The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 132. Save You


__ADS_3

Bab 132. Save You


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


...


Johan merasakan dirinya bak di hantam palu gada besar. Dengan hanya mengenakan celana da lam. Pria tua itu berusaha bangkit, kemudian mengangkat sebuah kursi kayu dan segera melayangkannya ke arah Wisang, yang masih sibuk dengan Sekar.


" Tuan awas!!!"


Peringatan Bastian rupanya lebih lambat, kursi kayu itu telah mengenai punggung lebar Wisang.


Brakkkk


"Mas!!!!!" Sekar berteriak saat kursi kayu itu menghantam tubuh Wisang. Wisang mengerang kesakitan. Ia yang tak siap dengan serangan itu jelas merasakan kesakitan.


Bastian langsung menuju ke tempat bandot tua itu, namun sedetik kemudian muncul delapan orang pria ke ruangan itu.


"Telpon polisi cepat. Ini bawa ponselku!" Wisang mengusap rambut Sekar. Meski dengan tangan gemetar, Sekar melakukan perintah Wisang.


Sekar mundur ke belakang, ia takut dengan semua yang terjadi saat itu. Namun terlambat, Johan yang merasa mendapat bala bantuan itu, kini menuju ke tempat Sekar berdiri. Membuat Sekar tak bisa melakukan perintah Wisang.


"Habisi mereka!!" titah Johan kepada anak buahnya. Sejurus kemudian ia pergi dengan menggeret tangan Sekar.


"Mas tolong!!!" Sekar ketakutan, ia juga berusaha memberontak.


"Hey!!, singkirkan tangan kotormu!!" ucap Wisang yang tak kuasa melihat pria tua itu menarik paksa tangan Sekar. Wisang benar-benar menahan amarahnya saat itu.


"Tuan, kita bereskan dulu mereka. Kita kalah jumlah, kita harus hadapi mereka. Tidak ada pilihan!" ucap Bastian yang kini memasang kuda-kuda, kedelapan pria itu mengitari mereka.


Dahi Wisang berlipat selama ia bersiaga disana. " Brengsek!!" Wisang menendang perut satu orang yang tepat berada di depannya. Pria itu terjerembab, namun rekannya yang lain meninju perut Wisang. Baku hantam itupun tak terelakkan.


Bastian juga terlihat menghindar, memukul dan sesekali juga mendapatkan bogem mentah dari mereka. Mereka kalah jumlah, di tambah lagi kalah persenjataan.


"Tolonggg!!!" suara Sekar seperti ketakutan. Mendengar suara itu, Wisang berang bukan main. Ia menghajar dua pria di depannya hingga terlempar ke meja kayu. Sejurus kemudian ia menendang perut satu orang lainnya hingga membentur sebuah drum bekas minyak yang kosong.


Suara disana benar- benar gaduh. Sayup-sayup masih terdengar suara Sekar yang merintih, entah disiksa bagaimana lagi wanita itu.


"Sekar!!!" Wisang berteriak, seolah ingin memberitahu bila ia masih baik-baik saja.


Bastian terlihat baru saja meninju kepala anak buah Johan, ia juga melayangkan tendangan kepada salah atau rekannya. Namun saat Bastian lengah, sebuah sabetan pisau mengenai lengannya.


"Aarrggghhh!!!" Bastian merasakan nyeri menyayat isi daging di lengannya. Luka itu cukup parah. Sabetan senjata tajam itu membuat kucuran darah menetes deras dari lengan kekar Bastian.


"Bas!!!" melihat Bastian terluka, Wisang menendang pria yang membawa pisau itu.


"Bajingan lu. Mati lu sekarang!!" Wisang menubruk pria itu, buku-buku tangannya mengepal. Melayangkan tinju, darah segar muncrat dari bibir laki-laki itu. Sejurus kemudian ia tak sadarkan diri. Wisang mulai mengatur nafasnya.


Bastian merasa kesakitan sekali. Nampaknya luka yang di torehkan anak buah Johan itu, lumayan dalam dan panjang.


Tiga pria lain yang kini mulai bangkit, kembali menyerang Wisang. Wisang tersungkur karena di tendang. Dahi Wisang mengenai meja dan membuatnya robek. Cairan asin warna merah itu kini terlihat merembes di dahi Wisang.


"Jangan sok jagoan Lo disini!!" ucap salah satu anak buah Johan yang baru saja menendang Wisang.


"Bacot lu, maju satu-satu kalau berani. Jangan keroyokan kayak banci lu!!" ucap Wisang seraya membuang ludahnya.


Salah satu anak buah Johan terlihat membawa balok kayu. Bastian yang tangan kirinya terluka ,kini tak bisa optimal dalam mengatasi para bajingan itu.


Wisang terlihat mengatur nafasnya, ia membaca situasi. Lima orang anak buah Johan terlihat terkapar karena ia hajar. Menyisakan tiga orang lagi di depannya itu.


" Tuan, hati-hati. Mereka membawa senjata!" Bastian rupanya melihat salah satu dari pria itu terlihat menarik sepucuk senjata dari belakang bajunya.

__ADS_1


Dengan gerakan cepat Wisang mendorong meja yang ada di depannya, dan saat meja itu menghantam ketiga orang itu. Ia maju dan langsung menendang ketiga orang itu dengan gaya Capoeira.


Salah satu kepala anak buah Johan ia sikut menggunakan tangannya, sejurus kemudian ia memukul keras tengkuk pria itu. Membuatnya tak sadarkan diri.


Bastian yang merasa mereka akan imbang karena melawan one by one, segera maju. Ia menepikan rasa perih di tangan kirinya. Ia menjegal kaki pria botak di depannya. Namun saat pria itu ambruk, ia menarik kaki Bastian. Membuat adik Dhira itu terbentur ke lantai.


"Arggghhhh??!" Bastian begitu kesakitan saat itu.


Wisang menendang pria yang membawa sepucuk senjata itu. Membuat sepucuk senjata itu terpelanting ke lantai. Ia langsung terlibat perkelahian sengit dengan pria gondrong itu. Wisang mendapat tendangan keras di perutnya.


"Massss!!!!" Suara Sekar dari kejauhan seoalah menjadi bara api di dadanya.


"Anjing Lo!!!" umpat Wisang kesal seraya meninju wajah pria itu. Nafas Wisang tersengal, dengan dua kali tinju, Wisang bisa membuat pria itu tak sadarkan diri dengan hidung yang bersimbah darah.


Ia memandang ke arah Bastian yang bisa menuntaskan tugas akhirnya meski dengan tangan yang terluka parah. Delapan melawan dua, rupanya bisa di menangkan oleh mereka. Meski sekujur tubuhnya sudah babak beluk penuh luka.


"Tuan cepat kejar Sekar!" ucap Bastian seraya mencoba bangkit. Ia meringis kesakitan di bagian lengan kiri dan kakinya


"Tapi!!" sergah Wisang. Ia tak tega melihat Bastian yang tengah terluka.


"Jangan pedulikan saya!" jawab Bastian. Sekar dalam bahaya.


Wisang memandang Bastian yang terlihat menahan nyeri di tangannya, sejurus kemudian ia melesat mencari keberadaan Sekar.


Dan betapa terkejutnya, saat ia melihat Johan sudah mengungkung tubuh Sekar. Bandot tua itu terlihat akan memperkosa Sekar.


"Anjing!!!" Darah Wisang mendidih dan meledak saat itu juga.


Ia menarik baju Johan hingga membuat pria itu terjerembab. Ia membulatkan matanya saat melihat buah dada Sekar yang nyaris tumpah karena baju Sekar di robek paksa oleh Johan. Wanita itu menangis.


Wisang sesaat tertegun melihat dua benda yang pernah ia sebut terepes itu. Ia telah salah, kini di sela-sela buncahan emosi yang ia rasakan, ia harus gelisah karena dua benda indah milik Sekar itu.


"Kurang ajar!!!" Johan menendang lutut Wisang. Wisang yang lengah karena terhipnotis dua benda indah itu, seketika ambruk.


"Mas!!!" Sekar khawatir melihat Wisang yang nampaknya kalah.


" Mau apa kau??" ucap Wisnu mengambil ponsel di tangan Sekar.


Wisang dan Johan terlibat perkelahian. Pria tua itu susah di kalahkan juga ternyata. " Brengsek kau sialan!!" Wisang meninju rahang Johan.


Namun Johan meraih balok kayu yang berada di lantai dekat tangannya, memukulkannya ke kepala Wisang.


" Arggghhhh!!" Wisang ambruk ke sebelah.


"Sini kamu!!" Wisnu menjambak rambut Sekar, kini wanita itu dibawa Wisnu masuk ke dalam ruangan lain.


"Sekar!!!" Wisang panik, ia seoalah tak sanggup melihat Sekar yang dalam keadaan seperti itu. Namun saat ia seolah kehabisan tenaga. Muncul sebuah mobil yang menjebol dinding dari triplek itu.


Braaaaakkkk


Sebuah mobil hitam menembus tempat itu. " Danan?" ucap Wisang mantap pria di balik kemudi itu.


Johan yang kini berada di hadapan Wisang, turut mengernyit heran. Siapa lagi ini pikirnya, markasnya kini sudah jebol di sana sini.


"Astaga, apa aku terlambat?" Danan turun dari mobil dengan membuka kacamatanya. Lagi-lagi dengan gaya sok cool.


"Si Anjing malah drama. Bereskan pria ini!" Wisang meninggalkan Danan, ia tahu sahabatnya itu pasti mampir membereskan bandot tua itu.


"Silahkan!" jawab Danan santai.


Johan hanya memandang bingung. Ia mengedarkan pandangannya, ia melihat semua anak buahnya tumbang dan terkapar.


"Hey kau, sepertinya aku akan mengirim mu ke neraka lebih cepat!" ucap Danan memandang Johan.


"Banyak bacot!!"


.

__ADS_1


.


Tanpa menunggu lagi, Wisang berlari mengejar Wisnu yang membawa Sekar. Ia membuka pintu-pintu gudang itu, tercium bau bensin yang menyengat. Kotor dan lembab.


Rupanya Wisnu membawa Sekar menuju ujung ruangan. Ruangan itu terlihat mirip seperti tempat penyimpanan tong dan drum tempat minyak.


"Brengsek, lepaskan dia!. Aku menyesal hari itu membiarkanmu hidup !!" Wisang geram melihat Sekar yang terus di seret oleh Wisnu.


Sekar terlihat lemah dan kacau, ia bahkan sudah tak kuat menyangga tubuhnya lagi. Dengan pakaian yang koyak di sana- sini. Ia pasrah jik harus mati dengan cara begitu. Tak ada daya lagi.


" Wowoo...Mau sok jagoan ya!" Wisnu mendorong Sekar hingga wanita itu menabrak tumpukan tong bekas minyak.


"Anjing Lo emang!!" Wisang berlari dan langsung menubruk Wisnu. Ia berang saat melihat Wisnu mempermalukan Sekar dengan kasarnya.


Ia menghujani Wisnu dengan pukulan. Namun Wisnu tak tinggal diam, pria itu menendang perut Wisang. Kini Wisang berada di bawah Wisnu. Sejurus kemudian mereka berguling.


"Mas!!" yang di takutkan Sekar benar-benar terjadi. Ia sedih karena kini Wisang harus terlibat dalam hidupnya yang rumit.


Baku hantam itu berlangsung cukup lama, wajah Wisnu terlihat babak belur. Wisang pun juga demikian.


Detik itu juga terdengar suara sirine polisi, dan beberapa detik kemudian...


"Wis!!!!" panggil Danan kepada Meraka. Membuat kegiatan dua orang itu terhenti.


Wisang dan Wisnu kini menatap Danan bersamaan karena merasa mereka di panggil.


Danan bingung, apa ada dua 'Wis' disana? sehingga saat memanggil nama itu, dua pria itu menoleh.


Saat masih terlibat adegan itu, terdengar suara sirine polisi yang makin mendekat. Rupanya Danan ingin memberitahu Wisang untuk menahan pria yang menjadi musuhnya itu, lantaran polisi sudah tiba.


Dan saat melihat Wisang tak fokus, Wisnu menendang pria di depannya itu dan dia lari kabur.


"Hey, jangan kabur lu!!" Danan mengejar Wisnu, meninggalkan dua manusia yang berpenampilan kacau balau itu.


"Mas!!!" sekuat tenaga Sekar merangkak lalu menghambur ke pelukan Wisang yang tubuhnya basah karena keringat. Ia memeluk tubuh Wisang seraya menangis.


"Sudah, semua sudah berakhir!" Wisang mengusap punggung Sekar. Ia mencium kepala Sekar yang tubuhnya masih bergetar karena menangis.


"Mas maafin aku mas. Semua gara-gara aku mas jadi begini!!" Sekar membenamkan wajahnya ke dada Wisang.


Wisang melepaskan pelukannya, ia menatap wajah Sekar yang sayu dan kacau itu. Ia meraba sudut bibir Sekar dan lebam.


Sekar juga mendongak memandang wajah Wisang yang penuh luka. Ia meraba kening Wisang yang memar dan terlihat darah kering terpahat di sana. " Mas kamu!" Sekar cemas melihat Wisang. Ia bahkan melupakan kekesalan hatinya terkait Mira tadi.


"It" Ok. Semua sudah selesai!" Wisang menatap sendu wajah Sekar yang ketakutan. Detik berikutnya Wisang melu*mat bibir Sekar. Ia mencium wanita itu dalam. Ia ingin menegaskan kepada wanita itu, bila ia adalah lelakinya. Ia sangat mencintai Sekar, apapun untuk wanita itu bahkan nyawa sekalipun.


Sekar bisa merasakan aroma keperkasaan dari Wisang usai baku hantam. Ia juga merasakan detak jantung pria yang memagutnya itu berdetak dengan kencang. Ia merasa terlindungi. Tangan kekar Wisang terus menakan tengkuk Sekar, seraya meremas bokong Sekar.


Sejenak mereka meluapkan rasa saling memiliki yang kian membuncah diantara mereka.


"Tuan polisi ingin an..." Bastian membelalakkan matanya dan menjadi belingsatan saat melihat adegan yahuud di depannya itu. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena merasa kikuk.


Danan yang tak berhasil mengejar Wisnu juga mengumpat karena adegan yang ia lihat secara tak sengaja.


"Si anjing malah ciuman disini!" ucap Danan lalu melenggang pergi lewat jalan lain. Ia menggelengkan kepalanya. Wisang benar-benar berubah menjadi lebih baik hanya karena seorang gadis lugu pikirnya.


"Jika sudah selesai, polisi menunggu anda di depan!" ucap Bastian meringis menahan sakit di tangan kirinya, seraya berjalan berbalik arah dengan terpincang-pincang.


Mereka yang melakukan, malah Bastian yang malu dan menjadi belingsatan.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2