
Bab 124. Kecemburuan Sekar
.
.
.
...ššš...
" Kutahu engkau t'lah berdua, tak mungkin kurasa, melepas kasih antara kita"
( Diambil dari lirik lagu Ruth Sahanaya ~ Keliru)
.
.
.....
"Sekar??" Shinta sedari tadi mencari bala nya itu. Kemana perginya wanita itu pikirnya, baru saja ia meninggalkan Sekar dengan jarak tak jauh, wanita itu sudah hilang lagi pikirnya.
Ia terkejut saat Sekar muncul dari balik tembok ujung ballroom itu. " Kamu dari mana aja sih?" tanya Shinta dengan alis bertaut.
"Tadi mau ke toilet lagi, tapi gak jadi!" Sekar kali ini tak bisa menutupi kegundahannya. Ia tersenyum kecut kemudian berlalu dari hadapan Shinta.
"Habis nangis tu anak!, ada apa sih sebenarnya?" Shinta merasa Sekar tak seterbuka Dhira untuk membahas persoalan hidup kepadanya. Namun, ia memaklumi.
Dan saat hendak mengejar Sekar, ia mendengar suara yang memanggilnya.
"Sayang!" Rangga baru tiba rupanya. Suaminya itu mencium pipinya sekilas.
"Cantik banget malam ini!" Rangga memuji istrinya dan mencubit pipinya gemas.
"Mas juga ganteng banget, pasti banyak cewe- cewe yang ngelirik?" ucap Shinta senang. Ia lega karena suaminya itu sudah datang.
Rangga malam itu juga mengenakan pakaian formal, jas yang fit di badan sewarna dengan baju Shinta.
"Mas udah makan?" tanya Shinta.
"Belum, tadi habis lepas tugas langsung kesini!" ucap Rangga dengan wajah melas seraya menepuk perutnya pelan.
"Ayo kita ke meja ku!" ajak Shinta seraya tergelak.
Rangga memegang pinggang Shinta penuh cinta. Dan dari jauh sepasang mata Danan mengamati. Ia telah kagum dengan istri orang.
Apakah ratingnya sebagai cassanova kelas kakap sudah turun?
.
.
Wisang tak bisa barang sejenak pun terbebas dari Mira. Wanita itu terus saja menempel bagai bekicot. Membuatnya risih.
" Wis, kamu nyari siapa sih dari tadi celingak-celinguk?" Mira kesal. Obrolan mereka benar-benar tak nyaman.
Wisang menunda untuk mencari Sekar, karena takut jika Mira akan mencari gara-gara dengan wanita yang ia cintai itu. Ia kenal betul siapa Mira.
"Aku mau ketemu Danan dulu. Ada banyak tamu yang belum aku temui, Abimanyu tadi udah pesan ke aku. Kamu disini dulu!" Wisang melepas tangan Mira yang sedari tadi meraba pahanya.
__ADS_1
"Wisang!"
"Wisang!!"
"Huuuhhh!!" Mira menggebrak mejanya, ia kesal karena pria itu acuh terhadapnya.
.
.
Wisang berjalan memindai tiap penghuni yang duduk di meja-meja disana. Ia hanya mencari satu wanita, Sekar.
Namun, saat ia berjalan ia malah menemukan Danan yang berdiri dengan satu tangan yang masuk di kantong sebelah kiri, seraya mengamati seseorang.Wisang mengikuti arah tatapan Danan yang membuat wajah pria itu menegang.
"Sudah aku bilang, cari aman saja. Dia sudah bersuami sialan!" bisik Wisang di telinga Danan.
"CK, setan ni orang. Ngagetin aja!" Danan betul-betul terperanjat, ia menatap kaki Wisang. Dan kedua kaki sahabatnya itu, masih menjejak bumi. Tapi mengapa seringnya ia tak mendengar jika Wisang datang.
Wisang tergelak, sejurus kemudian ia melihat Sekar yang turut duduk di meja dekat target Danan. Tak mau membuang waktu, ia segera menuju ke meja Sekar.
"Mau kemana lu?" tanya Danan.
"Mau menjemput persoalan!" tukas Wisang sembari berlalu. Danan mau tidak mau mengikuti sahabatnya itu.
.
.
"Wah sepertinya aku ketinggalan!" Wisang dengan santainya duduk di samping Sekar, saat mereka tengah menikmati jamuan makan disana. Membuat Rangga, Shinta dan Sekar melongo karena seorang pria tiba- tiba duduk. Danan tak menyangka bila Wisang akan menuju kemari, kini ia menjadi belingsatan karena ia kini beradu tatap dengan Shinta yang sudah memasang wajah tak ramah.
"Dan, kau bisa duduk disana!" tukas Wisang santai.
"Selamat malam tuan, anda pasti suami dari mbak Shinta ya. Saya Wisanggeni, sahabat Abimanyu. Dan ini Dananjaya, sahabat sekaligus pemilik hotel disini!" Wisang mengulurkan tangannya kepada Rangga.
Shinta dan Sekar mendadak mendapat perasaan yang tidak enak.
"Kami ingin bergabung, sahabat Dhira juga sahabat kamu juga mulai saat ini, bukan begitu Tuan...." Ia masih menunggu Rangga menyahut.
"Saya Rangga, suami dari Shinta!" Rangga tersenyum, suatu kebanggaan baginya bisa mengenal dua pria sepenting mereka.
"Rangga!"
"Danan!"
Kedua wanita itu hanya bisa menelan ludah saat ketiga pria itu saling berkenalan. Sekar Sebenarnya kesal dengan Wisang, dan Shinta yang menahan kegeraman karena pria yang membuatnya kesal tadi, kini tengah bersalaman dengan suaminya.
"Senang bertemu dengan anda Tuan!" Rangga yang memang memiliki sikap ramah itu tak kesulitan untuk berbaur dengan dua orang ganteng itu. Jika di taksir, usia mereka sama dengan dirinya.
Danan menatap Shinta yang berwajah pias sekaligus kesal. Menatap Danan.
"Ini istriku, Shinta!" Rangga memperkenalkan Shinta, membuat wanita itu mau tak mau turut menjulurkan tangannya ke hadapan Danan.
"Danan!" Danan menyeringai menatap Shinta.
"Shinta!" ia berucap sambil menatap Danan tajam. Wisang menaruh curiga terhadap keduanya. Apa dia sudah melewatkan sesuatu pikirnya.
"Sebenarnya saya sudah kenal dengan istri anda dan Sekar. Karena kami beberapa kali sempat ke Dapur Isun" Wisang berbicara dengan santai sambil sesekali mencuri pandangan ke arah Sekar.
"Mbak kayaknya aku beser deh. Aku toilet dulu ya!" bisik Sekar kepada Shinta yang langsung di balas oleh anggukan oleh istri Rangga itu.
__ADS_1
Wisang tak henti menatap Sekar yang acuh terhadapnya, sejurus kemudian ia juga turut mempraktekkan drama Abimanyu saat ia membuntuti Dhira yang bersama Arya sewaktu di acara pernikahan adik dari Richard.
"Dan, aku angkat telpon dulu ya. Permisi!" ia berpamitan kepada tiga orang disana.
.
.
Sekar memang tak benar-benar mengalami konslet perut. Ia memang ingin pergi dari sana. Ia kesal, cemburu dan marah kepada Wisang.
Saat melaju dengan wajah sebal, tangannya di tarik Wisang menuju lorong dan langsung membawanya ke dalam lift menuju lantai atas.
"Tuan!!" Sekar membelalakkan matanya saat Wisang dengan wajah datar terus menggandeng tangannya menuju lift.
Pria itu masih diam, ia membawa Sekar menuju sebuah kamar yang semalam ia gunakan untuk menginap.
Sekar takut karena kini Wisang sudah menutup pintu kamarnya itu. Membuat wanita di depannya itu mengeluarkan keringat.
"Kau marah kepadaku?" Wisang melipat kedua tangannya ke dada. Menatap Sekar yang sedari tadi bermuka asam kepadanya.
"Kau tanyakan saja pada dirimu sendiri, pantas atau tidak aku marah?" Sekar tak bisa sesabar biasanya.
Wisang menyeringai, " Kau cemburu kan?"
"Kau menciumku selama tiga kali, dan membuat aku merasa aku ini menjadi orang yang ada di hatimu!!!"
"Lalu dengan seenaknya kamu bermesraan bersama wanita tadi!!!"
"Apa kau kira aku hanya wan....?"
Wisang menarik tubuh Sekar, ia ******* bibir menggoda yang sedari tadi manyun saja. Ia selalu tak tahan jika Sekar nyerocos begitu. Membuat Sekar mendorong tubuh tegap Wisang dan membuat ciuman mereka terlepas.
"Kau ini selalu saja memotong saat aku berbicara!!" Sekar kesal tiada tara.
Wisang tergelak. " Aku senang kamu cemburu, itu berarti kamu juga memiliki perasaan yang sama kepadaku, hm?"
Sekar mendengus.
"Dia adalah salah satu hama yang memerlukan kolaborasi kita untuk di berantas!" bisik Wisang di telinga Sekar. Membuat Sekar mendongak.
Wisang tergelak saat melihat wajah bingung Sekar.
"Dia bukan siapa-siapa, aku belum bisa menolak perbuatan mama saat ini. Sekar, percayalah aku tidak tertarik dengan mereka. Ku harap semua itu tak membuat kepercayaanmu kepadaku goyah!" Wisang memegang kedua lengan Sekar yang berdiri di depannya.
" Kamu terlihat dekat dengan dia!" Sekar membuang pandangannya.
Wisang menarik dagu Sekar membuat pandangan mereka bersitatap selama beberapa detik " Kalau begitu ayo kita menikah agar kamu percaya , hm?"
Wisang mencium lembut bibir Sekar saat wanita di hadapannya itu masih larut dalam kagetnya.
.
.
.
.
.
__ADS_1