
Bab 230. Danger for Wisang (2)
.
.
.
...ššš...
" Ketergesaan sering membuat kita hanyut dalam penyesalan yang tiada bertepi!"
.
.
Wisnu
Sebenarnya ada hal yang paling membuat kita rugi namun seringkali tidak kita sadari, yakni emosi. Ada banyak persoalan yang tidak akan pernah selesai hanya dengan mengandalkan emosi, bahkan tak jarang justru akan menambah rentetan persoalan baru.
Wisnu membawa banyak sekali pasukan siang itu. Ia kini berhasil mengendus tempat keberadaan Wisang dan Sekar.
Ia melihat sebuah sedan mengkilat yang baru masuk ke sebuah rumah, yang ia sinyalir adalah pria yang kini telah menjadi suami dari mantan kekasihnya itu.
Pria yang menjadi salah satu targetnya.
" Kepung rumah itu, singkirkan siapapun yang melawan!" Wisnu menekan earpiece yang terpasang di telinganya, memberikan komando ke semua anggotanya. Termasuk Reymond yang bertindak sebagai supir saat itu.
Usai memastikan Wisang telah masuk ke rumahnya, pria itu kini memberikan kode Anggukan kepada anggotanya untuk masuk. Dan dalam sekejap, rumah Wisang bak gula yang di kerubuti oleh semut.
" Siapa anda?" Ucap seorang wanita paruh baya yang mencoba menghalangi langkah Wisnu.
Dor
Ia tanpa berbicara langsung menembak wanita itu. Dari seragamnya, ia bisa menebak bila itu adalah asisten rumah tangga Sekar. Ia kini menjadi sangat ganas dan tidak mau basa basi lagi.
" Matikan semua kamera pengawas!" titahnya kembali kepada anggotanya.
Dor
Dor
Dar der dor suara senapan meraung-raung di rumah Wisang. Naasnya, rumah Wisang terletak agak jauh dari rumah yang lain. Membuat aksi itu mungkin akan lambat di sadari oleh orang lain.
.
.
Wisang
Otaknya dipaksa untuk berpikir taktis dalam keadaan yang sekejap berubah menjadi tegang. Belum sempat hati dan otaknya menelaah secara sempurna tentang raga pembantunya yang terkapar bersimbah darah, kini otaknya hanya berpikir untuk satu orang. Keselamatan istrinya.
Ia berlari sekencang mungkin, menapaki tangga dengan gerakan cepat. Keringat kini nampak bertengger di dahinya. Ia benar-benar tidak mengerti, bahkan ia belum tahu siapa yang menyerang rumahnya dalam hitung sepersekian detik itu.
Brak
Wisang membuka pintu kamarnya kasar, menampilkan wajah Sekar yang terkejut dengan telinga yang terpasang headset besar. Tengah asik menikmati alunan lagu favorit.
" Mas, kena..." ucapan istrinya menguap saat Wisang dengan segera mengunci kamarnya, lalu menarik tangan istrinya dengan wajah panik.
" Dengar, rumah kita di serang orang. Aku gak tahu siapa, Mbak Ani tertembak!" Wisang berbicara dengan menggertakan giginya. Rahangnya terlihat mengeras, matanya merah, napasnya memburu demi mengingat tubuh pembantunya yang di bantai secara keji.
Dor
Mereka berdua saling menatap saat mendengar suara misil yang berjatuhan, orang jahat itu nampaknya sudah berada di lantai atas.
" Mas..!" Sekar panik dan seketika tubuhnya gemetar.
" Tenang, ada aku disini!" Wisang memeluk tubuh istrinya sebentar, berusaha memberikan kekuatan. Sekar bahkan lupa akan rasa meriang dalam tubuhnya.
Wisang berjalan lalu menyibak tirai di kamarnya. Ia melihat keadaan di bawah dari jendela kaca kamarnya yang berad di lantai dua. Rumahnya benar-benar di satroni penjahat.
" Sial!!!" Ia mengeraskan rahangnya. Menyesal karena tidak mencari pengganti lain Security atau sebangsanya.
__ADS_1
Dan dalam hitungan beberapa detik berikutnya,
Brak
Pintu kamar mereka di dobrak oleh seseorang. Pria itu langsung menuju ke arah Wisang.
" Sayang awas!" ucap Sekar dengan mata mendelik karena melihat suaminya dalam bahaya.
.
.
Sekar
Ia bahkan tak sempat bertanya apa yang sebenarnya terjadi, wanita itu tubuhnya terus bergetar saat mendengar suara tembakan dan pecahan benda yang tiada berhenti.
Suasana mendadak menjadi tak kondusif, ricuh dan berisik.
Ia lebih terkejut lagi saat pintu kamarnya yang sudah terkunci itu, berhasil di dobrak oleh orang disana. Pria itu menendang pintunya dengan amat sangat keras.
" Sayang awas!" ia meneriaki suaminya yang tengah di serang oleh pria berpenutup wajah hitam itu.
Dengan segala keberanian yang tersisa, ia mencari ponselnya. Tangannya gemetar saat memegang benda pipih itu. Ia berusaha mencari bala bantuan.
" Bu Dhira, aku harus menghubungi Bu Dhira!" ucapnya dalam hati masih berusaha mencari nomer mantan bosnya itu.
Tak ada orang lain yang langsung muncul di benak maupun otaknya selain Dhira.
Bug
Ia sempat melirik suaminya menghajar orang asing itu, dengan waktu yang kian terkikis ia dipaksa untuk cepat mencari bantuan.
Ia menakan tombol hijau itu dan berharap Dhira akan segera menjawabnya.
Bug
Kini matanya membulat demi melihat rahang suaminya yang terhantam oleh kepalan tangan pria asing itu. Tubuhnya makin bergetar hebat.
" Ya Sekar ada apa?" sahut Dhira dari sebrang telepon itu.
" Argggggghhh!" ia bahkan mendengar rintihan suaminya yang membuatnya resah saat itu juga.
"Bu tolong saya, mas Wisang..." ucapnya dengan nada terbata dan jantung yang seolah meledak. Ia bahkan merasa tubuhnya tak lagi menjejak bumi.
Namun belum selesai ia mengutarakan perkataan bersifat informatif itu, pria asing tadi menarik rambutnya hingga membuatnya mendongak kesakitan.
" Apa yang kau lakukan brengsek!" ucap pria itu memakainya kasar.
" Aaaaaaaa lepas!" ucapnya menahan sakit.
Sejurus kemudian pria itu menyambar ponsel di tangan Sekar dengan kasar, lalu membantingnya dengan keras hingga membuat benda pipih berharga mahal itu hancur berkeping-keping. Luluh lantak tak bersisa.
" Singkirkan tangan kotormu brengsek!" Wisang yang terlihat menahan nyeri di perutnya dibuat meradang oleh tindakan pria yang menarik rambut istrinya.
.
.
Dhira
Jantungnya mendadak berpacu dengan cepat, ia bahkan sedikit menganalisa kejadian yang di alami Sekar. Dari suara gaduh yang di tangkap oleh telinganya, jelas bahaya tengah mengancam sahabat suaminya itu.
Membuat kesemua orang yang disana, menautkan kedua alis mereka karena ingin tahu informasi apa yang membuat wajah Dhira sepanik itu.
" Mas, sesuatu telah terjadi di rumah Sekar dan mas Wisang . Mereka dalam bahaya!" wajah Dhira kini menjadi sangat pucat. Tubuhnya mendadak bergetar.
" Apa?" Abimanyu terlonjak kaget.
" Sekar berteriak, dan aku mendengar suara ribut . Cepat bantu mereka mas!" Dhira panik, Shinta yang ada di sampingnya bahkan mendadak susah untuk menekan ludahnya.
.
.
__ADS_1
Abimanyu
Melihat istrinya cemas dan panik, membuatnya tersengat aliran kepanikan juga. Otaknya langsung teringat dengan Devan. Bagiamanapun juga, menjadi direktur wajib hukumnya untuk memiliki tim terselubung, guna mengantisipasi hal- hal semacam ini.
Tim yang sama, yang pernah ia tugaskan untuk menculik Dhira, waktu ia masih dalam masa memperjuangkan cintanya.
Tanpa menunggu lagi, Abimanyu menghubungi Devan. Assiten kepercayaannya yang handal tiada banding. Loyalitas tanpa batas yang sudah teruji klinis selama beberapa periode.
Rahang Abimanyu terlihat mengeras saat menunggu Devan menjawab panggilannya.
" Sial, kemana anak ini!" ia menggerutu saat panggilannya tak kunjung di jawab oleh Devan. Danan yang melihat Abimanyu marah hanya diam seraya sibuk menggulir dan mencari nomer telpon seseorang.
Dan dalam deringan ke tiga, nampak Devan menjawab telepon darinya.
" Hal.." agaknya ucapan Devan menguap percuma.
" Dari mana saja kau sialan!"
" Siapkan anak buahmu sekarang juga, temui aku segera. Akan aku krim lokasinya segera!"
Tut
.
.
Devan
Siang ini ia tengah berbicara dengan Miranda. Direktur utama Caterpillar Group. Sekaligus wanita yang pernah ia temui di pulau BL, saat menemani Abimanyu menghadiri acara Family Gathering yang berujung malapetaka keterkejutannya karena kecemburuan Dhira.
Semua ini juga atas titah Baginda Abimanyu yang mendadak, dan tentu saja tanpa penolakan itu. Memintanya untuk menggantikan tugas tanpa dalih yang jelas. Selalu saja.
" Anda bisa menjawab teleponnya dulu!" sahut Miranda yang turut mendengar getaran ponsel Devan yang tak kunjung berhenti.
Mengusik kenyamanannya.
Devan menghela napasnya, siapa juga yang menggangu kesibukannya yang ia lakoni tanpa keikhlasan itu.
Matanya membulat saat melihat nama bos pemaksa yang tak mengenal kata penolakan darinya itu.
Dengan cepat ia menggulir tombol hijau, sebelum kena damprat.
"Hal.." Namun terlambat, ia bahkan dibuat tak bisa mengucapkan kata halo dengan sempurna.
" Dari mana saja kau sialan!"
" Siapkan anak buahmu sekarang juga, temui aku segera. Akan aku krim lokasinya segera!"
Tut
Ingin sekali rasanya Devan meludahi ponselnya itu. Apa-apaan pikirnya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya saat bosnya itu menutup teleponnya secara sepihak.
" CK, kau ini selalu saja bos!" menggerutu dalam hati.
Jl. Pegangsaan XX
Rumah Wisang di serang seseorang, dia dan istrinya dalam bahaya, aku dan Danan menuju kesana sekarang, kau bawa semua anggota kita dan cek semua persenjataan.
Jangan lapor polisi dulu!
Mata Devan membulat saat membaca kata 'ia dan istrinya dalam bahaya. Adrenalin serasa terpacu detik itu juga. Kemanusiaannya terpanggil dalam rentang waktu yang terlampau singkat.
" Bu Miranda saya mohon maaf, pertemuan kita siang ini harus di tunda dulu. Ada sesuatu yang penting dan mendadak. Saya akan menghubungi anda segera!" ia masih harus bisa bersikap diplomatis bahkan disaat jantungnya sudah mulai tak normal.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.