The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 249. Contraction


__ADS_3

Bab 249. Contraction


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


" Semua akan mumet pada waktunya!"


~Abimanyu


.


.


Dua Minggu berlalu. Rudi menolak untuk tinggal serumah dengan Shinta. Ia berdalih jika sekecil apapun rumah yang ia miliki saat ini jauh lebih baik. Namun, berjanji akan kerap mengunjungi anaknya itu.


Orang tua memang kerap memiliki pilihannya sendiri. Shinta tak mau memaksa, namun ia dan Danan rupanya telah memiliki rencana lain yang akan mengejutkan Rudi nanti.


Danan juga terlihat gencar mempersiapkan persyaratan pengajuan pernikahan. Tak tanggung-tanggung, ia bahkan melimpahkan segala sesuatunya kepada pengacara terbaik keluarganya. Berharap segalanya sesuatunya cepat beres. Mengingat Shinta harus lebih dulu mengurus status barunya, sebelum akan mengajukan permohonan pernikahan kembali dengan Danan.


Birokrasi administrasi kerap kali memusingkan. Untuk itulah ia memangkasnya dengan uang.


Sekar juga kini terlihat makin menjalin keakraban degan Nyonya Lisa. Wanita itu bahkan kerap mengajak menantunya untuk turut bersafari ke arisan teman-teman sosialitanya.


" Ini menantu saya, jago masak dan bikin kue!" ia bahkan pamer kepada rekan-rekannya, yang kesemuanya hampir memiliki menantu yang bisanya cuma menghabiskan uang suami tanpa memiliki ketrampilan selain beranak.


Sementara Wisang dan tuan Wikarna, tengah disibukkan dengan urusan properti dan birokrasi pembangunan kembali pabriknya yang porak-poranda akibat ulat dua manusia laknat.


Semua terlihat berjalan dalam porosnya.


Dan hari ini Raka tengah menemani Indra untuk mengucap ijab Kabul bersama Anggi. Ya, papanya akan melangsungkan pernikahan dengan gadis manis yang pernah memasakkan rawon kesukaannya itu.


Bocah itu sudah di dewasakan keadaan sebelum waktunya. Menyadari bahwa hidup ini kadang berjalan tak seperti yang ia harapkan, Raka memilih untuk bersyukur saja.


Toh Papa dan mamanya sudah sama-sama bahagia dengan pilihan mereka. Raka menyadari, jika kebersamaan tak mendatangkan kebahagiaan untuk keduanya. Maka ia pun harus turut menerima semua ini dengan lapang dada.


Nyatanya, perpisahan justru membuka jalan bagi keduanya untuk sama-sama menemukan kebahagiaan yang baru. Dan untuk dirinya, ia sendiri yang bisa merasakan.


...šŸšŸšŸ...


Dhira sedari tadi bolak balik kamar mandi. Entah mengapa ia juga merasakan nyeri di pinggangnya. Ia juga merasa perutnya tak beres.


Ia tak menghadiri pernikahan mantan suaminya bukan karena sesuatu yang menyakiti hatinya. Bukan juga karena dendam masa lalu. Melainkan kondisinya yang mudah lelah, membuat Abimanyu tak mengijinkan Dhira untuk pergi.


Mengingat istrinya itu masuk dalam kategori kehamilan beresiko, lantaran usianya yang sudah berkepala empat.


Ia sudah kerap begitu lelah bahkan hanya untuk berjalan. " Mbak Yun, buatkan saya teh mbak. Saya kok ngerasa perut saya gak enak dari tadi!"


Abimanyu saat ini menemani Raka di pernikahan Indra. Pria itu sudah mewanti-wanti Yuni untuk menemani Dhira, dan standby untuk mendengar apabila Dhira sewaktu-waktu membutuhkan pertolongannya.


" Bu Dhira kenapa, tadi belum sarapan?" Yuni nampak panik. Tak biasa- biasanya Dhira mengeluh seperti itu.


Dhira menggeleng " Udah sarapan sama minum susu juga, gak tau ya mbak. Perut saat kok rasanya kayak mau melahirkan. Tapi masih bulan depan HPL nya!" Dhira mengusap pinggangnya sendiri yang terasa nyeri.


Berbicara spontan.


" Sebentar nya Bu, saat buatkan teh hangat dulu!" Yuni langsung melesat menuju dapur. Tak mau menunda untuk menjalankan tugasnya.


Dhira merasakan kram yang hilang timbul tiap beberapa menit. Tekanan di perut bawahnya juga kian terasa nyeri. Tekanan yang ia rasakan menekan panggulnya.

__ADS_1


" Aduh, kok kayak begini ya. Jangan-jangan aku memang mau melahirkan lagi, tapi kan masih 33 Minggu!" ia bergumam seraya membaca kembali buku periksa rutinnya. Mengecek guna memastikan.


" Bener kok, masih bulan depan!" ia mencoba menetralisir dirinya sendiri saat melihat tulisan HPL yang jelas menerangkan waktu kelahiran yang masih akan terjadi bulan depan.


" Ini Bu minum dulu!" Yuni datang membawa nampan berisikan secangkir teh hangat.


Dhira langsung meneguk teh dengan aroma melati itu, dalam sekali tegukan. Membuat tenggorokannya lega.


" Rasa perutnya gimana Bu?" Ucap Yuni seraya mengambil gelas kosong dari tangan Dhira.


Dhira tentu sudah berpengalaman, dulu saat akan melahirkan Raka ia juga merasakan hal yang lebih sakit dari ini. Kontraksi yang tiada tertahan.


" Ini saya ngerasa kok kayak ngganjel gitu ya mbak. Tapi...saya loh masih bulan depan perkiraan lahirannya!" Dhira terus saja menautkan kedua alisnya.


" Papanya Raka juga gak ada lagi, gimana ya!" mulai di serang kecemasan. Takut-takut kalau ini kontraksi betulan.


" Kita tunggu dulu aja deh mbak, ini nyerinya hilang kok habis minum teh!" Dhira tersenyum saat merasakan nyeri di perutnya berangsur tak terasa.


" Iya Bu, jangan-jangan kontraksi palsu. Kadang-kadang kan suka begitu kalau lagi hamil tua!" tukas Yuni berbagi pengalaman.


Dhira mengangguk setuju sembari terus mengusap perutnya yang besar itu.


Mereka akhirnya menghabiskan waktu dengan saling mengobrol. " Maaf Bu ....Bu Dhira dulu kenapa hanya punya.. maksud saya kenapa Mas Raka gak punya adik hingga usianya besar!" Yuni menatap wajah cantik majikannya yang kini sedikit berpipi gemuk.


Yuni yang tahu Dhira adalah wanita yang baik, tentu berani menanyakan hal itu. Lagipula, obrolan itu relevan dengan keadaan dhria yang tengah mengeluhkan kondisinya.


Dhira tersenyum " Dulu saya pasang IUD mbak, pinginnya biar Raka besar dulu baru program lagi. Tapi...setelah lepas ternyata belum di kasih lagi sampai..."


Yuni tertunduk, ia merasa tak enak hati begitu mendengar jawaban Dhira yang menjurus ke masalah perceraiannya dengan Indra " Maaf Bu bukan maksud saya..."


Dhira tersenyum lagi ,kali ini lebih lebar " Gak papa mbak, saya dan mas Indra sudah sama-sama bahagia dengan yang baru. Ya mungkin rejeki saya dulu baru Raka. Dan sekarang...." Dhira menatap perutnya yang besar penuh kebahagiaan.


Yuni turut tersenyum bahagia. " Saya turut seneng Bu. Banyak orang yang sehabis bercerai malah jadi musuh. Ini...Bu Dhira sama papanya mas Raka malah bisa jadi saudara!" Tukas Yuni.


Sejenak Dhira menerawang, semua yang terjadi dalam hidupnya begitu berat. Saat ini Indra pasti juga sudah selesai mengucapkan kalimat yang dulu juga pernah diucapkan untuk dirinya.


Mereka terus mengobrol. Yuni orang yang cukup menyenangkan menurut Dhira. Namun, di jam sebelas tepat, Dhira kembali merasakan Nyeri di pinggangnya. Kali ini disertai ganjalan di panggil yang kian menyiksa.


" Aduh mbak, kok rasanya kayak kontraksi ya mbak!" Dhira meringis menahan nyeri di perutnya yang luar biasa sakit. Membuat Yuni turut berwajah cemas.


" Waduh Bu..!" Yuni panik.


" Bentar ya mbak, saya mau kamar mandi dulu!"


" Saya antar Bu!" Yuni memegangi tubuh Dhira yang berwajah meringis. Jelas majikannya itu terlihat menahan sakit.


Yuni menunggu diluar degan sigap. Sembari dengan perasaan harap- harap cemas, wanita itu terus saja menunggu.


" Mbak!.. Mbak Yuni!!" Dhira berteriak dari dalam kamar mandi. Membuat Yuni langsung memasang telinga dengan seksama.


" Bu, Bu Dhira kenapa?" ucap Yuni panik dari luar seraya menempelkan tubuhnya ke pintu kamar mandi.


" Mbak, mbak masuk aja sini mbak saya...!"


Tanpa menunggu lagi, Yuni langsung memutar handle kamar mandi milik Dhira Ia kaget melihat Dhira yang duduk di toilet itu.


" Mbak, kok ini keluar sekarang ya Mbak, ini aku mau lahiran beneran mbak!" Dhira meringis menahan perutnya yang kian bergejolak.


Wajah Yuni seketika pias tatkala melihat bercak merah seperti lendir di CD milik Dhira. Ia sudah pernah melahirkan juga, namun ia masih saja tetap dirundung kepanikan saat melihat Dhira yang seperti itu.


" Se-sebentar Bu!" Yuni kalang kabut, dalam waktu yang mendadak itu ia di tuntut untuk bisa menyusun strategi yang benar untuk Dhira.


" Telpon taksi dulu aja mbak, kita ke rumah sakit sekarang, itu ambilkan ponsel saya di kasur!. Nanti telpon suami saya pas di taksi saja!" Dhira sudah tidak tahan. Dengan wajah yang menyuguhkan ringisan, ia berucap.

__ADS_1


Lendir dan cairan terus saja merembes dari jalan lahir. Membuat Dhira yakin jika anaknya akan lahir hari itu juga meski belum waktunya.


Dengan gemetar Yuni meraih ponsel milik Dhira, lalu menyerahkannya kepada majikannya yang masih terduduk diatas toilet seraya meringis.


.


.


Dhira kini sudah berada di taksi, ia juga sudah menghubungi dokter Septa. Beruntung, tunangan dokter Arya itu sedang tidak menangani pasien lain.


" Saya dirumah sakit Buk, baik ibu tolong jangan panik. Jika merasakan sakit tarik napas dalam-dalam lalu buang nafas panjang ya Bu. Kami akan siapkan segera!"


Dokter Septa menjawab dengan nada tenang. Membuat Dhira dan Yuni turut merasakan sugesti yang sama.


" Bu Dhira, biar saya saja yang telpon Bapak. Ibu diam saja!" Yuni benar-benar salut kepada Dhira. Disaat merasakan kontraksi yang luar biasa, wanita itu masih sanggup menghubungi taksi dan dokter kandungannya.


Dhira mengangguk setuju seraya menahan sakit di perutnya.


.


.


Abimanyu


Ia kini tengah berbincang dengan Kakungnya Raka, Pak Joko.


Pernikahan Indra tergelar juga dengan lancar. Meski merasa aneh karena menghadiri pernikahan matan suami istrinya, namun semua itu ia tepiskan begitu saja. Ia melakoni hal itu demi Raka.


" Pa, aku mau kesana dulu ya. Mau ikut Itu ketemu sepupu. Papa sama Kakung dulu gapapa kan?" ucap Raka yang tiba-tiba datang namun hanya berniat pamit kepadanya.


" Iya lanjut aja. Papa disini sama Kakung. Nanti kalau papa pulang, pasti pamit ke Raka dulu!" Abimanyu mengusap lembut kepala Raka.


Kini ia kembali terlibat obrolan ringan dengan Pak Joko.


" Terimakasih kamu sudah menganggap cucu saya seperti anak kamu sendiri!" Pak Joko berucap dengan senyum yang merekah.


" Pasti Pak. Raka anak yang baik, dia..."


Ucapannya terhenti karena ponselnya yang terus bergetar. Membuatnya mau tak mau menjeda obrolan hangat bersama orang baik itu.


Yuni Calling..


" Yuni?" Abimanyu mengernyit heran. Ada apa pembantunya itu menghubunginya.


" Saya permisi angkat telpon dulu ya Pak?" Pamit Abimanyu sopan kepada mantan mertua istrinya.


" Silahkan.. Silahkan!" jawab Pak Joko dengan wajah segan.


Kini, Abimanyu menepi di tempat yang agak longgar dan jauh dari riuh rendah suara tamu.


" Ya Yun kenapa?" Ucapnya sesaat setelah menggeser tombol hijau, lalu mendekatkannya ke telinganya.


" Anu pak...Bu Dhira sepertinya mau melahirkan!"


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2