The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 200. Good news from Wisang


__ADS_3

Bab 200. Good news from Wisang


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


" Sepi menyayat jiwa , batinku tersiksa karena menahan rindu yang tidak akan pernah terobati!"


.


.


Roda-roda kehidupan terus menggeliat. Berputar searah dengan mereka yang setiap hari tiada lelah dalam mengejar matahari. Hidup terus berjalan, dan waktu terus bergulir.


Sepekan berlalu, hari Jumat kemarin rupanya adalah hari yang bertepatan dengan acara 40 hari kepergian Rangga. Dhira mengetahui itu usai ia menelpon Shinta pagi tadi.


Menyesal karena ia tak mengetahui, hari ini dia dan suaminya berniat ingin berkunjung ke rumah Shinta. Meski terlambat, tapi itu kebih baik.


Niat ingin bertandang ke rumah Shinta dengan cepat saat baru pulang dari koya BL, urung dilakukan . karena mendadak ia tidak enak badan, sehari setelah kembali ke kota J. Maklum, ia tengah hamil dan serangan pikiran pasti membuatnya tidak baik-baik saja.


" Mas nanti kita berangkat langsung atau nunggu mas Wisang?" Dhira yang sibuk menata bawaan untuk di berikan ke rumah Shinta bertanya kepada suaminya.


" Kita duluan aja. Wisang udah info aku tadi. Cuman, aku gak bisa ngubungi Danan ini. Aku juga udah lama gak ketemu sama dia!"


Wajah Abimanyu lesu. Entah mengapa ia merasa sahabatnya itu menjadi tidak seperti dulu.


...šŸšŸšŸ...


Pa Ali nampak bertandang sehari sebelum acara di gelar. Acara yang umum di lakukan berupa kajian yang di hadiri para penghafal ayat suci. Berkirim doa kepada jiwa Rangga yang sudah berangkat lebih dulu ke tempat tak terjangkau itu.


Mertuanya itu datang dengan membawa kabar bila Bu Nisa masih tidak bisa diajak berbicara normal. Membuat hati Shinta menjadi serba salah. Sejenak ia kasihan kepada Ibu dari mendiang suaminya itu.


Sementara Dian, kakak Rangga itu tak bisa bertolak ke kota itu karena padatnya tugas. Meningkatnya angka kriminalitas membuat Dian yang baru diangkat menjadi Kapolres di salah satu kabupaten di kota U itu, agak kesulitan untuk meluangkan waktunya.


" Papa mau bicara!" Pak Ali nampak berdiri saat tubuh Shinta bergoyang karena tengah mencuci perabot di dapurnya, usai acara itu berakhir.


Mereka duduk di ruang tengah yang masih nampak sisa gelaran acara kemaren sore. Gelaran permadani juga masih belum tersingkap. Rumah itu nampak sunyi sepi. Hanya ada Shinta dan Pak Ali.


" Papa gak bisa lama-lama ninggalin mama kamu. Dia dirumah kondisinya masih sama!" ucap pak Ali memandangi Shinta yang nampak lelah dan kurang tidur.


" Papa cuma mau bilang. Ini rumah kalian, kamu berhak atas rumah ini Shin. Berhak atas semua peninggalan suami kamu. Tolong kamu jangan bingung soal itu!"


Shinta masih duduk terdiam, mendengar ucapan pria beruban di depannya itu.


" Papa tahu kamu mencintai Rangga sepenuh hati kamu. Tapi, sebelum kamu bertanya bahkan mungkin belum terlintas dalam benak dan pikiran kamu, izinkan papa bicara!"


Shinta menatap wajah mertuanya yang juga terlihat sangat lelah. Purnawirawan TNI itu benar-benar wujud nyata dari ketenangan.


" Saya berharap kamu tidak terbelenggu dengan kepergian anak saya. Saya mengijinkan, bahkan mendukung sepenuhnya bila suatu saat nanti kamu mau berumah tangga lagi!"


" Pa..." Shinta agaknya tidak setuju. Acara empat puluh hari almarhum suaminya saja baru selesai di gelar. Dan mertuanya itu malah justru membahas hal yang sama sekali tak terselip di otaknya.


" Kamu berhak melanjutkan hidup nak!" pak Ali menatap manik mata sendu Shinta. Ia tahu, kepergian Rangga jelas memporak-porandakan kehidupan wanita di depannya itu.


" Pa tolong jangan bahas hal ini... Shinta gak...."

__ADS_1


" Harus dibahas!" potong pak Ali dengan cepat.


"Akan sangat merasa bersalah jika papa tidak mengatakan ini"


Shinta muram. Ia tak mau membahas hal ini saat hatinya saja serasa mati. Wanita itu menelan ludahnya karena merasa tak nyaman. Sungguh.


" Intinya papa sudah mengatakan hal ini jauh-jauh hari. Papa bukannya tidak memihak anak papa sendiri. Tapi kamu...."


" Kamu berhak bahagia dan memiliki anak dari...."


" Apa maksud papa?" Shinta menatap tajam mertuanya.


" Papa tahu aku selama ini yang gak bisa kasih kebahagiaan buat anak papa. Bahkan sampai mas Rangga ninggalin Shinta!" Dengan suara bergetar, wanita itu meluapkan buncahan rasa sesal yang menumpuk di hati.


" Tapi anak papa masih mau mencintai wanita seperti saya dengan sepenuh hati. Lalu mengapa saya harus berfikir untuk menikah lagi?" Shinta menatap wajah tenang Pak Ali.


" Gak ada orang lain yang mau terima Shinta apa adanya pa. Gak ada!" wanita itu berbicara sembari menyusut air matanya yang tak mau berhenti mengalir.


Pak Ali terlihat menghela napas, lalu menghembuskannya perlahan.


" Kamu istirahatlah. Pesawat papa nanti sore jam empat. Papa minta maaf sama kamu. Tapi, papa sudah lega karena sudah mengucapkan hal ini sama kamu. Kamu berhak melanjutkan hidup dan bahagia!"


Pak Ali menepuk pundak menantunya penuh kasih. Sejurus kemudian ia melenggang masuk ke dalam kamarnya. Ia membiarkan waktu menjalankan tugasnya. Yang jelas, pria itu tahu siapa orang yang tepat untuk menantunya itu.


Papa yakin kamu disana sekarang tahu dan kamu pasti juga sehati dengan papa Ngga!


.


.


Kediaman Shinta pukul 16. 18


Mertuanya sudah bertolak menuju bandara sejak jam tiga tadi. Kini Shinta benar-benar seorang diri kembali dalam rumah itu.


" Sekar sakit, aku kasihan sama dia. Jadi tak suruh istirahat di apartemen!"


Mereka datang hampir bersamaan walau tidak berjanjian.


" Kalian balik ke apartemen lagi?" Abimanyu tak percaya dengan semua ini.


Wisang mengangguk," Mama masih belum mau terima Sekar!" wajah murung semakin terlihat dari Wisang. Abimanyu turut bersedih akan hal itu.


Manusia selalu di hadapkan dengan persoalan yang beraneka ragam. Mereka semua seolah bertempur di kehidupan masing-masing sesuai jalan yang telah di tentukan.


" Sakit udah berapa lama mas Wis?" Dhira yang baru turun dari mobil itu juga turut dalam pembicaraan mereka.


" Udah seminggu ini, tidur mulu. Kalau di tanya hilangnya cuman pusing, udah lah mas aku mau tidur aja!" pria itu muram saat menceritakan Istrinya yang tak sehat.


Dhira tertegun, ia juga sudah lama tak bersua dengan Sekar. Tapi, usai mendengan penuturan Wisang dhira tersenyum simpul dan penuh arti.


Usai menikah mereka memang sibuk, sempat sering bertemu sewaktu Sinta da Rangga masih di rawat tempo hari. Setelah itu, mereka sibuk dengan kehidupan masing-masing.


" Nanti habis dari sini kita langsung jenguk Sekar ya mas!" ucap Dhira memandang suaminya.


" Boleh!" sahut Abimanyu kini melingkarkan tangannya ke pinggang istrinya sambil berjalan menuju pintu rumah Shinta.


" Si Danan mana, tumben!" Wisang kini membawa beberapa tentengan hampers untuk Shinta. Semua itu atas perintah Sekar. Bapak-bapak mah terima perintah aja.


" Sejak sebulan ini gue jarang lihat dia buat stori medsos. Biasanya dia yang memenuhi beranda!" terang Abimanyu seraya berjalan.

__ADS_1


Mereka berjalan beriringan, masuk ke dalam rumah Shinta.


Tombol itu di tekan sebanyak tiga kali. Terlihat anak kunci itu berputar di ketukan yang hampir ke empat kalinya. Menandakan bila yang di dalam rumah sudah mengetahui kedatangan mereka.


" Dhira!" Shinta terlihat muncul di balik pintu yang mengayun itu.


" Maaf telat taunya. So sory my sweet heart!" Dhira memeluk tubuh Shinta dengan erat. Membuat hati Wisang dan Abimanyu menghangat.


Shinta menitikan air matanya. Ia senang dengan kehadiran sahabatnya itu. Melupakan sejenak kerinduan antar sahabat, yang kini sudah sibuk dalam dunia rumah tangga yang baru.


" Mari silahkan masuk, tapi masih berantakan!" Shinta mempersilahkan mereka untuk masuk ke ruang tamu seraya menyusut air matanya.


Abimanyu dan Wisang sebenarnya kasihan melihat kondisi Shinta. Wanita itu terlihat kurus di banding sebelumnya.


" Ini dari Sekar. Maaf dia gak bisa ikut, titip salam buat kamu tadi!" Wisang menyerahkan hampers di dalam cloth bag yang ia bawa.


" Repot- repot sekali mas. Terimakasih banyak. Tapi , Sekar sakit apa?" nampak raut cemas di wajah Shinta.


" Gak tahu Shin, udah seminggu. Aku ajak periksa malah marah- marah terus ke aku. Ngeluh sakit kepala, perut yang sakit. Hari ini malah deman!"


" Astaga mas, harusnya jangan di tinggal!" Shinta nampak muram.


" Kalau aku gak kesini, dia justru marah lagi. Aku enggak tau deh kalau dia udah marah, gak bisa mikir aku!"


Sejenak Shinta dan Dhira saling pandang dan tersenyum. Seorang Wisang yang notabene berperangai dingin, kini justru kelihatan seperti Danan. Dia wanita itu agaknya bisa menyimpulkan sesuatu dari cerita singkat Wisang.


Dhira dan Shinta seperti mengerti sesuatu.


" Mas Wisang, saranku kalau mau bawa dia periksa jangan ke poli penyakit dalam. Tapi coba bawa dia ke poli kandungan!" Dhira terkekeh.


" Ya, bener itu!" Imbuh Shinta setuju.


Shinta dan Dhira terkikik geli. Wisang terlalu bodoh jika tidak menyadari gejala yang di tunjukkan oleh Sekar itu.


Wisang menatap Abimanyu yang tak mengerti apa-apa itu.


" Maksud kalian?" Wisang menautkan kedua alisnya memandang Dhira dan Shinta.


Shinta dan Dhira mengangguk dengan menyunggingkan senyum senang.


" Apa aku juga akan menjadi seorang Daddy? Wisang berdiri denga rasa bahagia yang menelusup.


" Benarkah?"


" Oh thankyou so much Lord!" Wisang memeluk erat Abimanyu dan menciumi pipi sahabatnya itu. Membuat tubuh suami Dhira itu bergoyang kesana kemari.


Shinta dan Dhira tergelak. Sungguh adegan di depannya itu sukses membuat Shinta tertawa setelah sekian lama ia larut dalam kesedihan.


Ia merasa turut bahagia atas berita bahagia dari keluarga Wisang. Sungguh, hal ini membuat Shinta sejenak melupakan kesedihannya.


" Heh hentikan Wisang, gila kau hey!!! Abimanyu dengan wajah jijik mendorong muka Wisang yang nampak kegirangan itu dengan bibir yang monyong ke arahnya.


" Kapan lagi kau merasakan ciumanku kan, hm?" Wisang masih setia memeluk sahabatnya itu. Dhira dan Shinta bahkan sampai sakit perut karena tak bisa berhenti tertawa.


" Sialan anak ini!" Abimanyu memiting leher Wisang agar pria gila itu berhenti.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2