
Bab 205. Entah Apa yang Merasukimu
.
.
.
...ššš...
" Hukum karma itu berjalan cepat, silahkan tanam benih yang kita mau!"
.
.
Renata
Mantan gundik Indra itu sudah berkali-kali berpindah pasangan. Tujuannya adalah mencari yang lebih diatas yang lebih. Lebih kaya tentunya.
Namun ia lupa dengan kata pepatah ' Jangan menepuk air di dulang, nanti terpercik muka sendiri'. Kata itu berarti kejahatan yang di perbuatan, akan kembali pada diri sendiri.
Sudah menginjak delapan bulan usia kandungannya. Namun selain tidak mengetahui siapa ayah dari janin yang ia kandung, sial nampaknya singgah di hidup wanita itu.
Ia di jauhi oleh semua lelaki yang pernah tidur bersamanya.
" Bu, ini posisi anaknya sungsang. Harus di operasi demi keselamatan ibu dan bayinya!"
Ucapan dokter Septa itu terus terngiang-ngiang di kepalanya.
Renata mendadak tercekat, uang yang ia miliki tinggal menipis. Ia kini bahkan sudah tidak mampu tinggal di apartemen. Apalagi, ia tak memiliki pekerjaan. Ia hanya menggantungkan hidupnya dari sisa uang, hasil memoroti para pria kaya.
Alhasil, kini ia harus pusing sendiri guna mengatasi semua itu. Hidupnya menderita.
Renata sebelumnya tak pernah memeriksakan diri, namun entah atas dorongan apa dia memeriksakan kandungannya di rumah sakit terdekat dari kost tempat tinggalnya.
Dengan langkah gontai, wanita itu berjalan menunduk. Penampilannya bahkan seratus delapan puluh derajat berubah.
" Renata!" ucap seseorang yang nampaknya ia kenal. Suara yang begitu familiar. Ia mendongak.
" Kamu!!" Renata terkejut, ia memindai tampilan mantan istri pria yang pernah ia goda sekaligus pernah ia campakkan beberapa waktu silam.
Dhira menatap ke arah Renata yang terlihat malu dan tak nyaman.
" Sayang!"
Renata melihat ke arah seorang pria tinggi dan bertubuh tegap, wajah rupawan dan terlihat menawan. Pria itu memanggil 'sayang' kepada mantan istri Indra itu.
Renata menatap Dhira dan pria itu bergantian. Sejenak hatinya nyeri, bagiamana bisa di masa depan kehidupan orang yang dulunya hancur karenanya, sekarang malah mendapat hidup yang baik.
" K-kau, m-mau apa?" ia bahkan sangat minder dengan tampilannya. Tak ada lagi yang bisa di banggakan wanita itu, tubuh molek serta wajah cantik kini sudah menyusut, di gerogoti oleh karma.
.
__ADS_1
.
" Hey, kenapa wajahmu langsung pias begitu?" Dhira melipat kedua tangannya ke dada. Tak menghiraukan suaminya yang masih dalam mode bingung dengan wanita yang diajaknya bicara.
Renata menunduk belingsatan.
" Aku cuma mau bilang terimakasih!" ucapan Dhira rupanya sukses membuat Renata mendongak seraya menatapnya kembali.
" Apa maksudmu?" Renata menatap Dhira yang benar-benar jauh lebih cantik dari pada saat ia merebut Indra dulu.
" Terimakasih karena jika kau dulu tak menggoda suamiku, maka aku tidak akan pernah di ketemukan dengan pria baik seperti suamiku!" Dhira menggamit lengan kokoh suaminya.
Ya, ia ingin menunjukkan betapa kejahatan tidak akan pernah bertahan lama. Ia ingin Renata tahu, bahwa tidak ada jaminan pagi seroang pengkhianat untuk dapat mengecap arti kata kesetiaan seorang pasangan.
Abimanyu mendelik, ia kini tahu siapa wanita yang di cegat oleh istrinya itu. Abimanyu terlihat mengusap tangan Dhira yang bergelayut di lengannya. Membuat Renata iri sekaligus sedih.
" Maaf" ucap Renata lirih. Wanita itu mengeraskan rahangnya karena tak memiliki daya apapun.
" Huft!" Dhira mengembuskan napas berat. Ia sebenarnya emosi melihat wanita perusak itu. Bukan karena ia masih mengharap Indra atau apa, tapi mendadak menjadi tak tega terhadap wanita sialan di depannya itu. Padahal diriya ingin sekali membalas wanita itu.
Ingin rasanya Dhira melampiaskan kekesalannya di masa silam. Tapi.....hatinya terlalu tidak bisa, musuhnya itu benar-benar sudah mendapat bagiannya.
" Rupanya aku tidak perlu mengotori tanganku!" Hati Dhira berperang, ia ingin menjambak Renata namun hati kecilnya mengiba kepada wanita itu.
" Hidup dalam prasangka buruk itu berat Ren. Sekarang aku percaya, bahwa manusia itu memiliki kiamatnya masing-masing!"
Ucapan Dhira membuat Renata tercenung, terpekur menatap lantai licin rumah sakit itu.
" Ayo mas!" suara Dhira bergetar, wanita itu terlihat mengeraskan rahangnya guna menghalau air mata. Dhira kasihan kepada wanita yang pernah jahat kepadanya itu.
Dhira berjalan meninggalkan Renata yang rupanya masih berdiri seraya menitikan air mata. Dhira tak mengira semesta benar-benar membuat segala sesuatunya begitu berubah.
...ššš...
Pagi menjelang bersama Surya yang memberikan kehangatan bagi tiap insan tanpa terkecuali. Roda-roda kehidupan menggeliat, mencari peruntungannya masing-masing.
Termasuk para supir box barang yang kini terparkir di depan rumah Shinta. Bekerja sepenuh hati.
Shinta pagi itu di kejutkan dengan banyak sekali kiriman bahan makanan dan juga beberapa kebutuhan hidup yang datang banyak sekali.
" Mbak Suko, ini kenapa banyak sekali barang-barang..." dengan masih menatap bingung, Shinta melihat petugas mobil box itu terus menurunkan banyak sekali produk makanan dan kebutuhan rumah tangga lainnya.
Suko dan Ndari terlihat sibuk memilah dan memilih barang itu, untuk di masukkan ke dalam. " Saya juga gak tahu Bu!".
" Tadi waktu saya buka pintu, masnya nanya apa betul ini rumah Bu Shinta. Ya saya jawab iya, eh gak taunya tiba-tiba langsung nurunin barang segini banyaknya!"
Supir yang terlihat mengambil sesuatu di ruang kemudinya terlihat menghampiri Shinta.
" Maaf Bu, silahkan tanda tangan disini!" ucap pria yang membawa faktur penjualan itu, kepada Shinta yang baru saja bergabung di bangsal rumahnya itu.
Namun anehnya Shinta tak dimintai uang.
" Mas, ini dari siapa?" tanya Shinta sebelum menandatangi kertas itu. Wanita itu terang saja penasaran. Ia tak pernah memesan apapun.
__ADS_1
" Kami dari PT. Delta Food Bu. Kami berada di naungan Delta Group milik Pak Abimanyu. Ditugaskan untuk mengantar semua ini, tolong di tanda tangani Bu, agar memudahkan saya untuk laporan!" tutur pria kurus di depannya.
Shinta menelan ludahnya, untuk apa suami dari sahabatnya itu mengirimkan banyak sekali makanan dan produk rumah tangga. Seolah dia adalah penerima bantuan di pengungsian.
Shinta langsung membubuhkan tanda tangan keatas kertas faktur itu dengan hati dan pikiran yang diliputi tanda tanya.
" Terimakasih banyak Bu, kami pamit!"
" Oh iya, ada satu lagi!" Pria itu terlihat kembali ke mobilnya, dan mengambil sesuatu.
" Silahkan Bu!" pria itu membawa sebuket bunga mawar yang harum, kepada Shinta.
Shinta mendelik, siapa pula yang memberikan bunga se indah itu kepadanya. Mobil box itu terlihat berlalu, Suko dan Ndari terlihat masih sibuk memilah beberapa produk.
Kiriman itu mulai dari beras, gula pasir, minyak goreng, sabun cuci bahan semua kebutuhan rumah tangga lengkap ada hingga saus dan kecap.
Shinta tahu, perusahaan suami Dhira itu memang bergerak di manufakturing. Yakni memproduksi barang-barang serta kebutuhan rumah tangga. Ia juga pernah mendapat bingkisan namun tidak sebanyak ini.
Saat hendak membuka kartu di dalam buket itu, ponsel Shinta berbunyi. Ia lantas meraih benda pipihnya itu di saku celananya.
Apa pesananku buat kamu sudah datang? aku kirimkan stok untuk sebulan ini biar kamu gak susah belanja, kalau ada yang kurang kamu bilang ya. Hitung-hitung nolong teman biar dagangannya laku .
Shinta mengernyit, rupanya itu semua dari Danan. Oh astaga, berarti pria itu membeli langsung dari pabrik milik sahabatnya.
Dan tunggu dulu, stok untuk sebulan?
Shinta memijat keningnya. Semua bahan. ini bahkan tidak akan habis untuk empat bulan. Shinta benar-benar makin mumet dengan kelakuan Danan.
Sejurus kemudian ia membuka noted kecil di dalam buket bunga itu.
Have a good day
---DJ
Shinta menggelengkan kepalanya berkali-kali. Ia benar-benar selalu dibuat bingung dan tak mengerti. Setelah mengirimkan dua ART tanpa menginformasikan dulu, kini gunungan produk barang itu membuat Shinta menghela napas.
Tapi, bunga mawar itu....
" Bu, ini sangat banyak. Apa sebaiknya kita simpan di kardus saja dulu!" dengan wajah meringis Suko berbicara kepada Shinta. Mereka lebih mirip seperti tengah menyortir bahan yang akan di bagikan ke penerima bantuan sosial.
Shinta bahkan pusing melihat banyak sekali produk makanan dan segala kebutuhan lainnya yang sudah lengkap ada di sana.
" Ini lebih mirip seperti mau buka toko saja Bu!" Sundari terkekeh, wanita itu tak kuas menahan tawanya.
Shinta menghela napas dalam-dalam, batinnya berucap entah apa yang merasukimu mas!
.
.
.
.
__ADS_1
.