
Bab 171. Masih Menjadi Target
.
.
.
...ššš...
" Hawa tercipta di dunia, untuk menemani sang Adam. Begitu juga dirimu, tercipta tuk temani aku!"
( Diambil dari lirik lagu Dewa 19)
.
.
Acara yang di jadwalkan olek AKBP Made Alit rupanya melenceng alias batal. Tugas mendadak rupanya menjadi alasannya. Polisi dengan kumis tipis itu mengatakan melalui sambungan telepon kepada Wisang, bila beliau harus berkunjung ke lokasi terbakarnya SPBU di daerah selatan, karena ada laporan bila kejadian itu menewaskan banyak pekerja.
Membuat pertemuan mereka harus di undur esok hari.
" Jadi sekarang kita kemana mas?, untung kita masih sampai setengah perjalanan!" ucap Sekar menatap suaminya yang fokus di kemudi.
Wisang kaya, hilang mobil satu ia masih bisa menggunakan mobil yang lain. Dan jika di tanya apa ia akan meminta Shinta dan suaminya untuk mengganti segala kerusakan?
Jawabannya ialah, tentu tidak.
Justru Wisang lah yang kini harus menanggung rasa bersalahnya. Bila perlu seluruh biaya pengobatan Rangga dan Shinta, akan ia tanggung. Ia tahu, dia dan istrinya lah yang sebenarnya menjadi target kecelakaan itu.
" Kita makan dulu ya. Kamu belum makan apapun sejak siang tadi!"
Entah karena Shinta barusaja mendapatkan penghinaan dari mertuanya, atau karena rasa bersalah mereka yang terlampau jujur itu. Membuat mereka merasa harus stay disana tanpa di minta.
" Aku tidak apa-apa, kalian pulanglah dulu!" meski kata-kata itu gencar diucapkan oleh Shinta. Namun ada rasa tak tega untuk meninggalkan wanita dengan sikap sok tegar itu.
Wisang membelokkan mobilnya ke restoran cepat saji yang berada di sisi kiri jalan menuju arah apartemennya. Ia sendiri juga merasa sangat lapar.
Terbukti dari dua paket yang di pesan Wisang sendiri, telah licin tandas ia habiskan. Pria itu makan dalam diam, cepat dan bersih. Definisi dari kelaparan yang nyata.
Dua minuman bersoda itu juga sudah meluncur ke dalam lambungnya. " Sebenarnya gak sehat sering-sering makan junk food. Tapi kalau harus ke resto kelamaan. Aku keburu lapar!" ucap Wisang kemudian mengelap mulutnya menggunakan tissue.
" Mas cepet banget makannya. Padahal dua loh yang mas makan!" Sekar masih telaten makan suap demi suap kepalan nasi putih dengan cocolan saos dan ayam sebesar ponsel itu.
__ADS_1
" Lapar sayang. Aku kan emang cepet dalam hal apapun!"
" Tapi suka lama kalau....!" Wisang mengerlingkan matanya menatap istrinya, sembari menaikturunkan alisnya dengan senyum cabul.
" Ishhhhh!" Sekar mencibir seraya merasa merinding seketika.
" Kamu udah nyiksa aku berhari- hari loh. Kamu gak kasihan?" Wisang bertopang dagu seraya memasang wajah melas saat berbicara menatap Sekar.
.
.
Sekar termangu saat berada di mobil. Ia memikirkan ucapan suaminya tadi. Bukankah hal itu juga sudah menjadi kewajibannya. Lantas apa yang ia takuti. Berjanji dalam hati saat sampai nanti, ia akan memberikan hak Wisang itu dengan ikhlas.
" Kamu pegangan!" ucap Wisang tiba- tiba dengan raut serius, membuat lamunan Sekar menguar ke udara.
" Kenapa mas?" ia merasa Wisang lebih kencang saat menginjak pedal gas nya. Mobil mereka kini melaju dalam kecepatan yang lebih tinggi.
" Kayaknya ada yang ngikutin kita sejak dari kita selesai makan tadi!" Sekar kini menoleh ke belakang. Sebuah mobil Xpander hitam terlihat berada persis di belakang mobil mereka.
" Mobil hitam itu?"
Wisang mengangguk. " Makanya aku coba kenceng ini. Kalau dia ikut kenceng berarti benar dia ngikutin kita!"
Sekar mendadak jantungnya berdebar. " Mas!" Sekar benar-benar ketakutan. Wanita itu bahkan terlihat memejamkan matanya seraya mengucapkan doa.
" Jangan khawatir, tenang!" Wisang memberikan senyuman kepada istrinya itu. Meski Sekar tak mengetahui karena sibuk memejamkan mata.
Dan benar saja, saat melewati lorong panjang nan sepi, mobil itu terlihat turut melakukan hal sama. Menginjak gas dengan kecepatan tinggi. Wisang terus saja tancap gas, bahkan saat hendak menyalip kontainer di depannya.
" Mas jangan kencang-kencang. Aku takut!" Sekar benar-benar berada dalam kepanikan. Siapa sebenarnya orang yang mengejarnya itu.
Lewat dari kilometer 25, mereka kini lebih mengurangi kecepatan, lantaran banyak sekali mobil box yang turut melenggang di jalanan itu. Wisang yang melihat mobil hitam di belakangnya itu terus saja mengikutinya, kini memiliki ide.
Ia pacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi saat hendak menyalip sebuah mobil box. Membuat pengemudi X- Pander hitam itu mengikutinya.
Dan saat ia melihat ada kendaraan lain yang melaju dengan posisi berlawanan arah. Ia dengan sigap menaikkan kembali kecepatannya, dan nyaris saja ia bersenggolan dengan kontainer itu.
Kini posisi Wisang berada di lajur kiri dengan posisi tepat berada di depan box ekspedisi, dan berada di belakang truk tangki BBM.
Wisang tersenyum puas saat melihat decitan mobil di belakang. Ia bisa pastikan, pasti mobil yang membuntutinya tadi kini mengerem mendadak karena tak menyangka bila ada kendaraan lain dari arah depan, selepas mobil Wisang merapat di sela truk tangki dan mobil box ekspedisi di lajur kini.
Membuat Wisang dan Sekar mengembuskan napas lega.
__ADS_1
" Pyuuhhftt!!"
" Nyaris aja kita yang nabrak tadi mas. Jangan kayak gitu lagi. Aku udah deg-degan ini mas!" Sekar bahkan mengeluarkan keringat dingin saking takutnya.
Plat nomer mobil yang mengejarnya tadi sudah terekam jelas dalam ingatan Wisang. Berniat akan melaporkan hal ini kepada AKBP Made Alit besok saat pertemuan.
.
.
" Aku mandi dulu ya. Gerah banget!" Wisang mencampakkan bajunya ke keranjang pakaian kotor yang berada di ruangan samping kamar mandi kamarnya.
Sengaja lebih dulu membersihkan diri, karena ia tak mau kecolongan lagi.
" Ya udah mas mandi dulu, aku mau siapin baju buat mas!" tidak ada pikiran buruk di otak Sekar. Wanita itu bahkan sudah menyiapkan diri selama mereka beradu ketegangan tadi.
Bayangan malam pertama yang hot dan lama, sudah hangus dan lewat begitu saja. Mungkin belum kadaluarsa. Tapi malam ini, jelas pria itu akan memakan istrinya. Ia tentu tak percaya diri bila harus melahap istrinya dalam keadaan badan kotor dan lengket, karena seharian berada di rumah sakit.
Dan kali ini Wisang tak perlu lama untuk urusan pembersihan diri. Di menit ke dua belas, pintu kamar mandi itu terlihat mengayun. Menandakan bila kegiatannya sudah di pungkasi.
Dengan saliva yang berasa macet di tenggorokan, Sekar menatap tubuh suaminya yang membuat kuduknya meremang. Rambut basah suaminya juga makin membuatnya gila saat itu. Darahnya kembali berdesir.
Belum apa apa sudah begini.
" Ini bajunya mas, aku...mau mandi...dulu!" dengan tak fokus Sekar meletakkan kaos abu-abu dengan celana rumahan dari katun lembut yang biasa di gunakan Wisang untuk tidur.
Wisang tersenyum seraya menegaskan kaos itu dalam sekali tarikan. " Ya udah, aku akan tunggu!" ucap Wisang tersenyum licik.
Sekar merasa deg-degan lebih parah. Bahkan ini lebih parah dari saat andrenalinnya terpacu, ketika berada di mobil bersama Wisang tadi.
Menepis segala rasa ngeri di otaknya tentang artikel yang ia pelajari seputar malam pertama, ia coba dengan cara mengguyur tubuhnya menggunakan air dingin.
Kebanyakan artikel di internet menerangkan, datangnya rasa sakit yang luar biasa hingga darah segar akan keluar saat diri kita pertama kali di masuki.
Apalagi komen selalu lebih menarik dari artikelnya. Banyak sekali cuitan di kolom komentar artikel itu, yang menerangkan rasa yang parah hingga membuat korbannya tak bisa berjalan. Bahkan menangis karena sakit.
Namun tak sedikit pula warganet yang berkomentar, bila itu adalah hal ternikmat sepanjang masa yang akan membuat candu bagi semua insan. Termasuk dirinya.
Membuat Sekar kini ngeri sekaligus penasaran.
.
.
__ADS_1
.