The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 56. Tak Semudah Yang Dikira


__ADS_3

Bab 56.Tak Semudah Yang Dikira


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


Jodhi


Entah mengapa ia tak senang dengan bocah perempuan yang usianya terpaut sekitar dua tahun dengannya. Apalagi wanita asing itu, ia bukan bocah polos yang tak mengerti arti pembicaraan orang tua.


...Flashback On...


Saat ia dan Raka melintas ke dapur, tak sengaja mendengar ucapan Mbak Siti dan Mbak Endang , dua orang pelayan bawahan Bik Surti. " Sit, kayaknya itu Nyonya Gwen. Tapi masa' iya sih?"


"Bener En, terus mereka gimana?" Siti.


"Gimana apanya?" Endang menimpali, sambil bersembunyi di balik tembok.


"CK, itu kan mereka udah lama gak serumah. Terus gimana tu hukumnya?" Siti masih gencar menggosipkan majikannya yang telah lama tak menampakkan batang hidungnya itu.


"Kagak tahu, kagak mau tahu juga lah. Yang jelas, tadi Nyonya besar langsung kumat!"


Ucapan mereka berdua terekam jelas dalam pikiran Jodhi. Pantas saja sedari tadi ia tak melihat nenek Buyutnya itu.


Jodhi merapatkan giginya geram, jadi wanita itu yang selama ini pernah di ceritakan oleh mamanya. Wanita yang pergi entah kemana meninggalkan ayah Abinya.


...Flashback Off...


Ia sungguh tak mau berbasa-basi, tak suka pula dengan kehadiran bocah perempuan dirumahnya itu.


"Jodhi!" Rania meraih tangannya yang merajuk.


"Apa ma?" Jodhi berhenti dengan wajah malas, ia tahu apa yang akan diucapkan oleh mamanya itu.


"Jo, mama gak pernah ngajarin kamu untuk gak sopan ke orang lain. Tadi itu bude kamu!" Rania adalah ibu yang sebisa mungkin menanamkan sikap hormat kepada yang lebih tua, meski ia masih belum bisa menjadi ibu yang sempurna.


"Aku dari dulu gak punya bude!" bocah itu terlihat tak menyukai Gwen, benar-benar tak suka.


"Mama harap kamu bisa lebih menyembunyikannya nak. Bude mu baru datang, dan tolong jaga sikap!"


.


.


"Halo Van, kosongkan jadwalku hari ini! "


" *Memangnya kamu mau kemana tuan?"


"CK, aku menggaji mu bukan untuk banyak bertanya!"


"Lakukan saja*!"


Abimanyu menghubungi assistennya melalui sambungan telepon, ia berniat menemui Andhira. Ia ingin menjelaskan persoalan rumit, yang secara mendadak datang disaat hatinya tengah gencar memuja Andhira.


Mobilnya kini terparkir di depan ruko Andhira, ia tak bisa menunda lagi. Ia sudah terlanjur melibatkan dirinya dalam hidup Andhira. Begitu juga Andhira yang sudah banyak terlibat dalam keluarga mereka.

__ADS_1


Ia membuka kaca mata hitamnya, ia melepaskan jas yang dia pakai. Memilih untuk menggulung kemeja warna blue light ia kenakan sampai batas siku. Sempat mengecek penampilannya di kaca spion kecil di dalam mobilnya.


Ia berjalan menuju ruko yang masih terlihat sepi pagi itu, jelas jam masih menunjukkan pukul 07.15, terlalu pagi sepertinya untuk dia datang menuju tempat itu. Namun, diam di dalam rumah juga bukan merupakan pilihan yang baik saat ini, hatinya masih belum bisa berdamai dengan Gwen.


"Selamat pagi!" suara beratnya nampak membuat wanita itu terperanjat, terlihat Dhira yang baru muncul dari bibir pintu dapurnya. Tak menyangka bila Abimanyu akan datang sepagi itu.


"Tuan!" Dhira tak percaya bila Abimanyu datang kesana, mengingat istrinya sudah ada dirumahnya. Seberkas sinar gelap menghias relung hatinya. Seolah ada malaikat di sampingnya yang mengatakan, jangan melampaui batasan, dia pria ber- istri!


Abimanyu tersenyum, seperti biasanya. Menampilkan lesung pipi yang menambah ketampanan pria yang sudah berumur itu.


"Dhir, habis ini aku bik...." Shinta tak percaya melihat Abimanyu yang ada disana, masih berdiri. Terlihat makin kinclong. " Duh Dhir, baru aja tadi kita omongin. Ini mahkluk udah disini aja" batin Shinta.


"Eh Tuan Tam....!"


"Maksud saya tuan Abimanyu selamat pagi!" Shinta nyaris saja keceplosan, otaknya selalu saja tak sejalan dengan yang ia ucapkan.


Abimanyu terkekeh melihat Shinta, " pagi mbak!" Abimanyu nampak terlihat ramah untuk ukuran seorang Direksi, inilah nilai plus dari Abimanyu. Memiliki sikap ramah dan bersahaja.


"Emmm, Tuan mau sarapan atau .." Dhira celingak-celinguk mencari keberadaan Jodhi, mengira hari ini akan menjemput Raka kembali. Tapi sepertinya, Raka sudah berangkat terlebih dahulu tadi. Dan ini jelas sudah jam yang terlampau lewat untuk berangkat sekolah.


"Oh tidak-tidak, saya sudah makan tadi. Saya ingin berbicara dengan kamu!" sahutnya, Dhira mematung mendengar ucapan Abimanyu barusan. " Bicara apa lagi?" batin Dhira.


"Tapi tidak disini!" tambah Abimanyu, membuat Dhira menatapnya dengan kening mengerut.


"Saya tidak bisa Tuan, saya..."


"Pergilah, aku bisa sendiri. Lagipula pumpung ini masih pagi!" Shinta menyahut, ia tahu bila pria itu tengah ingin menjelaskan sesuatu kepada Dhira.


"CK Shin!" demi apapun yang ada di dunia ini, Dhira mendecak kesal. Kenapa sahabatnya itu malam mendukung Abimanyu. Ia merasa rugi bila tadi sudah bercerita panjang lebar soal kedatangan istri Abimanyu kepadanya Shinta.


"Saya janji gak akan lama!" ucap Abimanyu memohon.


Abimanyu menatap Shinta dengan senyum, seolah menyiratkan rasa terimakasih karena sudah mendukung. Shinta pun membalas senyum itu, sebagai sahabat tentu ia ingin Dhira bisa mendapatkan kesempatan untuk bahagia.


"Shin, gapapa kamu aku tinggal?"


"Gapapa, asal kamu baliknya jangan sampai besok. Entar mas Rangga bisa ngamuk karena dia gak ada yang kelonin kalau aku gak pulang!" ucap Shinta terkikik geli. Membuat Dhira menggelengkan kepalanya.


Abimanyu bahkan terkekeh dengan selorohan teman mama Raka yang pandai berkelakar," ayo kita jalan!" ucap Abimanyu.


.


.


Pria tampan itu membukakan pintu untuk Dhira, setelah memastikan wanita itu duduk dengan nyaman ia menutup pintunya dengan pelan. Berjalan memutari mobil, kemudian duduk di belakang kemudi." Maaf Dhir, tapi aku gak enak kalau kita bicara disini!" ucapnya seraya memasang sabuk pengaman.


Abimanyu merasa ia harus secepatnya berbicara empat mata dengan Dhira, ia tak ingin di cap pria yang tak memiliki pendirian. Ia berfikir akan sangat sulit membangun komunikasi yang lancar bila berbicara di ruko itu, apalagi pasti akan ada pemburu makanan lezat Dhira dengan segala interupsinya.


"Kamu pingin kemana?" Abimanyu kini sudah melakukan kendaraannya dengan kecepatan sedang, benar-benar tak mau waktu itu cepat berakhir. Dia pasti sudah gila, pergi bersama seorang janda disaat istrii telah berada dirumahnya.


"Loh, kok Tuan tanya gitu. Kan tadi tuan yang ngajak!" Dhira tentu saja menautkan alisnya, bingung dengan Abimanyu.


Abimanyu tertawa kecil," iya sory- sory!"


"Dhir?"


"Iya?"


"Kamu tolong jangan panggil aku Tuan lah, kesannya kok kayak kita baru kenal!" Abimanyu kini lebih ekspresif.

__ADS_1


"Tapi?" Dhira ragu, sungguh ia sekarang merasa dirinya menjadi seorang pelakor durjana karena pergi berdua dengan suami orang tanpa sepengetahuan istrinya.


"Panggil aku selain Tuan, terserah. Mas, atau nama, atau yang lain. Jangan Tuan!"


Dhira nampak berfikir, mungkin setelah ini dia akan mendapatkan kejelasan. Atau bahkan mungkin Abimanyu akan mengatakan jika dia akan kembali dengan istrinya, dan berubah pikiran. Atau melupakan tentang apa yang ia ucapkan kemaren.


"Baik mas!" akhirnya kata itu yang dipilih Dhira, sebagai panggilan baru kepada pakdenya Jodhi.


Abimanyu tersenyum, entah mengapa ia merasa banyak bunga bertebaran di atas kepalanya. Terasa happy dan membuat hatinya bergejolak.


Abimanyu memilih sebuah cafe' futuristik yang baru saja buka, terlihat masih sepi. Lontang- Lantung , adalah nama cafe' yang mereka kunjungi.


"Mas, disini?" Dhira merasa sama saja, jika harus berbicara di tempat ngopi kenapa gak di rukonya saja.


"Maaf ya Dhir, aku bawa kamu kesini cuman pingin pembicaraan kita ga ada yang ganggu!"


Dhira terdiam, namun paham maksud Abimanyu. Mengingat kesibukan akan langsung terasa bila ia tetap berada di rukonya. Tapi ia percaya kepada Shinta, pasti bisa menghandle semuanya.


Mereka duduk di kursi paling pojok paling belakang, duduk saling berhadapan dengan dinding kaca lebar yang membungkus seluruh bangunan cafe itu.


Mereka berdua hanya memesan espresso dan latte serta sedikit kudapan, tak berminat untuk makan. Lebih memilih untuk menggunakan waktu sebaik mungkin.


"Aku tahu mungkin ragu saat ini!" Abimanyu memulai pembicaraan, kedua tangannya berada di atas meja. Ia menatap wajah cantik Dhira yang makin cantik saat di gerai seperti itu.


" Mas, istri mas sudah datang. Dan setahuku selama mas belum memberikan talak, itu artinya kalian masih sah!" Dhira mencoba memberikan pengertian buat Abimanyu.


"Dan untuk ucapan mas kemaren, aku gak masalah kok. Jujur aku seneng kalau mas mau bisa bersatu kembali dengan istri mas" Dhira benar-benar tulus berucap seperti itu, sungguh dirinya ingin menjadi orang baik saat ini.


"Kamu sudah salah paham Dhira, aku gak pernah mengira bila Gwen akan pulang. Aku suka sama kamu sejak pertama aku melihat kamu adu mulut sama papanya Raka"


"Aku tahu aku salah, karena selama waktu 10 tahun itu aku gak beresin semua!" Abimanyu menatap Dhira yang tertunduk layu.


"Aku akan mengajukan gugatan setelah ini!"


"Jangan mas!" Dhira mendongak menatap Abimanyu, tentu ia tak mau menjadi biang perceraian orang lain. Ia sendiri sudah pernah menjadi korban, tak mau menjadikan dirinya sebagai tersangka.


"Aku pernah sakit karena orang ketiga, jangan buat aku untuk menjadi orang ketiga mas!" Dhira berucap dengan nada mantap.


"Maksud kamu?" Abimanyu menatap Dhira.


"Kalau mas mau cerai sama Mbak Gwen cuma gara-gara aku, aku gak mau. Mas hanya butuh temen aja saat hati mas sepi. Dan untuk ini, coba mas jangan gegabah buat mau ajuin gugatan"


"Semua orang pernah salah mas, dan mas udah ada anak!"


"Ayolah Dhira, aku bukan pria ingusan yang akan percaya dengan ucapan Gwen. 10 tahun berpisah, dan kembali dengan seorang anak. Aku tak sebodoh itu" Abimanyu berusaha meyakinkan Dhira, sungguh ia sebenarnya juga tak yakin dengan Calista.


" Aku cerai sama Gwen bukan karena kamu. Hatiku sudah mati rasa kepadanya, rasa itu hilang bersama dengan kepergiannya selama ini!"


"Mas, dengar kata aku dulu. Mas cuma belum terima aja dengan perlakuan Mbak Gwen, dan disaat hati mas kosong kita gak sengaja ketemu, wajar kalau mas punya rasa sama aku. Tapi sekarang Mbak Gwen sudah ada mas, mas cuma butuh waktu, butuh proses buat memulihkan rasa mas itu"


Abimanyu benar-benar tak mengerti, mendekati Dhira rupanya tak semudah dekat dengan wanita-wanita lain. Wanita cantik di depannya itu susah sekali ia taklukan.


"Aku harap mas mau mengerti, aku cuma gak mau aja di cap sebagai pelakor. Aku sudah merasakan sakitnya diusik oleh pelakor!"


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2