
Bab 186. Tirani Kehidupan
.
.
.
...ššš...
" Kali ini ku merasa, cinta. Memaksaku untuk bicara!"
( Diambil dari lirik lagu Ipang Lazuardi ~ Jatuh Hati)
.
.
" Apa kau tidak pernah mendengarkan hati kecilmu!"
" Apa kau juga tidak berfikir bahwa mungkin saja Rangga yang selama ini bermasalah?"
Danan tak tahan dengan keegoisan Shinta, ia berucap dengan suara yang menggema di rumah Shinta. Shinta seketika mengentikan langkahnya, saat ia baru menapaki empat anak tangga itu. Menoleh menatap Danan yang berdiri menatapnya tajam.
" Apa maksudmu?" Shinta dengan tatapan tertegun kini menatap Danan dari jarak tak kurang dari delapan meter. Wanita itu kembali menuruni anak tangga, menuju tempat Danan berdiri.
" Aku bertanya, kenapa kau selalu sibuk menyalahkan dirimu sendiri atas ketidakhadiran janin dalam rahimmu. Kenapa kau tidak mencoba berfikir bahwa Rangga yang selama ber..."
Plak
Tamparan keras dan panas itu mendarat di pipi Danan. Membuat ucapannya menguar percuma ke udara. Shinta terpaksa melayangkan tamparan itu karena Danan sudah kurang ajar dalam menilai almarhum suaminya.
" Apa kau sudah gila!!" ucap Shinta dengan nafas menderu.
" Kau tahu apa soal aku dan mas Rangga?" Shinta tentu tak terima. Setahu dia, mereka sudah sama sama pernah memeriksakan diri dan dari hasil yang di paparkan teman Rangga yang merupakan dokter Obgyn itu, tidak ada masalah dalam diri mereka.
" Ya aku gila, aku memang tergila- gila sama istri dari orang yang bahkan belum selesai empat puluh hari kepergiannya!"
" Bahkan aku menggilai istri orang, saat suaminya masih menghirup napas!" Danan berbicara dengan penuh penekanan.
__ADS_1
Bibir Shinta bergetar, ia kini kembali menangis.
" Kau tidak akan pernah tahu mas! aku hanya wanita yang tidak akan pernah bisa membuat pria merasa beruntung karena menikahi ku!"
" Aku tidak peduli!" Danan tak kalah berteriak disana. Mereka bak sepasang suami istri yang ribut di makam hari. Membuat Shinta menatap tajam ke arah Danan dengan wajah yang kian tak berjarak.
" Ada atau tidak adanya anak, tak akan merubah apapun dalam diri kita. Anak hanyalah titipan, tugas kita hanyalah membesarkannya setelah itu mereka akan menjalani hidup mereka sendiri bersama istri dan suami mereka!"
" Dan itu akan terus seperti itu...apa yang kita harapkan?"
" Saat itu kau akan menyadari, bahwa yang tetap akan menemani hari tua kita hanyalah suami atau istri kita. Jadi, anak sama sekali bukan ancaman buatku!" Danan berbicara dengan emosi yang membuncah dan meledak saat itu juga.
" Ada atau tidak ada anak dalam hidup, kita akan menghabiskan masa tua kita dengan pasangan kita, not with our children! "
Danan mempelankan intonasi suaranya di kalimat akhir yang ia ucapkan. Membuat Shinta kian terisak.
" Kau tidak mengerti rasanya menjadi aku!"
" Yes, i know...aku tidak akan pernah bisa tau rasanya menjadi kamu. Tapi kamu juga gak akan pernah tau rasanya jadi aku Shin!"
Danan menangkup wajah Shinta yang berderai air mata.
Shinta menggeleng, ini terlalu cepat. Ia tak bisa menggantikan Rangga dengan yang lain.
"Tidak sekarang, tapi kamu harus tahu!" Danan menatap kedua mata Shinta dari jarak yang kian tak terkendali.
" Aku cinta sama kamu Shin, bahkan saat kamu masih jadi Istri Rangga!" Danan jujur terlampau jujur. Pria itu menangis.
Mendadak Shinta merasa sakit kepala. Apa maksud pria di depannya itu. Tapi terus terang, ucapan pria terkait anak tadi sedikit banyak membuka cakrawala sanubarinya yang sempit, menyuluh gelita di hatinya yang selama ini tak tersinari.
" Aku gak bisa jawab apapun mas. Aku gak tahu, aku....!"
...ššš...
" Auuhhhwwww!" bisik Sekar yang merintih. Dipan itu bergerak seirama dengan gencatan yang dilakukan oleh Wisang. Gerakan memasuki istrinya itu kini sudah dalam tempo cepat.
Suara desa*han Sekar yang meringis nyeri sembari tergulung gelombang kenikmatan itu nampak menjadi pemandu sorak di telinga Wisang. Liar dan panas.
" M-mas!!" Sekar merasakan dirinya tengah melayang.
__ADS_1
" Kita keluarkan sama-sama!" bisik Wisang dengan suara parau, saat menyadari istrinya akan sampai pada puncak sebentar lagi.
Pria itu menghentakkan tubuhnya dengan durasi yang kian cepat, otot di lengannya yang mengetat karena terus bertumpu di bawah kepala istrinya itu terasa kian mengeras.
Kaki Sekar yang terangkat keatas juga turut bergoyang seirama dengan hentakan Wisang yang kuat dan berstamina.
" Arrrgggghhhh!"
Tubuh Wisang menegang seketika, ia mengeratkan pelukannya saat benda penting miliknya kembali meledakkan dan memuntahkan benihnya di rahim Sekar. Berdenyut dan terasa hangat merambat di bagian bawah tubuh Sekar.
Sekar melingkarkan kedua tangannya ke punggung telanjang nan kekar milik suaminya yang kini basah oleh peluh. Percintaan yang diberikan Wisang selalu tak pernah mengecewakan. Suaminya itu selalu tak kurang dalam memberikannya nafkah batin.
" Istirahat dulu, aku mau imbuh!" Wisang melu*mat bibir istrinya sekilas sebelum ia menjatuhkan dirinya ke samping Sekar yang kini mengatur nafasnya kembang kempis.
Wisang menarik tangan Sekar dan meremaskannya ke bagian kelelakiannya yang kini tengah tertidur sementara.
" Langsung tidur dia?" Sekar kini nampak mulai terbiasa dengan ajaran suaminya itu. Tak seperti dulu yang kerap terperanjat saat Wisang mengarahkan tangan mungil Sekar, untuk mengoreksi kondisi kejantanannya.
" Iya, habis kerja keras wajar dia jadi lemes. Bentar lagi dia juga bakal bangun lagi karena kamu!" Wisang memeluk mesra istrinya. Suaranya tersengal.
Wisang merasakan hidupnya saat ini terasa begitu sempurna karena Sekar. Ia tak tahu , bila saja dulu ia tak membantu Abimanyu saat memperjuangkan cintanya kepada Dhira, maka bisa di pastikan ia tak akan mengenal Sekar yang kini sudah menjadi ratu di hidupnya.
" Kamu ini gak pernah capek apa mas, aku aja yang cuma diem sama ngangkang capek loh!" Sekar meraba dada suaminya dan membuat bentuk-bentuk aneh.
Wisang sejenak memejamkan matanya, menikmati tangan istrinya yang bermain-main di dada bidangnya.
" Makanya kamu belajar, biar aku gak capek!" kekeh Wisang. Ia tahu, Sekar masih belum terlalu atraktif dalam urusan bercinta.
Sekar mencibir dengan menyebikkan bibirnya, " Begini aja aku udah serasa gak bertulang loh mas. Apalagi kalau...."
Wisang kembali menyambar bibir Sekar. Pria itu tersulut gelora kembali, saat Sekar dengan santainya memainkan kuncup dadanya seraya membuat pola yang Wisang tak tahu itu bentuk apa. Terasa geli dan menyulut hasratnya.
Dan aksi bercumbu itu terus berjalan. Memecah keheningan malam dengan erangan dan desa*han yang meluncur manja dari bibir Sekar.
Tubuh Sekar seolah menjadi candu bagi Wisang, berharap ia juga akan segera memiliki kelengkapan kebahagiaan dengan hadirnya malaikat kecil di keluarga mereka seperti Andhira dan Abimanyu.
.
.
__ADS_1
.