The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
109. Merajuk


__ADS_3

109. Merajuk


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


Seribu wanita


Yang pernah singgah


Hanya datang dan pergi


Dan tak ada hati


Kau pun datang


Ada yang berbeda


Mengapa begini?


Apa yang terjadi?


Tak pernah sebelumnya


Tak pernah kuduga


Kuakui, ku main hati


Ku tak bisa 'tuk memungkiri


Ku main hati


Bersamamu kurasakan


Yang tak pernah kurasakan sebelumnya


Pencarianku berakhir


Kar'na ku t'lah temukan dirimu


Kuakui, ku main hati


Ku main hati, ku main hati


Ku tak bisa 'tuk memungkiri


Ku main hati, ku main hati


( Andra and the backbone ~ Main Hati)


.


.


Bastian


Bastian termenung di kursi teras rumahnya. Pasca ia mengetahui bila Rania pernah diantar oleh Fredy beberapa waktu yang lalu, ia menjadi ciut nyali. Ia sadar, ia hanyalah pria berpenghasilan jauh dibawah Rania.


Dan di taksir dari tampilannya, Fredy merupakan orang berkelas. Tak seperti dirinya.


Ia menyesap rokoknya dalam-dalam, usianya tak lagi muda. Berkali-kali memaksakan diri untuk dekat dengan wanita, namun hanya berakhir dengan kandasnya hubungan yang hanya seumur jagung.


Tentu saja persoalannya adalah finansial. Apalagi, beberapa waktu yang lalu selama mobilnya masih tergadaikan, ia hanya wira- wiri menggunakan motor matic kesayangannya.


Membuat ia tak dilirik oleh wanita manapun.


"Kamu belum berangkat Bas?" tanya Bu Kartika, ia turut mendudukkan dirinya di kursi kosong samping Bastian.


"Belum Buk, masih jam segini!" jam masih menunjukkan pukul 18.00


Bastian biasanya sudah pergi kelayapan bersama Satrio. Darah muda, darah yang berapi- api kata bang Haji Roma Irama. Apalagi ini adalah malam Minggu.


Tapi ia juga ingat dengan lagu Bang Haji Roma Irama..

__ADS_1


Apa artinya malam Minggu, bagi orang yang tidak mampu 😁😁😁


"Ibuk juga mau bicara sama kamu!" Bu Kartika memindahkan posisinya menghadap ke arah Bastian.


Bastian menggerus batang rokoknya, ia tak mau membuat esofagus ibunya terkontaminasi paparan asap rokoknya m


"Ya buk, ada apa?" Bastian sudah dalam mode on.


"Ibuk gak mau membuat kamu tertekan seperti kakak mu!"


Suasana hening. Bastian sudah tahu kemana arah pembicaraan mereka setelah ini.


"Tapi ibuk cuma mau pesan, kalau bisa cari saja wanita yang dibawah kita atau kalau tidak sepadan. Kamu itu laki-laki, beda sama Dhira. Segala sesuatunya musti kamu yang nanggung nanti. Meski ibuk juga belum tahu siapa pacar kamu!"


Kilasan ingatan Bastian tertambat pada Rania. Atasannya itu tak jarang menunjukkan sinyal yang sama dengan dirinya, perihal soal asmara terutama. Namun, ia cukup tahu diri untuk tahu kedudukannya saat ini.


Rania janda cantik yang muda pikirnya. Tapi...


Banyak sekali tapi yang kini menjadi PR nya.


Belum lagi mereka akan menjadi saudara setelah ini, karena Abimanyu jelas akan segera memperistri kakaknya.


"Memangnya kamu sudah punya calon apa belum Bas?" Bastian masih terpekur menatap ujung sandalnya saat mendengar pertanyaan dari ibunya.


"Belum Buk, anak ibuk yang ganteng ini gak laku- laku kayaknya!" Bastian malah berkelakar. Ia tak ingin membuat ibunya yang baru sembuh dari kekecewaan itu, terlalu mencemaskan dirinya.


"Dasar!" Bu Kartika mengosek kepalanya anak bungsunya itu. Ia juga terkekeh mendengar jawaban Bastian.


.


.


Wisang


" Apa nomerku di blokir ya?" Wisang tak bisa menghubungi nomer Sekar. Ia berbicara kepada dirinya sendiri, seraya menatap layar ponselnya.


Ya, semenjak Sekar menangis karena di katai anak kecil oleh Wisang, ia sama sekali tak menghubungi wanita itu. Ia ingin membiarkan emosi wanita itu stabil.


Namun hatinya gelisah saat ia tak bisa mengirimkan pesan ke WA gadis itu, " Asli nih, di blokir aku!" ia menyambar jaket kulitnya, sejurus kemudian ia melesat ke garasi.


"Gak makan dulu Tuan?" jawab mbok tua yang menjadi ART setia selama Wisang masih kecil dulu.


"Makan diluar, aku pergi dulu mbok!"


Ia harus menemui wanita itu pikirnya, apa pula kesalahan yang ia perbuat. Mendadak jiwanya gelisah. Jelas ini bukan dirinya, mana pernah dia memusingkan seorang wanita.


Ia melirik jam tangan hitam yang melingkar di tangannya, belum terlalu malam pikirnya. Ia ingin mengajak Sekar keluar malam ini.


Sejenak ia memperhatikan tampilannya di rear vision mobilnya. Ia juga ber-hah dengan gerakan meletakkan tangan di depan mulutnya, persis dengan cara manusia memaksa kelomang atau kingking laut keluar dari cangkangnya, karena kebauan nafas manusia.


"Wangi kok!" ia bermonolog percaya diri.


Benar- benar tidak seperti Wisang yang bisanya dingin dan terkesan angkuh kepada wanita lain. Kecuali di ranjang.


Ia memacu kuda besinya dengan kecepatan tinggi, lebih cepat lebih baik pikirnya. Tak sabar ingin meminta penjelasan kepada Sekar terkait urusan blokir memblokir nomor.


.


.


Sekar


Ia tak menutup Ruko, ia kini tengah sibuk melayani beberapa pelanggan. Sayang pikirnya kalau malam Minggu harus tutup lebih cepat. Mengingat malam itu adalah malam dimana biasanya banyak manusia berkeliaran, dengan peredaran uang yang lebih menggeliat dari hari biasanya.


"Sekalian aja deh mbak itu donatnya, tinggal satu box kan?" tanya seorang wanita paruh baya yang membeli kue disana.


"Iya Bu, mau sekalian aja?" Sekar melayani dengan keramahan tinggi.


"Iya deh!"


Sekar memasukkan pesanan ibu tadi kedalam kantung plastik dengan logo Dapur Isun yang tercetak di muka plastik itu.


"Ini Bu kembalinya, matur nuwun!" Sekar mengangguk sopan usai menyerahkan kembalian kepada ibu itu.


Cake showcase itu kini tak berpenghuni, alias semua jualan di kedai itu sudah habis. Laris manis. Sekar berniat ingin beristirahat lebih cepat setelah ini. Ia mulai mengambili tempat kue yang kotor itu, sejurus kemudian menumpuknya di meja kasir.


Namun saat ia sibuk mengelap meja di kedai itu, sebuah mobil masuk ke halaman parkir ruko itu. Mobil yang ia kenal.

__ADS_1


"Untuk apa dia kesini?" Sekar menggerutu. Ia memilih menyibukkan dirinya untuk membereskan perkakas yang sudah waktunya di simpan karena ia hendak menutup ruko.


Wisang terlihat ganteng malam itu sebenarnya, sepatu sneaker, celana chinos krem, kaos putih yang di lapisi jaket kulit warna hitam, membuat tampilannya sangat necis.


Sekar masih tak menggubris Wisang yang sudah hampir sampai di tempatnya mengelap meja. Bahkan bau parfum pria itu, sudah lebih dulu menyapa bulu hidungnya.


"Sudah mau tutup?" Wisang yang tahu Sekar tengah berberes, memilih kata itu untuk membuka percakapan.


Sekar sekilas melirik Wisang." Iya" ia kembali menata tempat tissue juga tumpukan air mineral di meja itu.


Wisang berdiri, mendekati Sekar yang masih sibuk menggosok, mengelap ,dan membersihkan beberapa meja disana. Ada sekitar 15 meja yang ada disana, menunggu untuk di bersihkan.


"Kamu mau kemana?" Wisang bersidekap sembari mengikuti Sekar yang berpindah dari satu meja ke meja lain.


"Mau mencuci itu!" tunjuk Sekar pada tumpukan lengser hitam yang teronggok di meja kasir menggunakan dagunya.


Wisang mendengus, gadis itu masih merajuk rupanya. " Permisi!" Sekar merasa Wisang menghalangi aktivitas, pria itu mengekor kemanapun Sekar pindah.


"Kamu marah sama saya?" Wisang kini berpindah ke meja sebelah barat. Mengekor di belakang Sekar, yang bahunya berguncang karena menggosok permukaan meja itu.


"Enggak!" jawab Sekar sambil menyemprotkan cairan pembersih.


"Nomer saya kamu blokir?" Wisang harus menggeser tubuhnya lagi, saat Sekar hendak merapikan beberapa kursi disana.


"Enggak!" Kini Sekar merapatkan kursi ke dekat meja.


"Terus kenapa saya gak bisa nelpon kamu. Saya ada salah sama kamu?"


"Enggak!" Sekar mendorong kursi terakhir di bagian barat itu. Membuat Wisang musti bergeser lagi.


"CK, enggak, enggak, enggak kayak ada jawaban lain aja!" Wisang berdecak kesal dengan jawaban Sekar yang taka ada varian lain lagi.


"Saya sedang bekerja, saya tidak marah dengan anda, dan anda tidak punya salah kepada saya tuan Wisang!" Sekar sebal dengan pria yang mulai cerewet itu. Ia menatap Wisang dengan kesal.


"Minggir saya mau mencuci nampan!" Sekar menabrak pundak Wisang yang menghalangi jalannya. Membuat pria itu terhuyung.


"Jelas kamu merajuk begitu!" tukas Wisang mengikuti langkah Sekar.


Wisang mengikuti Sekar ke dalam, bukan itu jawaban yang dia inginkan.


Sekar mulai menaruh tumpukan perkakas kotor, yang akan ia cuci sebentar lagi. Ia mulai meraih celemek pink yang di pakai Wisang tempo hari. Setelah simpul tali itu terpasang sempurna, Sekar mulai menuang sabun ke wadah.


"Kamu kenapa cuek begini?"


"Kalau saya ada salah ngomong dong?"


Wisang terus menganggu, membuat kesabaran Sekar terkikis.


"Kemaren- kemaren kamu gak begini ke saya!" Wisang masih gencar mengoceh di belakang Sekar.


Sekar mulai kehilangan kesabaran, ia memejamkan matanya seraya menarik nafas dalam.


"Tuan Wisang, saya tidak ada masalah dengan anda, saya juga tidak marah dengan anda, saya sedang bekerja, jadi tol........


Wisang menarik tubuh ramping gadis itu, ia menangkup wajah Sekar dengan kedua tangannya lalu mencium bibir Sekar. Wisang melu mat serta menggigit bibir Sekar dengan pelan. Ia tak tahan jika wanita itu terus mengoceh dan mendiamkannya.


Sekar membelalakkan matanya karena terkejut dengan serangan Wisang yang tiba-tiba, sejurus kemudian dia mendorong tubuh Wisang. Membuat ciuman mereka terlepas.


"Apa yang Tuan lakukan?" Sekar mengusap bibirnya, ia menatap sebal ke arah Wisang.


Wisang tersenyum licik. " Kau ini cerewet sekali, akui saja kalau kau marah dengan ku, hm?


"Katakan, apa yang membuatmu marah kepadaku?


"Aku tidak tahan kau diamkan begini!" Wisang berkacak pinggang.


Sekar menatap Wisang yang masih tersenyum licik ke arahnya. Apa apaan pria itu, seenaknya menciumku .


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2