya. Mengingat saat Dhira menikah dengan Indra dulu, ia sama sekali tidak ikut campur. Abimanyu menyetujui hal itu, namun ia meminta bagian untuk resepsinya harus mengikuti cara mereka. Dan itu dirasa cukup adil.
Sekar sudah berada di sana sedari subuh, ia juga turut menjadi Tim sibuk bersama Shinta. Para tetangga juga hadir di sana, bahkan ibu-ibu yang dulu pernah mencibir Dhira saat wanita itu berbelanja ke mlijoan cak Ahmad juga turut hadir.
Keluarga jauh dari mendiang bapaknya juga sudah hadir.
Saat mempelai pria datang, para keluarga menyambut aneka seserahan yang di bawa keluarga Aryasatya. Begitu banyak dan semua barang dan makanan mewah. Membuat semua yang disana cukup heran sekaligus takjub, siapa sebenarnya calon suami janda itu. Mengapa barang bawaannya adalah semua barang yang terlihat berharga tak murah.
Meski bukan kali pertamanya, namun kegugupan masih melanda diri Abimanyu. Saat bersama Gwen dulu, ia tak merasakan perasaan sekompleks ini.
"Jangan tegang!" Oma Regina sudah bisa menebak perasaan cucunya. Lantaran Abimanyu sedari dari menjahit tanah dengan gerakan kakinya yang bergetar menginjak. Menandakan jika pria itu tengah gugup.
" Mbak, manten pria nya sudah datang. Mari!" seroang perias memanggil Dhira. Jantung wanita itu kini berdegup kencang. Beberapa menit kedepan ia sudah akan menjadi istri Abimanyu. Ia akan menyudahi statusnya sebagai janda. Membuka lembaran baru dalam hidupnya bersama Abimanyu. Pria dengan segala pesona yang berhasil merebut hatinya.
Saat melangkahkan kakinya keluar, Dhira melihat banyak sekali orang. Kesemuanya terlihat mengenakan pakaian terbaik yang mereka miliki. Dhira tersenyum. Hati ini tiba juga, hari dimana ia menjemput kebahagiaan usai melewati badai yang sempat menerpa hidupnya.
Ia melihat meja persegi panjang dengan beberapa kursi yang di tata mengitari meja dengan taplak putih gading nan elegan. Seorang petugas pria terlihat mengecek beberapa berkas diatas meja itu.
Dhira beradu pandang dengan Abimanyu. Calon suaminya itu tampan dengan sebuah songkok. Entah siapa yang memintanya mengenakan penutup kepala khas budaya timur itu.
Laju darahnya mengalir cepat, debaran rasa itu hadir tatkala ia memandang wajah Abimanyu. Pria uda selama dua hari terakhir tak ia lihat. Pria itu mencukur bulu halus yang biasanya tumbuh di area rahang kokoh miliknya.
Abimanyu terlihat tampan.
Wisang datang terlambat karena menjemput Danan subuh itu ke bandara. Ya, sebagai sahabat sejati menyaksikan perhelatan akbar Abimanyu adalah hal penting. Meski belum bisa duduk di barisan pertama, namun mereka lega karena belum terlambat.
Indra juga terlihat berada di sana, meski ia tak terlalu mau mendekat. Ia ingin menyaksikan mantan istrinya menjemput kebahagiaan. Karena jelas, ia adalah pria yang tak becus untuk memberikan hal itu.
"Kamu cantik banget Dhir?" bisik Abimanyu saat Dhira duduk di sampingnya. Tengah menunggu petugas itu mempersiapkan segala sesuatunya.
Abimanyu mendadak menjadi gelisah melihat dua benda indah dalam balutan kebaya yang membuat tampilan Dhira bak perawan itu. Dua benda yang pernah ia cicipi. Dhira sangat cantik. Ia tak tahu apa dia sanggup bertahan hingga acara resepsi nanti malam di hotel Danan. Apalagi, calon istrinya itu benar-benar berhasil membuat jiwa kelelakiannya selalu kalang kabut.
"Mas juga ganteng pakai itu!" ucap Dhira menunjuk songkok mahal yang terpasang di atas kepalanya dengan tersenyum.
"Oma yang nyuruh!" Abimanyu terkekeh.
Semua keluarga yang bertugas menjadi saksi telah menempati kursi yang di sediakan. Adik kandung almarhum Bapaknya Dhira juga sudah berada di sana. Menjadi wali bagi Dhira. Bastian juga sudah duduk rapi di antara kursi itu.
Suasana menjadi tegang, semua fokus kepada kumpulan manusia yang duduk mengitari meja itu. Dhira duduk berdampingan dengan Abimanyu, yang tangan kekar calon suaminya itu kini sudah bertaut dengan tangan seorang pria yang akan menikahkan mereka.
Oma Regina duduk bersama Bu Kartika, Rania, serta Raka di belakang mereka. Tak mau barang sedetikpun melewatkan acara sakral ini.
Para fotografer sudah bersikap untuk membidik gambar terbaik selama proses akad itu berlangsung. Bayaran mahal tak boleh membuat mereka melakukan kesalahan. Semua harus bagus.
Dan dengan detak jantung yang kian bertempo, dengan mensrik nafasnya dalam, ia mengucap kalimat tegas itu dengan satu kali tarikan nafas.
"Saya terima nikah dan kawinnya Andhira Avanti binti Wahyu Laksono Almarhum dengan maskawin yang tersebut di bayar tunai!"
"Bagiamana saksi?" tanya petugas itu.
"Saaahhhhh!!!!" koor semua tamu disana. Adalah Bu Kartika, wanita itu menitikkan air matanya saat itu juga. Di susul Rania dan Oma Regina yang juga mengiringi acara itu dengan air mata kebahagiaan. Bahkan Bastian kini bernafas lega. Raka terlihat bertepuk tangan seperti tamu yang lainnya.
Bocah itu hendak menangis namun ia tahan, ia kini lega mamanya sudah memliki dua pelindung. Abimanyu dan dirinya.
Indra menatap prosesi khidmat itu dari jauh, ada rasa nyeri di relung hatinya. Ia kini sudah mendapat ganjaran dari benih yang ia tabur. Benih malapetaka yang perlahan menggerogoti dirinya sendiri dan membawanya kepada kehancuran.
Dan saat ini, ia melihat wanita yang selama 13 tahun yang lalu pernah duduk di posisi seperti itu bersama dirinya, kini ini tengah bersanding dengan bahagianya bersama pria lain. Pria yang harus ia akui jauh lebih baik darinya.
Selamat berbahagia Dhir lirihnya dalam hati. Melihat Raka yang bertepuk tangan bahagia, ia cukup puas. Ia telah melakukan hal yang sudah tepat meski diatas ketidaksempurnaan.
Namun saat ia tengah larut dalam kesedihan, ia melihat seseorang yang sibuk meladeni tamu dengan menata minuman dan memakai seragam catering sewaan.
"Anggi!!!" .
.
__ADS_1
.